Thursday, May 27, 2010

Persatuan dan Kesatuan Umat untuk Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Persatuan dan Kesatuan Umat
untuk Memperkokoh
Persatuan dan Kesatuan Bangsa
 
Disampaikan dalam acara Halal Bi-Halal yang diselenggarakan oleh KAHMI
pada 19 Pebruari 1997 di Jakarta.
 
Ketika Kabinet Pembangunan V ini berakhir, tepat 20 tahun lamanya, saya telah melaksanakan tugas sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi. Saya tiga kali mendapatkan kehormatan untuk menyusun bersama Undang Undang tahun 1978-1979, saya rasa  yang hadir di sini ada dari Komisi 10 yang juga hadir waktu itu. Kami harus mengundang-undangkan pemanfaatan nuklir untuk tujuan damai (masalah Nuclear Non Proliferation Treaty). Selain itu, kami ditugaskan untuk membuat undang-undang Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia yang diketuai Prof. Dr. Widjojo Nitisastro. Dipandang dari sudut ilmu pengetahuan dan teknologi, masalah kesehatan, pertanian, industri sampai tenaga listrik, sangat kompleks. Meskipun demikian, proses membuat undang-undang berjalan lancar. Ini berarti, bahwa demokrasi Pancasila dalam 20 tahun makin hari makin mantap, manusia makin hari makin kritis, makin hari makin cendekia, makin hari makin profesional, makin hari makin obyektif, dipandang dari sudut multi disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidangnya masing-masing, tetapi selalu subyektif terhadap kepentingan rakyat dan bangsa. Sehingga masalah itu bisa menjadi sederhana, convergence, lancar jalannya, tanpa ada voting, tetapi melalui musyawarah dan mufakat, sesuai dengan jiwa demokrasi Pancasila dan jiwa umat Islam.
Sekarang suatu kejadian lain, terjadi pada saya yang juga sangat mengharukan. Untuk pertama kalinya saya mendapat kehormatan bertatap muka dengan sekian banyak cendekiawan muslim di bumi Indonesia, dari seluruh penjuru dan dari daerah yang memiliki kemampuan dalam bidangnya masing-masing dengan potensinya masing-masing dengan amplitudo dan iramanya masing-masing, namun dengan frekuensi resonansi yang sama atas aspirasi bangsa Indonesia yang justru 90% adalah nafasnya Al Quran dan Sunnah. Sebelumnya, saya ingin menyampaikan pula selamat atas 50 tahun HMI, semoga HMI benar-benar konsisten dan setia pada cita-citanya, tidak merupakan organisasi eksklusif, tidak terlalu banyak membuat kendala-kendala politik, juga tidak terlalu banyak dikendalakan oleh kendala-kendala politik. Yang penting adalah visi, itikad niat dan segala tindakan harus berdasarkan perhitungan. Saya berani mengatakan ini dihadapan para tokoh HMI dan saya berani menyampaikan di hadapan banyak tokoh-tokoh muda, walaupun saya tidak pernah menjadi anggota HMI. Itu tidak berarti yang bukan anggota HMI tidak mempunyai visi, bahwa tidak berarti getaran jiwa seseorang yang kebetulan bukan anggota organisasi tersebut tidak dekat dengan rakyat, tidak dekat dengan organisasi apapun juga, karena Saudara adalah rakyat pula termasuk saya sendiri. Jadi, saya mau kembalikan pada proporsi yang merupakan harapan bangsa, karena organisasi apapun, termasuk HMI, sudah seharusnya menjadi organisasi yang berorientasi kepada pengembangan sumber daya manusia.
Pengembangan sumber daya manusia yang kualitasnya tinggi dan beriman kepada Al Quran dan Sunnah, serta bertaqwa. Orang yang beriman adalah orang yang selalu berusaha mencari terobosan untuk membantu sesama manusia tanpa bertanya, tanpa perhitungan apapun juga, karena memang didorong oleh niat dan itikadnya, karena imannya. Namun, dalam membantu itu harus ada tolok ukurnya. Jangan membantu dengan mengambil kebijaksanaan yang tidak halal, yang haram. Oleh karena itu, orang beriman harus bertaqwa dan merujuk kepada tolok-tolok ukur yang menentukan mana yang halal dan mana yang haram. Karena itulah taqwa harus berdasarkan pada Al Quran dan Sunnah. Manusia yang bertaqwa dan merujuk kepada tolok-tolok ukur budayanya masing-masing itulah manusia yang kita kehendaki. Bukankah budaya itu juga sangat ditentukan oleh agama? Dan jikalau budaya bangsa Indonesia yang 90% adalah budaya manusia yang bernafaskan Al Quran dan Sunnah itu, maka tentu budaya tersebut sangat banyak ditentukan oleh tolok-tolok ukur yang tersirat secara langsung maupun tidak langsung di dalam Al Quran dan Sunnah. Itu normal, itu biasa,  bukan sesuatu yang ajaib. Oleh karena itu saya pernah menyampaikan, jika kita telah melaksanakan pembangunan yang berkesinambungan lebih dari 25 tahun dan berorientasi kepada potensi manusia yang terbaharukan, dan sekarang ternyata banyak sekali tokoh-tokoh Islam muncul pada permukaan dalam jajaran pimpinan puncak, menengah maupun rendah itu bukan identik dengan Islamisasi, itu berarti keberhasilan demokrasi Pancasila, karena 90% dari rakyat adalah umat Islam. Tidak mungkin keberhasilan itu terjadi walaupun andaikata yang 3,5% semua jenius.
Jangan kita mengira, bahwa saya menyampaikan hal ini hanya kepada Anda di sini, saya sampaikan ini sudah beberapa kali kepada Bapak Presiden, dan Bapak Presiden membenarkan. Memang itulah maksud pembangunan yang ditujukan kepada pengembangan sumber daya manusia terbarukan. Jauh daripada prasangka, bahwa saya mau berbicara tentang SARA; tidak ada SARA di dalam buku kamus bangsa Indonesia, SARA tidak ada. Kita bangsa Indonesia tidak pernah mengenal SARA dalam bentuk apapun, dan saya sebagai bangsatidak akan mentolerir, apalagi sebagai umat Islam, tidak mengenal SARA pula. Saya rasa umat-umat yang lainpun tidak mengenal SARA, tiap agama tidak mengenal SARA. SARA itu mungkin dibuat-buat oleh orang yang justru tidak beragama.
Saya mau menyampaikan suatu analisis. Analisis mengenai kejadian-kejadian terakhir mulai dari pembakaran masjid dan pembakaran gereja di Timor-Timur, setelah itu pembakaran gereja di Situbondo dan seterusnya. Waktu saya keluar dari gedung DPR, saya dikeroyok wartawan yang mengajukan banyak pertanyaan, antara lain mengenai kejadian-kejadian itu. Saya katakan, sampai saya sudah berumur 60 tahun, tahun ini 61 tahun, di kota kecil Pare-Pare di Ujung Pandang (Makasar), di Bandung tidak pernah saya melihat gereja, masjid maupun vihara dibakar, karena bangsa kita selalu merupakan bangsa yang berbudaya kepada Ketuhanan Yang Maha Esa. Pancasila bukan dikarang oleh Bung Karno, tetapi digali oleh Bung Karno. Digali dari mana? Dari tubuh budaya bangsa Indonesia. Jadi, sebenarnya dalam sepanjang masa tidak pernah terjadi apa yang terjadi dalam hanya beberapa bulan terakhir ini. Kalau itu terjadi hanya dalam beberapa bulan, terus berturut-turut, maka hal itu tidak alamiah. Kalau dikatakan kejadian itu timbul karena SARA, saya sangat meragukan, karena kita tidak berbudaya SARA, dalam arti tidak akan mentolerir orang melaksanakan SARA dalam bentuk apapun juga. Kalau dikatakan karena kesenjangan sosial, hanya di surga tidak ada kesenjangan sosial. Di dunia selalu ada kesenjangan sosial dan tidak bisa diselesaikan dalam masa satu generasi, ia membutuhkan waktu. Kita jangan hanya selalu melihat ke depan, harus berani pula melihat ke belakang: apa yang telah dicapai dalam 50 tahun lalu, apa yang telah dicapai dalam 30 tahun, apa yang telah dicapai dalam 10 tahun, bahkan apa yang telah dicapai dalam 5 tahun lalu. Tadi telah saya berikan contoh, tiga kali saya mengusulkan undang-undang.
Saya merasakan bagaimana pesatnya perkembangan potensi ma-nusia Indonesia, jadi bukan pula karena kesenjangan sosial, bukan karena SARA. Karena apa? Kenapa tiba-tiba terjadi? Betulkah begitu? Apakah itu bukan usaha untuk menjatuhkan mandataris MPR? Sebelum saya jawab, baiklah saya berikan suatu analisa, untuk pertama kalinya di depan umum saya menyampaikan dan supaya diketahui, analisa ini telah saya sampaikan pula kepada mandataris MPR H. Mohammad Soeharto. Ada tiga pendekatan. Pendekatan yang saya namakan mau mengubah peta politik ideologi. Pendekatan kedua mau mengubah peta politik kebudayaan. Pendekatan ketiga bukan mau mengubah tapi mau mempertahankan status quo peta politik ekonomi.
Baiklah saya mulai dengan pendekatan pertama. Abad yang lalu umat manusia memulai revolusi yang namanya revolusi industri dengan penemuan mesin uap. Untuk pertama kalinya manusia bisa melipat gandakan kekuatan manusia. Bukan cuma melipatgandakan, melainkan menjutakalikan kekuatan manusia, sehingga hasil-hasilnya bisa ditingkatkan dengan cepat dan modal dalam arti teknologi, uang dan sumber daya manusia terus menjadi perhatian umat manusia.Waktu itu revolusi berkembang mulai di Inggris pindah ke Jerman, Prancis, kita kenal istilah yang disampaikan oleh Bung Karno, "exploitation de I'homme par I'homme", manusia menghisap manusia untuk mengambil hasil maksimum demi kepentingan segelintir manusia itu sendiri. Akibat daripada itu, timbul reaksi konsolidasi dari mereka yang belum mendapatkan kesempatan untuk berkembang. Mereka mengkonsolidasi dengan memunculkan ide-ide dari Engels, setelah itu menganut ide-ide Marx, setelah itu dikembangkan menjadi politik komunis dan sosialis. Keduanya berlawanan, secara global bisa diisolir di tempatnya masing-masing tetapi bertemu di tempat di mana mereka mencari ladangnya. Pertemuan itu bisa terjadi di dalam dan di luar negeri. Di dalam dan di luar negeri terjadi perubahan, mereka yang ekstrim kanan masuk ke menengah dan yang ekstrim kiri masuk ke menengah, kadang saling mempengaruhi. Yang tadinya kapitalis seperti di Jerman berubah menjadi social market economy, ekonomi sosial yang berorientasi pada pasar dan yang di Amerika pun berubah ke arah situ yang semula masuk ke pakar ekonomi yang berorientasi pada perencanaan terpusat yang selalu ditentukan oleh suatu sistem, suatu pimpinan yang terdiri dari beberapa konglomerat, bukan konglomerat kapital tetapi konglomerat kekuasaan (power), power dalam arti politik dan politik bisa diidentikkan dengan kapitalis, ternyata mereka pun baru beralih menjurus kepada orientasi pada pasar, tetapi sebelum mereka mengadakan peralihan itu sistem ekonomi komunis bangkrut. Walaupun mereka mempunyai Sputnik, mempunyai intercontinental balistic missile, mempunyai pesawat terbang Sukhoi yang diperlihatkan pada pameran dirgantara tahun lalu di bumi Indonesia canggih sekali tetapi mereka ambruk. Kenapa mereka bangkrut? Karena, mereka punya senjata canggih tetapi tidak punya uang untuk membiayai hamburger saja, sehingga akhirnya ambruk seluruhnya. Itu terjadi pada tahun 1988, imperium komunis yang terdiri dari Rusia sebagai induknya dan negara-negara satelit di Eropa ambruk. Dan juga ia berusaha mempunyai negara satelit di Asia termasuk di Asia Tenggara.
Ketika hancur seluruhnya apa yang terjadi? Pertama, Jerman Timur, negara yang tadinya 40 tahun di garis depan dalam mengglobalisasikan ide komunis, hanya dalam satu tahun disedot kembali oleh sistem yang namanya kapitalisme masuk ke Jerman Barat, menjadi satu Jerman.  Itu berarti suatu budaya yang direkayasa dalam 46 tahun atau 50 tahun pun tidak bisa mengeliminasi suatu budaya yang telah berkembang secara evolusioner dalam ratusan, bahkan ribuan tahun. Itu bukan berlaku untuk Jerman saja itu berlaku untuk siapapun juga termasuk Indonesia. Tipe pertama lepas tersedot oleh budayanya sendiri, hilang dari Emperium Rusia. Kedua apa yang terjadi seperti di Chekoslowakia, Yugoslavia? Chekoslovakia pecah menjadi Cheko dan Slovakia. Yugoslavia pecah di Baltik, terpecah dalam enam negara kecil. Apa yang terjadi dari pecahan-pecahan itu? Pertama ada seperti Cheko yang langsung mandiri, konsolidasi dan bisa menstabilisasi keadaan, ekonomi dan politiknya dan memproklamasikan diri menjadi suatu negara sosialis ataupun negara yang berorientasi kepada pasar sosial seperti Jerman. Oleh karena itu, dalam hal ini tipe seperti Cheko berani mengetok pintu untuk masuk ke jajaran European Common Market, ikut dalam persekutuan Eropa di mana Jerman, Prancis, Inggris, Belanda dan sebagainya berada. Bahkan kalau bisa masuk ke dalam NATO. Demikian juga Polandia, dari perpecahan itu masih berada pada tipe kedua, yaitu negara yang bisa konsolidasi, matang dan mau menggabung dengan ekonomi sehat supaya ia ikut kecipratan kesejahteraan. Tipe ketiga yang tadi terpecah dari tipe kedua, adalah Slovakia yang masih mengambang (floating), masih tidak tahu bagaimana meraba dan masih mencari definisinya, tetapi belum menentukan untuk mengetok pintu masuk ke European Common Market, tetapi sudah ia tentukan bahwa ia juga mau masuk ke suatu sistem ekonomi berorientasi kepada pasar sosial, tipe ketiga. Tipe keempat adalah Rusia sendiri. Akibat dari satelit-satelit Rusia sendiri yang terpecah dalam beberapa negara-negara. Ada yang setia pada ideologi komunis, namun supaya mereka tidak dibawa arus jatuhnya ideologi komunis, karena bangkrut, maka mereka rubah wajahnya. Mereka juga masih memikirkan untuk menentukan sikap dan perubahan, tetapi bukan antara sosialis dan kapitalis, melainkan antara sosialis dan komunis. Jadi, ada lima tipe.
Kalau kita mempunyai perusahaan atau organisasi kita harus sudah tahu satu tahun sebelumnya, atau paling telat tiga tahun sebelumnya, bahwa ia akan mendapat lampu merah, bahwa ia mau bangkrut karena tidak sehat. Itu normal. Pengusaha harus tahu itu. Oleh karena itu, bangkrutnya imperium komunis sudah diketahui sekurang-kurangnya tiga tahun sebelumnya, bahwa akan mengarah ke situ. Saya bisa bayangkan orang yang tetap berideologi keras dan percaya bahwa ideologinya yang paling tepat, ia sudah konsolidasi dan mempersiapkan diri bila terjadi bangkrut bagaimana ia kembali lagi untuk berada ke irama yang sehat dengan wajah dan cara yang mandiri dan canggih, tetapi dengan ideologi yang sama. Itu wajar, dalam kasus itu pada tahun 1988 ia bangkrut, pada tahun 1989 ia sudah konsolidasi, pada tahun 1990 ia mulai bergerak, pada tahun 1991 ia mulai bertindak, tentunya ia konsentrasi pada imperiumnya. Kelima tipe tersebut tidak termasuk mereka yang ada di Afrika, bukan itu dulu yang ia konsolidasi. Tetapi ia hadapi suatu masalah yang nyata. Masalah ideologi yang sangat meragukan mereka. Masalah itu adalah Indonesia.
Sekarang Anda tanya mengapa Indonesia? Dalam sejarah umat manusia yang menghadapi dua pola itu tadi hanya satu bangsa dan negara yang secara mandiri dan tidak dibantu dari luar, namun bisa mengatasi masalah-masalah komunis, mengembalikan kepada semuanya, kepada UUD 1945 dan Pancasila, mengembalikan kepada irama perjuangan bangsanya, bukan saja baru 20 tahun ataupun 40 tahun, atau 52 tahun lalu, diproklamasikan ketika kemerdekaan. Bukankah perjuangan bangsa itu bukan mulai pada tahun 1945? Bukankah kita mengenal Kebangkitan Nasional, Sumpah Pemuda, dan seterusnya? Bukankah dalam kebudayaan kita mengenal pujangga baru, kita mengenal angkatan 1945, dari Chairil Anwar, dan seterusnya? Bukankah juga kita mengenal pahlawan-pahlawan pada abad yang lalu? Berdirinya ICMI pun bukan masalah lahirnya di mana  beberapa puluh tahun yang lalu didirikan, sama halnya dengan HMI dan sebelumnya didirikan organisasi yang lain. Tokoh-tokoh HMI  menjadi pengasuh ICMI seperti pendirinya, Pak Ahmad Tirtosudiro yang sebenarnya bagi saya sendiri sebagai kakak. Sebelum ICMI berdiri, sebelum saya tahu namanya ICMI, beliau beberapa kali bersama dengan Bapak yang kita cintai, Bapak Alamsyah meminta perhatian dari tengah-tengah kesibukan saya.
Saya mau sampaikan apa kaitannya semua ini dengan Indonesia yang seperti digambarkan tadi mengenai peta politik ideologi. Ternyata Indonesia pertama kali pada tahun 1966 melarang ideologi kom
unis dan apa saja yang berkaitan dengan komunis dilarang di bumi Indonesia. Pak Harto pernah menyampaikan pada saya waktu di pesawat terbang. Beliau berkata, tahukah pada tahun 1966 itu saya mencari modal agar kita bisa membangun. Rakyat kita belum bisa mendanai, walaupun tanah air kita subur tetapi produksi beras tidak mencukupi. Beliau pergi ke Kamboja, ke Myanmar, dan ke negara-negara yang lain. Beliau sering menceritakan pada saya tatkala sedang berdua saja karena masih banyak masalah-masalah yang harus didiskusikan, 5 jam saya berapat dengan beliau. Di sela-sela diskusi keluar cerita-cerita yang dengan cerita itu tiap manusia Indonesia yang menganggap dirinya keturunan pejuang bergetar jiwanya dan dipanjatkan doa agar supaya bapak-bapak kita yang telah menjadikan negara kita merdeka tidak akan kecewa dengan karyanya, karena kita akan meneruskan perjuangannya, memelihara persatuan dan kesatuan bangsa, dan berdasarkan itu kita melaksanakan cita-cita bangsa Indonesia yang tersirat di dalam UUD 1945. Beliau menjelaskan kepada saya, dibandingkan dengan Kamboja dan Laos ternyata kita jauh lebih kaya. Dahulu kita jauh lebih miskin dari Cheko dan dari Yugolsavia. Sekarang kita jauh lebih kaya, tidak perlu saya sebut angka-angka, kita sama mengetahuinya, tetapi perlu diketahui oleh generasi yang baru lahir dalam Orde Baru dan susah membedakan, mungkin terpesona oleh angka-angka yang dimanipulir.
Mengapa berani mengambil kesimpulan dalam 10 menit dari ucapan-ucapan dan menganggap manusia Indonesia seperti Pak Widjojo Nitisastro, Pak Ali Wardhana, Pak Emil, Pak Habibie, Pak Ahmad, semua yang puluhan tahun membantu madataris MPR. Mandataris itu hanya satu tugasnya melaksanakan visi bangsa Indonesia yang tersirat, ditetapkan dalam GBHN. Mengapa tiba-tiba berani mengambil kesimpulan tentang apa kaitan semua ini dengan apa yang tadi saya katakan: mengubah peta politik ideologi. Dilema yang dihadapi negara yang tadi mau recover, negara-negara di Eropa itu mengatakan  Indonesia 30 tahun yang lalu lebih miskin dari saya, sekarang lebih kaya. Kenapa ia lebih kaya, karena ia keluarkan komunis dan sekarang memasukkan ko-mu-nis ke tempat semula lagi, ini bukan suatu lelucon. Saya sampaikan ini karena saya berhadapan dengan tokoh-tokoh di dunia. Ini adalah first class information. Normal, jangan kira gangguan-gang-guan selesai setelah Sidang Umum tahun 1998, pada 2003, 2010 pun akan terus menerus, karena ini masalah-masalah ideologi, saya minta perhatian bahwa mengubah peta politik itu ada beberapa alternatif. Mereka mau menolong ekonominya tidak mungkin karena ekonomi kita sudah mandiri sudah melampaui critical mass, kredibilitas sudah sangat tinggi, percaya diri bangsa Indonesia sudah sangat tinggi, manusia Indonesia sudah lebih cendekia, manusia Indonesia lebih kritis, media massa Indonesia juga lebih kritis. Di dalam hal itu digunakan pendekatan untuk merongrong bangsa ini. Kenapa? Karena mau membuktikan kepada orang yang mau diajak kembali kepada jajaran komunis itu.
Untuk menggagalkan pembangunan yang berkesinambungan itu, mereka menggunakan cara merongrong. Mereka tidak bisa merongrong dengan angka-angka rasional, ekonomi, teknologi, karena kita telah memiliki kebangkitan teknologi nasional yang ditandai dengan terbangnya Gatotkoco, rekayasa putra-putri Indonesia, pesawat terbang yang tercanggih yang direkayasa secara mandiri, berhasil mengudara. Tidak ada lagi alasan mengatakan mereka bisa merongrong melalui makro, mikro ekonomi. Satu-satunya di mana ia bisa rongrong adalah sesuatu yang sulit dikuantifisir dan gampang dimanipulasi, yaitu keadilan, hak asasi manusia, kesenjangan, dan 1001 macam isu, karena itu mereka menjurus ke arah itu.
Di situlah lahannya. Dalam mencari lahan, mereka sudah mempelajari bumi Indonesia untuk mencari: apa ada golongan yang satu jiwa dan satu visi dan satu ideologi dengannya, tetapi tidak berideologi Pancasila dan UUD 1945, dan yang satu ini juga berkepentingan untuk merongrong kerjasama. Tetapi saya yakin kalau berhasil maka ia akan bertabrakan. Kalau terjadi tabrakan apapun yang menderita rakyat, yang menikmati pembangunan juga rakyat yang mempunyai wawasan dan visi adalah rakyat, yang menentukan visi dan mengkuantifikasikan dalam ketetapan MPR antara lain berupa GBHN  adalah rakyat dan rakyat juga melalui MPR memilih seorang Indonesia yang dianggap paling canggih, paling tepat untuk memimpin pelaksanaan GBHN itu untuk diberikan mandat memimpin bangsa ini. Kita menamakan dirinya mandataris dan ia mempunyai hak prerogatif sebagai presiden. Wakil presiden pun di dalam sistem demokrasi Pancasila tidak berbeda dengan menteri, sama saja harus membantu mandataris MPR, cuma bedanya ia dipilih oleh MPR, selain pula harus membantu mandataris MPR, setelah ada persetujuan dari mandataris terpilih, bahwa ia dengan mandataris bisa bekerjasama, itu konstutisional. Mekanisme demokrasi kita demikian. Jadi, siapa yang mau merongrong mandataris MPR tidak lain sasarannya merongrong terlaksananya pembangunan yang berkesinambungan yang justru pembangunan ini adalah satu-satunya cara mengamalkan dan memasyarakatkan Pancasila dan UUD 1945. Itu jawaban saya terhadap perkembangan terakhir ini.
Kita harus menyadari, apakah kita mau membiarkan begitu saja orang merongrong mandataris? Tentu kita tidak akan mau, kalau kita laksanakan itu atau membantu terjadinya itu berarti kita akan merongrong diri kita sendiri, karena mandataris tidak lain adalah pelaksana seluruh amanat MPR untuk menyukseskan pembangunan sesuai dengan GBHN. Dan berdasarkan GBHN yang ditetapkan MPR pemerintah menyusun Repelita. Setiap tahun pemerintah di bawah pimpinan mandataris MPR bersama dengan anggota DPR bekerjasama sebagai mitranya menyusun APBN. Penyusunan APBN pun harus sesuai dengan undang-undang, semua itu ada caranya. Jadi, kalau menembak mandataris MPR tidak lain berarti menggagalkan pembangunan itu sendiri. Menggagalkan pembangunan itu sendiri berarti menghambat proses kesejahterahan, proses pemerataan, proses tercapainya cita-cita seluruh bangsa Indonesia, saya garisbawahi, seluruh bangsa Indonesia, apakah ia umat Budha, Hindu, Kristen Katholik atau Kristen Protestan atau Islam, sama saja. Itu latar belakang yang saya namakan visi politik ideologi.
Sekarang dari visi politik budaya, khususnya bertalian dengan analisis dan kutipan media massa yang menyebutkan ada masalah SARA. Saya menggarisbawahi, SARA di dalam kamus bangsa Indonesia tidak dikenal. Kita tidak akan mentolerir SARA dalam bentuk apapun. Semua tahu, kalau saya sekarang membawakan pandangan yang tampak seperti SARA, itu tidak berarti pola dari bangsa kita melainkan pola dari orang lain. Ada seorang analis dari Mesir. Hasil analisanya diterbitkan 4 kali dalam bahasa Arab dan telah diterjemahkan oleh ICMI, Orwil Afrika dan Orsat Kairo ke dalam bahasa Indonesia. Terjemahan analisis itu telah saya berikan sendiri kepada Bapak Presiden. Analis tersebut ditulis Saudara Fahmi Huwaidi dari Harian Al-Ahram. Saudara Fahmi Huwaidi menulis artikel 4 seri tentang kebangkitan cendekiawan muslim serta ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia, serta makna pembentukan IIFTIHAR, IIFTIHAR adalah singkatan daripada Islamic International Forum for Science Technology and Human Resources Development, disingkat IIFTIHAR. IIFTIHAR da-lam bahasa Arab artinya kebanggaan. Saudara Fahmi Huwaidi, pertama kali ke Indonesia pada tahun 1970, saat itu merupakan masa awal Orde Baru, baru saja dua tahun kabinet pembangunan dan Repelita I baru satu tahun berjalan. Dalam Repelita I ia mengalami bagaimana prihatinnya Indonesia, tetapi ia merasakan bagaimana ramahnya manusia-manusia di Indonesia, karena budayanya. Setelah itu ia tidak pernah kemari. Ia mendapat undangan dan mewakili rombongan dari Mesir untuk menghadiri seminar me-ngenai pengembangan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilaksanakan di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, dan diikuti lebih dari seratus negara termasuk Ame-rika, Jerman, Prancis, dan sebagainya. Ia datang kemari antara tahun 1970 dan 1976. Dalam masa 25 tahun ia melihat suatu perubahan di Indonesia dan ia membuat analisis.
Secara singkat saya simpulkan dari analisis itu, bahwa ada upaya mengubah peta politik berdasarkan kebudayaan. Dalam peta politik kebudayaan, ada beberapa orang, kekuatan-kekuatan di Barat setelah negara-negara bekas jajahan bisa lepas, merdeka dan mandiri. Mereka berusaha untuk tetap bisa mempengaruhi. Satu caranya adalah pendekatan struktural, dan satu lainnya adalah pendekatan kultural. Saya berbicara sekarang ini bukan termasuk pendekatan struktural. Penjelasan demikian seharusnya datang dari Menko Polkam, atau Menpen Harmoko.
Saya selama ini lebih banyak berbicara tentang ilmu pengetahuan, teknologi dan kualitas sumber daya manusia. Ilmu pengetahuan dan teknologi bisa juga termasuk dalam analisa bidang ilmu sosial dan politik. Jadi, di dalam hal itu saya berbicara bukan dalam pendekatan kultural. Dan jangan dikira pendekatan struktural lebih penting daripada pendekatan kultural. Dalam 20 tahun sa-ya mendampingi Bapak Presiden, persisnya 23 tahun plus sebagai penasehat presiden, sebagai menteri 19 tahun. Dalam masa 23 tahun atau 24 tahun berturut-turut saya mendampingi beliau. Saya sangat menyadari betapa pentingnya pendekatan kultural itu. Pendekatan struktural itu nanti hanya bersifat formal saja setelah pendekatan kultural diselesaikan. Salah satu kendala Barat dalam pendekatan kultural adalah Indonesia dianggap besar. Memang kita bangsa besar dengan 200 juta jiwa.
Kepulauan Indonesia sering kita namakan dengan istilah baru Benua Maritim Indonesia. Besarnya seperti suatu benua dari Timur ke Barat, lebih besar dari San Fransisco, New York. Dari utara ke selatan hampir sama besarnya dari Kanada sampai Teluk Mexico. Di situ terdapat 17 ribu pulau diberi nama oleh ilmuwan Amerika Serikat "the Maritime Continent of Indonesia" diterjemahkan Benua Maritim Indonesia. Benua Maritim Indonesia ini rupanya memang penting. Penting dalam skenario global pada abad yang akan datang tetapi masalahnya ada perbedaan kalau mereka mendekati belahan Utara dari kita.
Pendekatan kultural lebih enak dilakukan terhadap orang Filipina, didekati oleh orang Spanyol, oleh orang Eropa, oleh orang Prancis daripada terhadap bangsa Indonesia yang budayanya lain, karena ditentukan oleh agama yang notabene 90%, tolok ukurnya Al Quran dan Sunnah.
Oleh karena itu, mereka memaksakan pada detik awal untuk mempengaruhi skenario mempertahankan status quo politik, peta politik ekonomi. Untuk mempertahankan dan untuk mempengaruhi Indonesia berlangsung alot, karena pendekatan budaya bo-leh dikatakan susah. Budaya sudah ratusan atau ribuan tahun di bumi Indonesia berkembang, dan sudah 700 tahun bernafas Al Quran dan Sunnah di dalamnya, sulit mau dihilangkan dalam 50 tahun atau 30 tahun, kecuali kalau peta politik budaya Indonesia hampir sama seperti peta politik di Filipina. Kalau itu terjadi tentunya lebih mudah untuk melaksanakan pendekatan kultural yang nantinya akan disusuli dengan pendekatan struktural. Untuk kepentingan apa? Kepentingan mereka menikmati ratusan tahun superioritas dalam ekonomi dan mereka mau mempertahankan status quo-nya. Oleh karena itu, ini yang ditulis oleh Fahmi, ia me-ngatakan alangkah sedihnya waktu itu Presiden Republik Indonesia H. Mohammad Soeharto yang mewakili umat Islam tersebar di muka bumi ini dalam satu negara (lebih banyak umat Islam di Indonesia daripada di seluruh Timur Tengah) datang ke negara lain untuk meminjam uang untuk mendapatkan modal kerja, untuk pembangunan yang berkesinambungan itu. Negara-negara Muslim kita yang tercinta tersenyum melihat kenyataan itu dan tidak bergerak untuk membantu satu sen pun. Namun yang begerak adalah justru mereka dari Eropa. Kita tahu IGGI dan yang lain, tetapi di belakangnya tentu saja ada usaha-usaha terselubung atau nyata untuk mengubah peta politik budaya bangsa kita. Ini kita harus sadari, oleh karena itu lahirnya ICMI mendapatkan tantangan bukan main. Saya dituduh 1001 macam, dikatakan Masyumi modern, ada yang mengatakan Habibie itu adalah fundamentalis keras, lebih keras daripada Khomeini dan Sadam Hussein. Tetapi untuk apa bereaksi? Sejarah akan membuktikan, tindakan dan tingkah laku ICMI akan membuktikan, bukan dari Habibie, tetapi dari semua bangsa Indonesia. Bukan Habibie yang penting. Tadi saya katakan, dalam melaksanakan sesuatu harus berdasarkan keyakinan dan bukan berdasarkan perhitungan. Perhitungan saya nol sungguh, tetapi keyakinan maksimum dan komitmen maksimum saya berdasarkan keyakinan, bukan berdasarkan perhitungan, komitmen berdasarkan perhitungan bisa menyimpang, dalam menghadapi plin-plan, dalam menghadapi masalah, menghitung keadaan, saling menghitung untuk bertahan atau melarikan diri. Kita harus konsisten, konsisten pada cita-cita seluruh bangsa Indonesia 100%.
Oleh karena itu dalam menghadapi segala isu, bahwa pimpinan ICMI itu fundamentalis seperti Sadam Hussein dan juga seperti Khomeni dan sebagainya, maka dengan seijin Bapak Presiden, saya dengan kawan-kawan, berusaha mempersatukan para cendekiawan dari segala umat di bumi Indonesia. Banyak yang terjadi sebelumnya, tetapi akhirnya syukur Alhamdullillah, pada tahun 1994 kita berhasil menandatangani perjanjiannya para cendekiawan Indonesia itu. Saya bacakan saja.
Dengan berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, kami mensyukuri proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai momentum kebesaran sejarah berdirinya negara kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Maka sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa Indonesia dengan ini menyatakan, bahwa kami akan terus menerus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia seutuhnya yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang trampil dalam bidangnya, dengan penguasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai perwujudan tanggung jawab dalam membangun masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur budaya bangsa Indonesia, serta berorientasi pada kepentingan nasional dalam rangka memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa sepanjang masa.
Ditandatangani Ketua dan Sekretaris Umum Forum Cendekiawan Hindu Indonesia, Ketua dan Pelaksana Harian/Sekretaris Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia, Ketua dan Sekretaris Jenderal Keluarga Cendekiawan Budhis Indonesia, Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia. Disaksikan mewakili umat Budha mewakili umat Hindu, diwakili dan disaksikan mewakili umat Islam Bapak Ahmad Tirto Sudiro, mewakili umat Kristen Bapak Mustika, mewakili umat Katholik, walaupun umat Katholik waktu itu belum berkenan menandatangani peryataan ini, karena masalah teknis, umat Katholik merasa belum mantap, tetapi sekarang sudah ikut di dalamnya.
Dengan keluarnya pernyataan ini maka prasangka mengenai berdirinya konsolidasi para cendekiawan yang berazaskan Al Quran dan Sunnah itu hilang lenyap dan menjadi tidak benar. Secara rutin tiap tiga bulan atau empat bulan saya bertemu ketua ikatan Forum Cendekiawan Hindu, Keluarga Cendekiawan Budha, Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia dan Ikatan Sarjana Katholik, duduk bersama bermusyawarah dan bermufa-kat bagaimana kita melaksanakan persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, judul uraian saya ialah "Dengan hikmah Idul Fitri 1417 H, kita tingkatkan persatuan dan kesatuan umat guna mem-perkokoh persatuan dan kesatuan bangsa", tepat umat Islam harus berada di garis depan, tepat sekali. Jadi, apa yang saya sampaikan dari Saudara Fahmi Huwaidi itu, dengan berdirinya ICMI ada kelompok yang melakukan usaha-usaha terselubung untuk mengubah peta politik berdasarkan budaya yang nantinya mirip seperti di Filipina, sehingga bisa ditempuh dengan mudah pendekatan kultural untuk mempegaruhinya. Lihat saja Filipina 20 tahun yang lalu menurut pernyataan Presiden Ramos yang disampaikan di pesawat terbang kepada saya: "Bapak Habibie 20 tahun yang lalu, Filipina berada lebih jauh dari Indonesia, sekarang Indonesia 20 tahun lebih jauh dari Filipina sekarang ini. Di mana letak masalahnya? Saya tidak tahu, tetapi satu yang saya tahu bangsa Indonesia telah berada di jalan yang benar dan berlari sesuai dengan kepentingan daripada bangsanya.
Mengapa Indonesia bisa berkembang demikian? Karena tidak ada pendekatan-pendekatan kultural yang mampu mengirim "torpedo kiri kanan" dan mengacau, karena tidak sesuai dengan kepentingan mereka yang sejak ratusan tahun menikmati kekayaan alam di bumi nusantara ini. Oleh karena itu, dahulu tidak ada pembakaran-pembakaran. Bisa saja yang kewalahan  mengatakan itu sebagai SARA: "Habibie, itu pokoknya SARA dan 1001 macam tuduhan". Sekarang perkataan tersebut dijawab dengan adanya pernyataan bersama dan tidak ada masalah dengan Saudara-saudara kita sebangsa karena mereka sama saja nafasnya dengan kita, budayanya sama dan kita hanya mengenal satu Tuhan Yang Maha Esa, apalagi kita tahu bahwa kita dengan umat Kristen adalah satu, satu usul, namanya agama samawi Yahudi, Kristen, Islam berasal dari Ibrahim. Tolok-tolok ukur mereka mengenai moral identik dengan tolok-tolok ukur tatkala kita berbicara mengenai iman dan taqwa, kriterianya, taqwanya sama, kriteria mengenai halal dan tidak halal. Saya mau menyampaikan ini karena kita bisa lihat, bahwa kewalahan orang-orang yang mau mengubah peta politik berdasarkan ideologi maupun yang mau mengubah peta politik berdasarkan kebudayaan. Waktu ICMI didirikan ada satu cetusan ucap-an dari Pak Alamsyah. Pak Alamsyah pada muktamar tersebut mengucapkan sesuatu yang sangat penting dan saya rasa yang mendengar itu membenarkan. Ia mengatakan sebelum perang jaman penjajahan, orang malu mengaku menamakan dirinya Islam sehingga ia takut. Tetapi sejak berdirinya ICMI manusia Indonesia tidak malu, tidak takut, bahkan bangga menamakan dirinya Islam.
Karena prestasi pembangunan yang nota bene adalah prestasi dari seluruh bangsa Indonesia dan di dalam bangsa Indonesia justru 90% rakyatnya adalah umat Islam. Jadi, kalau muncul tokoh-tokoh Islam dalam jajaran pimpinan, hal itu bukan Islamisasi. Itu berarti suksesnya pembangunan yang berorientasi kepada kepentingan manusia Indonesia, kepada rakyat. Kalau sepanjang masa yang bermunculan hanya golongan yang 1% atau 3, 5% berarti pembangunan gagal total. Jangan dikira, Pak Habibie bisa berkata begini dan tidak berani menyampaikan pada Pak Harto. Beberapa kali saya sampaikan dan Pak Harto membenarkan dan Pak Harto mengatakan: "Memang pembangunan itu untuk manusia Indonesia." Beliau pernah mengatakan kepada saya pada tahun 1974: "Saya tahu persis pada tanggal 28 Januari jam setengah delapan malam, hari Senin pada tahun 1974." Di dalam ruang kerjanya beliau menyampaikan kepada saya, waktu itu saya berusia 37 tahun.
Beliau berkata: "Saudara Habibie, saya sudah memutuskan, bahwa Saudara jika Allah menghendakinya, akan mendampingi saya membawa bangsa ini tinggal landas memasuki abad yang akan datang dengan membawakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam masyarakat bangsa Indonesia yang harus kita andalkan adalah manusia." Saya catat itu.
Lalu beliau mengatakan pula: "Kamu masih muda, 20 tahun saya berikan waktu".
Mulai Januari 1974 beliau berikan kepercayaan itu sampai ta-hun 1994. Karena mau memasuki apa? Karena Januari 1974 adalah justru 3 bulan sebelum Repelita II dimulai, di mana Repelita I dikonsentrasikan pada konsolidasi menghadapi inflasi yang tinggi dan membuat rehabilitasi prasarana ekonomi makro dan mikro Indonesia dan aparatur pemerintah. Saya pada tahun 1971 sudah diberitahu oleh Pak Harto dan pada Desember 1973 dipanggil, yang memanggil saya Pak Ibnu Sutowo, Direktur Utama Pertamina. Waktu itu kami tidak dimasukkan dalam kabinet, tetapi jadi penasehat presiden. Kantor saya dua. Di Jalan Perwira dekat Pak Ibnu dan di Binagraha dekat Pak Harto. Program saya tidak ma-suk dalam Kabinet, karena tidak ada anggaran. Namun, Pak Harto mempunyai visi yang beliau terjemahkan dari visi rakyat yang ditetapkan dalam GBHN dan beliau mandatarisnya. Di dalam menerjemahkan itu, beliau telah memutuskan, saya bertanya pada beliau: "Pak Harto, mengapa saya yang Bapak pilih? Banyak orang-orang yang lebih hebat, lebih tua, lebih berpengalaman daripada saya." Beliau tersenyum, beliau buka tasnya dan ditaruh setumpuk surat-surat, mungkin dari Pak Achmad. Pak Achmad waktu itu Duta Besar, dan dari mana saja beliau taruh di atas meja saya, nama Habibie.
Pak Harto mengatakan "Kalau kamu bisa membantu, menerjemahkan visi bangsa lain jauh ke depan sehingga menjadi mandiri dan unggul dalam bidang high technology, masa kamu tidak bisa membuat untuk bangsamu sendiri".
Saya menjawab Pak Harto: "Saya ini ahli konstruksi pesawat terbang yang saya buat adalah pesawat terbang."
"Silahkan buat saja, " kata beliau.
"Saya butuhkan banyak ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjadikan suatu pesawat terbang yang lebih berat dari udara tapi bisa terbang dan terkendali dalam segala cuaca dan dalam kecepatan yang tinggi."
Kemudian kata beliau: "Silahkan buat, tidak ada larangan".
Setelah itu beliau mengatakan: "Tetapi, kalau kamu buat kapal terbang, saya titip juga yang lain."
"Apa?"
"Ya apa saja semua yang dibutuhkan rakyat."
Kemudian kata beliau pula: "Saudara Habibie, dalam Repelita yang lalu, saya sangat tergantung pada konsultan, karena BAPPENAS memanfaatkan konsultan, ada yang baik ada yang tidak baik. Konsultan yang tidak baik, kalau dituntut, lari dan bangkrut. Sedangkan konsultan yang baik ia mengatakan itu karena saya".
Pemanfaatan konsultan itu mahal, high cost economy dan susah dipertanggungjawabkan.
Lantas beliau bertanya: "Apakah bisa kamu membuat suatu organisasi yang bisa mengkonsultasi diri kita sendiri yang bertanggung jawab kepada mandataris dan kepada DPR?
"Baik, akan saya dirikan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi."
Beliau bertanya kepada saya: "Habibie kapan saya bisa melihat ini semua terjadi?"
Saya jawab: "Insya Allah 10 tahun lagi."
Dan pada tanggal 28 Januari 1984 saya akan datang kemari dan melaporkan kepada Bapak di ruang yang sama, bahwa semua yang saya janjikan sesuai dengan jadwal yang tepat dengan kualitas yang telah ditentukan. Saya membawa laporan dari tahun 1974 sampai tahun 1984. Laporan itu telah dicetak. Saya berikan laporan itu, saya bawa lagi pada tahun 1994, 20 tahun kemudian. Saya datang di situ dan saya laporkan, bahwa pesawat terbang rekayasa Indonesia bersama dengan Spanyol yang namanya Tetuko, terbang pada Desember 1993. BPPT telah bisa mengendalikan pemanfaatan teknologi mulai dari air minum sampai masalah dirgantara. Selain itu kaderisasi dalam Iptek juga sudah berjalan, telah didirikan Dewan Riset Nasional, saya jelaskan semuanya. Saya diberikan suatu kenang-kenangan yang bersifat pendekatan budaya. Di dalam hal itu, saya datang lagi pada beliau pada tahun 1994 juga pada 28 Januari, tetapi saya tidak datang sendiri, saya didampingi oleh 8 atau 10 orang, semua asisten saya sejak saya mulai melaksanakan tugas dari Pak Harto, mereka teman saya sejak SMA, dan saat itu mereka sudah S-3, doktor, insinyur dalam bidangnya masing-masing yang menyusun laporan 20 tahun. Mereka adalah kader dan generasi penerus ini saya laksanakan tanpa banyak bicara, tidak usah diperhitungkan, saya laksanakan berdasarkan keyakinan. Untuk apa? Untuk memberikan kepada rakyat dan tidak mengambil dari rakyat, pada saat itu tahun 1974. Telah saya catat itu semua.
Pak Harto berkata: "Saudara Habibie, saya minta dengan hormat, Saudara di bumi Indonesia membuat apa saja insya Allah sesuai dengan kemampuan saya, akan saya bantu, akan saya amankan, saya memberikan dukungan 100%, apa saja, tapi dengan satu persyaratan jangan sekali-sekali membuat sesuatu yang mengakibatkan suatu revolusi, karena revolusi itu merugikan rakyat, mereka yang untung dalam suatu revolusi adalah kekuatan-kekuatan politik. Kekuatan politik itu seperti yang tadi saya sebutkan. Ada dua pendekatan, pendekatan ideologi dan pendekatan peta budaya. Mereka langsung mengambil kapital dan yang sengsara adalah rakyat. Rakyat Indonesia itu tidak neko-neko, tidak rewel, sangat sederhana, yang dikehendaki hanya satu: kehidupan yang wajar sesuai dengan budayanya, aman, sentosa dan sejahtera dan berbudaya."
Syukur alhamdulillah, saya bisa bertahan sampai hari ini. Dan di dalam hal itu saya selalu setia pada prinsip-prinsip yang tadi saya katakan berdasarkan keyakinan dan bukan berdasarkan perhitungan. Saya serahkan perhitungannya pada Allah SWT. Sekarang saya mau menjelaskan yang ketiga, mempertahankan status quo peta politik berdasarkan prioritas ekonomi, saya mulai dengan angka-angka, supaya mantap. Saya mulai pada tahun 1994. Menurut laporan Bank Dunia pada tahun 1996, jumlah penduduk di seluruh dunia terdiri dari 209 termasuk kesatuan ekonomi. Misal, bumi Indonesia merupakan satu kesatuan ekonomi, Malaysia satu kesatuan ekonomi. Memang, di sini dikatakan 209, ada kesatuan ekonomi tetapi ia belum merupakan suatu negara yang bebas. Jumlah penduduk dunia sebanyak 5, 603 milyar manusia. Seluruh dunia menghasilkan GNP sebanyak US$ 25.793 milyar atau mempunyai rata-rata GNP US$ 4.603. Tetapi kenyataannya lain, 56, 7% atau sebanyak 3.1/6 juta manusia, atau 3.178.000 manusia hanya mempunyai rata-rata GNP US$ 390, padahal rata-rata GNP dunia US$ 4.603. 56, 7, 28, 1% atau sebanyak 1, 576 milyar orang mempunyai rata-rata GNP US$ 2.554. Indonesia sendiri memiliki GNP US$ 1.000 termasuk ke dalam golongan 56, 7%. Sedangkan 15, 2% atau 843 juta orang memiliki pemasukan rata-rata US$ 24.170.
Dengan demikian timbul persoalan di mana keadilannya? Orang yang mengerjakan sesuatu tidak memanfaatkan teknologi canggih yang sederhana, gajinya lebih tinggi daripada orang yang berpendidikan dari ITB atau MIT yang mendapatkan ketrampilan yang tinggi. Mengapa bisa begitu? Ini merupakan salah satu dilema. Karena itu apa yang mereka hadapi sekarang? Banyak yang tidak mendapatkan lapangan pekerjaan. Kenapa tidak mendapatkan lapangan pekerjaan? Karena karya-karya yang tadinya dilaksanakan oleh mereka yang sebenarnya sumber daya manusia yang tidak unggul, dapat dilaksanakan dengan biaya yang lebih rendah daripada negara-negara berkembang dan apalagi dari Asia yang kualitasnya tinggi dan canggih dan bisa memasuki pasar mereka. Akibat daripada itu timbul persaingan, dan selanjutnya, timbul suatu masalah. Masalahnya ialah lapangan pekerjaan tidak tersedia lagi.
Gedung ini, mobil, kereta api, kapal terbang, semua mengalami suatu depresiasi, hanya satu yang bisa mengalami apresiasi, ialah sumber daya manusia dengan catatan, bahwa sumber daya ma-nusia ini mengalami suatu proses kemandirian, mendapatkan lapangan pekerjaan dan bekerja sesuai pendidikannya dan tiap hari makin terampil, makin unggul, tiap hari nilainya bertambah. Oleh karena itu, kalau orang tidak memiliki lapangan pekerjaan atau mendapatkan pekerjaan tetapi tidak sesuai dengan pendidikannya, maka orang itu akan mengalami stagnasi dan depresiasi. Dan ini adalah masalah ekonomi yang dihadapi negara Eropa, Amerika maupun Jepang.
Saya baru saja ke Itali, saya tanya berapa pertumbuhan in-dustrinya di sini? Pertumbuhan di Itali 1, 5% per tahun. Untuk meningkatkan 1 lire menjadi 2 lire diperlukan waktu 25 tahun atau 30 tahun, karena pertumbuhan yang 1, 5%. Kalau lire-lire Anda datangkan ke tempat saya (Indonesia—red.) untuk menjalankan kerjasama ekonomi dalam bidang pertanian tidak mungkin, karena Anda tidak unggul dalam pertanian tropikal, Anda akan datang dalam high tech. Kalau Anda mau kerjasama dalam high tech, pertumbuhan industri di bumi saya (Indonesia—red.) ada-lah rata-rata 15%, kalau Anda canggih, bahkan bisa 30%, berarti lire Anda menjadi 2 kali, bukan setelah melampaui masa 25 tahun atau 30 tahun tetapi dalam 3 tahun sudah bisa kembali.
Dari kacamata ini tidak ada alasan untuk tidak berinvestasi di Indonesia dan jangan takut bahwa Itali akan membesarkan bangsa Indonesia karena perdagangan bilateral ini terjadi antara negara miskin dengan negara miskin, lebih kecil keuntungannya daripada antara negara kaya dengan negara kaya. Jadi, kalau Anda memasuki bumi Indonesia, Anda akan membuktikan:  pertama, adanya stabilitas politik dan ekonomi, ada pertumbuhan ekonomi atau pembangunan nasional yang tinggi yang berkesinambungan, ada pemerataan yang terjadi dan juga terbentuknya pusat-pusat keunggulan dalam bidang modal. Modal dalam arti teknologi, sumber daya manusia dan uang, maka dalam keadaan demikian, risiko untuk 1 lire hampir tidak ada, karena dalam waktu hanya 3 tahun untuk pertumbuhan satu lire sudah kembali dan Anda memiliki suatu mekanisme yang membantu bangsa saya untuk terus bertumbuh cepat. Tetapi, bukan itu saja, Anda juga bisa ikut menikmati pertumbuhan itu.
Pandangan saya ini, diterima dengan baik. Kemarin saya menerima Menhankam Itali, ia datang ke tempat saya dan kebetulan Perdana Menteri Itali itu sudah saya kenal, mungkin sudah 30 tahun, seperti Prof. Dr. Erbakan Perdana Menteri Turki, saya kenal sudah 42 tahun, sama-sama satu almamater, sebelum Erbakan menjadi Perdana Menteri. Dan pada waktu Pak Harto datang ke Itali, saya lupa melaporkan kepada Pak Harto, bahwa saya kenal Perdana Menteri Itali itu. Begitu beliau datang ke istana dan bertemu dengan Perdana Menteri, beliau mulai bercerita mengenai Tetuko dan Gatotkaca, "Dua pesawat itu hasil karya Habibie kawan lama saya", sahut PM Itali. Pak Harto kaget, karena Habibie tidak pernah cerita. Saya tidak cerita karena pada waktu itu saya berkonsentrasi kepada kesehatan istri saya, Ainun. Jadi, saya tidak sampai menjelaskan itu semua kepada Pak Harto.
Sekarang ia sudah berubah, setelah 15 tahun tidak bertemu, ia berjanji Itali akan agresif masuk ke ekonomi Indonesia dan saya minta Korps Alumni HMI mendapatkan informasi dari BPPT, dari BPIS, ikutlah menjadi mitra negara-negara yang kita ajak masuk kemari. Karena apa yang kita harus kembangkan untuk masa depan Indonesia, bukan sedekah, bukan pemerataan, tetapi kesempatan berkembang. Tetapi sebelum mendapat kesempatan berkembang ia harus dipersiapkan, harus diberikan program pendidikan yang tepat, karena itu program tunggal dari ICMI adalah 5-K. Meningkatkan kualitas iman dan taqwa, kualitas berpikir, kualitas berkarya, kualitas bekerja, dan kualitas hidup manusia Indonesia. Maksudnya tidak lain jika mereka melampaui suatu critical mass, bisa diberikan kapital untuk merebut secara mandiri setiap kesempatan yang akan diberikan oleh ibu pertiwinya sendiri. Itu sasaran yang jelas.
Sasaran yang jelas ialah suatu hari bangsa Indonesia yang 95% umat Islam itu akan digolongkan ke tingkat menengah, hanya 5% yang miskin atau yang kaya sekali, dan yang kaya sekali tidak akan bertahan te-rus menerus, kalau ia kurang pandai ya turun lagi. Dan kalau memang ia pintar dan masih menengah, tingkat menengah, bisa saja ia naik ke tingkat atas, sama saja dengan di Jepang.
Saya kebetulan kenal dengan Dr. Toyoda dan Dr. Toyota, adik kakak itu yang satu adalah Ketua Dewan Komisaris dan yang lainnya adalah Presiden Toyota. Seumur dengan saya, saya kenal 30 tahun lebih. Sering, kalau saya ke Jepang saya makan dengannya. Kalau ia datang ke Indonesia saya ajak makan bersama-sama. Dan saya tanya Toyoda: "Kenapa kamu kerja mati-matian?" dijawabnya: "Kalau saya tidak kerja apa yang terjadi nanti? Saya warisi apa anak saya itu?" Lanjutnya: "Di Jepang banyak potongan pajak. Dan kalau saya tidak kerja lagi, saya tidak unggul pada keturunan ketiga, saya sama seperti orang Jepang di pinggir jalan." Sebenarnya, di bumi Indonesia hal yang sama juga sudah terjadi, lihat saja masalah Astra. William dalam sekejap juga bisa gulung tikar. Jadi, ekonomi kita sudah berada di jalan yang benar, pemerataan terlaksana, tetapi kalau mau naik ke gunung 3.000 m, tidak bisa dalam satu langkah untuk terus sampai di gunung 3.000 m, membutuhkan beberapa langkah. Dan setiap langkah harus mantap, dan tidak mengambil langkah yang penuh dengan resiko karena eksperimen.
Kemarin, saya bicara mengenai Natuna. Kira-kira 100 orang dari luar negeri sudah terpesona, ingin mendapat order, karena dalam 8 tahun, kurang lebih 20 bilyun atau US$ 20 ribu juta, akan ditenderkan untuk mengembangkan fasilitas di Natuna. Mereka hadir karena ingin mendapatkan order. Tetapi kami sampaikan yang mendapat order hanya mereka yang sudah berdomisili di Indonesia dan tidak mendapatkan fasilitas. Yang mendapat prioritas utama adalah mereka yang sudah berada di bumi Indonesia terdaftar sebagai perusahaan, agar manusia Indonesia bisa mengembangkan ketrampilannya melalui lapangan pekerjaan dan mengalami apresiasi, bukan depresiasi. Dan, kalau itu ia laksanakan ia akan mendapatkan insentif, yang menang adalah mereka yang sudah berdomisili di bumi Indonesia dan yang ditolak adalah yang belum. Kita akan memenangkan mereka yang sudah berdomisili di bumi Indonesia. Itu ada peraturannya, ada undang-undangnya. Saya sampaikan, bahwa hal ini bisa terjadi, karena ada stabilitas yang dinamis yang dapat dipertahankan, kendati ada kelompok yang mau mengubah peta politik berdasarkan ideologi dan kebudayaan. Dan, ada satu kelompok yang ingin mempertahankan status quo peta politik berdasarkan superioritas dalam ekonomi.
Bangsa Indonesia saat ini sudah memiliki superioritas dalam teknologi, bahkan teknologi canggih. Buktinya, ketika pada 10 Agustus 1995 N-250 mengudara, hanya 20 hari setelah itu bursa di Amsterdam harus ditutup, karena pada 10 Agustus 1995 itu, harga satu saham dari Fokker seharga 24 Gulden, 20 hari kemudian turun di bawah 6 Gulden. Waktu turun di bawah 6 Gulden, distop, ditutup bursanya. Untuk mencegah bangkrut, langsung disuntik dengan kapital. Kapital yang disuntikkan itu lebih banyak dari seluruh investasi yang diberikan oleh bangsa Indonesia dalam mengembangkan IPTN. Tetapi bukan itu saja, 2 minggu sebelum Fokker bangkrut, saya ditelepon oleh Menteri Ekonomi Wherles dari Belanda, dan juga ditelepon oleh Jerman menanyakan: "Apakah saya mau mengambil alih Fokker kalau mau akan diberi cuma-cuma. Dan, diberikan juga uang USD 500 juta kontan dan seluruh tabungan. Saya jawab, saya akan menghadap Bapak Presiden, saya minta maaf saya tidak tertarik. Mengapa? Andaikata kita ambil dan kita miliki kita akan memikul tanggung jawab. Tidak bisa kita ambil dan bawa lari uangnya, maka hilang kredibilitas kita. Tanggung jawab itu berarti saya harus mengamankan kembali, membuat Fokker mekar lagi dan untuk pesawat terbang yang sudah kedaluarsa dipandang dari aspek aerodinamis itu saya harus membuka pasar domestik, sehingga seluruh produk Fokker masuk dan mematikan Gatotkaca, kebanggaan negara-negara berkembang, dan kebanggaan umat Islam. Oleh karena itu, saya katakan saya tidak mau. Kenapa? Kalau Fokker dipertahankan, itu berarti saya bukan mengeluarkan USD 500 juta melainkan USD 1 milyar per tahun. Itu berarti saya harus tombok jika harus saya masuki. Setelah ia berusaha berunding dengan negara yang lain, Korea. Tetapi Korea lain, Korea harus bayar, tidak bayar cuma-cuma. Kenapa? Karena dua hal, pertama, Indonesia memiliki pasar domestik yang besar, Korea tidak. Kedua, Indonesia telah melampaui critical mass dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi kalaupun ada terlambat mungkin 1 bulan atau 1 tahun dengan proyek A dan B. Artinya satu tahun dalam perhitungan ratusan tahun ke depan, tidak ada apa-apanya. Dan kita harus sadari dari 200 lebih negara-negara itu, hanya 7 negara yang bisa membuat pesawat terbang seperti itu, termasuk Indonesia satu-satunya negara di Asia.
Saya tidak mau cerita lebih banyak, nanti ada yang menuduh Habibie hanya menyombongkan pesawatnya, dan saya mau menggarisbawahi, karena karya yang dihasilkan IPTN para insinyur dan karyawannya 95% sampai 98% adalah umat Islam. Hal ini membangkitkan semangat umat Islam. Semua prasangka yang tadi mengatakan, bahwa Islam adalah salah satu penghambat kemajuan dibuktikan tidak benar oleh kejadian itu. Akibat dari itu lahirlah IFTIHAR itu, dan IFTIHAR yang berarti "kebanggaan" dalam bahasa Arab, didirikan, ditandatangani oleh tokoh-tokoh Islam sedunia termasuk Amerika, dan Prancis dan Jerman dan Inggris. Mereka telah bermusyawarah dan mufakat, memilih mengeluarkan deklarasi tentang pengembangan sumber daya manusia. IFTIHAR dikenal juga dengan deklarasi Jakarta. Dan pada deklarasi Jakarta itu ditetapkan, bahwa pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia ditugaskan kepada seluruh bangsa Indonesia. Ini suatu kehormatan khususnya bagi umat Islam, salah satunya kebetulan bernama Baharudin Jusuf Habibie yang diberi tugas untuk penyusunan anggaran dasar, anggaran rumah tangga, mekanisme dan sebagainya, daripada organisasi Islam yang terbesar yang baru lahir tersebut.
Dengan uraian ini jangan terus mengatakan, bahwa Habibie bercerita karena ia yang menjadi ketuanya, tidak Habibie hanya merupakan resultante dari semua perjuangan di muka bumi Indonesia, juga termasuk dari mereka yang tidak beragama Islam yang benar-benar jujur mencari ketentraman dalam naungan demokrasi Pancasila. Oleh karena itu saya menggarisbawahi, betapa pentingnya kita sadari ketiga skenario tadi. Dari mass media, kita bisa membaca indah dan manis dan meyakinkan, tiga skenario tadi. Jawaban atas persoalan skenario itu hanya satu, ialah jangan mau diadu domba, jangan mau gampang dihasut. Harus kita tingkatkan kewaspadaan dalam segala lapisan. Jangan cepat percaya, cek dan cek sekali lagi, jangan sampai tanpa kita sadari kita tergelincir dan masuk ke dalam perangkap, karena ketiganya itu sasarannya satu, ialah menggembosi roda pembangunan Indonesia yang jalannya boleh dikatakan diakui oleh manca negara sebagai sesuatu yang wajar dan patut dijadikan contoh.
Sikap kita hanya satu, tingkatkan kewaspadaan nasional, sukseskan mekanisme demokrasi Pancasila. Tidak perlu pertanyaan-pertanyaan apakah Pak Habibie siap jadi Wapres? Bukan itu pertanyaannya. Serahkan itu kepada mekanisme. Pertanyaannya adalah pada diri kita sendiri: "Di manakah kita harus berada untuk bisa memberikan bakti yang maksimal untuk kepentingan bangsa? Jadikan mekanisme demokrasi Pancasila itu budaya bangsa Indonesia, seluruh bangsa Indonesia, kehidupan bangsa Indonesia, budaya bernegara, budaya beragama, budaya berkarya, apa saja, jadikanlah itu bagian terpadu dari keseluruhannya. Kalau kita melaksanakan semua itu, insya Allah prediksi banyak orang-orang pintar di muka bumi ini akan terbukti, ialah pada abad yang akan datang Indonesia termasuk the top ten, ada yang mengatakan the top five. Ada pula yang mengatakan the top three, tetapi cukuplah kalau kita bisa menempati the top ten, sudah lumayan.
Baiklah, sebenarnya banyak saya mau menceritakan, saya belum mau menceriterakan mengenai visi-visi yang dilihat, saya mau menjelaskan sedikit angka saja. GDP seluruh dunia pada tahun 1994 kurang lebih US$ 27 juta atau 27 trilyun. Pembagian kue tersebut, adalah 67% dinikmati oleh Amerika Serikat, European Common Market, dan Jepang. Asia termasuk Indonesia menikmati 20, 8%. Sedangkan rakyat yang lain, negara-negara yang lain, Afrika, Timur Tengah, Australia, dan Rusia dan sebagainya, itu hanya 12, 2%. Pertumbuhan Amerika, dan Eropa dan Jepang rata-rata 2%. Pertumbuhan dari Asia rata-rata 8%. Sedangkan pertumbuhan dari negara yang lain 3, 5%. Sekarang kita lihat, apa dan bagaimana skenarionya untuk tahun 2019. Saya ambil tahun 2019, kenapa?, karena pada tahun 2019 adalah tahun terakhir Repelita ke-10, 25 tahun yang akan datang. Di situ GDP dunia sudah meningkat dari tadinya hanya US$ 27 juta menjadi US$ 75,9 milyar. Karena pertumbuhan Asia lebih tinggi, kelihatan kuenya yang tadinya dinikmati oleh Eropa, Amerika dan Jepang sebanyak 67%, maka pada tahun 2019 hanya bisa dinikmati sebanyak 39,1%. Sedangkan Asia termasuk Indonesia sudah menikmati 50,7%. Dengan catatan, bahwa pertumbuhan pembangunan berjalan berkesinambungan dan itu hanya mungkin jika ada stabilitas politik dan ekonomi, itu hanya mungkin kalau kita bisa meningkatkan ketahanan nasional, ketahanan regional dan tidak mau diadu domba. Bukan saja berlaku di Indonesia tetapi di manapun juga, termasuk di Korea dan di tempat-tempat lain.
Sekarang saya mau jelaskan, bahwa Indonesia khususnya pada tahun 1969 sampai 1994, 25 tahun lamanya, rata-rata pertumbuhan ekspor Indonesia 17, 1%, impor bertumbuh dengan 14, 32%. Pertumbuhan ekonomi rata-rata 6, 5%. Pertumbuhan pertanian rata-rata 3, 3%. Dan pertumbuhan industri rata-rata 11, 1%. Ini angka yang jelas dengan bukti-bukti kami dari BPPT dan BAPPENAS yang sudah mengadakan proyeksi, bahwa ekspor itu tidak akan mencapai 17, 1%, katakanlah turun menjadi 14, 6% sangat konservatif, lebih kurang 25 tahun yang akan datang impor le-bih kurang sedikit dari 14, 37% menjadi 14, 22%. Pertumbuhan eko-nomi berkisar antara 6% sampai 7%. Walaupun sekarang su-dah 8%, sangat konservatif. Pertumbuhan pertanian 3% sampai 3, 5%. Dan pertumbuhan industri di atas 9%. Dan kita merekayasa agar pada tahun 1969 pendapatan kita datangnya 80% dari kekayaan alam dan 20% dari sumber daya manusia dan industrinya. Insya Allah sudah berubah sekarang ini, pada tahun 1994 pendapatan 20% dari kekayaan alam, sedangkan 80% sudah dari ekspor, da-ri sumber daya manusia, dari industri. Dan, sasarannya pada tahun 2019, pendapatan dari kekayaan alam 10% dan 90% dari industri. Manusia yang hidup di bawah garis kemiskinan pada tahun 1989 kurang lebih 65%, pada tahun 1994 menjadi 13, 67%, dan sasaran kita pada tahun 2019 insya Allah lebih kecil dari 1%. Sekarang saya jelaskan kembali dengan angka-angka perhitungan tadi pada tahun 1969 ekspor kita hanya US$ 854 juta. Pada tahun 1994 sudah meningkat menjadi US$ 38, 1 milyar. Dengan perhitungan itu insya Allah pada tahun 2019, ekspor kita sudah meningkat menjadi US$ 190 milyar, import juga meningkat, kami sangat harapkan meningkat dari US$ 32, 3 milyar menjadi US$ 170 milyar. Namun, masih ada surplus perdagangan yang tidak tradisional menjadi US$ 20 milyar.
Saya punya angka-angka ini realistis, dan kita melaksanakan pembangunan dipandang dari sudut teknologi, makro ekonomi dan mikro ekonomi, semua menjurus pada keberhasilan ini semua. Untuk itu, kita harus meningkatkan kewaspadaan, jangan mau diadu domba oleh siapapun juga, jangan cepat-cepat percaya periksa dan periksa ulang, jangan cepat-cepat mengambil asumsi bahwa orang seperti Pak Widjojo termasuk saya dan sebagainya kerjanya hanya tidur saja dan mengisap jari, dan menjual negara dan sebagainya. Tidak demikian, kita tidak mengenal lelah dan menyerah, kita tidak bekerja dengan perhitungan saja, tetapi juga berdasarkan keyakinan akan kebenaran demi kepentingan bangsa Indonesia.

No comments:

Post a Comment