Monday, October 5, 2009

PENGALIHAN TEKNOLOGI: PT IPTN SEBAGAI MODEL II


Arah Perkembangan PT IPTN 

Dalam melaksanakan amanat Garis-Garis Besar Haluan Negara agar diletakkan kerangka landasan bagi bertumbuh dan berkembangnya Bangsa Indonesia untuk dapat di atas kekuatan sendiri mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila, maka melalui berbagai usaha untuk menghadirkan teknologi canggih, PT Industri Pesawat Terbang Nusantara bersama industri lain telah berupaya untuk ikut menumbuhkan sektor industri yang kuat agar dapat melengkapi sektor pertanian yang tangguh.

Dalam usaha ini ditempuh suatu proses transformasi teknologi dan industri yang terdiri dari empat tahap.

Tahap pertama yang paling mendasar adalah penggunaan teknologi canggih atas dasar lisensi dalam produksi dalam negeri pesawat-pesawat terbang seperti NC-212-100 "Aviocar" dan helikopter NBO-105, NBell-412, dan NAS-332 Super Puma. Tahap ini telah dimulai sejak 1976.

Tahap kedua adalah integrasi teknologi-teknologi canggih dalam desain dan pembuatan produk-produk baru. Dalam hal ini, PT IPTN melakukan rancang bangun pesawat terbang CN-235 bersama-sama dengan CASA (Construc- ciones Aeronauticas SA), Spanyol.

Pengembangan tahap kedua industri ini dimulai 1980 dengan didirikannya Aircraft Technologies Corporation (AIRTEC), sebuah perusahaan patungan antara PT IPTN dan CASA dengan masing-masing memiliki saham limapuluh persen. Maksud pendirian AIRTEC adalah untuk me- rancang dan membuat beberapa prototipe pesawat terbang yang sama sekali baru, yaitu CN-235.

Tahap ketiga adalah pengembangan teknologi berupa penyempurnaan teknologi yang telah ada dan pengem-bangan teknologi baru dalam rangka usaha merancang dan membuat produk-produk masa depan. Dalam hal ini, PT IPTN merancang dan memproduksi sendiri pesawat terbang N-250, pesawat penumpang komuter dengan kecepatan tinggi dalam daerah subsonik secepat 330 knot dan jarak terbang 800 nm yang dirancang bangun seluruhnya oleh putra-putri Indonesia dalam rangka kerjasama internasional dengan perusahaan dirgantara terkemuka seperti Boeing, Allison, Collins, Messier Bugatti, Auxilec, Dowty, Lucas, BGT, Liepher-Lucas, Avio, dan lainnya sebagai pelopor pelaksanaan skenario ekonomi abad mendatang untuk menghasilkan produk unggul yang mengintegrasikan karya-karya unggul umat manusia untuk dipersembahkan dalam pasar global sebagai produk unggul berkualitas tinggi dengan biaya rendah.

Peluncuran N-250, yang mempergunakan teknologi fly-by-wire telah dilaksanakan 10 Nopember 1994 baru lalu, sedangkan uji terbang untuk mendapatkan sertifikasi FAA dimulai Agustus 1995.

 
N-250, pesawat abad XXI berteknologi paling mutakhir ini, akan merupakan wahana melalui mana putera-puteri Indonesia akan berperanserta secara aktif guna meningkatkan pengalaman dan keterampilannya, dalam memecahkan masalah-masalah kompleks dalam bidang material, bidang aerodinamika, bidang konstruksi, bidang elektronika, kebisingan, dan sebagainya.

Selanjutnya dalam pengembangan industri pesawat terbang mungkin PT IPTN akan menempuh program berupa pengembangan pesawat jet buatan Indonesia seperti pesawat penumpang berkapasitas lebih besar, pesawat pelatih, serta pesawat tempur.

Tahap keempat adalah melakukan penelitian dasar secara besar-besaran. Dasawarsa mendatang bagi PT IPTN akan merupakan dasawarsa peningkatan pelaksanaan tahap pengembangan penelitian dasar.

Apabila dalam melaksanakan tahap produksi lisensi dan integrasi teknologi, PT IPTN merupakan ujung tombak bagi kemajuan bermacam-macam perusahaan-perusahaan penghasil prasarana, sarana, komponen dan material yang terkait dengan proses-proses nilai-tambah PT IPTN, maka di dalam tahap pengembangan teknologi sekarang ini, PT IPTN tidak hanya akan membantu memberi arah bagi kemajuan perusahaan-perusahaan tersebut, tetapi juga akan ikut mengembangkan berbagai laboratorium di PUSPIPTEK, Serpong, seperti Laboratorium Uji Konstruksi, Laboratorium Aerodinamika, Gasdinamika dan Getaran, La- boratorium Elektronika, Laboratorium Kalibrasi, Instrumentasi dan Metrologi, dan Laboratorium Propulsi, serta dapat ikut memajukan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di kalangan perguruan tinggi.

Di dalam pelaksanaan penelitian dasar, dengan sendirinya titik berat kegiatan akan beralih ke laboratoria dan sarana-sarana penelitian di PUSPIPTEK dan perguruan tinggi. Tidak pada tempatnya PT IPTN mempunyai peran utama di sini. Ini tidak berarti bahwa PT IPTN sama sekali tidak mempunyai fungsi. Melalui inovasi-inovasi yang melahirkan pesanan-pesanan pekerjaan pada laboratorium dan sarana penelitian dan pengembangan di PUSPIPTEK dan Perguruan Tinggi, PT IPTN akan berperan sebagai pemberi arah dan sebagai pihak yang ikut menjamin bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan berkembang memisahkan diri bagaikan dalam menara gading.

PT IPTN akan membantu mengupayakan agar ilmu pe-ngetahuan dan teknologi akan tetap ditujukan kepada pencapaian tujuan pembangunan bangsa.
Hal ini dapat dilihat dari arah perkembangan program kegiatan PT IPTN yang tidak hanya berdampak intern pada karyawannya saja, tetapi juga mempunyai pengaruh ke luar yang luas tidak saja pada perusahaan-perusahaan yang berkaitan dengannya, tetapi juga pada dunia ilmu pengetahuan dan teknologi dan pada dunia pendidikan yang merupakan pusat-pusat keunggulan kehidupan bangsa.

Dengan perkataan lain, program kerja dan investasi PT IPTN tidak saja ditujukan kepada sasaran menempatkan dirinya sebagai suatu bisnis yang berdaya saing internasional dan yang mampu menghasilkan laba bagi pemegang saham dan pajak bagi negara dalam suatu bidang usaha di luar minyak dan gas bumi dan di luar bidang non-migas tradisional sekaligus.

Di samping ditujukan pada sasaran yang sangat penting itu sebagai layaknya suatu badan usaha milik negara, program dan investasi perusahaan ini juga ditujukan pada sasaran membina perusahaan-perusahaan nasional lainnya, sasaran meningkatkan lapangan pekerjaan, dan sasaran mengembangkan suatu modal nasional bagi pembangunan berupa kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sambil mengupayakan membuka cakrawala penglihatan dan harapan masa depan bangsa.

PT IPTN Menyandang Misi Ekotekhan 
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa Industri Pesawat Terbang Nusantara ini hanya dapat berhasil jika mendapatkan dukungan dan pengamanan dari seluruh bangsa lndonesia, dari pimpinan nasional, pemerintah baik sipil maupun militer, seluruh lapisan masyarakat dan pihak pengusaha swasta.

Sesuai dengan falsafah berawal dari akhir dan berakhir dengan awal, PT IPTN bukan hanya persoalan angkatan bersenjata, tetapi merupakan persoalan pembangunan dan pertahanan seluruh bangsa.

Dalam rangka pengalihan teknologi ke Indonesia dan untuk kepentingan pembangunan nasional baik ditinjau dari sudut ekonomi, teknologi, maupun pertahanan, pendirian PT IPTN adalah sangat tepat dan benar. Karena itu untuk pendirian industri tersebut saya laksanakan tanpa ragu-ragu dan saya dapat mempertanggung-jawabkannya. Faktor yang membuat saya tidak ragu-ragu ialah tendensi industri-industri pesawat terbang besar di dunia untuk menghasilkan pesawat-pesawat yang lebih besar belakangan ini.

Perusahaan-perusahaan pembuat pesawat terbang Belanda, Jerman, Inggris, Perancis, Amerika Serikat dan Rusia mengalihkan produksinya untuk menghasilkan pesawat- pesawat yang lebih besar, misalnya, perusahaan Fokker membuat F-27 dan kemudian F-28, dan merencanakan pembuatan pesawat terbang yang lebih besar lagi. Dengan tendensi ini pemenuhan kebutuhan pesawat terbang yang lebih kecil akan menjadi sukar atau mahal sekali.

Sedang pesawat terbang kecil dan sederhana ini masih diperlukan Indonesia mungkin sampai tahun 2000. Pemakaian pesawat terbang kecil dan sederhana ini akan lebih murah bagi kita untuk pengangkutan di daerah terpencil saperti di Kalimantan, Irian Jaya, karena pembuatan jalan-jalan dan jembatan akan lebih mahal. Pesawat-pesawat kecil akan mahal sekali kalau dibeli dari perusahaan-perusahaan yang menghasilkan pesawat-pesawat besar, karena sarana-sarananya seperti hanggar, enjinering dan teknologinya disesuaikan dengan produksi pesawat terbang besar, sehingga overhead cost-nya akan tinggi, kalau menghasilkan pesawat-pesawat kecil.

Di negara-negara maju mungkin masih akan dihasilkan pesawat terbang kecil tetapi ini adalah pesawat-pesawat eksekutif dan sport yang tidak sesuai dengan kebutuhan di Indonesia. Alasan yang kedua untuk mendirikan industri ini ialah untuk memperkuat bargaining position kita pada saat kita melakukan pembelian pesawat terbang besar dari negara-negara maju.

Umum berlaku bahwa pembelian pesawat terbang dari negara lain, negara pambeli tidak membayarnya 100% dengan uang tetapi sebagian dengan manhour. Negara pembeli pesawat akan mengirimkan seharga yang disetujui, katakan 30% dari harga pembelian dengan parts atau komponen-komponen pesawat terbang yang dibutuhkan oleh negara penjual pesawat terbang. Hal ini menjadi mungkin kalau negara pembeli sanggup dan diakui dapat menghasilkan parts dengan standard internasional. Dengan cara ini negara pembeli akan mendapatkan bagian pekerjaan dari pembeliannya, dan memberi pekerjaan kepada karyawannya, keuntungan serta overhead yang seharusnya dibayar kepada negara penjual akan tinggal pada negara pembeli.

Selama ini kita baru dalam tahap membeli pesawat terbang atau alat-alat perindustrian lainnya. Pemikiran kita hanya tertuju pada harganya saja atau added costnya saja. Kita belum memikirkan partisipasi dalam pembuatannya. Hal seperti di atas perlu juga diterapkan di Indonesia, tetapi tentunya dengan memenuhi ketentuan, bahwa kita telah mempunyai industri yang telah diakui secara internasional, dan dapat menghasilkan parts dengan standard yang telah ditentukan. Untuk itu perlu investasi besar, investasi perangkat keras misalnya hanggar, permesinan, peralatan dan sarana-sarana lainnya, demikian juga perangkat lunak merupakan keahlian dan ketrampilan dalam berbagai bidang.

Untuk ini perlu tenaga-tenaga pekerja di-upgrade, dilatih di dalam dan di luar negeri. Di dalam pemindahan teknologi, mungkin timbul pertanyaan kenapa dimulai dengan industri penerbangan? Tujuan kita yaitu maksimumisasi added value dan industri ini dapat memberi nilai tambah yang tinggi. Kalau nilai tambah pembuatan Mercedes kurang lebih dua kali dari nilai tambah pembuatan Volkswagen, maka added value dalam pembuatan pesawat terbang akan berjumlah puluhan kali dari added value pembuatan mobil Mercedes.

Mengenai perkembangan pemasaran pesawat terbang, apabila dalam dasawarsa pertama, pemasaran produk-produk PT IPTN ditujukan pada pasar dalam negeri, maka dalam dasawarsa mendatang, penjualan ke dalam negeri akan diimbangi dengan pemasaran ekspor umumnya, khususnya ke wilayah Asia-Pasifik, ASEAN, dan Timur Te-ngah. Upaya merealisasikan hal ini sedang ditempuh. Namun jelas bahwa kegiatan PT IPTN dalam dasawarsa ber-ikutnya tidak hanya akan dibatasi pada produksi dan integrasi teknologi.

Kalau pada saat ini PT IPTN dapat mempekerjakan 16.000 orang tenaga kerja dengan standard internasional maka yang menikmatinya bukan hanya mereka, karena industri ini juga membuka kesempatan untuk usaha subkontrak dalam bidang elektronika, avionika, karoseri dan barang-barang lain untuk pesawat terbang. Hal ini berarti industri pesawat terbang Nusantara dapat memberi suatu multiplier effect yang luas.
Di samping ditujukan pada sasaran yang sangat penting itu sebagai layaknya suatu badan usaha milik negara, program dan investasi perusahaan ini juga ditujukan pada sasaran membina perusahaan-perusahaan nasional lainnya, sasaran meningkatkan lapangan pekerjaan, dan sasaran mengembangkan suatu modal nasional bagi pembangunan berupa kemampuan ilmu dan teknologi, sambil mengupayakan membuka cakrawala penglihatan dan harapan masa depan bangsa.

Bahkan dalam tahap pertama pengembangannya telah dapat dibawa berkembang berbagai jenis usaha melalui kaitan-kaitan ke depan dan ke belakang. Dewasa ini PT IPTN telah berkembang menjadi pusaran bagi sebanyak seratus enambelas buah perusahaan domestik. Di antara mereka, ada yang mulai beroperasi dengan lima orang dan sekarang telah berkembang menjadi duaratus orang. Lainnya ada yang kini telah bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan asing dalam memasok berbagai komponen yang dibutuhkan PT IPTN. Maka pertumbuhan apa yang saya telah namakan wahana kesembilan yang tidak terlihat telah pula dimulai.

Dari satu sudut, perusahaan-perusahaan ini memang dapat dipandang sebagai sekadar merupakan penyedia barang dan jasa. Namun sebenarnya, mereka merupakan inti sekelompok perusahaan yang kelak di kemudian hari dapat berkembang menjadi pelaksana-pelaksana proses nilai-tambah yang hasilnya menjadi masukan bagi proses nilai tambah berteknologi canggih pada PT IPTN. Dengan diselenggarakannya proses pengembangan ini secara terarah dan terkendalikan, maka secara bertahap dapat dikembangkan wahana industri penerbangan terdiri dari PT IPTN didukung oleh kurang lebih empat ratus perusahaan lainnya, sebagai salah satu dari kedelapan wahana transformasi teknologi dan industri Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang menguasai teknologi dan industri modern.

Seperti saya jelaskan berkali-kali, untuk merebut, me-nguasai, mengembangkan, dan mengendalikan serta memanfaatkan teknologi canggih diperlukan sumberdaya ma-nusia yang handal dalam jumlah yang memadai. Untuk itu, jika Amerika Serikat dengan 270 penduduknya untuk unggul di bidang teknologi canggih (industri militer dan dirgantara) hanya memerlukan 2,8% penduduknya; Jerman untuk unggul di bidang industri baja, petrokimia dan mobil hanya membutuhkan 3,5%. Dan Jepang untuk unggul di bidang otomotif dan elektronik hanya perlu 1,5%; maka bagi Indonesia, jika telah ada 1 persen saja dari seluruh penduduknya yang bergelut di bidang teknologi canggih, bisa dianggap telah memadai.


Bersambung

No comments:

Post a Comment