Monday, February 15, 2010

PENGEMBANGAN TEKNOLOGI CANGGIH III




Hal-hal yang saya uraikan di atas, hanya bisa terjadi apabila pertumbuhan itu ada, dan pertumbuhan bisa terjadi apabila modal dalam bentuk uang benar-benar bisa diserap, adanya SDM yang menguasai iptek, serta tidak direkayasa atau ditentukan dalam spektrum satu bidang saja, seperti hanya pertanian, hanya perkebunan, atau hanya pertambangan. Maka untuk itu kuncinya bagi negara-negara Asia adalah investasi dalam bidang iptek, pengembangan SDM, pegembangan prasarana iptek, prasarana ekonomi dan tentunya pula stabilitas. Dengan penjelasan ini, saya harapkan kita akan mendapatkan gambaran mengenai keadaan ekonomi dunia yang akan datang, walaupun hal ini tidak bisa kita anggap akan terjadi seratus persen, tetapi paling tidak kita dapat melihat kecenderungannya dan secara kualitatif outputnya akan berkisar seperti yang digambarkan ini. 

Sebenarnya modal yang ada di negara maju akan masuk ke negara berkembang, apabila ada orang di negara maju mempunyai uang dan merasa uangnya tidak bisa tumbuh di negaranya. Sebagai contoh, bila saya berada di negara maju dan mempunyai uang tetapi karena ternyata tidak bisa tumbuh di negara tersebut dan selain itu saya mengetahui bahwa ada pertumbuhan di negara-negara Asia, maka uang itu akan saya pindahkan ke Asia. Hal itu normal saja, dan tentunya dengan persyaratan risiko kecil. Tetapi hanya risiko kecil saja belum menjamin negara-negara Asia bisa menyerapnya karena tergantung pada kondisi iptek, SDM, prasarana ekonomi dan prasarana iptek dari negara bersangkutan. 



Apabila negara tersebut tidak bisa menyerap, maka uang tadi akan dipantulkan kembali ke negara maju atau masuk ke negara Asia lain atau akan masuk di antara kelompok negara lainnya. Apabila ternyata tidak bisa masuk di antara kelompok negara lainnya dan juga di negara-negara Asia, maka terpaksa uang itu akan tetap hidup di negara maju, dengan kenyataan bahwa modal tersebut tidak tumbuh atau paling jauh modal itu bisa tumbuh dengan bunga bank yang rendah. Oleh karena itu, supaya modal yang dipunyai investor di negara maju bisa tumbuh dan diserap di Asia dan kelompok negara lainnya, maka negara-negara maju harus memberikan bantuan teknis kepada negara-megara di asia dan kelompok negara lainnya sebagai upaya pengkondisian SDM dan ipteknya, sehingga negara-negara tadi mampu memberikan aprsiasi penyerapan modal yang berasal dari negara maju, dan modal itu bisa mengalami pertumbuhan yang disebabkan karena jumlah SDM di negara Asia yang sangat besar. 



Sebagai ilustrasi, bisa digambarkan perkembangan suatu produk kecamata baca. Melalui perkembangan teknologi (lensa kontak) ditemukan (lensa kontak) yang dibuat dari plastik dengan harga yang cukup tinggi, maka direkayasa sedemikian rupa sehingga (lensa kontak) plastik itu harus bisa dipakai pembeli selama 2 atau 3 bulan, kemudian baru diganti. Pada suatu kesempatan, saya mengetahui dari Ciba Geigy (Swiss), bahwa (lensa kontak) plastik seharga itu dibuat di Eropa (Swiss) dan hanya satu perusahaan di Amerika Serikat, karena dengan pertimbangan bahwa yang mampu membayar harga setinggi itu adalah orang Amerika. 



Tetapi kemudian, sejak 2 tahun lalu Ciba-Geigy melakukan investasi di P. Batam untuk satu perusahan yang membuat (lensa kontak) dengan rekayasa bahwa yang ditemukannya, untuk penggunaan hanya sekali pakai kemudian dibuang. Harganya bukan lagi US$1. Programnya adalah bahwa 2-3 tahun, paling lama 5 tahun, perusahan tersebut sudah bisa ekspor dari P. Batam sebesar US$ 1 trilyun. 



Saya tanyakan mengapa investasi P. Batam? Mengapa tidak menetap di Amerika? Mungkin jawabnya gampang, yaitu karena SDM-nya murah. Pertanyaan saya berlanjut, mengapa alasannya SDM murah padahal hampir semua otomatis sehingga SDM yang diserap tidak terlalu banyak? Ternyata bukan itu rahasianya. Jumlah manusia di Asia lebih banyak dibandingkan dengan Eropa dan Amerika, dan selain itu GNP per kapita orang Asia akan meningkat dan semakin besar, sehingga sebagian besar orang Asia sudah mampu mengeluarkan US$I setiap hari untuk (lensa kontak). Itu adalah kuncinya. 



Jadi dalam hal ini, pertumbuhan yang terjadi bukanya yang disebabkan oleh salah satu keunggulan komparatif atau keunggulan kompetitif saja, bukan karena keunggulan komparatif atau keunggulan kompetitif. Supaya jangan salah dimengerti keunggulan kompetitif peranan teknologi dapat diabaikan (negligble). Tipe keunggulan komperatif adalah membuat sepatu dan membuat jeans. Tetapi apabila ke dalam proses produksi sudah dimasukkan peranan teknologi, maka yang menentukan adalah keunggulan kompetitif, dan dalam keunggulan kompetitif yang menjadi peranan bukan hanya harga manusia atau biaya SDM, tetapi density atau kepadatan iptek yang dikuasai oleh SDM tersebut di samping efisiensi produksi. 



Keunggulan kompetitif misalnya adalah dalam bidang teknologi tinggi bukan dalam bidang comercial electronics tetapi provison electronics atau dalam bidang dirgantara. Dengan perkataan lain, yang menyebabkan driving-force kapital ke negara-negara Asia atau kelompok negara lainnya, adalah jumlah manusia di negara-negara tersebut yang mulanya bergerak karena keunggulan komparatif di mana SDM-nya dapat mentransformasi sendiri menjadi SDM yang lebih berkualitas, sehingga mereka bisa menguasai baik keunggulan komparatif maupun kompetitif. Kita akan salah apabila dalam merekayasa ekonomi seperti halnya membuat sekelar seri, keunggulan komparatif terlebih dulu, kemudian dilanjutkan dengan keunggulan kompetitif. Cara seperti ini sangat salah, karena lead-time, jenjang waktunya terlalu lama. Oleh karena itu, yang harus dilaksanakan di bumi di Indonesia ini adalah secara simultan dan rahasianya adalah Iptek. 



Modal dari negara-negara maju hanya akan masuk ke negara-negara Asia atau kelompok negara lainnya, apabila kapital itu tidak dipantulkan. Bukan saja karena mempu-nyai stabilitas politik, tetapi juga apabila SDM-nya, prasarana ekonomi, prasana pengembangan SDM, prasarana iptek dan penguasaan kadar iptek dalam kehidupan SDM-nya tinggi, sehingga mampu mengabsorpsi. Oleh karena nega- ra-negara maju berkempentingan supaya "uang"nya tidak hanya masuk ke bank, maka mereka memberikan TA (technical assistant) kepada negara-negara Asia dan kelompok negara lainnya, supaya mampu mengembangkan keunggulan komparatif dan kompetitif sekaligus mengembangkan pasarnya. Kemudian masalahnya adalah tidak akan ada negara yang dalam mengembangkan dirinya bersedia tetap dikendalikan oleh negara-negara maju, oleh karena itu dalam hal ini perlu adanya kebijaksanaan yang harus dibuat antar negara.



Di sini saya ingin menggaris-bawahi perbedaan dengan skenario berdasarkan pemikiran mayoritas bahwa menyelesaikan masalah-masalah prasarana ekonomi dalam arti yang luas dan masalah-masalah prasarana kebutuhan dasar manusia dalam arti yang luas, tidak bisa lagi kita selesaikan hanya dengan memperhatikan kendala-kendal moneter. Tidak bisa!, karena kita akan menghadapi masalah khusus. Permintaan atau dalam negeri meningkat dan kalau kita tidak menguasai teknologi tidak memiliki sumberdaya manusia untuk mengatasinya, maka satu-satunya jalan adalah belanja dari luar negeri. Kalau tuntutannya meningkat dan belanja dari luar, komitmen juga meningkat berupa kewajiban kita dalam mengembalikan pinjaman. Kita bisa kehilangan kontrol, oleh karena itu saya berpendapat sudah sampai waktunya kita belajar dari pengalam 25 tahun terdahulu sampai di mana kita telah berhasil sebagai satu bangsa yang telah lulus berbagai ujian. 



Dengan kendala-kendala baru kita harus menghadapi pembangunan 25 tahun yang akan datang. Jelas kita masih membutuhkan kredit, sebagaimana pemerintah Amerika juga menjual surat-surat berharga. Untuk membiayai sebagaian dari program-programnya, kita dapat banyak belajar dari pengalaman 25 tahun yang lalu bagaimana membuatnya lebih baik bukan karena itu jelek, karena kondisinya sudah berubah. Saya mendemostrasikan contoh mengenai teknologi tinggi dengan contoh IPTN untuk memperlihatkan bahwa bahwa pengembangan sumberdaya manusia di bumi Indonesia dan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia itu bukan suatu tidak mungkin. 


Kesimpulannya supaya direnungkan kembali arti nilai tambah dan tidak terlalu mempertentangkan nilai tambah dengan keunggulan komparatif karena dalam ekonomi nilai tambah adalah dan keunggulan komparatif juga normal. Masalahnya bagaimana meningkatkan nilai tambah, meningkatkan teknologi dan sumberdaya bersama-sama untuk mendapatkan nilai tambah yang setinggi mungkin. Ini saya perlihatkan dengan contoh IPTN bahwa IPTN bisa menghasilkan pekerjaan yang sama dengan biaya yang rendah (the same work with less money) daripada saingannya. Selain itu, dengan hormat saya mohon perhatian, terutama untuk para ekonom, bahwa modal suatu perekonomian, definisinya bukan saja uang tetapi juga ide, seseorang tidak punya uang, dan tidak punya ide, tetapi dia punya apa yang bahasa Jerman disebut beziehung atau relasi atau ia mempunyai hubungan yang erat dengan orang yang membuat keputusan apakah dalam perusahan A atau B maka orang itu mempunyai modal. 



Modal dalam ekonomi itu luas sekali artinya, tetapi saya ingin katakan bahwa 25 tahun yang lalu, modal lebih ba-nyak diartikan sebagai uang. Itu benar, tetapi berdasarkan skenario yang saya katakan tadi, mohon untuk direnungkan karena saya berpendapat pada 25 tahun yang akan datang mekanisme yang sudah ada harus dimanfaatkan dan disempurnakan, jangan diganggu. Hubungan antara keunggulan komparatif dan nilai tambah tetap diperlihatkan. Saya mohon perubahan penekanan di dalam memberikan perhatian dalam detil modal yang artinya dalam ekonomi yang begitu luas. Kalau dahulu perhatiannya khusus pada masalah moneter, karena kita masih mengalami permasalah inflasi dan sebagainya, sekarang saya berpendapat bahwa perhatian pada modal memperhatikan tiga (3) hal, yaitu tetap pada moneter, ditambah dengan pengembangan dan keuntungan pengembangan sumberdaya manusia dan pada ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Bersambung

No comments:

Post a Comment