Friday, May 28, 2010

PEMBANGUNAN BERDASARKAN NILAI TAMBAH DENGAN ORIENTASI TEKNOLOGI DAN INDUSTRI:

Ceramah Perdana Prof.Dr.lng.B.J.Habibie
PEMBANGUNAN BERDASARKAN NILAI TAMBAH
DENGAN ORIENTASI TEKNOLOGI DAN INDUSTRI:
DIALOG PEMBANGUNAN
CENTER FOR INFORMATION AND DEVELOPMENT STUDIES
8 Pebruari 1992
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Bapak Arifin Siregar yang saya hormati, Bapak Achmad Tirtosudiro, Bapak Sayidiman Suryohadiprojo, Bapak-bapak dan Ibu-ibu, CIDES merupakan suatu pusat untuk menganalisa dan memberikan informasi mengenai pembangunan. CIDES didirikan oleh Yayasan Abdi Bangsa. Yayasan Abdi Bangsa adalah suatu yayasan yang didirikan untuk mengabdi pada bangsa. Karena itu namanya Yayasan Abdi Bangsa, bukan abdi umat. Bahwa ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) yang mempersiapkan dan merekayasanya, itu adalah suatu kebetulan. Proses ini adalah wajar dan normal sebagaimana Persiapan dan perjuangan kemerdekaan adalah usaha seluruh bangsa. Para pendahulu kita berjuang dengan caranya masing-masing, sambil memanjat doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa apakah mereka itu Kristen, Katholik, Budha, Hindu, atau Islam. Jika seorang pejuang mengatasnamakan Budha atau yang lainnya, itu bukan berarti ia berjuang karena aspirasi dari agamanya semata-mata, tetapi karena aspirasi dari bangsanya. Sebagai orang yang berbudaya dan beragama, maka ia memohon agar diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Esa, sehingga perjuangan bangsanya mencapai kemenangan. Sebagai manusia ia mendapatkan kekuatan dari Tuhan yang dipercayainya. Jadi, saudara-saudara jangan salah sangka dan salah mengerti mengenai berdirinya Yayasan Abdi Bangsa. Pendirian ini adalah atas inisiatif para tokoh bangsa ini, yang kebetulan beragama Islam. Bertindak sebagai pelindung adalah Haji Muhammad Soeharto, Bapak Presiden. Sedangkan para penasehat antara lain adalah Bapak Umar Wirahadikusumah dan Pak Sudharmono. Pendiri lainnya adalah Ibu Tien, Ibu Adam Malik, Ibu Sudharmono, Pak Arifin Siregar, Bapak Sayidiman Suryohadiprojo, Bapak Try Sutrisno dan banyak lagi rekan-rekan ICMI. Yayasan Abdi Bangsa didirikan pada tanggal 17 Agustus 1990 oleh 45 (empatpuluh lima) orang. Sebagai manusia Indonesia, kita selalu mengacu pada angka-angka bersejarah.
Saudara-saudara.
Saya ingin mengutarakan pengalaman saya dalam menyumbangkan pandangan-pandangan dan peranan aktif saya dalam pembangunan. Pertama kali, saya menjadi penasehat Bapak Presiden untuk bidang teknologi kedirgantaraan dan teknologi canggih pada bulan Agustus 1973. Tetapi, saya baru memulai tugas saya pada Januari 1974. Saya diberitahu pada Agustus 1973 oleh Bapak Presiden sendiri dan waktu itu saya masih di Jerman. Sedangkan Kabinet Pembangunan II ditetapkan pada April 1973. Kalau kita lihat ke belakang, 25 tahun yang lampau, maka Pak Arifin dan saya termasuk dalam anggota kabinet yang cukup lama membantu kepemimpinan Bapak Presiden, sebagai pembantu dekatnya atau penasehatnya. Seorang menteri memberikan nasehat dalam berapa hal yang kemudian diputuskan oleh Bapak Presiden. Sedangkan tugas yang bisa didelegasikan dapat diputuskan oleh seorang menteri. Walaupun pada waktu itu saya adalah penasehat untuk teknologi dirgantara, tetapi banyak langkah saya lakukan sampai terbentuknya industri dirgantara. Karena saya sebagai penasehat harus memutuskan melaksanakan pembangunan industri dirgantara. Oleh karena itu sekarang, satu tahun sebelum kita memasuki Repelita VI, dan satu tahun sebelum kita memasuki tahap Pembangunan Jangka Panjang II (PJPT II), saya rasa wajar kalau kita melihat kembali apa yang telah dicapai dan melihat ke depan apa yang ingin dicapai, dan membuat proyeksi dengan titik tolak tertentu. Jika tidak demikian, kita akan salah arah.
Baiklah saya mulai dengan apa yang telah kita capai. Sulit jika kita hanya berbicara menengenai GNP perkapita. Saya berikan contoh saja. seseorang yang hidup di New York dan mempunyai pendapatan US $ 600 per bulan akan kewalahan. Karena, dengan US $ 600 ia dianggap berada di bawah garis kehidupan normal, karena GNP perkapita di Amerika Serikat jauh dan lebih tinggi, Tetapi orang yang sama mendapat US $ 600 tinggal di Jakarta, adalah memadai, cukup memadai, apalagi jika ia di Bandung, dan lebih lagi di Sumedang. Jadi kita tidak bisa melihat pembangunan hanya dari kaca mata GNP perkapita. Sekalipun informasinya menarik, tetapi itu dapat memberikan kesimpulan-kesimpulan yang salah.
Selanjutanya, saya ingin berbicara mengenai perkembangan perusahaan. Saya ingin berbicara mengenai BPIS (Badan Pengelola Industri Strategis), Kelompok industri ini telah membuat perhitungan rugi labanya. Pada saat kelompok industri ini akan dikelola menjadi satu perusahaan. Sekarang ini pajak dan lain-lainnya masih terpisah, tetapi nantinya akan menjadi satu, perhitungan labanya sudah menjadi satu. Untuk tahun 1992 saya belum rnengetahui laporan keuangannya karena sedang diperiksa oleh BPKP dan BPK untuk dinilai apakah BPIS itu mempunyai laba atau tidak, Tetapi, untuk tahun 1991 laporan keuangannya telah selesai, dan kita juga sudah melunasi pajak.
Saya ditanya orang dari luar Negeri, berapa turn over dari industri strategis pada 1991 ? Jika dihitung dalam US Dollar, jumlahnya kurang lebih mungkin US $ 2,8 milyar. Sebagai perbandingan, turn over MBB, perusahaan pesawat terbang Jerman, kurang lebih US $ 10 milyar atau US $ 12 milyar, Sedangkan pekerja BPIS adalah 47.000 orang dengan turn over hanya US $ 2,8 milyar, MBB mempunyai pekerja 60.000 orang, dengan turn over US $ 12 milyar. Jika kita tanya apakah MBB pada 1990 laba atau rugi, Toronto rugi. Sekarang tanyakan pada Habibie, apakah BPIS menurut pemeriksaan BPKP dan BPK laba atau rugi pada 1992?. Tanya saja Ir. Martiono. Pasti ia akan katakan BPIS laba 325 milyar rupiah. Dalam US Dollars sama dengan US $ 150 Juta. Seseorang dapat mengatakan Pak Habibie melakukan manipulasi, mengapa turn over MBB itu besar tetapi rugi, sedangkan turn over BPIS kecil tetapi laba. Mengapa demikian? Jawabannya adalah, biaya satu karyawan di MBB adalah sekitar US $ 200.000 per tahun, sedangkan biaya satu pekerja di IPI'N, misalnya, Rp 300.000 per bulan atau kurang lebih US $ 150, katakanlah US $ 200 dengan segala-galanya. Jadi US $ 200 x 12 bulan = US $ 2.400 per tahun. Jadi dari human resources cost saja hanya 1 0%. Belum lagi dari over head. Over head cost ditambah human resources cost menjadi sekitar US $ 6. 000 per tahun. Sedangkan MBB US $ 200.000 per tahun. Dari sini secara implisit kelihatan interpretasi GNP perkapita yang saya katakan US $ 600 per bulan di New York tidak cukup, tetapi memadai untuk hidup di Jakarta.
Jadi angka-angka yang menunjukkan besarnya besar turn over, jumlah pekerja, dan GNP perkapita memang menarik bagi tokoh perbankan seperti Pak Arifin Siregar. Ia adalah tokoh perbankan dan nasional. Ia pernah diabadikan sebagai the best bankir of the world pada tahun 1980 an, dan saya sangat bangga mempunyai kawan seperti Pak Arifin yang telah saya kenal lebih dari 35 tahun. Kita pernah sama-sama di Jerman, sehingga sering berbahasa Jerman. Tetapi bukan lalu menjadi orang Jerman, jiwanya tetap orang Indonesia, Saya ini sebenarnya merasa malu di depan seorang tokoh bankir dunia saya memberikan pandangan seorang insinyur. Tetapi, tidak ada salahnya, supaya beliau mengerti bahwa saya juga memahami permasalahan keuangan. Bagi seorang bankir, permasalahan ini sangat menarik karena turn over perusahaan tidak disimpan di dalam lemari perusahaan, tetapi disimpan di bank. Apakah itu negatif atau positif, bankir selalu mendapat fee, tidak peduli uang itu masuk atau keluar. Itulah hebatnya seorang bankir. Tetapi, ia harus pandai-pandai berusaha agar supaya pemilik uang tiba-tiba tidak melarikan diri, tidak ditipu dan terpercaya. Karena itu ia juga menentukan bunganya. Karena bunga mengandung risiko, dan ditentukan oleh bank yang mengelola uang itu, maka penentuan bunga bergantung pada jumlah uang yang beredar, tergantung pada permintaan uang, tertantung pada indikator investasi, dan tergantung pada indikator makro maupun mikro dari sistem moneter. Jika bunga telah ditentukan, maka bank lain tidak dapat menawarkan bunga lebih rendah, karena harus bersaing untuk menarik nasabah. Saya tidak mau menjelaskan lebih lanjut, Saya hanya ingin mengatakan bahwa bagi seorang bankir GNP perkapita is very interesting.
Saudara-saudara,
Saya ingin memberikan contoh lagi. Saya harus memberikan contoh, sebelum menilai pembangunan. Contoh berikutnya mengenai Taiwan dengan jumlah penduduk 20 juta. GNP perkapitanya tahun lalu, untuk pertama kalinya. melewati US $ 12.000. Menurut pakar ekonomi Taiwan yang saya temui di Teipeh tahun ini, mereka sudah tidak punya utang, karena itu tidak mempunyai masalah DSR (Debt Service Ratio) lagi. Cadangan devisanya mendekati US $ 90 milvar. Jika dilihat dari kreteria ini, maka Taiwan tergolong negara kaya di dunia ini. Tetapi jika dilihat dari GNP perkapita, Taiwan kalah dengan USA, Kalau dilihat dari jumlah manusia Taiwan kalah dengan USA, kalau dilihat dari GDP jelas kalah dan AS. Amerika GDPnya sekarang sudah mendekati US $ 6.000 milyar. Anggaran pembangunan pemerintah Amerika sudah melampaui US $ 1 trillion. Jadi besarnya atau kecilnya itu tidak menentukan; Ternyata apa yang menentukan adalah policy, strategy, dan filosofi dari pemban~unan ekonomi.
Sekarang saya ingin sedikit menjelaskan pengalaman 25 tahun yang lalu. Saya mendapatkan laporan, entah benar atau tidak, dari Deputy Bidang Industri BPPT, Satu lembar mengenai perbandingan GDP negara-negara ASEAN dengan new industrial society antara tahun 1965 sampai 1989. Saya lihat sumbernya ini adalah World Bank, yang diolah kembali oleh Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI). Saya meminta Bapak Billy Joedono untuk menceknya kembali. Apa yang menarik bagi saya ialah perkemhangan tahun 1965 samapai tahun 1989. Sebelum tahun 1965 saya rasa tidak ada gunanya karena Orde Baru dimulai sejak 1965. Kalau saya ambil tahun 1945, 1950, 1960 tidak banyak artinya, karena Orde Baru adalah yang pertama kalinya melaksakan pembangunan berdasarkan GBHN dan suatu Repelita, yang setiap lima tahun dibentuk dan ditetapkan bersama GBHN oleh sidang MPR, sekaligus dipilihnya Mandataris MPR. Mandataris MPR itu ditugaskan untuk melaksanakan pembangunan atas nama bangsa dan rakyat. Karena itu, saya hanya mulai tahun 1965 sampai 1989. Saya hanya ingin melihat apa hasilnya pada 1989, Saya tadak dapat melihat hasilnya pada 1992 karena saya tidak mempunyai datanya. Kita bandingkan tahun 1989 dengan tahun 1965. Saya tidak ingin melihat hanya GNP perkapita. Jadi lebih baik saya melihat saja GDP secara absolut, dan saya rasa tidak perlu saya jelaskan pengertian GDP di sini. GDP saya anggap sebagai suatu performance, suatu prestasi dari suatu bangsa, suatu masyarakat yang melaksanakan pembangunan ekonomi. Bagi saya pembangunan itu bukan saja pertumbuhan ekonomi yang diutamakan, tetapi juga pemerataannya. Sedangkan kalau saya memikirkan pertumbuhan ekonomi saja, bisa saja didapatkan double digit growth, Bahkan akan lebih baik kalau saya tidak diberikan beban untuk memikirkan nasib si A, si B dan sebagainya. Pada masa kolonial, economic growth mungkin lebih tinggi, tetapi orang Indonesia tidak mendapatkan apa-apa beri saja orang Indonesia uang sebenggol untuk makan. Pemerintah kolonial melaksanakan skenario ekonomi yang bertujuan mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi hasilnya disedot masuk ke kas Belanda.
Jadi, tidak ada masyarakat jika dalam kehidupan mereka tidak melaksanakan kegiatan ekonomi, kecuali masyarakat dalam jaman batu. Selama masyarakat itu memiliki uang, harus ada aktifitas ekonomi, tetapi aktifitas ekonomi tidak identik dengan suatu economic policy yang diarahkan apakah ke economic growth ataukah ke development growth apakah ke pertumbuhan ekonomi, semata-mata apakah kepada pertumbuhan pembangunan,
Saudara-saudara.
Saya tidak mau mengkritik Orde Lama, karena saya tidak memahaminya. Tentang itu mungkin saudara dapat bertanya kepada Pak Arifin Siregar karena beliau sudah di tanah air, tetapi saya kira beliau juga di Eropa seperti saya tahun 50an. Kalau mau tanya. tanyalah kepada Pak Cum, Pak Soemitro, karena ia lebih tahu, apakah pada waktu itu kita mempunyai economic policy. Saya tidak tahu, tetapi ini bukanlah yang ingin saya bicarakan. Jadi wajar kalau saya hanya melihat tahun 1965 sejak mulainya Orde Baru, karena kita harus melihat bagaimana prestasi Orde Baru. Kalau saya melihat GDP yang definisinya mencerminkan aktifitas ekonomi karena adanya policy for economic growth atau policy for development growth, maka saya tidak tahu apakah di Filipina sekarang ini terdapat policy pertumbuhan ekonomi atau pertumbuhan pembangunan, Itu masalahnya Presiden Fidel Ramos bukan masalah kita, tidak perlu turut campur. Tetapi saya harus mengetahui bagaimana prestasinya dalam bentuk berapa US dollar GDPnya dalam satu tahun.
Sekarang, jika saya melakukan perbandingan dengan membagi performance, katakanlah, GDP Filipina dibagi GDP Indonesia tahun 1965, GDP Thailand dibagi GDP Indonesia tahun 1965, GDP Malaysia dibagi GDP Indonesia tahun 1965, demikian juga Korea Selatan, Hongkong dan Singapura. Brunei belum lahir jadi tidak diperbandingkan. Apa yang menarik adalah, pada 1965, GDP Filipina dibagi dengan GDP Indonesia adalah 1,66, berarti GDP Filipina lebih besar daripada Indonesia. Jika saya melakukan perhitungan untuk tahun 1989, maka kelihatan GDP Filipina dibagi GDP Republik Indonesia tahun 1989 ukan 1,66 tetapi 0,47. Bagi saya terjadi kemunduran dari prestasi Filipina sebanyak minus 71,6% berdasarkan data terse but.
Lalu saya lihat bagaimana perbandingan dengan Thailand. dengan cara perhitungan yang sama, Ternyata pada 1965 GDP Thailand dibagi GDP Republik Indonesia, adalah 1,12, tetapi tahun 1989 perhitungan menghasilkan 0,746 atau minus 33,4%. Padahal, GNP per kapita Thailand itu tinggi. Lalu saya lihat Malaysia, GDP Malaysia dibagi dengan GDP Republik Indonesia tahun 1965 adalah 0,826. Untuk perhitungan yang sama tahun 1989 adalah 0,4 kali Republik Indonesia, Jadi performance-nya minus 51,6%. Saya terkejut membaca laporan ini.
Sekarang kita lihat Singapura, GDP Singapura tahun 1965, adalah 0,27 kali GDP Indonesia, dan GDP Singapura pada 1989 adalah 0,340 kali GDP Indonesia, berarti adalah prestasi Singapura meningkat sebesar 12,6%. Sekarang kita lihat Korea. Pada 1965 GDP Korea dibagi GDP Indonesia adalah 0,826 kali, tahun 1989 GDP Korea dibagi GDP Republik Indonesia adalah 2,27 kali. Prestasi Korea naik sebesar 174%. Sekarang Hongkong. Tahun 1965 GDP Hongkong dibagi GDP Republik Indonesia adalah 0,59, tahun 1989 rasio ini sebesar 0,563 atau performance Hongkong turun dengan minus 4,6%.
Saudara-saudara.
Berdasarkan perhitungan angka tersebut, saya tidak begitu memperhatikan angka GDP perkapita, karena sebagaimana yang telah saya jelaskan ini memberikan kesan yang membingungkan. Kesimpulan-kesimpulannya bisa saja salah. Belum tentu kesimpulan saya dari perhitungan terse but benar, tetapi lebih jelas.
Kemarin saya bertemu dengan Sir Rubin, chairrnan and chief executive officer dari perusahaan Roll Royce. Saya bertemu selama 3 hari dengan dia. Saya berikan angka tersebut padanya, Dia datang kemari dalam rangka kunjungannya ke seluruh Asia.
Kami bertukar pikiran mengenai Persiapan globalization strategy in the next century. Ia menyadari seluruh keuntungan Roll Royce rendah dalam kerangka strategi tersebut, padahal nama dan pengalamannya hebat-hebat. Kita belum ada apa-apanya dalam strategi industri. Ia setuju dengan angka-angka tersebut dan katanya, keadaan Filipina lebih buruk lagi. Kalau ia bandingkan dengan Taiwan, ia terkejut karena Taiwan lebih hebat. Tetapi ia katakan, " You are on the right direction. " Hanya, sekalipun Taiwan itu banyak uangnya, yang menarik bagi seorang bankir, tetapi sebagai planner of nation's big company there is limitation. The biggest 'limitation is human resources. The posibility to overcome the problem is to develop human recources and science and technology.
Karena itu ia melirik ke Indonesia, yang dari sudut pandangan bankir belum begitu menarik, tetapi projeksi untuk masa depan sangat meyakinkan.
Kebetulan juga, pada bulan Desember tahun yang lalu, saya bertemu dengan dua tokoh nasional warga negara Indonesia dalam bidang bisnis. Pertama namanya Eka Wijaya, Saya diskusi dengan Eka selama 2 hari mengenai perusahaan-perusahaannya, mengenai idei-denya dan sebagainya, dan belum selesai. Tokoh yang kedua adalah Liem Swie Liong yang bertemu pada 31 Desember 1992, Diskusi dengan Om Liem juga belum selesai. Setelah lebaran Cina akan saya lanjutkan. Om Liem di kantor saya selalu melihat model kapal terbang dan satu gelas. Ia merasa sudah tua dan sudah banyak bekerja membantu pembangunan ekonomi. Dalam perumpamaannya, gelas tersebut diisi terus dengan teh. Ia tahu caranya mengisinya, tetapi yang ia tidak tahu bagaimana membesarkan gelas ini, sehingga setiap kali ia isi tidak tumpah isinya. Ia merasa tidak mampu untuk itu, karena kemampuannya hanya mencari peluang pasar, yaitu mekanisme untuk mengisi gelas, Saya bekerja dengan berbagai cara dan pikiran didukung oleh pengalaman dan tim saya untuk membesarkan gelas itu. Apa kuncinya membesarkan gelas tersebut? Saya jawab, "Human resources development and science and technology, Science and technology can not be separated from the human resources." Tidak mungkin ilmu pengetahuan dan teknologi bisa dipisahkan daripada sumber daya manusia tidak mungkin sumber daya manusia bisa dipisahkan daripada ilmu pengetahuan dan teknologi, hanya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu membesarkan gelas (saya pakai perumpamaan Om Liem).
Saudara-saudara.
Bagi saya tidak ada bedanya, apakah ia itu pribumi atau nonpribumi, tidak ada bedanya, apakah ia Islam atau nonIslam. Apa yang terpenting adalah kepentingan bangsa, Sebagai seorang Bapak, saya tidak boleh membeda-bedakan anak. Tetapi kita harus memperhatikan secara khusus anak-anak yang masih lemah. Yang kuat kita banggakan dan kita ajari membantu adiknya yang lemah, karena adiknya itu juga anak sendiri. Karena itu saya selalu katakan, kalau kita lihat GNP per kapita di Indonesia dari sudut golongan, agama, atau dari sudut pri atau nonpri, maka tampak pemeluk agama apa, pri atau nonpri yang GNP per kapitanya paling rendah. Sebagai pemimpin saya harus memperhatikan yang paling rendah, walaupun pada prinsipnya tidak berarti saya tidak membina mereka yang GNP per kapita tinggi. Jadi, jika saya katakan yang harus dibina sebaiknya yang pribumi, karena yang nonpribumi itu sudah cukup mandiri dan kuat tanpa pembinaan sudah bisa bergerak. Kalau ia dibina lagi, gerakannya lebih cepat yang dapat memperbesar kesenjangan yang membahayakan, Karena itu sebagai pemimpin saya harus terus melakukan pembinaan. Saudara-saudara jug a turut serta dalam pembinaan.
Saudara-saudara.
Sekarang kita lihat mengapa Singapura meningkat 12,6% relatif terhadap Indonesia. Saya rasa tidak perlu berbicara lama mengenai masalah Singapura sebagai negara sangat kecil yang tidak mengalami masalah perhubungan logistik seperti Indonesia yang begitu kompleks, Jadi tidak bisa diperbandingkan. Bahkan semestinya Singapura dapat lebih baik, tetapi mungkin tidak dapat lebih baik, karena ada hambatan seperti Taiwan. Taiwan sekalipun tidak mempunyai DSR (Debt Service Ratio), tetapi tidak berarti tanpa masalah. Taiwan menghadapi masalah yang besar. Kurs mata uang Taiwan terhadap US dollar sudah meningkat hampir dua kali. Saya kira Pak Arifin lebih tahu. Selain apresiasi mata uang, biaya buruh juga melonjak, harga pengembangan teknologi melonjak tidak hanya satu dua kali bahkan gejalanya mungkin puluhan kali kalau Taiwan tidak hati-hati dalam mengelola perekonomiannya.
Saudara-saudara.
Itu adalah permasalahan Taiwan. Sekarang saya tanya, mengapa Korea bisa 174,8% lebih dari Indonesia? Saya rasa kita semua sadari bahwa untuk membangun, kita membutuhkan tidak hanya sumberdaya manusia, tetapi juga prasarana ekonomi. Prasarana ekonomi Korea berkembang karena Post Korean War, dalam rangka menghadapi Korea Utara yang pada waktu itu (sekarang pun masih) bernapaskan komunis, dan berkonfrontasi dengan Korea Selatan. Pengaruh komunis harus dibendung oleh super power Amerika, maka super power Amerika, demi kepentingannya, menginjeksi kapital ke dalam perekonomian Korea, bukan untuk ekonomi Korea, tetapi untuk kepentingan AS. Jadi dengan kenyataan ini Korea diuntungkan oleh kepentingan dari suatu super power, sehingga Korea tidak menghadapi permasalahan berat dalam prasarana ekonomi untuk tinggal landas. Kita tahu saudara-saudara waktu kita mulai membangun, prasarana ekonomi Indonesia sangat memprihatinkan, Kita harus membiayai sendiri, tidak ada jalan lain karena tidak ada pihak lain yang membiayai. Kita membutuhkan dana sangat besar untuk merehabilitasi, memperluas prasarana ekonomi, prasarana sumber daya manusia termasuk kebutuhan dasar sumberdaya manusia, prasarana Iptek, dan sebagainya.
Saudara-saudara.
Jika kita lihat pembangunan dalam 25 tahun yang lalu dengan segala kekurangannya, kita tidak punya hak dan tidak wajar untuk mengatakan pembangunan tidak berhasil. Keberhasilan ini berkat pimpinan Bapak Presiden yang dibantu oleh semua anggota kabinet, semua aparatur pemerintah, pihak swasta dan siapa saja di bumi Indonesia. Sekarang kita memasuki tahap kedua pembangunan, titik tolaknya lain dari pada 25 tahun yang lalu, yaitu penekanan pada manusia Indonesia, Penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan adalah 17%, sedangkan pada 1965 sekitar 60%, bahkan saya pernah baca angka 67% yang tertinggi, dan 52-55% yang terendah, katakanlah 60%. Suatu prestasi yang luar biasa dapat menurunkan angka kemiskinan secara drastis, Jadi kalau pada awal tahun 65an manusia Indonesia tuntutannya adalah keinginan untuk diikutsertakan dalam pembangunan, sekarang tuntutan berubah, yaitu keinginan untuk menikmati hasil pembangunan. Kualitas manusiannya telah berbeda. Generasi penerus tidak pernah mengenal serba kekurangan relatif seperti tahun 1965. Kualitas hidup bukan saja dalam pengertian memakan protein dan karbohidrat lebih banyak, tetapi kualitas cara berpikirnya dan berkarya yang harus bersifat kritis dan berbudaya.
Saudara-saudara.
Kita harus sungguhsungguh dalam mengevaluasi apakah cara pembangunan yang kita laksanakan terdahulu sudah benar. Untuk hal itu saya harus menyinggung penjelasan ekonomi sekalipun saya bukan ahli ekonomi, Saya hanya sebagai manusia yang berusaha mengerti ekonomi, berusaha mengerti ekonomi moneter, nasional, perdagangan, industri makro dan mikro.
Karena saya memimpin banyak perusahaan yang harus membuat laba, maka harus mengerti ekonomi. Kalau saya tidak mengerti ekonomi saya tidak dapat mengambil kebijaksanaan untuk mendapatkan laba. Saya bukan ahli ekonomi kalau mau dikatakan ahli hanyalah ahli konstruksi pesawat terbang, karena latar belakang pendidikan saya.
Saudara-saudara.
Kita mengenal ekonomi mikro dan makro, kita mengenal nilai tambah (value added), mengenal apa yang dikatakan keunggulan komperatif (comparative advantage). Saya ingin meluruskan pengertian nilai tambah, sehingga koheren dan berbahasa yang sama. Saya telah sering kali, sebagaimana Bapak-bapak dan Ibu-ibu ketahui, menjelaskan nilai tambah, peranan teknologi, peranan ilmu pengetahuan dan peranan sumberdaya manusia. Saya selalu membuat suatu contoh yang sangat sederhana, sehingga mudah dimengerti. Saya berikan contoh, suatu mobil namanya si Kijang harganya 25 juta rupiah dan beratnya 1.000 Kg, Kijang ini katakanlah per Kgnya 2.5 juta dibagi 1,000 sama dengan 25.000 rupiah per Kg. Bandingkan dengan si Baby Benz harganya 250 juta rupiah beratnya 1.000 Kg, berarti, per Kgnya 250,000 rupiah. Siapa yang menentukan 250.000 rupiah per Kg untuk Baby Benz sedangkan si Kijang 25.000 rupiah per Kg bukanlah si pembuat? tetapi masyarakat dalam hal ini pasar. Karena konsumen yang membeli dan menilai, maka harga ditentukan ditentukan oleh pasar, bukan ditentukan pembuatnya. Sekarang kalau si Kijang dan si Baby Benz itu tabrakan di Jagorawi, yang selalu rawan kecelakaan, dan hancur menjadi besi tua, penadahnya dalam hal ini Krakatau Steel akan membeli besi tua tersebut harganya bukan 25.000 rupiah per Kg untuk si Kijang dan 250.000 rupiah per Kg untuk si Baby Benz, tetapi semua 250 rupiah per Kg, karena besi tua.
Saudara-saudara.
Dari situ saya mengambil kesimpulan, nilai 250 rupiah per Kg yang dibeli sebelum dijadikan si Kijang mungkin nilainya lebih rendah lagi atau menjadi lebih tinggi sedikit tidak lah menjadi soal. Tetapi rupanya nilai 250 rupiah per Kg itu bisa mengalami beberapa proses engineering, sehingga nilai tambahnya itu menjadi 250.000 rupiah untuk si Kijang, dan untuk Baby Benz nilai tambahnya itu 25.000 rupiah per Kg. Ini dapat terjadi karena, kadar ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kualitas manusia yang menciptakan nilai tambah lebih rendah pada Kijang dibandingkan dengan proses-proses nilai tambah pada Baby Benz. Jadi kita mengambil kesimpulan bahwa nilai itu adalah fungsi daripada teknologi, Science dan human resource. Sekarang orang bertanya, Habibie itu insibyur, sehingga hanya memikirkan kapal terbang dan mobil saja, bagaimana dengan bidang yang lain. Sebenarnya tanpa berpretensi menggurui dalam kacamata saya, semua aktivitas ekonomi menghasilkan nilai tambah tertentu. Saya berikan contoh, ada cost dari pelayanan (service) itu juga merupakan nilai dari pelayanan yang diberikan pada Anda. Jadi, sebenarnya dalam perekonomian ada proses-proses nilai tambah, perbedaaannya adalah ada proses nilai tambah yang hasilnya rendah, setengah menengah, menengah, tinggi dan tinggi-tinggi sekali. Kalau manusia membuat pakaian, manusia ini melaksanakan nilai tambah juga, ia beli kain dan sebagainya, mesin dan sebagainya dan baju yang dihasilkan di jual menghasilkan nilai tambah juga. Tetapi yang menentukan nilainya bukan produsen, karena bisa saja ia rugi, yang menentukan pasar. Karena, membuat celana jean atau textile atau pakaian jadi teknologinya relatif sederhana dan juga menghasilkan nilai tambah maka banyak orang yang bisa membuatnya, banyak negara yang bisa membuat jean dan sejenis garmen, karena banyak yang menawarkan maka di pasar yang permintaanya terbatas harganya ditentukan tidak sesuai dengan kehendak daripada si pembuat jeans tersebut. Dalam hal ini walaupun pasar yang menentukan, tetapi negara kaya jug a merasa bertanggungjawab sosial, yang kaya katakanlah pasar Eropa, pasar Amerika Utara, pasar Jepang. Tanggungjawab sosial negara kaya adalah harus membagi-bagi keuntungan. Karena banyak tawaran textile, maka diterapkan kuota. Bagi yang ingin bekerja lebih keras mereka tidak mungkin menerobos batasan ini. Negara-negara kaya secara global juga melaksanakan pembangunan di dalam arti pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kepada negara sedang berkembang hanya penekanan pada pemerataan itu terlalu rendah. Menurut Pak Harto negara-negara kaya berjanji 0,47% daripada GDP akan dipergunakan membantu negara berkembang. Tetapi sampai sekarang Amerika hanya mengeluarkan 0,2% dari GDPnya. Hanya negara-negara Skandinavia menurut Pak Harto yang telah mencapai 0,47% dari GDPnya. Jadi masalah global tidak bisa mendukung secara luas orientasi ekspor produk dengan nilai tambah rendah.
Saudara-saudara.
Saya perlihatkan pembuatan celana jean yang memanfaatkan teknologi yang relatif rendah. Itu menghasilkan nilai tambah yang rendah, karena banyak persaingan dan pasar yang menentukan harganya,sehingga produksi jenis ini sulit berkembang. Lain dengan satelit, kapal terbang yang harganya ditentukan oleh pembuatnya, karena tidak banyak yang menguasai, tidak ada hambatan-hambatan pasar. Sekarang kita membahas pesawat terbang.
Menurut perkiraan yang diumumkan oleh Boeing, dalam 20 tahun yang akan datang, jumlah penumpang antar benua akan meningkat 400%. Ada suatu formula empiris berdasarkan pengalaman bahwa jika pesawat terbang untuk perhubungan antar benua permintaannya meningkat dengan angka 100, maka pesawat terbang yang membawa penumpang flyer airline atau commuter air line akan meningkat dengan angka 2 sampai 3 kali, bahkan ada teori yang mengatakan 4 kali pun sebetulnya normal. Karena, orang yang terbang dari Jakarta dengan Boeing 747 pergi ke Amsterdam semuanya bukan orang Jakarta, tetapi dari Malang, Surabaya, Semarang, Palembang. Medan, dan lain-lain. Jika si penumpang dapat membiayai penerbangan Jakarta Frankfurt/Amsterdam, misalnya, maka ia juga dapat membiayai penerbangan commuter. Jadi jika terjadi peningkatan 100 pesawat terbang antar benua itu, maka commuter air line akan meningkat 200-300 bahkan 400. Sekarang kita bertanya, siapa yang menciptakan pasar tersebut? Di dunia pesawat terbang antar benua, terdapat 3 pesawat terbang buatan Air Bus Industries dari Eropa, Boeing dan Mc Donnell Douglas dari AS, tidak ada yang lain. Tahun yang lalu saya bertemu 4 kali dengan John Mc Doneld, 2 kali di Indonesia, 1 kali di Eropa, dan 1 kali di Amerika. Pertanyaan ialah apakah industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) bersedia bekerjasama dengan Mc Donnell Douglas mengembangkan MD12. Saya bilang tidak. Ia terus membujuk dengan berbagai statistik, Sampai sekarang ia belum give up. Paling jauh saya hanya bersedia untuk subkontrak, tetapi saya tidak mau ikut berperan serta, Saya hanya ingin kita berkembang dalam industri pesawat terbang commuter yang pasarnya jelas seperti yang saya katakan. Sekarang ini Mc Donnell Douglas hampir bangkrut, karena subjoin besar bergantung pada pertahanan, antara lain berupa kapal-kapal terbang tempur yang sangat sukses, belum lagi peroketan militer. Ketergantungan Boeing pada pesanan militer hanya 20%-25%. Airbus sama sekali tidak ada. Jadi dalam perhitungan, saya kira-kira dalam abad yang akan datang, hanya akan ada dua perusahaan yang membuat kapal-kapal terbang antar benua walaupun mungkin saja akan ada perusahaan yang ketiga. Yang ketiga itu mungkin datang dari Rusia, tetapi mereka ada masalah internal dan external: internal, Rusia harus konsolidasi; dan external, sampai sekarang tidak bisa mendapatkan dan tidak pernah -- sejak dari awal -- memperhatikan, regulasi Federal Aviation Agency (FAA). Berbeda dengan IPTN yang memilih C-212 sebagai fase pertama, sebagaimana yang saudara ketahui. FAA regulation dari C-212 itu berlaku sama seperti FAA regulation untuk Boeing 747. Kalau saya mengambil misalnya dalam kelas pesawat seperti yang dibuat Australia untuk jenis pesawat kecil, katagori ini tidak berlaku untuk pesawat terbang yang besar. Jadi sebagai penasehat Bapak Presiden. saya menyadari proyeksi ke depan untuk menjadi subkontraktor perusahaan pesawat terbang ukuran besar dan membuat pesawat-pesawat terbang commuter, maka saya rancang tahap pertama itu adalah pesawat terbang yang paling kecil, tetapi harus memenuhi persyaratan untuk pesawat terbang yang besar. Kalau saya ambil F-27 biayanya lebih rnahal daripada C-212, jadi untuk mengalihkan teknologi lebih banyak yang harus saya bayar, dan yang membiayai adalah pasar domestik.
Saudara-saudara.
Sekarang kita lihat commuter airplane. Perusahaan Fokker, produknya adalah F-50, F-100. Saya berbicara sebagai ahli konstruksi pesawat terbang. F-50 itu adalah konsep aerodinamika tahun 1950-an, dan F-100 adalah konsep aerodinamika tahun 1960-an. Hid up matinya pesawat terbang tergantung dari konsep airodinamika. Apa yang dikatakan sebagai F-250 adalah F-27 dengan cockpit baru dan motor baru, tetapi airodinamikanya sama. Saya mendengar dari pimpinan Fokker bahwa kemungkinan akan menghentikan produksi F-50. Perusahaan lain adalah Aerospatile dari Perancis dan dengan Alinia, dari Italia dengan pesawat terbang ADT-42 dan commuter ADT-72. Ini adalah konsep pada ahir tahun 1960-an, dengan baling-baling type-nya F-27 tetapi konsepnya pada ahir tahun 1960-an. Selain itu Canon sekarang hanya berkonsentrasi pada DARD-8, sedangkan DARD-7 sudah ditinggalkan. DARD-8 ini adalah konsep tahun 1966. Bristish Aerospace memproduksi ATP, tetapi ini adalah konsep tahun 1990 sama dengan N-250. Masih ada satu lagi dari Brazil yang belum berkembang karena masalah-masalah ekonomi tidak menunjang, dan bisa kita abaikan.
Saudara-saudara.
Saya sampaikan di sini, kita sedang merancang N-250 untuk memasuki pasar tahun 1997, sampai sekarang prosesnya masih sesuai jadwal. Peluncuran pertama November 1994, dan penerbangan pertama antara Januari dan April 1995, sertifikasi diperkirakan dalam 1996, penyerahan pertama pada airlines Desember 1997, Pesawat terbang jenis ini direkayasa sedemikian rupa sehingga dengan hanya memo tong di depan sayap dan di belakang sayap terus dimasukkan bagian tertentu di depan dan di belakang dan kemudian dipotong antara sayap luar, dipotong badannya di depan sayap dan ditaruh bagian tertentu di antaranya dan disambung lagi, dan pada sayap kiri dan kanan dipotong bagian tengah ditaruh bagian sedikit kita bisa dengan tidak merubah apa-apa dapat delivery on the same production line pada 1997 pesawat baru jenis N-270.
Pesawat terbang kita itu adalah yang dinamakan pesawat terbang yang memanfaatkan teknologi fly by wire. Pesawat terbang itu bisa bergerak dalam tiga dimensi, gerakan apa saja, sedemikian rupa sehingga bisa mensimulasi atau membuat gaya-gaya yang menggerakkan seluruh pesawat terbang itu. Informasi diberikan oleh manusia melalui sistem kabel dan sistem hidraulik dan seterusnya, seperti pada Boeing 747, MD 11 dan sebagainya, hanya pada Airbus A-20 dan pada Triple 7 yang akan datang, dan pada SAB, tetapi SAB itu hanya satu sumbu, bisa.fly by wire. Informasi diberikan bukan melalui kabel dan hidraulik tetapi melalui electrical wire yang memberikan informasi itu adalah elektron yang memasuki semua permukaan sayap, buntut dan bisa mensimulasikan.
Apa perbedaan antara pemberian informasi melalui kabel dan hidraulik dengan melalui elektron. Pada sistem kabel manusia yang harus konsentrasi, tetapi kalau melalui elektron, maka antara manusia dan gerakan kapal terbang itu bisa dimasukkan komputer, dan komputer ini yang menyaring semua gerakan dan bisa mensimulasi sehingga seluruhnya aman, nyaman dan sebagainya. Saya hanya memperlihatkan bahwa ini the high technology. N-250 bergerak sepenuhnya dengan fly by wire. Sekarang sedang dilakukan testing yang akan selesai pada bulan Desember 1933. Di Amerika, ada suatu perusahaan yang mempunyai suatu pesawat terbang, pesawat terbang mempergunakan soft ware electronic, yang kalau kita merekayasa gerakan secara matematis, pilot yang mengemudikan pesawat terbang itu bisa melaksanakan simulasi penerbangan seperti dissimulator yang tidak bergerak, tetapi ini bergerak di udara. Kita sudah memakai 3 tes pilot di situ untuk terbang 9 jam dan member US $ 800.000. Informasi yang kita dapatkan dari situ ialah bahwa pesawat terbang, itu clean aerodynamic, longitudinal stability-nya hebat sekali, Karena begitu hebat dan clean maka sangat sensitif. Karena fly by wire N-250 itu dengan komputer, maka tidak akan terasa semuanya itu. Saya tidak ingin memberikan kuliah dalam hal itu, saya hanya ingin memperlihatkan bahwa anak-anak kita itu mampu menguasai semua itu. Anak-anak kita itu adalah sumberdaya manusia terbarukan di bumi Indonesia, yang mampu menguasai teknologi dan mampu mengimplementasikannya.
Saudara-saudara.
Saya sampaikan, skenarionya begini. Kita membuat dan anda menginvestasi, mungkin dua milyar US dollar. Investasi saya adalah transfer teknologi pada Anda. Saya akan perlihatkan bagaimana membuat pesawat terbang fly by wire. The latest state of the art yang telah saya kembangkan hampir 10 tahun, sejak tahun 1987, yang penyerahannya pada 1997. Saya perlihatkan laporan-laporannya. Anda harus tahu kalau pembuatan Casa 212, tidak memanfaatkan computation full dynamic untuk merekayasa seluruh bentuk pesawat terbang dan hanya meniupnya di terowongan angin sebanyak kurang lebih 600 jam. N-250 direkayasa dengan memanfaatkan the latest state of the art of technology dalam aerodynamic, memanfaatkan computation of full dynamic, memanfaatkan super computer, dan sebagainya, di mana adik-adik kita menjadi lebih pintar dan sekarang sudah melampaui 6,000 jam di tiup di terowongan angin untuk benar-benar sampai ke detail rekayasa, Prof Gerlach dari The National Science Council yang pakar dalam aerodynamic datang kemari dan setelah mengamati lebih dari 1 tahun ia datang kepada saya. Ia katakan sebagai the most beautiful aerodynamic design airplane. Pendapat ini juga disampaikan oleh pakar-pakar Amerika waktu di simulator pesawat terbang.
Saudara-saudara.
Perlu saya jelaskan, keunggulan komparatif dan value added is hand in hand in the whole economy, Hanya, yang harus diperjuangkan adalah value added yang mana, yang membuat jeans atau kapal terbang, That is the question, Kalau jeans banyak yang memproduksi, dan masalahnya saingan besar. Tetapi kalau suatu produksi tidak ada saingannya, bisa menjadi singularity in your economy.
Saudara-saudara.
Saya ingin menegaskan untuk tidak mempertajam perbedaan antara ekonomi yang berdasarkan nilai tambah dan ekonomi yang berdasarkan keunggulan komparatif, karena kedua-duanya adalah hand in hand, That is economics, any economy berkisar pada dua unsur yang penting itu. Bedanya ialah kita harus kembali dengan eksperimen mobil kijang, apakah kita tetap hanya dengan teknologi-teknologi yang rendah dan menengah, atau kita lari yang tinggi, Saya telah menjelaskan konsekuensinya dalam pemasaran, sekarang saya mau menjelaskan konsekuensinya dalam pembangunan. Saya kembali, 25 tahun yang lalu produksi pupuk di Indonesia saya hafal itu karena Pak Harto selalu menyebut hanya 100,000 ton, dan beliau mengatakan produksi pupuk sekarang 6 juta ton. Kita telah mencapai swasembada pangan. Kalau ditanya berapa produksi padi,beras, jawabnya 34 juta ton, Sekarang kita tahu juga makronya setiap tahun penduduk meningkat 1,9%, mungkin kita bisa tekan 1,5%. Dengan pertumbuhan 1,5% per tahun maka pada ahir Repelita tahap 25 tahun yang akan datang jumlah manusia Indonesia mencapai 270 juta.
Kenapa kita sekarang swasembada pangan? Karena produksi beras kita tinggi. Kenapa produksi beras kita tinggi? Karena kita berhasil meningkatkan produksi sawah untuk menghasilkan beras. Mengapa produktivitas sawah itu bisa ditingkatkan? Karena kita berhasil meningkatkan produktivitas sawah untuk menghasilkan beras. Mengapa produktivitas sawah itu bisa ditingkatkan? Karena kita bisa mengembangkan bibit unggul dan bisa memberikan pupuk secara reguler dan kita memiliki pestisida yang bisa menghindari hama wereng dan sebagainya. Kita bisa bayangkan pada ahir Pelita X itu tidak lagi 6 juta ton pupuk yang kita butuhkan karena manusianya lebih banyak, maka produksinya harus lebih tinggi, lebih banyak dibutuhkan pestisida dan pupuk, mungkin 10 atau 12 juta ton. Kita juga harus terus menerus mengadakan riset untuk mengembangkan padi unggul.
Salama 25 tahun produksi pupuk dapat kita tingkatkan menjadi 6 juta ton, Katakanlah 6 juta ton itu terdiri daripada 20 unit misalnya dengan setiap unit memproduksi 300.000 ton, atau 40 unit dengan 1 unit menghasilkan 150,000 ton, Kita mengetahui bahwa teknologi bekerja secara efisien dan produktif dalam waktu terbatas, Misalnya, kalau kita beli mobil yang baru tidak akan banyak permasalahan, tetapi kalau mobilnya sudah 10 tahun maka akan banyak kerusakan, apalagi kalau usianya 30 tahun cari spare part-nya saja susah sekali. Demikian juga dengan pabrik pupuk, pabrik pupuk itu yang 1 unit saya katakan memproduksi 150.000 ton, kalau kita ingin memproduksi 6 juta berarti kita membutuhkan 40 unit . Pabrik dengan 40 unit itu setiap 30 atau 40 tahun habis, tidak bisa dipakai lagi, dengan asumsi bahwa gas alam kita masih tetap ada. Berarti kita harus selalu mempersiapakan uang untuk menggantinya, misalnya tahun ini 3 unit akan kita tutup, kita harus ganti dengan 3 unit baru. Supaya on stand 3 unit yang baru itu harus 5 tahun yang lalu sudah dipersiapkan. Jika saya ingin mempertahankan produksi 6 juta ton, tetapi jika, saya ingin meningkatkannya karena rakyat saya bertambah, maka tidak mungkin lagi hanya 40 unit, mungkin saya butuhkan 70 unit, jadi pertambahannya itu bertambah banyak. Jadi pengeluaran untuk pabrik itu senantiasa harus ditingkatkan, karena dua hal yaitu adanya pertumbuhan penduduk dan adanya depresiasi atau penyusutan dari alat-alat itu, logikanya begitu.
Apakah pabrik pupuk itu dibeli oleh swasta, atau perusahaan pemerintah, bagi Pak Arifin sama saja, Karena beliau ahli moneter, ahli bank, Karena semuanya itu, dalam pandangan bankir, apa itu BUMN, apa itu swasta, tidak ada bedanya, ia hanya mengawasi agar supaya produksinya tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit, tidak ada stagnasi, Tetapi tidak juga mengakibatkan inflansi, tidak mengakibatkan seribu satu macam permasalahan,
Pada tahap pertama 25 tahun yang lalu, kita memiliki minyak dan gas yang bisa menyediakan dana. Produksi kita juga masih akan tinggal landas, dan rakyat kita tidak memberikan hambatan. Dahulu rakyat cukup diikutsertakan, sekarang ingin ikut menikmati, dan jumlah rakyat lebih banyak lagi. Dahulu kita mempunyai mekanisme untuk mendapatkan dana-dana secara murah, ada yang namanya grant dihibahkan tetapi itu kecil, tidak mungkin suatu bangsa menghibahkan prasarana ekonomi pada bangsa lain, tidak mungkin. Kalau pun dihibahkan ada maksud di belakangnya. Atau bantuan dalam bentuk kredit dengan bunga yang berbeda-beda, yang lunak, yang setengah lunak, yang komersial atau yang kombinasi komersial dan lunak, pokoknya selalu ada bunganya, yang jelas bunganya itu tidak nol. Prinsipnya dapat uang, kalau bisa dengan biaya semurah mungkin, kalau bisa tenggang waktu pengembaliannya diundurkan, kalau bisa 20 tahun baru kita mulai mengembalikan, sekalipun bunganya harus kita bayar. Semua itu diperhitungkan di kelola dengan baik.
Katakanlah saya mengeluarkan dana sejumlah US $ 1 milyar untuk pupuk yang direkayasa salami 30 tahun, setelah itu saya tutup. Setelah 30 tahun harus saya ganti, Untuk membiayainya katakanlah saya berhasil mendapatkan kredit dengan bunga 3% dan tenggang waktu 20 tahun, Pada saat masa operasi pabriknya sudah habis (nol) saya masih harus membayar angsuran kreditnya, berarti kapital yang US $ 1 milyar itu tidak didepresiasi sepertinya tidak menyusu. Permasalahannya kita mungkin mendapatkan pinjaman tidak hanya dari satu negara untuk membiayai produksi pupuk tetapi dari manca negara. Akibatnya kita menderita, karena perubahan valuta membebani komitmen kita pada orang lain. Kalau saya lihat dari situ, maka akan terjadi peningkatan komitmen untuk membayar pinjaman, sedangkan asset kita menurun nilainya dan masalahnya kita harus menambah besarnya asset itu, karena pertumbuhan jumlah manusia Indonesia, Sulitnya lagi kalau 30 tahun kemudian saya datang mengetok pintu untuk mengadakan tender, maka harga satu unit itu tidak lagi sama, mungkin 25, mungkin 50, mungkin 100 persen tergantung dari seberapa tinggi inflansi.
Saudara-saudara.
Saya baru saja bicara mengenai pabrik pupuk, tetapi juga berlaku untuk industri lain seperti, kereta api, kapal terbang, telekomunikasi, perusahaan negara, semen, dan lain-lain, Semua ini adalah program-program atau proyek-proyek dalam ekonomi yang melalui berbagai proses dengan nilai tambah tinggi, kita harus sedini mungkin mempersiapkan diri agar supaya mandiri. Kebutuhan itu bisa direkayasa dan dibuat oleh kita sendiri, sehingga tidak ada commitment yang memberatkan. Kalau membutuhkan dana, saya bukan ahli ekonomi dan tidak tahu mengenal modal, saya rasa bisa saja dananya itu disediakan 100% dari dalam negeri dalam arti rakyat harus kencangkan ikat pinggang. Rakyat harus menabung seperti masa Hitler dahulu dengan program kemandiriannya. tidak apa itu kebijaksanaan tersendiri.
Jadi di sini saya ingin garis bawahi perbedaan dengan skenario berdasarkan pemikiran mayoritas bahwa menyelesaikan masalah-masalah prasarana ekonomi dalam arti yang luas dan masalah-masalah prasarana kebutuhan dasar manusia dalam arti yang luas, tidak bisa lagi kita selesaikan hanya dengan memperhatikan kendala-kendala moneter. Tidak bisa !, karena kita akan menghadapi masalah khusus. Permintaan atau dalam negeri meningkat dan kalau kita tidak menguasai teknologi tidak memiliki human resource untuk mengatasinya, maka satu-satunya jalan adalah belanja dari luar negeri. Kalau demand-nya meningkat dan belanja dari luar, commitment juga meningkat berupa kewajiban kita dalam mengembalikan pinjaman. Kita bisa kehilangan kontrol, oleh karena itu saya berpendapat sudah sampai waktunya kita belajar dari pengalaman 25 tahun terdahulu sampai di mana kita telah berhasil sebagai satu bangsa yang telah lulus berbagai ujian. Dengan kendala-kendala baru kita harus menghadapi pembangunan 25 tahun yang akan datang. Jelas kita masih membutuhkan kredit, sebagaimana pemerintah Amerika juga menjual surat-surat berharga. Untuk membiayai sebagian dari program-programnya,
Saudara-saudara.
Saya berpendapat, kita dapat banyak belajar dari pengalaman 25 tahun yang lalu -- how to make it better, Bukan karena itu jelek, karena kondisinya sudah berubahe kendala-kendala nasional, regional, dan global berubah. Saya tadi mendemonstrasikan contoh mengenai high technology dengan contoh IPTN untuk memperlihatkan bahwa pengembangan sumberdaya manusia di bumi Indonesia dan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia itu bukan suatu yang tidak mungkin, Kemarin saya melihat kurva mengenal IPI'N sejak 1987-1993, Insya Allah tahun ini pertama kalinya revenue atau penjualan IPN melampaui 1,1 trilyun rupiah. Tahun lalu kita sudah malampaui 800 sekian milyar rupiah. Saya punya angka-angkanya.
Kesimpulannya, saya minta Anda untuk merenungkan kembali arti nilai tambah dan tidak terlalu mempertentangkan nilai tambah dengan keunggulan komparatif (comparative advantage) karena dalam ekonomi nilai tambah adalah dan keunggulan komparatif juga normal. The problem is how to increase value added and how to increase your technology and your recources together to get the highest value added. Ini yang. saya perlihatkan dengan contoh IPTN bahwa IPTN bisa menghasilkan the same work With less money dari pada saingannya. Selain itu saya minta dengan hormat untuk memperhatikan kesimpulan saya, terutama untuk para ekonom, bahwa modal di dalam suatu perekonomian definisinya bukan saja uang tetapi juga ide, seseorang tidak punya uang, dan tidak punya ide, tetapi dia punya apa yang dalam bahasa Jerman disebut beziehung atau relasi atau ia mempunyai hubungan yang erat dengan orang yang membuat keputusan apakah dalam perusahaan A atau B -- maka orang itu mempunyai modal, Saudara tahu bahwa modal dalam ekonomi itu luas sekali artinya, tetapi saya ingin katakan bahwa dalam 25 tahun yang lalu, modal lebih banyak diartikan sebagai uang. Itu benar, tetapi berdasarkan skenario yang saya katakan tadi, saya minta dengan hormat untuk direnungkan karena saya berpendapat pada 25 tahun yang akan datang mekanisme yang sudah ada harus dimanfaatkan dan disempurnakan jangan diganggu. Hubungan antara comparative advantage dan nilai tambah tetap diperlihatkan. Saya mohon perubahan penekanan di dalam memberikan perhatian dalam detail modal yang artinya dalam ekonomi begitu luas. Kalau dahulu perhatiannya khusus pada masalah moneter, karena kita masih mengalami permasalah inflasi dan sebagainva, sekarang saya berpendapat bahwa perhatian pada modal memperhatikan 3 (tiga) hal, yaitu tetap pada moneter, ditambah dengan pengembangan dan keuntungan pengembangan sumberdaya manusia dan pada ilmu pengetahuan dan teknologi.
Saudara tahu bahwa di Bappenas ada apa yang namanya section 15 dalam APBN yang tahun ini saya tahu jumlahnya 660 milyar rupiah atau US $ 330 juta, dan Bappenas mengeluarkan program-program unggulan dalam pengembangan sumberdaya manusia pada Menneg Ristek. Bappenas mempunyai program-program khusus untuk pendidikan. Jadi dari makro ekonomi arahnya sudah ke situ. Memang itu yang saya tekankan berdasarkan pengalaman 15 tahun sebagai Meneg Ristek dan 4 tahun 8 bulan sebagai penasehat Presiden. Saya terus berkecimpung dalam ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pembangunan. Saya tidak akan pernah mengabaikan Iptek. Di dalam prasarana tinggal landas itu termasuk prasarana pendidikan dan ilmu pengetahuan,
Saudara-saudara.
Saya berikan contoh, selama saya memimpin IPTN dan memberi nasehat pada Bapak Presiden sering kali saya berbicara pada para ekonom dahulu -- dengan Pak Ali Wardana, Pak Radius, Pak Sumarlin -- khususnya mengenal permasalahan keuangan. Saya juga sering sekali berdiskusi dengan para Dirjen. Saya selalu mengatakan pentingnya dukungan pada pengembangan sumberdaya manusia. Di Jerman, MBB dan Krup menganggarkan pengembangan pendidikan 5% dari turn over dan untuk ilmu pengetahuan dianggarkan 6% atau 10% dari turn over, Katakanlah 5% untuk pendidikan ditambah 6% untuk riset menjadi 11%, dan pemerintahnya menyanggupi bahwa yang dikenakan pajak bukan 100% dari turn over tetapi Ia dikurangi 11 %, hanya 89%. Itu kan merupakan insentif, agar supaya perusahaan-perusahaan itu memikirkan sumberdaya manusia dan pelaksanakan research and development Inilah caranya menjawab dan melaksanakan pertanyaan dari Om Liem, bagaimana membesarkan gelasnya. Untuk mencegah penyalahgunaan, pengawasannya harus ketat, Untuk itu manusia Indonesia yang dipemerintahan pun, baik di Departemen Keuangan maupun di departemen teknis yang lain, harus ditingkatkan kualitas kerjanya dan itu besar sekali kaitannya dengan know how, Iptek plus efisiensi, iptek and efficiency means money, Kita harus menaikkan pendapatan mereka,
Saudara-saudara.
Saya mohon untuk diperhatikan pentingnya penjelasan saya tersebut. Saya mempunyai dua kesempatan lagi untuk bertukar pikiran dan juga mendapatkan bahan masukan dari saudara dalam Konvensi Nasional Pembangunan Regional, pada 16-17 Februari 1993. Insya Allah pada hari kedua atau yang terakhir saya sudah bisa membawakan curve revenue IPTN yang saya sebutkan untuk Anda lihat sendiri, Saya hanya memberikan pengantar mengenal dasar berpikir dari seorang yang telah mendapatkan kesempatan empat Repelita dari yang telah dilaksanakan untuk lima Repelita ikut secara terusmenerus mengembangkan bidang science and technology dan juga human resource development dalam rangka melaksanakan tugas pembangunan bangsanya. Karena kita hanya dan harus bekerja mungkin swampy umur 65 tahun, dan usia saya sekarang 56 tahun mau ke 57 tahun, jadi mungkin saya masih 1() tahun lagi untuk menjabat Menneg Ristek, kalau masih dibutuhkan, dan Ketua BPPT. Sehingga, dalam 10 tahun itu masih bisa merampungkan, bersamasama dengan generasi penerus, tugas mengamankan kesinambungan sehingga benarbenar Insya Allah -- seperti Bapakbapak dari generasi yang telah mempersiapka,n pembangunan 25 tahun yang pertama juga bisa lulus summa cum laude.
Saudara-saudara,
Maksud dan tujuan dari Dialog Pembangunan CIDES ini tidaklah untuk mengadu dombakan dan mempertanyakan siapa yang salah atau yang benar, Itu tidak penting. Yang penting kita cari kebenaran yang paling menguntungkan bangsa dengan prinsip-prinsip yang sehat dan profesional.
Terimakasih atas perhatian Saudara-saudara.
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb

No comments:

Post a Comment