Tuesday, February 23, 2010

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI CANGGIH VI

SDM: Faktor Menentukan
 
Tetapi di balik itu semua, siapa yang berada dan menentukan adalah manusia. Tanpa manusia yang menguasai teknologi di balik proses nilai tambah dan biaya tambah, atau dengan perkataan lain, manusia yang tidak pernah mengalami pendidikan atau mengalami proses nilai tambah pribadi, manusia itu tidak mungkin dapat melaksanakan apa yang saya maksudkan dalam uraian saya tadi itu.

Seseorang tamat SMA, lalu masuk program pendidikan Sl, S2, atau S3 melalui beberapa cara ujian. Ujian itu dalam hal ini, tidak lain merupakan quality control dari proses nilai tambah pribadi. Karena manusia yang masuk dan tamat baru merupakan raw material, proses nilai tambah pribadi diberikan melalui informasi dari dosen yang memberikan input data kepada mahasiswa. Untuk bisa menghasilkan dengan baik maka diadakan ujian, ujian itu adalah sebagian dari proses nilai-tambah pribadi atau dalam hal ini adalah quality control, seperti saya laksanakan pada proses nilai tambah materi di pesawat terbang atau satelit atau apa saja hingga keluar sertifikat. Setelah diwisuda Sl, S2, S3, berarti mahasiswa itu sudah diberi jaminan oleh Universitas bahwa dia memiliki potensi ekonomi dalam bentuk manusia yang canggih yang mengerti suatu masalah secara profesional. Itu proses nilai tambah pribadi pula.

Jika mahasiswa itu lulus walaupun dari program S3 tetapi setelah itu tidak terjun di dalam proses nilai tambah materi, jangan heran lima tahun paling terlambat setelah itu dia sudah luntur, dan ketinggalan zaman. Hanya mereka yang terjun dalam proses nilai tambah materi dengan biaya tambah materi dan terus memberikan dharma baktinya atau sumbangannya dalam pembangunan nasional atau internasional. Merekalah yang bisa terus berkembang nilai tambah pribadinya dan menjadi unggul dalam bidangnya masing-masing. Karena itu, suatu masyarakat membutuhkan dua hal: sekolah dan pabrik/perusahaan yang melaksanakan proses nilai tambah dan biaya tambah.

Tetapi jangan setelah lulus Sl, S2, S3, lantas dia menonjolkan gelar doktornya atau dengan S2nya lalu banyak bicara, menjadi pegawai negeri atau tinggal diam begitu saja. Bukan begitu. Dia harus turut aktif untuk meningkatkan materi bangsanya menjadi lebih tinggi kalau secara makro ialah dengan meningkatkan GNP per kapita. Untuk hal itu kita harus meyediakan tempat untuk mereka dalam proses nilai tambah di bidang yang dibutuhkan untuk mengoptimasikan nilai tambah dan biaya tambah.

Sebagaimana tadi sudah saya katakan bahwa kita sudah memanfaatkan teknologi canggih, kalau tidak mana mungkin kita berkembang. Sekarang kita lihat masalahnya, kalau kita belum membangun apa yang kita namakan prasarana ekonomi tadi (itu semuanya sebagai turn key), kita bayar dengan ekspor minyak dan gas atau membayar dari harga ekspor kelapa sawit, kelapa atau kayu lapis ataupun rotan dan sebagainya, sedangkan harga barang yang harus dibayar itu berlipat ganda dari nilai tambah rotan, maka jangan heran jika kita mengalami suatu masalah di mana kita keluarkan banyak tenaga dan upaya mengekspor produk-produk migas dan produk-produk tradisional untuk membiayai satelit, pesawat terbang, telex, telefax, kereta api, generator, kapal dan sebagainya, sedangkan orang yang membuat produk tersebut memanfaatkan manusia-manusianya yang menguasai teknologi tinggi. Kalau Indonesia merupakan suatu negara yang besarnya hanya sebesar Singapura, mungkin impor barang teknologi canggih bisa dimengerti. Tapi tidak demikian halnya.

Ketika Alvin Tofler datang ke Indonesia, orang begitu membesar-besarkan idenya, seakan-akan kita harus menjadi information society. Saya katakan bahwa masyarakat informasi sebenarnya bukan problem ekonomi. Salah satu masalah Amerika pada waktu ini ialah bahwa dahulu mereka meninggalkan nilai tambah dan hanya berkonsentrasi pada meminimumkan proses biaya tambah dan Amerika berusaha mengambil keuntungan dari proses nilai tambah dan hal itu diserahkan kepada Jepang dan Eropa dan mereka hanya melakukan proses nilai tambah pada produk canggih dirgantara serta alat-alat perang yang tidak produktif.

Sementara itu negara lain mulai menyerahkan teknologi kamera dan sebagainya, semuanya diserahkan kepada negara lain dan mereka kemudian membuat produk yang tanpa risiko banyak. Memang dalam waktu singkat kita bisa melihat keuntungannya, mungkin paling cepat kembali kapitalnya, risiko berkurang dan cepat bisa menguntungkan perusahaan, itu benar, tetapi hal itu bagi suatu bangsa bisa menjadikan malapetaka dan itu terjadi di Amerika.

Mereka mengabaikan riset teknologi, baik dalam bidang teknologi video, teknologi otomotive, dalam bidang baja dan sebagainya. Kita yakin Amerika itu adalah negara yang besar dan mempunyai domestik pasar yang tertutup. Amerika bisa menutup pasarannya dan bisa hidup makmur tanpa ikut campur orang lain. Lain halnya dengan Jepang, negara ini tidak bisa tertutup karena masih membutuhkan input dari luar. Sekarang Amerika yang saya saksikan telah mengalami banyak perbedaan. Mereka sekarang melakukan konsentrasi kedalam proses nilai tambah hardware dan software, mereka mengadakan konsentrasi dan berlebih-lebihan.

Dalam bulan Oktober yang lalu saya bertemu Presiden General Electric kolega saya karena kebetulan saya adalah anggota National Academy of Engineering USA dan Doktor Willam F. Ballhaus Chairman dan President National Academy of Science di Washington, saya secara teratur bertemu dan berkonsultasi dengan mereka. Dari situ saya dibawa ke the manufacturing of the future.

Saya lihat manufacturing plate besar tertutup dan tidak ada jendelanya. Semua dibuat otomatis dan pegawainya bekerja 24 jam dalam tiga shift tidak ada satu pegawai diperuntukkan untuk satu mesin. Mereka bekerja sebagai satu tim, tetapi yang aneh mereka semua memakai pakaian seragam sama seperti Jepang, pakai topi dan pakai bendera Amerika. Itu semua karena mereka mendapatkan suatu shock dari Jepang, mungkin juga ibarat masa Perang Dunia II, Amerika sebelumnya tidak mau ikut campur dalam perang, tetapi kemudian mendapatkan serangan di Pearl Harbour. Sejak itu Amerika membangun diri sebagai raksasa dan dia memenangkan Perang Dunia II.

Karena itu, normal bilamana hari ini suatu produk sulit memasuki pasaran Jepang dan pasaran Amerika. Produk Amerika yang masuk ke Jepang harus sesuai dengan kuota, masa lantas kita membuka pasaran Indonesia begitu saja dan boleh sembarang orang masuk sedangkan mereka yang sudah 100 tahun mendapatkan kesempatan untuk menguasai teknologi dan menjadi unggul menutup pasarnya?

Bersambung.

No comments:

Post a Comment