Monday, June 22, 2009

Sumber Daya Manusia Modal Utama Pembangunan V

Peningkatan Nilai Tambah Pribadi



Tetapi semua ini hanya terjadi jika ada sistem dan cara yang berkesi-nambungan untuk memungkinkan terjadinya apresiasi sumber daya ma-nusia. Apakah itu? 

Sekarang biarlah saya berbicara tentang nilai tambah pribadi. Nilai tambah pribadi bisa diperoleh melalui tiga jalan :
1. Genetika;
2. Pendidikan;
3. Pembudayaan.

Para ilmuwan terutama dokter dan peneliti ilmiah semuanya sependapat, bahwa kualitas seseorang bisa diturunkan kepada anak-anak turunnya. Tetapi, setelah manusia lahir dan tumbuh, nilai tambahnya dikontrol oleh lingkungannya yaitu pendidikan dan pembudayaan seperti yang sudah saya jelaskan di atas. Begitu seorang anak sudah memasuki usia sekolah dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi sehingga menjadi Bachelor, Master, atau Ph.D., mereka memasuki proses nilai tambah pribadi. 

Mereka semua tahu ketika seseorang sudah memperoleh gelar Ph.D. dengan summa cumlaude, ia memiliki nilai tambah tetapi bila tidak mendapatkan kesempatan kerja, maka nilai tambah pribadinya itu masih semu. 

Manusia setelah menyelesaikan sekolah, tetapi tidak memperoleh pekerjaan untuk mengamalkan apa yang sudah diraih di sekolah, maka ia itu stagnan dan bisa mengalami depresiasi.

Kesimpulannya, menciptakan kesempatan kerja adalah keharusn dan pengangguran harus dihindarkan. 

Semakin besar pengangguran semakin banyak sumber daya manusia mengalami depresiasi. 

Jika depresiasi yang terjadi, berarti Anda mengadakan transformasi terhadap sumber daya manusia dari potensi ekonomi menjadi potensi beban sosial. Dan jika hal ini tidak bisa dihentikan, maka hal itu akan bisa mendestabilisasikan sistem.

Jika Anda mempelajari akhir suatu kebudayaan, ada kebudayaan yang mengalami bencana. Kita telah mempelajari sejarah umat manusia yang memiliki budaya ekonomi yang kemudian ambruk. Lihatlah sejarah Fir’aun di Mesir, lihatlah sejarah bangsa-bangsa lain, dan terus kita telusuri sampai budaya masa kini, pasti ada hubungannya dengan apa yang sudah saya uraikan dalam pidato saya ini. Tidak ada yang menakjubkan di dunia ini yang menakjubkan itu hanya ada di surga.

Tetapi, manusia itu memang berbeda dalam kebudayaannya, karena apa? Karena tidak setiap manusia dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi daripada mekanisme proses apresiasi yang berkesinambungan. Manusia yang bisa berbuat demikian adalah manusia yang memiliki kualitas imtak yang tinggi dan kualitas Iptek yang tinggi. Mekanisme proses ini harus diciptakan untuk umat. Bukan saja untuk umat, tetapi juga untuk seluruh masyarakat, termasuk bangsa Eropa, bangsa Jepang, dan sebagainya.


Sekarang kami kira kita benar-benar sudah berada di dalam posisi itu. Jika kita tidak memiliki semua kualitas yang Islami, kita akan menjadi tercemar. Jika Anda menanamkan investasi banyak di dalam sistem untuk mendapatkan Hadiah Nobel atau hadiah apapun, itu berarti Anda telah mengabaikan eksistensi dari masalah nyata umat. Jika Anda mengabaikannya, tidak perlu dijelaskan apa yang akan terjadi nanti.

Indonesia belum tuntas dalam pengentasan kemiskinan. Kurang lebih masih 30% masyarakat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan dan itu berarti kami sudah mengentaskan sebanyak kurang lebih 60%. Keadaan ini bisa berubah. Dan Anda bisa mengubahnya jika Anda mencerahkan pikiran Anda, menguasai masalah sampai rinci, dan Anda sampai kepada pemecahan masalah serta tahu bagaimana melaksanakan jalan keluar itu. Kita wajib mengatasi masalah yang dihadapi umat dengan penuh motivasi dan dedikasi.


Untuk mendapatkan motivasi dan dedikasi berdasarkan prinsip dan keyakinan adalah hanya menempuh prosedur untuk mendapatkan peningkatan yang stabil meningkat dengan meraih sukses. Sukses adalah bahan bakar untuk meningkatkan semangat. Itulah alas-annya mengapa kita terus bekerja keras di Indonesia untuk meraih sukses itu.

Jadi, kembali pada pokok bahasan kita, perdagangan 650 tahun yang lalu lebih menitikberatkan pada barang-barang hasil dari sumber daya alam. Tetapi, masyarakat tahu Kolumbus menemukan Amerika kemudian Kolumbus melalui belahan dunia bagian selatan meneruskan perjalanannya untuk mencari pulau Maluku karena masyarakat di negara Kolumbus membutuhkan rempah-rempah. Bahkan, organisasi besar di Eropa waktu itu memiliki kekayaan yang paling mahal yaitu mereka dapat menciptakan peta. 

Saya tidak tahu persis apakah pada wak-tu itu di Timur Tengah juga sudah ada organisasi yang mengkhususkan diri pada peningkatan kualitas sumber daya manusia seperti di Eropa karena program ini sangat mahal. Dan peta yang mereka miliki itu jelas lebih mahal daripada rempah-rempah yang mereka cari pada waktu itu. Kisah ini menggambarkan pentingnya peranan sumber daya manusia. 

Sebab tanpa pengetahuan seperti ini kita tidak akan menjadi bijaksana untuk menentukan jalan untuk bertolak kemana kita akan pergi. Kesimpulannya masyarakat ingin menciptakan sesuatu dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik di Indonesia maupun di kawasan Asia Tenggara dan di kawasan lainnya untuk dapat mengekploitasi kekayaan sumber daya alam dalam rangka meningkatkan nilai tambah.

Pada waktu itu masyarakat yang hidup di sana hanya dipergunakan sebagai alat untuk mendapatkan sumber-sumber daya yang penting dan untuk mendapatkan nilai tambah yang maksimum untuk membiayai transformasi masyarakat. Indonesia 50 tahun yang lalu, mengutamakan sumber daya alam bagi sumber pendanaan pembangunannya. Kita tidak berada dalam keadaan yang baik sebaik Malaysia, Sigapura, dan Malaysia.

Lima puluh tahun lalu, Indonesia hanya punya satu sumber itu. Tetapi, selain itu bangsa Indonesia memiliki agama dan menerjemahkannya menjadi bangsa Indonesia yang kaya dengan budaya yang kualitasnya sangat tinggi. Dengan begitu, agama telah memberikan andil dalam proses nilai tambah budaya. Tetapi, kita belum punya sistem pendidikan dengan muatan Iptek. Sumber daya manusia hanya cukup digunakan sebagai pelengkap (supplement) bagi pemanfaatan sumber-sumber daya alam. Sembilan puluh sembila persen (99%) GDP Indonesia berasal dari sumber daya alam.

Syukur alhamdulillah, tahun ini adalah tahun pertama dari 25 tahun mendatang dalam sejarah negara saya dan tahun ini sumber daya manusia bukan lagi menjadi pelengkap dari segala aktivitas pembangunan. Bagi Indonesia, sumber daya manusia merupakan satu-satunya potensi ekonomi yang dapat diperbaharukan dan sumber daya alam telah ditransformasikan menjadi pelengkap.

Kini GDP Indonesia secara total didominasi oleh sumber daya manusia. Kondisinya sudah berubah total. Saya kira sumbangan GDP dari sektor industri secara total kini sudah mencapai kira-kira 82%-83 %, sedangkan dari pertanian dan lain-lain-nya sekitar 17%-18%. Sumbangan GDP ini menyerupai Jerman. Tetapi, tidak ada gunanya sebagai seorang Muslim kita membanggakan hal ini. Yang saya ketahui, bahwa dengan mendapatkan kesempatan dan kepercayaan untuk membantu Presiden Soeharto selama 24 tahun sampai kini saya bekerja secara terus menerus untuk mengubah keadaan ini. 

Ketahuilah, bahwa sistem saya menentang kesombongan. Saya hanya tahu kerja dengan ikhlas. Bersyukurlah bangsa Indonesia, bahwa bangsa Indonesia telah mengubah skenario pembangunannya di mana sumber daya manusia yang tadinya merupakan pelengkap terhadap sumber daya alam, sekarang atas karyanya sendiri telah mengubah sumber daya manusia menjadi pemeran yang paling dominan dan sumber daya alam yang menjadi pelengkap. Dan ini harus dilanjutkan secara berkesinambungan. 

Dan ini hanya bisa terjadi dan terjamin jika ada stabilitas di Indonesia dan di kawasan Asia Tenggara ini. Stabilitas yang berguna itu tidak datang begitu saja. Hal ini sudah saya jelaskan secara panjang lebar di Singapura dan di Tokyo. Di Singapura pada kesempatan Konperensi Pertahanan Asia Pasifik III saya berbicara tentang "penerapan kebijakan teknologi maju yang kuat untuk mencapai ketahanan nasional dan pembangunan ekonomi," dan di Tokyo pada kesempatan Konperensi Internasional tentang Masa Depan Asia. Saya berbicara tentang "kerjasama ekonomi untuk stabilitas regional.


Saya yakin banyak dari anda tahu apa yang sesungguhnya ter-jadi di Indonesia. Kami sekarang ini adalah masyarakat yang terdiri 192 juta jiwa. Jumlah ini mungkin 3 setengah kali lipat jumlah penduduk di Malaysia. Dan tentang luasnya negara kami, jika anda mengambil peta Amerika, anda tahu luas negara kami lebih luas daripada New York sampai San Fransisco. 

Di sana kita dapat menjalankan suatu perekonomian, jika struktur ekonomi tidak berfungsi secara favorable anda tidak da-pat membuat biaya yang kompetitif, itu berarti ekonomi biaya tinggi sebab setiap aktivitas meminta biaya tinggi, segala kebutuhan dipenuhi dengan cara impor, dan ini tentu sangat mahal. Sebab itu anda tidak akan bisa memberikan sumbangan dalam suatu perekonomian karena ekonomi Anda sendiri ekonomi biaya tinggi dan kegiatan ekonomi tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai, segala kebutuhan dipenuhi dengan impor termasuk impor teknologi. Karena itu Indonesia selalu meningkatkan dan mengubah strategi yang lebih sesuai untuk menghadapi empat tahun dari sekarang di mana kita akan hidup di abad ke-21.


Anda tahu negara kami memiliki lebih dari 400 kelompok etnis dan setiap etnis memiliki budayanya sendiri, wilayahnya luas dengan lebih dari 17 ribu pulau besar dan kecil. Bahasanya juga bermacam-macam. Bahasa daerah (dialek) termasuk di dalamnya ada bahasa Malaysia atau bahasa Melayu yang juga dipakai di Indonesia dan menjadi sumber acuan utama bahasa Indonesia. Meskipun berbeda-beda suku, bahasa dan budaya, kita tetap satu. Rasa persatuan sudah tercipta sejak lama di Indonesia. Pada 28 Mei 1908 Dr. Wahidin Sudirohusodo telah mendirikan Yayasan yang diberi nama Budi Utomo dengan misi bagi bangsa Indonesia hanya satu yaitu melawan keterbelakangan dan penjajahan. 

Karena itu setiap tanggal 28 Mei kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional sebagai hari permulaan bangsa Indonesia memasuki pendidikan modern. Dua puluh tahun kemudian, tepatnya 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia memperkokoh semangat persatuannya dengan menyatakan Sumpah Pemuda: satu bahasa, satu nusa, satu bangsa: Indonesia. 

Dan 17 tahun kemudian tepatnya pada 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya setelah menciptakan dasar negara Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. Pada waktu itu tidak seorangpun bergagas untuk menciptakan semua itu berdasarkan pada ego kelompoknya, tetapi hanya untuk rakyat. Jika kita harus melakukannya sekarang maka setiap orang akan mengusulkan sistem yang dicanangkannya berhak untuk dijalankan. Jika kita harus menciptakan Pancasila dan UUD sekarang, sulit bagi kita untuk dapat mencapai kesepakatan dengan banyak kelompok masyarakat, tetapi waktu itu untuk membuat UUD hanya memerlukan waktu satu minggu.


Oleh karena itu, seperti halnya konstitusi Amerika Serikat, atau negara-negara Eropa dan negara lainnya di dunia, konstitusi kami tidak dapat diubah oleh siapapun sebab konstitusi tersebut merupakan dasar dari keberadaan kami. Dan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Proklamasi kemerdekaan ini adalah tonggak sejarah ketiga yang dibuat oleh Soekarno. 

Dan 21 tahun kemudian, pada tahun 1966 bangsa Indonesia memasuki babak sejarah Orde Baru untuk melakukan pembangunan nasional de-ngan pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dan melakukan koreksi, setiap 5 tahun mengadakan pemilu untuk memilih wakil rakyat di parlemen dan memilih mandataris MPR yang menjadi Presden RI. 

Presiden itu kemudian mengangkat pembantunya di dalam kabinet untuk memimpin rakyat melaksanakan pembangunan yang berkesinambungan, dan mengubah keadaan dari sumber daya manusia sebagai pelengkap kini sumber daya alam sebagai pelengkap. Keberhasilan ini dimungkinkan oleh penguasaan teknologi oleh sumber daya ma-nusia Indonesia yang kualitasnya semakin meningkat.

Bersambung

No comments:

Post a Comment