Tuesday, February 2, 2010

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI CANGGIH I



"Bila kita berbicara tentang teknologi canggih, bukan teknologi canggih yang kita kejar. Salah kalau dikira bahwa saya sebagai seorang insinyur kebetulan ahli konstruksi pesawat terbang hanya cinta teknologi canggih. Karena itu, apakah lantas hanya teknologi canggih yang ingin dikembangkan, dan hanya itu yang disasari untuk pembangunan bangsa? Itu tidak benar, yang saya sasari adalah proses nilai tambah, proses nilai tambah dari materi yang harganya rendah, dengan segala ketrampilan dengan usaha dari manusia, bisa dijadikan produk yang nilainya lebih tinggi, itu proses nilai tambah. 

Atau dengan perkataan lain memanfaatkan teknologi dan ilmu pengetahuan yang tepat dan berguna tanpa memilih apakah itu canggih atau tidak canggih yang lebih penting bahwa teknologi yang tepat dan berguna itu dapat dimanfaatkan untuk proses nilai tambah, dapat mengubah materi itu dengan cepat untuk mendapatkan nilai yang setinggi-tingginya dengan mengontrol kualitas, biaya, dan jadual secara terus menerus agar produksi lancar jalannya"
~Prof. B.J. Habibie~ 

Sebagaimana telah dikemukakan pada bab sebelumnya, bahwa jalan yang paling rasional untuk keluar dari ke-tergantungan secara terus-menerus kepada negara maju adalah dengan cara mengembangkan dimensi baru dalam perekonomian Indonesia: yakni mengusahakan kemungkinan ekspor teknologi tinggi.

Dasar pertimbangannya sangat logis. Upaya mengandalkan keunggulan komparatif berupa melimpahnya sumberdaya alam dan rendahnya upah buruh, tidak bisa dipertahankan lagi. Pembuatan celana jean misalnya yang memanfaatkan teknologi yang relatif rendah, menghasilkan nilai tambah yang rendah pula. Karena persaingan proses yang menentukan harga maka produk jenis ini sulit pula bukan barang lain dengan satelit, kapal terbang yang harganya ditentukan oleh pembuatnya, tidak banyak yang menguasai, karena itu tidak banyak mengalami hambatan pasar.


Perlu saya jelaskan, keunggulan komparatif dan nilai tambah berkaitan dalam ekonomi secara keseluruhan. Hanya yang harus diperjuangkan adalah nilai tambah yang mana, yang membuat jeans atau kapal terbang. Itu pertayaannya.



Saya ingin menegaskan untuk tidak mempertajam perbedaan antara ekonomi yang berdasarkan keunggulan komparatif, karena kedua-duanya bergandengan. Itulah ekonomi, setiap ekonom berkisar pada dua unsur yang penting itu. Bedanya ialah kita harus kembali dengan eksperimen "mobil kijang", apakah kita tetap hanya teknologi-teknologi yang rendah dan menengah, atau kita lari ke yang tinggi.



Kita harus dapat memfokuskan pemikiran-pemikiran kita dan mengarahkan kepada target-target mikro, yang harus secara terpadu dan serentak kita selesaikan, sehingga insya Allah kita tidak kalah dengan negara tetangga kita. Untuk itu saya mulai dengan hal yang makro, bahkan hal yang sangat makro dari dunia ini. Seharusnya kita bertanya dan memikirkan mau kemana arah perkembangan dunia ini, karena kita tidak bisa melepaskan diri dari perkembangan dunia.



Sebagai contoh, perhatikan saja masalah antara Amerika Serikat dan Jepang. Masalahnya, hanya satu komoditi yaitu mobil. Kita mengetahui AS menaikkan harga mobil mewah yang dampaknya merugikan Jepang, lebih kurang US$ 6 miliar. Ini permulaannya. Jadi dari hal itu, kita melihat bahwa tidak ada lagi suatu masyarakat di dunia ini yang bisa mengisolasi diri .



Saya ingin mengajak berpikir mengenai bagaimana keadaan dunia, katakanlah tidak sampai 50 tahun mendatang tapi 25 tahun lagi, sampai akhir Pelita X tahun 2019. Untuk hal itu, saya telah memperoleh data-data mengenai GDP dunia pada tahun 1994. Dalam perhitungan GDP dunia itu dipakai pengertian bahwa seluruh umat manusia di dunia bekerja, dan total hasilnya dinyatakan dalam dolar AS. Ternyata pada tahun 1994, GDP dunia yang diperoleh lebih kurang US$ 27 triliun. Tentunya angka ini telah mengalami perubahan karena ada beberapa negara yang mata uangnya agak sulit dihitung dengan dolar AS sebagai akibat fluktuasi.



Negara-negara maju yang saya perhatikan adalah PBE (Pasar Bersama Eropa), Jepang, dan Amerika Serikat. Saya dengan sengaja tidak memasukkan Kanada, Meksiko, dan NAFTA, karena walaupun Kanada ekonominya sama dengan AS tetapi penduduknya sedikit. Selain itu, saya mengambil asumsi bahwa negara-negara seperti AS, PBE, dan Jepang sudah jenuh terhadap pertumbuhan modal (capital growth) dan bukan dalam hal pembentukan modal (capital formation). Kejenuhan itu disebabkan karena biaya sumber daya manusia (SDM) dan prasarananya sudah tinggi sehingga modal yang masuk tidak bisa lagi diserap. Kita analogikan saja modal itu seperti spons (karet, red). Apabila kita mempunyai spons dengan bentuk dan besarnya tetap, lalu dimasukkan ke dalam air, maka sesudah mencapai titik jenuh, spons tersebut tidak bisa lagi menyerap air, kecuali bila spons itu mempunyai kemampuan untuk tumbuh. Apabila spons itu tumbuh dengan pertumbuhan tertentu dan air yang masuk ke dalam spons lebih kecil dari pertumbuhan spons, maka bisa dibayangkan bahwa spons itu masih mampu menyerap air.



Tetapi apabila jumlah air yang masuk ke dalam spons lebih besar dari pertumbuhannya, maka air akan dipantulkan karena tidak bisa diserap lagi oleh spons. Saya bayangkan bahwa ekonomi dalam suatu masyarakat yang begitu kompleks merupakan spons, di mana modal yang dimasukkan ke dalamnya hanya bisa di-serap selama tidak jenuh, dan apabila tidak bisa diserap maka akan dipantulkan. Tetapi modal berbeda dengan air yang masuk ke dalam spons, karena modal tidak hanya harus bisa diserap tapi harus mampu pula menciptakan modal lagi. Ini berarti bahwa modal yang masuk harus bisa mendorong atau memicu adanya pertumbuhan modal itu sendiri sehingga menjadi besar.



Dengan contoh di atas, sebagai seorang ilmuwan entah dalam bidang fisika atau rekayasa, kita harus selalu menggunakan model; bahkan bidang sosial ekonomi dan politik pun sekarang ini tidak bisa bekerja tanpa model sebab sulit untuk mengontrol segala varian yang bekerja. Oleh karena itu, modal (kapital) yang ada di dunia untuk gampangnya sebut saja uang akan mencari kesempatan di mana kapital tersebut dapat masuk ke dalam spons dan menciptakan spons itu menjadi tumbuh yang sekaligus menumbuhkan modal itu sendiri. Selama kemungkinan itu tidak diberikan maka modal tidak akan masuk. Tentunya semua itu dengan persyaratan risiko yang rendah, seperti adanya stabilitas politik. Di sini tidak akan dibicarakan masalah politik, tetapi kita akan membicarakan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Bagi saya modal tidak hanya uang. Modal itu meliputi SDM, prasarana ekonomi, prasarana iptek, dan prasarana lainnya serta yang lebih penting adalah SDM yang menguasai iptek.



Yang memungkinkan uang masuk dan diserap serta terus bisa tumbuh, adalah adanya prasarana ekonomi, prasarana pengembangan SDM, prasarana iptek dan yang lebih penting lagi adanya SDM yang menguasai iptek. Apabila investasi hanya pada prasarana ekonomi saja atau prasarana pengembangan iptek atau hanya pendidikan SDM, atau de- ngan perkataan lain hanya dalam satu bidang saja, sebagai contoh misalnya pertanian, atau pertanian plus pertamba- ngan plus energi, maka bisa saya sebut uang tersebut berkembang sampai tiba-tiba jenuh dan tidak bisa mekar lagi.



Banyak negara tadinya berkembang karena ekspor sumber daya alam (SDA), misalnya Australia dan New Zealand, yang hidup dari ekspor daging, wool, dan lain SDA yang diolah secara industri. Kenyataan sekarang keadannya sudah jenuh karena kendala-kendala di dunia yang tidak memungkinkan lagi negara tersebut mengekspor produk SDA-nya. Oleh karena itu, apabila pengembangan ekonomi hanya didasarkan dan berorientasi pada komoditi tertentu, maka berarti sejak awal kita sudah membuat kendala bagi diri sendiri yang akan membawa kita kepada suatu jalan buntu.


Apabila hal itu tetap dilaksanakan, di mana produksi, pengembangan iptek, pengembangan SDM dengan segala prasarananya untuk menguasai iptek, hanya diarahkan pada satu komoditi nisalnya pertanian atau perkebunan, maka kita akan menghadapi suatu kendala di mana kejenuhan akan cepat terjadi dan tidak mungkin lagi memasarkan produk-produk tersebut.
Saya menjelaskan semua ini tidak dengan maksud menggurui tetapi untuk mengajak semuanya sebagai orang yang harus merekayasa dan mengelola iptek dengan penuh kesadaran bahwa kita harus selalu berorientasi pada ekonomi.


Bersambung.

No comments:

Post a Comment