Friday, October 2, 2009

PENGALIHAN TEKNOLOGI: PT IPTN SEBAGAI MODEL I


"PT. IPTN akan membantu mengupayakan agar ilmu pengetahuan dan teknologi akan tetap ditujukan kepada pencapaian tujuan pembangunan bangsa. Program kegiatan PT IPTN tidak hanya berdampak intern pada karyawannya saja, tetapi juga mempunyai pengaruh ke luar yang luas tidak saja pada perusahaan-perusahaan nasional lainnya yang berkaitan dengannya, tetapi juga pada dunia ilmu pengetahuan dan teknologi dan pada dunia pendidikan yang merupakan pusat-pusat keunggulan kehidupan bangsa. 

Dengan program kegiatan dan rencana investasi yang ditentukan diharapkan pada abad mendatang PT IPTN sudah akan semakin mampu untuk bertumbuh dan berkembang secara setara dengan perusahaan unggul lainnya di dalam suatu lingkungan dunia internasional yang semakin canggih, serta semakin mantap dalam menunjang transformasi Bangsa Indonesia menjadi suatu bangsa yang memanfaatkan teknologi canggih untuk industri menuju masyarakat yang dicita-citakan."
~Prof. B.J. Habibie~

Pada saat ini jumlah penduduk Indonesia sudah mendekati 186 juta, dan pada tahun 2000 diperkirakan akan mencapai kurang lebih 210 juta, dan pada tahun 2030 penduduk Indonesia akan menjadi kira-kira 260 juta orang. 

Lantas, timbul persoalan: dapatkah kita memberikan proses nilai tambah pribadi pada setiap manusia Indonesia mulai waktu sekolah sampai pensiun? 


Katakanlah kalau setengah dari 260 juta atau 130 juta orang membutuhkan lapangan pekerjaan dan pendidikan, dapatkah kita hanya menyediakan dengan pertanian dan agraria dari kekayaan alam? Saya telah memeriksa data, malah angka yang menunjukkan manusia Indonesia mencari lapangan pekerjaan setahun mencapai 2,4 juta orang.

Lantas dapatkah kita memberikan lapangan pekerjaan kepada mereka hanya melalui usaha tradisional? Dengan cadangan minyak yang ada, dan dengan produksi minyak yang kita keluarkan setiap hari, maka 20 tahun lagi cadangan minyak kita habis. Memang kita punya cadangan gas alam yang cukup besar di Natuna, kita termasuk pemilik cadangan gas alam yang paling besar. 


Jika kita ekspor seluruhnya dengan angka yang berlaku sekarang ini, ternyata dalam 50 tahun cadangan itu baru akan habis. Dapatkah kita mempertanggung jawabkan kepada anak cucu kita kalau kita terlalu konservatif dan tidak berani menantang dan mengambil terobosan untuk tidak hanya tergantung pada kekayaan alam? Tetapi yang lebih penting sesungguhnya kita ingin me-ngembangkan kekayaan Indonesia yang paling berharga, yakni manusia yang terbaharukan. 


Kita setuju bahwa kita harus memikirkan hari sekarang dan juga hari besok tetapi jangan kita lupa meletakkan batu-batu pertama untuk hari jauh ke depan. Mungkin anda bertanya: mengapa saya ditugaskan oleh Bapak Presiden tepatnya pada tanggal 24 Januari 1974 untuk mempersiapkan industri yang paling canggih dalam hal ini industri pesawat terbang? Pada waktu itu saya pernah membaca artikel yang mengatakan bahwa kita tidak perlu mendirikan industri pesawat terbang, sebaiknya kalau kita membutuhkan pesawat terbang, kita membeli saja, itu lebih murah. 


Memang kalau dahulu kita biasa membeli pesawat terbang atau membeli kapal atau membeli apa saja yang kita butuhkan untuk prasarana ekonomi kita, dan untuk itu kita melihat hanya tiga kriteria, pertama teknis, kedua finansial, ketiga delivery time, itu saja. 

Teknis; apa yang memenuhi pasaran yang kita butuhkan. Finansial: cara pembayaran apakah yang paling baik, kalau bisa kita membeli dengan pinjaman lunak (soft loan). Dan ketiga adalah schedule: penyerahan pesawat jangan terlambat karena kita butuhkan selekas mungkin, jadi harus sesuai dengan rencana. 


Sampai di situ saja pandangan kita, karena kita sudah dimanjakan bahwa kita punya banyak kekayaan alam. Tetapi kita harus ingat bahwa kekayaan alam yang paling penting hanya bisa dimanfaatkan sebagai potensi ekonomi jika manusia telah mengalami proses nilai tambah pribadi dan setelah itu bisa ikut berperan serta dalam proses nilai tambah dan proses biaya tambah materi.


Kalau tidak, manusia itu tetap merupakan problem sosial dan tidak merupakan potensi ekonomi, dan kita harus tahu tidak begitu saja manusia bisa dikembangkan. Kita lihat misalnya tahun 1976, waktu industri pesawat terbang PT IPTN dimulai, karyawan PT IPTN hanya 500 orang dan kurang lebih 17 insinyur, sekarang sudah mencapai 16.000 karyawan dan 2000 insinyur. Karyawan itu mengalami proses nilai tambah tersendiri, termasuk insinyurnya juga.

 Lantas, saudara bertanya: kalau begitu apa hasilnya? Setiap hari dan bahkan setiap menit saya bertanya pada diri saya sendiri demikian juga. Dan saya tahu ja-wabannya bahwa saya harus memberikan penghasilan kepada mereka. Jika keterampilan para tenaga muda ini hendak dikembangkan secara signifikan, maka mereka tidak cukup hanya disosialisasikan ke dalam proses-proses produksi padat karya saja, tetapi juga harus diperkenalkan ke dalam proses-proses produksi yang berteknologi tinggi. 

 Mengingat kelemahan sektor swasta untuk memikirkan secara sungguh-sungguh upaya penciptaan sumberdaya manusia berkualitas tinggi ini, pemerintah merasa perlu untuk menyediakan suatu wahana bagi kader-kader muda untuk tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang inovatif dan berketerampilan tingkat tinggi. Itulah salah satu alasan mengapa kita terdorong untuk membangun industri-industri strategis. Selain bertujuan ekonomis, pendirian industri-industri ini tiada lain dalam rangka turut mempersiapkan tenaga-tenaga unggulan sebagai basis keunggulan kompetitif bangsa Indonesia di masa depan. 


Dalam hal ini kita harus melihat masalah itu dengan kaca mata yang obyektif. Dalam waktu 18 tahun, apa yang telah terjadi setelah teknologi canggih masuk secara profesional di bumi Indonesia dengan berdirinya Industri Pesawat Terbang Nusantara. Dalam 18 tahun itu, kita telah bisa menyediakan dalam bidang teknologi canggih sebesar 16 ribu orang dan bahkan sasarannya adalah pada abad mendatang PT IPTN akan mempekerjakan 60 ribu karyawan. Mereka bukan orang yang diam saja. Mereka membuat proses nilai tambah dengan mengontrol kualitas, biaya dan jadual hingga sekarang telah menghasilkan produk nyata berupa lebih dari 300 pesawat terbang dan helikopter untuk pasar domestik. Bukan itu saja, perusahaan itu sudah mengekspor NC-212 dan CN-235 untuk pasar internasional.

Saya rasa tidak tepat pendapat orang lain yang menganggap bahwa teknologi canggih itu tidak tepat untuk bangsa Indonesia. Saya mau menggaris-bawahi, apakah kayu atau rotan, apakah minyak, apakah kelapa sawit, semua itu penting? 

Semua kita harus ekspor untuk mendapatkan pendapatan non-migas lebih banyak, tapi jangan hanya itu, kita jangan menutup pintu semua yang berbau canggih untuk proses nilai tambah. Untuk mendapatkan devisa, kita harus meningkatkan produktivitas termasuk dalam bidang prasarana ekonomi dengan memanfaatkan teknologi tepat-guna, yang kebetulan juga termasuk teknologi canggih. Saya bisa mengambil kesimpulan dengan suatu kemauan yang bulat dan tekad dan kesadaran bahwa kita sama de-ngan bangsa lain, bahwa teknologi tidak datang sendiri, tetapi harus direbut. 


Ada yang pernah mengatakan: "Curi saja teknologi canggih itu". Bagaimana kita mau mencuri, diberi dengan begitu saja belum tentu Saudara mengerti? Di dalam hal itu sebenarnya teknologi itu bukan dicuri, tetapi kita harus membangun manusianya, mendidik supaya mengalami proses nilai tambah tersendiri. Sesudah itu kita mengadakan perundingan dengan kekuatan pasar domestik untuk merebut tahap demi tahap dan membebaskan diri dari ketergantungan kepada orang lain. Itu caranya. Industri pesawat terbang hanya merupakan pendobrak pembuka mata kita semua, bahwa kita putra-putra Indonesia sama saja dengan orang Jepang, sama saja dengan orang Jerman, sama saja dengan orang Amerika. 


Yang kita belum dapatkan adalah kesempatan, pengembangan terus menerus, pengalaman, dan pengertian di dalam negeri kita. Jangan kita mau terlalu tergesa-gesa, mereka juga menjadi maju karena perjuangan yang panjang, bukan satu dekade, bukan satu generasi, melainkan dalam beberapa generasi. Sejak orde baru, baru saja kita menyelesaikan Repelita V. Itu hanya bisa karena beberapa persyaratan sudah dipenuhi. Karena dahulunya kita sudah membangun, saya me- ngatakan lihat 20 tahun yang lalu, Indonesia mengalami inflasi dengan rata-rata mungkin 800%. 


Sekarang kita bicara satu digit. Saya sampaikan, hanya dengan keadaan lingkungan begitu, saya bisa berbicara mengenai CN-235. Tetapi kalau keadaan demikian saya tinggal diam, tunggu sampai masalah datang, itu juga tidak dibenarkan. Kita memang harus mau memanfaatkan potensi sendiri dari proses- nya secara obyektif, dan disamping mendapatkan data-data masukan dari makro ekonomi untuk ditransfer menjadi inisiatif dalam makro ekonomi untuk melaksanakan proses nilai tambah dan biaya tambah terpadu dan terarah dan secara rasional.


Yang perlu kita perhatikan bahwa tidak mungkin saya atau semua insinyur dan ekonom bisa membangun perusahaan, jika stabilitas dan keamanan ekonomi tidak terjamin, stabilitas ekonomi yang transparan dan konstan berkembang dengan konsisten. Berdasarkan itu dibuat perencanaan mikro. Itu dilaksanakan oleh putra-putra terbaik, mereka penting, tapi kewajiban putra-putra yang lain juga penting untuk menjadikan mereka lebih kuat, dengan menghasilkan nilai tambah. Nilai tambah yang lebih besar. Jika saya ditanya, kapan kira-kira bangsa Indonesia bisa seperti bangsa Jerman, Amerika atau Jepang, menguasai proses nilai tambah dan biaya tambah?

Saya jawab, bangsa Indonesia yang maju seperti itu akan ada dalam dua generasi sejak masuknya manajemen nilai-tambah dan biaya tambah dan implementasinya, secara profesional dengan memanfaatkan teknologi canggih di bumi Indonesia.


Kalau saya mempelajari segala aktivitas dalam ekonomi, itu baru ada setelah kita mendirikan Industri Pesawat Terbang Nusantara tahun 1976. Sebelumnya kita belum kenal. Adapun dua generasi kalau kita berikan assuransi: satu generasi ada 25 tahun, maka dua generasi adalah 50 tahun. Jadi, 50 tahun ditambah tahun 1976, maka pada tahun 2026 itu akan tercapai. Ketika saya sampaikan ini kepada wartawan, mereka tertawa, dan mereka bilang saya sangat pesimistis. Tetapi mari kita lihat apa yang terjadi di PUSPIPTEK dan PT IPTN. Anda tahu taksiran kita hanya 20 tahun lagi kita sudah sampai di situ.

Saya bilang tidak usah kita muluk-muluk. Kalau pun masih 39 tahun lagi saya berterima kasih. Tadi saya mengambil contoh Industri Pesawat Terbang Nusantara. Sebenarnya bisa saja saya mengambil contoh PT PAL, PT INKA, industri otomotif, satelit telekomunikasi, alat-alat kedokteran, atau alat-alat yang lain.


Tapi falsafahnya harus sama, seperti telah saya jelaskan di depan. Itu semua hanya mungkin kalau kita bersatu bahasa dan berdedikasi, serta tidak saling mau menjadi pahlawan sendiri. Kita mementingkan pahlawan, kita mencari apa kesa-lahan yang belum dilaksanakan, manusia itu tidak sempurna, lalu kita perbaiki, dan secara konstruktif lebih kita galakkan segala bidang pembangunan di bumi Indonesia ini. Dengan mengingat luas serta komposisi geografis negara Indonesia serta perlu ditingkatkannya keutuhan politik dan ditumbuhkannya kesatuan ekonomi, maka keseluruhan industri alat-alat pengangkutan memenuhi syarat untuk berperan sebagai wahana transformasi teknologi dan industri Indonesia.

Ini meliputi industri pesawat terbang
(1); industri maritim dan perkapalan
(2); serta industri alat-alat transportasi darat: kereta api serta industri otomotif
(3). Setiap industri wahana transformasi mencakup berbagai sub-industri. Industri pembuatan baling-baling pesawat terbang, kerangka roda pesawat terbang dan avionik merupakan bagian dari wahana industri penerbangan.

Di samping meliputi industri pembuat mobil berbagai jenis serta industri pembuat gerbong kereta api, wahana industri alat transportasi darat juga mencakup industri ban mobil, accu, peredam kejut, pegas daun, chassis, mesin bensin dan solar, sistem kemudi, transmisi, gandar, serta industri poros penggerak. Industri berikutnya yang memenuhi persyaratan adalah industri elektronika serta telekomunikasi (4).


Keempat jenis industri inilah yang merupakan wahana paling tepat untuk pengalihan serta pengembangan semua teknologi yang diperlukan dalam jangka waktu dua puluh tahun melalui ketiga tahap sebagaimana telah dilukiskan di muka, bahkan melalui tahap keempat. Berbicara tentang sektor industri yang lebih strategis. Kita melihat bahwa di samping kesempatan-kesempatan yang dibuka oleh pembangunan industri, pertambangan dan sektor jasa pengangkutan umumnya, telah diciptakan pula suatu pasar bagi pesawat terbang berpenumpang sekitar 100 orang, karena diperlukan untuk mengganti pesawat-pesawat McDonnel-Douglas DC-9 dan Fokker F-28, mulai tahun 1990-an hingga tahun 2000.


Ini merupakan motivasi bagi PT IPTN untuk merancang bangun dan mengembangkan pesawat N-250 yang dirancang untuk 50 penumpang, dengan menggunakan bahan komposit dan teknologi mutakhir lainnya. Semua program yang dilakukan oleh PT IPTN menerapkan falsafah "mulai dengan akhir dan berakhir dengan awal", yaitu memulai dengan produksi produk akhir dan berakhir pada produksi komponen.


Tingginya intensitas perhubungan, penerbangan dan pelayaran diikuti oleh permintaan yang kian meningkat akan sarana telekomunikasi. Karena sifat geografisnya, telekomunikasi di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari telekomunikasi satelit. Satelit tidak hanya penting sebagai sarana jasa komunikasi, tetapi juga sebagai sarana pendidikan dan penyatuan bangsa Indonesia dengan bahasa, budaya dan adatnya yang beraneka ragam.


Dalam kaitan ini, memang benar PT IPTN belum merupakan peserta di dalam produksi satelit-satelit Palapa-A, Palapa-B dan Palapa-C buatan Hughes. Namun demikian, PT IPTN merencanakan untuk ikut di dalam definisi, integrasi dan produksi Palapa-D.

Lepas dari itu, upaya untuk meningkatkan perangkat telekomunikasi ini telah mendorong PT INTI dan perusahaan-perusahaan Indonesia lainnya untuk bergiat dalam produksi peralatan telepon serta dalam produksi bersama sistem switching berdasarkan lisensi dari perusahaan-perusahaan internasional.


Bersambung

Monday, September 28, 2009

Strategi Pembangunan Kelautan

Strategi Pembangunan Kelautan
Disampaikan dalam Seminar Nasional Kawasan Timur Indonesia
dan Teknologi Kelautan, di Ujung Pandang pada 14 Juli 1996.
 
Kita harus menyadari, jikalau tokoh-tokoh pendiri Republik Indonesia itu selalu berbicara mengenai Kawasan Nusantara dan Wawasan Nusantara, maka seorang ilmuwan ahli dirgantara Amerika Serikat dari NASA, setiap kali membaca peta mengenai iklim terbentuknya awan di dunia berdasarkan foto dari angkasa luar, tiap kali itu pula ia terpesona melihat kawasan yang dinamakan Kawasan Nusantara.

Mengapa ia terpesona? Karena ia melihat di bumi yang berputar itu, di bawah khatulistiwa, ada suatu benua yang berwarna hijau dan biru muda dan sebelah Utara Timur berwarna biru tua, itulah Pasifik; dan sebelah Barat Selatan berwarna biru tua, itulah Lautan Indonesia; di bagian Timur Selatan berwarna coklat, itulah Australia; di bagian Barat Utara berwarna coklat ituah Asia; dan suatu benua besar warnanya hijau dan biru muda itulah yang dikenal dengan nama Kawasan Nusantara dan diberi nama Benua Maritim Indonesia.
 
Benua Maritim Indonesia

 
Kawasan Nusantara itu diberi nama Benua Maritim Indonesia, karena besarnya seperti benua tetapi sifatnya maritim. Bukan itu saja, ternyata dengan satelit, suhu permukaan dari bumi ini bisa diukur. Pada suhu yang paling tinggi dengan rata-rata 28o berasal dari dalam Benua Maritim Indonesia dan suhu dari kawasan yang lain lebih rendah. Alasan-nya jumlah kalori yang jatuh di atas permukaan bumi di tempat yang lain disedot oleh laut, di mana di laut Pasifik ada Kutub Utara dan Lautan Indonesia, di Selatan ada Kutub Selatan dan jumlah airnya banyak sekali.

Seperti Benua Afrika terdapat Sahara, demikian pula di Amerika terdapat hutan tropis, sama dengan hutan tropis yang ada di Indonesia. Bedanya dengan lautan, karena perputaran bumi, suhu dari hutan tropis tidak bisa pindah. Tetapi pada lautan, karena perputaran bumi, letak bulan dan matahari, sesuai dengan kriteria yang dipenuhi, sehingga membuat air, baik yang berada di Lautan Pasifik, Lautan Indonesia maupun yang ada di Benua Maritim Indonesia, tiba-tiba bergerak ke Timur, dan air yang suhunya tinggi tiba-tiba ke luar dari Benua Maritim Indonesia menuju ke Timur dan bertabrakan dengan arus dingin dekat Chili yang datang dari Kutub Selatan, maka ilmuwan-ilmuwan dari NASA mencatat terjadinya efek El-Nino. El-Nino mengakibatkan berubahnya iklim, bukan saja di Pasifik, tetapi di seluruh dunia.

Oleh karena itu kesimpulannya, ternyata Benua Maritim Indonesia adalah sebab utama bagi perpindahan jumlah kalori yang berada di perairan, rata-rata dalamnya air Benua Maritim Indonesia kurang lebih 100-150 meter kecuali laut Banda, oleh karena itu suhunya tinggi. Ternyata bukan itu saja, tetapi karena suhunya tinggi banyak hutan-hutan tropis yang berada di atas Benua Maritim Indonesia seperti dapur yang membuat awan yang terus ke luar menembus ke angkasa luar, dan itu salah satu sebabnya mengapa Benua Maritim Indonesia mendapat perhatian khusus dari ilmuwan-ilmuwan di seluruh dunia yang sangat peduli akan ramalan cuaca dan iklim.

Bisa satu tahun sebelumnya dapat diketahui apakah akan terjadi musim kemarau yang sangat panas, ataukah akan terjadi musim hujan yang akan menghasilkan banjir. Ramalan cuaca itu sasarannya ialah agar supaya para petani dan nelayan menyesuaikan dengan perubahan iklim, agar proses pertumbuhan ekonomi di manca negara dan dunia bisa dipelihara setinggi mungkin, agar supaya juga pertanian, peternakan, dan perikanan, bahkan industri tidak mengalami kerugian yang bisa merugikan ekonomi daerah, nasional, regional, bahkan ekonomi global.

Inilah faktor pendorong yang membuat adanya kerjasama an-tara Indonesia dengan Eropa, Jepang, Australia, dan juga Amerika Serikat pada umumnya dalam bidang Iptek dan khususnya mengenai kelautan yang ada kaitannya dengan ramalan cuaca dan iklim. Ternyata orang-orang Eropa, Jepang, Amerika Serikat dan Australia, semua menyadari bahwa konsumsi dari umat manusia, dalam abad yang akan datang, sebagian besar adalah protein yang harus bisa direkayasa dan dikembangkan dari dalam laut.

Dan, semua mengetahui dan menyadari, bahwa khususnya ikan tuna bertelor masuk ke Benua Maritim Indonesia. Apabila sudah besar ikan tuna mengeram dan melahirkan ikan tuna kecil, keluarnya tuna yang beratnya 10 kg ke luar dari Benua Maritim Indonesia, tergantung dari upayanya sendiri. Ada yang mengeram ke  Samudera Pasifik, Lautan Indonesia, memasuki Atlantik kemudian ikan tuna itu ke laut untuk mencari makanan sebagai pemburu (hunter), mencari ikan-ikan kecil, dan setelah beberapa tahun , beratnya mungkin mencapai 40-50 kg lalu kembali mencari jalannya untuk masuk ke Benua Maritim Indonesia untuk melaksanakan tugasnya bertelur, mengeram dan sebagainya. Ini kehidupan  ikan tuna.

Sekarang saya ceritakan apa yang saya lihat di Australia. Orang-orang Australia itu memperoleh kesempatan ketika tuna kecil yang beratnya 10 kg keluar dari Benua Maritim Indonesia, mungkin terdapat antara Bali dan Jawa, atau Bali dan Lombok, atau antara Selat Timor ke luar, masuk ke Samudera Indonesia, di situlah oleh kapal-kapal Australia ikan itu ditangkap hidup-hidup lalu dibawa ke Australia. Di antara lautan Australia dan Kutub Selatan, ternyata ikan tuna itu tidak bisa hidup dalam kedalaman lebih dari 35 meter, karena tekanan airnya terlalu tinggi, sehingga tidak bisa bernapas.

Oleh karena itu, kapal Australia menangkap ribuan ikan tuna terus digiring pada sebuah "empang" yang besar sekali, ribuan hektar yang dikelilingi oleh jala-jala yang dalamnya 35 meter sehingga tuna itu tidak bisa ke luar dari tempat tersebut. Di situ tuna ditaruh dalam kandang, dan bukan itu saja, Australia membeli ikan-ikan dari man-canegara yang harganya murah untuk makanan ikan tuna.


Ikan tuna, karena tidak berburu makanan, maka ia tidak kehilangan energi. Kalau berburu mencari makanan pertumbuhannya pelan dan dagingnya keras. Tetapi, karena tidak berburu, maka energi yang dimilikinya ternyata dalam 4-6 bulan bisa membuat tuna yang beratnya 1 kg sudah menjadi 10 kg dan dagingnya empuk dan enak sekali. Tuna itu kemudian dijual di mancanegara dengan nilai yang lebih tinggi daripada tuna yang harus hidup berburu.

Dr. Hasjim Djalal adalah pakar yang unggul dalam bidang hukum kelautan, oleh karena itu saya sangat setuju bahwa beliau nanti supaya memberikan pengarahan dan ikut memikirkan apakah yang dilakukan oleh pakar-pakar kelautan kita di Australia itu sesuai dengan undang-undang hukum laut internasional.

Saya hanya memperhatikan kompleksnya masalah kelautan, bagaimana kaitannya dengan ekonomi nasional, regional dan global. Saya memperlihatkan betapa pentingnya, bukan saja undang-undang yang ada kaitannya dengan over fishing, mumpung ikan-ikan tuna itu belum tertangkap semua, sekarang ada beberapa yang lolos, kalau yang mati lebih banyak dari pada yang lahir, maka habislah tuna itu pada abad yang akan datang. Jadi yang harus kita atur itu agar supaya yang hidup lebih banyak dari pada yang mati, dan kalau mati, matinya di dapur.

Saya pernah bertemu dengan seorang ilmuwan dalam bidang kehidupan laut pada tahun 1980-an. Waktu itu saya dengarkan dan saya tahu itu penting untuk diketahui oleh Bapak Presiden. Yang diperlihatkan pada saya adalah sebuah film mengenai Benua Maritim Indonesia pada umumnya, khususnya Laut Banda yang di tengah-tengah ada yang hijau dan biru muda serta biru tua. Sewaktu film itu menunjukkan kedalaman 300 meter, nampak sepi tidak ada kehidupan, kosong.

Tiba-tiba, jutaan ikan datang karena terjadi angin topan di atas Lautan Banda, akibatnya sirkulasi air bukan saja berputar di permukaan tetapi juga di dasar laut, sehingga dasar laut menjadi ramai sekali dan banyak ikan yang memburu makanan yang naik ke permukaan dan dari situlah kelihatan keindahan Benua Maritim Indonesia. Kesimpulannya: pertama, tempat ini tadinya kosong, itu berarti penduduk per meter persegi sangat tidak padat tidak seperti Jawa, mungkin seperti Irian Jaya.

Apakah penduduknya padat? Memang selalu begitu ataukah karena tidak bisa diatur dengan peraturan internasional mengenai polusi, dan over fishing, dan sebagainya?

Kedua, di dalam Benua Maritim Indonesia itu, ternyata masih banyak kehidupan yang belum dikenal umat manusia itu sendiri yang sebenarnya bisa merupakan informasi genetik dari kehidupan di dunia ini yang bisa memberikan informasi kepada manusia itu sendiri untuk merekayasa pembuatan obat-obatan atau pun makanan dan sebagainya.

Semuanya itu berhubungan dengan kepentingan umat manusia. Oleh karena itu, kita berkepentingan agar supaya kita bisa mengatur lautan ini, khususnya Benua Maritim Indonesia, sebagai contoh ikan tuna dan siklus kehidupannya sepanjang masa.

Benua Maritim Indonesia peranannya bukan saja untuk pertanian, kehutanan dan perikanan, karena ramalan cuaca dan iklim, tetapi juga pe-ranannya di dalam kehidupan di dalam laut itu sendiri ternyata juga memegang peranan yang sangat penting.

Pada 47 tahun yang lalu, tepatnya bulan Desember tahun 1949  Indonesia diakui oleh dunia sebagai negara yang berdaulat dan bangsa yang merdeka. Kebijaksanaan yang dikeluarkan oleh Presiden RI Bung Karno adalah supaya putra-putri Indonesia yang berbakat diberikan beasiswa ke mancanegara untuk belajar, mengerti, mengembangkan dan menerapkan teknologi maritim dan kelautan dan teknologi dirgantara untuk kepentingan nasional. Alasannya adalah kedua teknologi tersebut harus dikuasai oleh bangsa Indonesia secara mandiri, dan melalui penguasaan itu bisa dipercepat dan direalisasikan bersatunya bangsa Indonesia dipandang dari sudut kepentingan ekonomi budaya dan pertahanan.

Oleh karena itu, pada 20 Juli 1995 putra-putri Indonesia mempersembahkan pada Bangsa Indonesia hasil rancang bangun, yaitu kapal penumpang tipe Kerinci berpenumpang 500 orang yang diberi nama Palindo Jaya. Kepanjangannya adalah Palwo Indonesia Jaya. Dalam bahasa Jawa kuno Palwo artinya kapal. Kapal itu diberikan nama Palindo Jaya 500, karena kapasitasnya 500 penumpang. Presiden Soeharto sebagai Mandataris MPR, pada 20 Juli 1995 menerima pengesahannya.

Cita-cita dari seluruh bangsa yang dicetuskan oleh Presiden Republik Indonesia pertama dan direalisasikan oleh Presiden Indonesia kedua menjadi kenyataan, dan yang melaksanakan itu adalah generasi penerus, tidak lain kakak kelas dari para mahasiswa yang mengambil inisiatif untuk melaksanakan seminar kelautan ini.
Semua itu hanya mungkin terjadi kalau kita tidak banyak berbicara, tidak banyak pikir dan tidak kenal lelah dalam membuat terobosan-terobosan yang menguntungkan dalam pembangunan.

Ini hanya mungkin kalau Anda membantu agar Trilogi Pembangunan itu lebih meningkat kekuatannya, memerlukan stabilitas yang diperlukan untuk memelihara pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tetapi tetap berorientasi pada pemerataan yang bijaksana dan merakyat. Hal ini penting hanya bisa kita laksanakan dan diamalkan tidak melalui suatu ucapan-ucapan (statement) yang indah, tetapi melalui karya-karya yang nyata, tetapi berguna untuk bangsa Indonesia khususnya dan umumnya untuk umat manusia.
 
Strategi Pembangunan Kelautan 
Mengenai maritim, ada 3 hal yang perlu diperhatikan, yaitu: pertama, maritim yang hanya berkisar di atas permukaan air. Kedua, maritim yang berkisar dari permukaan sampai dasar laut. Dan ketiga, maritim yang berhubungan dengan apa yang ada di bawah dasar laut.

Hanya 155 km dari Ujungpandang, yaitu Pare-pare, disitu ada pusat unggulan yang bisa kita tangkap dari satelit. Apakah itu namanya Landsat, Spot atau nanti satelit dari Jepang, atau satelit mana pun juga yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan remote sensing. Dari Pare-pare kita menangkap apa yang ada di atas darat, di atas laut. Di dalam laut dan di bawah dasar laut sementara belum bisa. Oleh karena itu, kita memiliki 3 (tiga) kapal riset yang bernama Baruna Jaya milik BPPT dan yang ke-empat sedang dalam proses. Sambil berlayar, salah satu kapal itu bisa melakukan pemetaan dasar laut, sehingga kita bisa memiliki informasi yang lebih lengkap dari bentuk dasar laut itu. Tetapi bukan itu saja, kapal yang lain bisa membuat peta. Armada Baruna Jaya itu sasarannya 12 kapal, kapal ke-empat sedang dalam proses.

Teknologi di permukaan dan di dasar laut itu banyak sekali variabel yang harus diukur. Bukan saja arus dan suhu laut, tetapi kadar garam dan mineral-mineral lain yang menentukan kehidupan dari plankton, dan sebagainya. Adanya sirkulasi dari arus, bukan saja dari Barat ke Timur, dan sebaliknya atau dari Utara ke Selatan atau seba-liknya, tetapi juga dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas.

Dunia sudah mengetahui, bahwa ada teori namanya conveyor belt.

Tahukah Anda apa itu?

Bahwa laut di atas Jepang dekat Alaska arusnya datang dari dalam laut ke permukaan memasuki Benua Maritim Indonesia, terus arus yang datang dari India ke luar masuk permukaan, nanti sampai di selatan Afrika baru bergabung,  langsung naik ke Utara sampai Atlantik dan Greenland, dari situ dari permukaan masuk lagi ke dalam, dan rupanya merupakan suatu siklus tersendiri.

Dan orang mengetahui bahwa siklus ini sebenarnya mengatur kadar CO2 karena di dalam laut itu banyak sekali makhluk-makhluk mati dengan sendirinya dan mengendap di bawah dasar laut karena tekanan yang tinggi dan ada garam, mereka jadi han-cur dan bukan membusuk melainkan menjadi karbohidrat dan ini juga menentukan kadar CO2.

Ternyata ada perpindahan antara CO2 dengan udara dari permukaan laut. Kalau permukaan laut sedang penuh dengan karbon, maka terjadi gangguan dari CO2. Oleh karena itu, orang banyak mempersoalkan masalah ozon dan pencemaran apakah benar-benar masalah polusi ataukah masalah conveyor belt itu tiba-tiba sudah sampai waktunya untuk masuk ke permukaan yang mengganggu jalannya CO2 di udara dan di laut itu. Ba-nyak sekali teori dan itu disimulasi dengan komputer. 

Saya hanya memperlihatkan sedikit, bahwa betapa kompleksnya disiplin Iptek yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan upaya pencapaian kebenaran dari masalah kelautan itu, khususnya dipandang dari sudut kehidupan dan kepentingan manusia. Ini baru masalah di dasar laut, di bawah dasar laut lain lagi.

Wednesday, August 19, 2009

Perpustakaan The 100

Berisi semua informasi mengenai 100 Tokoh Manusia Terhebat Sepanjang Masa.


The 100 merupakan buku karya Michael H. Hart yang diterbitkan pada tahun 1978. Buku ini memuat 100 tokoh yang ia rasa memiliki pengaruh paling besar dan paling kuat dalam sejarah manusia. Bukunya secara hangat diperdebatkan, konsep bukunya secara luas ditiru.

Buku ini dicetak kembali pada 1992 dengan beberapa revisi nyata terhadap daftar urutan 100 dan pangkat luar biasa mereka. Terutama di antara revisi itu ialah penurunan pangkat tokoh komunis seperti Lenin dan Joseph Stalin, dan pengenalan Mikhail Sergeyevich Gorbachev. Edisi ini juga memuat Edward de Vere menggantikan William Shakespeare. Hart menggantikan Niels Henrik David Bohr dan Antoine Henri Becquerel dengan Ernest Rutherford, juga membetulkan kesalahan dalam edisi pertama. Henry Ford juga dimasukkan di sini dari yang sekedar "Tokoh-tokoh Terhormat", menggantikan Pablo Picasso. Akhirnya, urutan itu ditata kembali.

100 Tokoh menurut Michael H. Hart

Peringkat Nama Pengaruh
1 Nabi Muhammad Penyebar agama Islam, penguasa Arabia.
2 Isaac Newton Fisikawan, pencetus Teori Gravitasi umum, Hukum gerak
3 Yesus / Nabi Isa Isa Al Masih Kristen
4 Siddhartha Gautama (Buddha) Pendiri agama Buddha
5 Kong Hu Cu Pendiri agama Kong Hu Cu
6 Santo Paulus Penyebar ajaran Kristen
7 Ts'ai Lun Penemu kertas
8 Johann Gutenberg Mengembangkan mesin cetak, mencetak Alkitab
9 Christopher Columbus Penjelajah, memimpin orang-orang Eropa ke Amerika
10 Albert Einstein Fisikawan, penemu Teori Relativitas
11 Louis Pasteur Ilmuwan, penemu Pasteurisasi
12 Galileo Galilei Astronom, secara akurat mengemukakan teori Heliosentris
13 Aristoteles Filsuf Yunani yang berpengaruh
14 Euclides Matematikawan, membuktikan tentang Geometri
15 Nabi Musa Nabi terbesar Yahudi
16 Charles Robert Darwin Biologis, mendeskripsikan teori Evolusi
17 Kaisar Qin Shi Huang-Di Kaisar Tiongkok
18 Augustus Caesar (Kaisar Agustus) Kaisar pertama Kekaisaran Romawi
19 Nicolaus Copernicus Astronom, salah satu tokoh Teori Heliosentris
20 Antoine Laurent Lavoisier Bapak Kimia modern, Filsuf dan Ekonom
21 Constantine yang Agung Kaisar Romawi yang menjadikan agama Kristen sebagai agama resmi negara
22 James Watt Mengembangkan Mesin uap
23 Michael Faraday Fisikawan, Kimiawan, menemukan Induksi Elektromagnetik
24 James Clerk Maxwell Fisikawan, penemu Spektrum Elektromagnetik
25 Martin Luther Pendiri agama Protestan dan aliran Lutheran
26 George Washington Presiden pertama Amerika Serikat
27 Karl Heinrich Marx Bapak Komunisme
28 Orville Wright dan Wilbur Wright Penemu Pesawat terbang
29 Genghis Khan Penakluk dari bangsa Mongol
30 Adam Smith Ekonom, pelopor Kapitalisme
31 Edward de Vere, 17th Earl of Oxford Kemungkinan menulis karya yang berkaitan dengan William Shakespeare
32 John Dalton Kimiawan, Fisikawan, penemu Teori Atom, Hukum Tekanan Parsial (Hukum Dalton)
33 Alexander yang Agung Penakluk dari Makedonia
34 Kaisar Napoleon Bonaparte Penakluk dari bangsa Perancis
35 Thomas Alva Edison Penemu bola lampu dan Fonograf, dll.
36 Antony van Leeuwenhoek Ahli Mikroskop, mempelajari kehidupan mikroskopis
37 William Thomas Green Morton Pelopor Anestesiologi
38 Guglielmo Marconi Penemu Radio
39 Adolf Hitler Penakluk, memimpin Blok Poros dalam Perang Dunia II
40 Plato Filsuf Yunani
41 Oliver Cromwell Politikus Inggris dan pemimpin militer
42 Alexander Graham Bell Salah seorang penemu Telepon
43 Alexander Fleming Penemu Penisilin, memajukan Bakteriologi, Imunologi dan Kemoterapi
44 John Locke Filsuf dan Teolog liberal
45 Ludwig van Beethoven Komponis musik klasik
46 Werner Karl Heisenberg Pencetus Prinsip Ketidakpastian
47 Louis-Jacques-Mandé Daguerre Penemu/pelopor Fotografi
48 Simon Bolivar Pahlawan nasional dari Venezuela, Kolombia, Ekuador, Peru, dan Bolivia
49 René Descartes Filsuf Rasionalis dan matematikawan
50 Umar bin al-Khattab Khalifah Ar-Rasyidin kedua, memperluas Daulah Khilafah Islamiyah.
51 Paus Urbanus II Penyeru Perang Salib
52 Michelangelo Buonarroti Pelukis, pematung, arsitek
53 Asoka Raja India yang masuk dan mengembangkan agama Buddha
54 Santo Augustinus Teolog Kristen awal
55 William Harvey Penemu sirkulasi darah
56 Ernest Rutherford, 1st Baron Rutherford of Nelson Fisikawan
57 John Calvin Tokoh Reformasi Gereja, pendiri Calvinisme
58 Gregor Johann Mendel Penemu teori genetika
59 Max Karl Ernst Ludwig Planck Fisikawan, mengemukakan Termodinamika
60 Joseph Lister, 1st Baron Lister Pelaku penemuan Antiseptik yang secara besar mengurangi kematian akibat pembedahan
61 Nikolaus August Otto Penemu mesin pembakaran 4 tak
62 Francisco Pizarro Penakluk dari bangsa Spanyol yang menaklukkan Kerajaan Inka di Amerika Selatan
63 Hernando Cortes Penakluk dari bangsa Spanyol yang menaklukkan Meksiko
64 Thomas Jefferson Presiden ketiga AS
65 Ratu Isabella I Penguasa Spanyol, penyokong Cristopher Colombus
66 Joseph Stalin (Joseph Vissarionovich Dzugashvili Tokoh revolusioner dan penguasa Uni Soviet
67 Julius Caesar Penguasa Roma
68 Raja William I sang Penakluk Meletakkan pembangunan Inggris modern
69 Sigmund Freud Pendiri sekolah Freud untuk psikologi, ahli psikoanalisis
70 Edward Jenner Penemu vaksin cacar
71 Wilhelm Conrad Roentgen Penemu sinar X
72 Johann Sebastian Bach Komponis
73 Lao Tzu Pendiri Taoisme
74 Voltaire Penulis dan filsuf
75 Johannes Kepler Astronom penemu Hukum Kepler tentang pergerakan planet
76 Enrico Fermi Salah satu tokoh abad atom, Bapak Bom Atom
77 Leonhard Euler Fisikawan, matematikawan penemu Kalkulus Diferensial dan Integral serta Aljabar
78 Jean-Jacques Rousseau Filsuf dan pengarang Prancis
79 Niccolò Machiavelli Penulis Sang Pangeran (risalat politik yang berpengaruh)
80 Thomas Robert Malthus Ekonom penulis Esai Prinsip Populasi dalam Pengaruhnya pada Kemajuan Masa Depan pada Masyarakat
81 John Fitzgerald Kennedy Presiden AS yang mendirikan "Program Luar Angkasa Apollo"
82 Gregory Goodwin Pincus Endokrinolog, menemukan pil KB
83 Mani (en) Nabi Iran abad ke-3, Pendiri Manicheanisme
84 Vladimir Ilyich Lenin (Vladimir Ilyich Ulyanov) Tokoh revolusioner dan pemimpin Rusia
85 Kaisar Sui Wen Menyatukan Tiongkok, pendiri Dinasti Sui
86 Vasco da Gama Navigator, penemu rute pelayaran Eropa ke India
87 Raja Cyrus yang Agung Pendiri kekaisaran Persia
88 Tsar Peter yang Agung Mendekatkan Rusia kepada Eropa
89 Mao Zedong (Mao Tse-tung) Bapak Maoisme, komunisme Tiongkok
90 Sir Francis Bacon Filsuf, menggambarkan secara induktif metode ilmiah
91 Henry Ford Pembuat mobil model T
92 Meng Tse Filsuf, pendiri sekolah Konfusianisme
93 Zarathustra (Zoroaster) Pendiri Zoroastrianisme
94 Ratu Elizabeth I Ratu Inggris, memperbaiki Gereja Inggris setelah Ratu Mary
95 Mikhail Sergeyevich Gorbachev Perdana Menteri Rusia yang mengakhiri Komunisme di Uni Soviet dan Eropa Timur
96 Raja Menes Menyatukan Mesir Hulu dan Hilir
97 Kaisar Charlemagne Kaisar Romawi Suci
98 Homer Penyair epik
99 Kaisar Yustinianus I Kaisar Romawi Timur, menaklukkan kembali sebagian Kekaisaran Romawi Barat
100 Mahavira Pendiri Jainisme

Tokoh-tokoh Terhormat

Nama Pengaruh
St. Thomas Aquinas Filsuf Kristen awal yang berpengaruh
Archimedes Matematikawan dan insinyur besar Yunani kuno
Charles Babbage Matematikawan dan penemu pelopor Komputer
Kaisar Khufu (Cheops) Pembangun Piramida Besar
Marie Curie fisikawan penemu radioaktif
Benjamin Franklin Politikus Amerika dan penemu penangkal petir
Mohandas Karamchand Gandhi Pemimpin India dan pembaharu Hindu
Abraham Lincoln Presiden ke-16 AS, memimpin selama Perang Sipil AS
Ferdinand Magellan Navigator, memberi nama Samudra Pasifik, pertama kali mengelilingi dunia
Leonardo da Vinci Seniman, penemu

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/The_100_%28buku%29

Tuesday, August 18, 2009

Perpustakaan Indonesia

Kumpulan informasi mengenai sejarah dan perjalanan Bangsa Indonesia



Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada di antara benua Asia dan Australia serta antara Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 13.487 pulau, oleh karena itu ia disebut juga sebagai Nusantara ("pulau luar", di samping Jawa yang dianggap pusat). 

Dengan populasi sebesar 222 juta jiwa pada tahun 2006, Indonesia adalah negara berpenduduk terbesar keempat di dunia dan negara yang berpenduduk Muslim terbesar di dunia, meskipun secara resmi bukanlah negara Islam. Bentuk pemerintahan Indonesia adalah republik, dengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilih langsung. 

Ibukota negara ialah Jakarta. Indonesia berbatasan dengan Malaysia di Pulau Kalimantan, dengan Papua Nugini di Pulau Papua dan dengan Timor Leste di Pulau Timor. Negara tetangga lainnya adalah Singapura, Filipina, Australia, dan wilayah persatuan Kepulauan Andaman dan Nikobar di India.

Sejarah Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa lainnya. Kepulauan Indonesia menjadi wilayah perdagangan penting setidaknya sejak abad ke-7, yaitu ketika Kerajaan Sriwijaya di Palembang menjalin hubungan agama dan perdagangan dengan Tiongkok dan India. 

Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha telah tumbuh pada awal abad Masehi, diikuti para pedagang yang membawa agama Islam, serta berbagai kekuatan Eropa yang saling bertempur untuk memonopoli perdagangan rempah-rempah Maluku semasa era penjelajahan samudra. Setelah berada di bawah penjajahan Belanda, Indonesia yang saat itu bernama Hindia-Belanda menyatakan kemerdekaannya di akhir Perang Dunia II. Selanjutnya Indonesia mendapat berbagai hambatan, ancaman dan tantangan dari bencana alam, korupsi, separatisme, proses demokratisasi dan periode perubahan ekonomi yang pesat.

Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama yang berbeda. Suku Jawa adalah grup etnis terbesar dan secara politis paling dominan. Semboyan nasional Indonesia, "Bhinneka tunggal ika" ("Berbeda-beda tetapi tetap satu"), berarti keberagaman yang membentuk negara. Selain memiliki populasi padat dan wilayah yang luas, Indonesia memiliki wilayah alam yang mendukung tingkat keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia.

Sumber: 
Wikipedia

Sunday, August 9, 2009

Perpustakaan Persiden Indonesia

Nurahman Library:

Adalah sebuah perpustakaan yang berisi mengenai informasi-informasi seluruh presiden di Indonesia.

Presiden Indonesia (nama jabatan resmi: Presiden Republik Indonesia) adalah kepala negara sekaligus kepala pemerintahan Indonesia. Sebagai kepala negara, Presiden adalah simbol resmi negara Indonesia di dunia. Sebagai kepala pemerintahan, Presiden dibantu oleh wakil presiden dan menteri-menteri dalam kabinet, memegang kekuasaan eksekutif untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintah sehari-hari.

Sunday, August 2, 2009

SAPTA KRIDA ICMI



 
Oleh : Prof. B.J. Habibie
 

Dunia kita sekarang ini ditandai dan dipengaruhi oleh suatu gejala moneter yang global. Dampak gejolak moneter yang ditimbulkannya, bukan saja terasa di negara yang sedang berkembang, tetapi juga pada negara-negara yang sudah maju. Yang menyebabkan gejolak moneter tersebut adalah karena ketidakpastian secara global. 

Pertama terbentuknya European Economic and Monetary Union (EMU) pada 1 Januari 1999. Pada saat itu, pada sebelas negara Eropa, akan berlaku dua mata uang. Pertama mata uang tunggal Eropa (singgle currency) yang disebut Euro dan yang satunya mata uang masing-masing negara. Ini hanya berlaku dalam waktu tiga tahun. Pada 1 Januari 2002, secara sistematis mata uang setempat ditarik dan akan digunakan hanya Euro. Pertanyaan akan timbul, bagaimana kekuatan Euro itu terhadap mata uang setempat, Deutche Mark, misalnya, yang mempunyai perbandingan seratus atau mata uang Spanyol, yang mempunyai perbandingan sepuluh? Suatu ketidakpastian. 

Kedua, bagaimana perbandingan antara Euro terhadap dolar? Pertanyaan ini tidak bisa dijawab, karena itu timbul ketidakpastian. Ketiga, bagaimana sinergi antara kesebelas negara Eropa tersebut? Apakah positif atau negatif? Bagaimana pencerminannya pada neraca perdagangan masing-masing, bagiamana pencerminannya pada neraca pembayaran berjalan? Pertanyaan-pertanyaan ini semua menimbulkan ketidakpastian. 

Secara singkat, Indonesia tidak bisa terlepas dari dampak gejolak moneter global seperti ini. Namun demikian, jangan hendaknya kita terpengaruh dan langsung kehilangan kepercayaan terhadap mata uang kita dan juga kepada para pemimpin kita, karena hal itu hanya akan merugikan dasar ekonomi negara kita. Pernah saya sampaikan bahwa Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia adalah ''tempat tidur bayi'' Demokrasi Pancasila. 

Karena di dalam ICMI bergabung para cendekiawan seluruh bangsa Indonesia yang bernafaskan Alquran dan As Sunnah. Yang kita maksudkan cendekiawan, bukan hanya mereka yang bertitel atau seorang profesor. Banyak orang bertitel atau profesor yang sudah mendapat hadiah penghargaan terhadap keahliannya, tetapi hanya peduli kepada karya dalam bidang ilmu pengetahuan. Mereka ini tidak peduli kepada lingkungannya, maka mereka hanya pakar, bukan cendekiawan. 

Alangkah baiknya kalau para cendekiawan itu juga seorang pakar. Kemudian cendekiawan yang bukan pakar bergaul dan bersatu dengan lainnya. Maka Insya Allah, kita akan menghasilkan terobosan yang sangat berorientasi kepada kepentingan rakyat banyak. Oleh karena itu, iman dan taqwa tidak bisa dipisahkan. Kalau bertaqwa tanpa mengenal tolok ukur dari Alquran dan As-Sunnah, tidak mungkin seseorang itu bertaqwa. Kalau hanya bertaqwa, tetapi tidak pernah mempunyai itikad untuk saling membantu dan menolong sesamanya, maka tidak ada gunanya. 

Karena itu ICMI mempunyai program 5K. Program 5K itu pertama adalah meningkatkan kualitas berpikir. Dari hasil pemikiran tersebut terangkum dan tercetus suatu karya yang menguntungkan lingkungannya. Karena kualitas karya tersebut kemungkinan masih abstrak, atau mungkin masih berupa gagasan, tetapi tetap harus menjadi kenyataan, maka perlu ditingkatkan kualitas kerja. Selanjutnya, jika kualitas kerja bisa terwujud dan dinikmati, maka insya Allah kualitas hidup meningkat pula. Sangat sederhana jawaban ICMI terhadap 5K. 

Hal ini pun bisa kita buktikan, setelah program 5K tercetuskan, maka timbullah bagaikan cendawan organisasi-organisasi dan badan otonom yang membawa kemaslahatan umat, seperti dengan adanya BMI (Bank Muamalat Indonesia) yang diikuti dengan pembentukan BPR Syariah dan BMT, PINBUK serta ORBIT. Bank Muamalat dan lain-lainnya itu, mandiri tidak tergantung siapa pun. Yang ada hanya itikad baik tanpa paksaan. Hanya betul-betul berdasarkan keyakinan dari kita untuk kita, dari rakyat untuk rakyat. Karena program 5K adalah program sepanjang masa bagi ICMI. 

Maka dalam suasana gejolak dan pengaruh global yang kita sebutkan tadi, ICMI perlu melaksanakan konsolidasi yang akan saya garis bawahi dan namakan Sapta Krida ICMI. Sapta Krida ICMI, yang cocok dan ''compatible'' dengan 5K, tetapi lebih rinci menghadapi globalisasi, menghadapi pembaruan yang dinamik secara global, regional, dan nasional. Pertama, ICMI tidak boleh buta terhadap masalah Hak Asasi Manusia (HAM). 

ICMI tidak boleh dalam hal ini hanya reaktif, harus proaktif tetapi tetap dengan tolok-tolok ukur budaya bangsa kita. Jangan sampai adikuasa dari luar atau kekuasaan ekonomi dari luar memanfaatkan HAM itu untuk merongrong stabilitas politik, ekonomi, dan pembangunan yang berkesinambungan bangsa Indonesia. Kita tidak akan gentar HAM disampaikan orang-orang dari negara maju kepada kita, karena kita yang telah merasakan HAM itu selama 350 tahun penjajahan. 

Tidak ada hak mereka untuk membeberkan di hadapan hidung kita apa artinya HAM. Karena itu, kita akan memasyarakatkannya dengan kesadaran dan dengan tolok ukur kita. Tetapi kita sadari, tidak mungkin seseorang hanya diberikan hak tanpa diimbangi dengan kewajiban. Berikanlah kesempatan untuk dibentuknya, counter partner HAM yaitu adanya kewajiban dan tanggung jawab manusia. Karena itu, kalau ada hak, maka harus diimbangi dengan KTM (Kewajiban dan Tanggung Jawab Manusia). 

Jangan lupa, kalau kita memberikan satu jari atas haknya, maka ada empat jari menunjuk kepada kita yang memper-ingatkan apa kewajiban kita untuk menghadapi tuntutan tersebut. Ide ini bukan ide baru, ide ini dicetuskan oleh pakar dan tokoh-tokoh pimpinan pemerintahan di dunia. Salah satu tokoh yang utama yang mengeluarkan KTM itu adalah Doktor Helmut Schmidt, mantan Kanselir Jerman Barat, dan masih banyak mantan-mantan presiden lainnya. 

Kita harus sadar akan adanya wahana ini dan kita harus sadar juga adanya pengakuan negara-negara adikuasa bahwa HAM itu tidak mungkin berkembang dan berjalan jikalau tidak diimbangi dengan kewajiban tanggung jawab itu. ICMI dengan hormat dituntut memasukkan ide yang pertama ini sebagai salah satu krida dengan kualitas HAM dan KTM yang harus seimbang dan terus ditingkatkan sebagimana kualitas iptek dengan imtaq itu bersama. Krida Kedua, pengembangan kualitas demokrasi Pancasila. 

ICMI adalah tempat bagi demokrasi Pancasila, karena para anggotanya adalah tokoh-tokoh partai politik, organisasi profesional, yang sangat peduli terhadap lingkungannya. Mereka itu semua berkarya nyata di dalam suatu suasana demokrasi Pancasila yang kita kembangkan bersama dan telah melahirkan dasar dan andalan bersama dengan sasaran yang convergence kepada cita-cita bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia yang adil dan makmur serta makmur dan adil. 

Krida Ketiga, memelihara kesinambungan pembangunan ekonomi. Dalam hal ini, hanya kesinambungan pembangunan ekonomi yang dapat menjamin adanya pengamalkan Pancasila, karena di dalam pembangunan ekonomi yang modern, Indonesia modern, tidak mungkin dan tidak ada suatu kesatuan ekonomi mampu berkembang jikalau tidak memperhitungkan dan mengembangkan atau tidak berpola terhadap pengembangan Sumberdaya manusia. SDM terbaharukan itu tidak ada artinya kalau tidak mempunyai kualitas iman dan taqwa yang tinggi yang seimbang dengan kualitas ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi pula. 

Oleh karena itu, pembangunan ekonomi yang berkesinam-bungan dalam menghadapi globalisasi tantangan regional global dari mancanegara, mau tidak mau kita harus meningkatkan daya saing ekonomi kita. Daya saing itu, hanya bisa ditingkatkan jikalau efisiensi dan produkti-vitas dan disiplin pelaku-pelaku ekonomi itu ditingkatkan pula kualitasnya. Tetapi bukan itu saja, kita perlu standardisasi yang sasarannya tidak lain peningkatan daya saing dan menekan biaya tinggi. 

Kalau misalnya kita membuat sebuah gedung yang memanfaatkan batu, semen dan apa saja , standarnya selalu sudah ada. Jika kita membuat sebuah gedung yang semua bahannya harus dibuat khusus, maka gedung yang memanfaatkan standar itu akan lebih murah daripada gedung yang menggunakan bahan khusus. 

Standardisasi bukan saja di dalam perangkat keras, tetapi juga perangkat lunak, dalam jasa, kita hanya bisa meng-ekspor ke Jepang jikalau yang kita ekspor itu memenuhi standar-standar di Jepang. Apakah itu merupakan produk pertanian, perkebunan, apakah itu produk pangan, produk semen, produk elektronik harus selalu memenuhi standar. Kalau tidak ada standar tidak mungkin orang Jepang itu membutuhkannya. 

Oleh karena itu, ICMI harus memasya-rakatkan pelaku-pelaku ekonomi di Indonesia berorientasi kepada standardisasi. Dalam ekonomi, yang menentukan sesuatu adalah daya cipta kemampuan manusia berkarya,untuk menciptakan sesuatu yang baru. 

Karena itu, karyanya harus dihormati dan dilin-dungi. Itulah sebabnya kita harus memasyarakatkan dan menghormati hak karya intelektual, baik dalam konsep pemikiran maupun dalam sistem. Kalau itu terjadi, karya intelektual bangsa kita juga akan terlindung dan tidak bisa dicuri oleh siap pun. 

Orang yang berkarya di luar negeri, berani masuk ke Indonesia untuk mendapatkan sinergi. Karena karyanya itu mendapatkan perhatian dan perlindungan hukum dan semuanya ini akan menghasilkan ekonomi yang berbiaya rendah. ICMI harus melaksanakan tindakan-tindakan proaktif, menciptakan biaya rendah dalam arti ekonomi. Krida Keempat, harus proaktif dalam menciptakan lapangan pekerjaan. 

Dalam alam semesta ini, semua menga-lami depresiasi, penurunan harga. Nilai mobil, rumah akan mengalami depresiasi, dan hanya bisa dipertahankan apa-bila dilakukan pemeliharaan. Di alam semesta hanya satu yang mungkin bisa mengalami apresiasi (peningkatan) adalah sumber daya manusia. SDM bisa mengalami nilai tambah pribadi melalui pendidikan formal. Karena itu, masalah lapangan kerja harus mendapatkan perhatian. 

Krida Kelima, harus proaktif meningkatkan profesionalisme. Dalam hal ini, organisasi-organisasi profesi atau alumnus Persatuan Insinyur Indonesia, Persatuan Dokter Indonesia, Persatuan Sarjana Hukum Indonesia, atau organisasi alumni dimana saja, harus proaktif meningkatkan profesionalisme dengan membentuk suatu panitia atau apa pun namanya yang bisa memberikan sertifikasi kualifikasi keahlian. 

Krida Keenam, ICMI sudah memasuki desa melalui Orsat, Organisasi-organisasi otonom. Karena itu, wahana dan sistem ini harus pandai-pandai kita manfaatkan dengan memasukan teknologi dan prasarana ekonomi ke desa. 

Prasarana mikro ekonomi yang mempunyai kaitan dengan prasarana makro ekonomi yang diikuti dengan teknologi yang ada kaitannya dengan kehidupan di desa,serta lingkungan desa yang bisa memberikan lapangan pekerjaan. Krida Ketujuh, pemerataan kesempatan berkarya yang harus diberikan kepada bangsa Indonesia tanpa mengenal SARA. 

Pada Silaknas ke VI ini, ICMI untuk kedua kalinya masuk dalam kampus, pertama kalinya di Malang waktu dicetuskan ide untuk mendirikan ICMI. Waktu itu ICMI belum ada. Unibraw di Malang telah memberikan inspiration, memberikan ilham untuk melaksanakan long march dengan pegangan 5-K. Inspiration yang diberikan oleh IPB kepada ICMI tidak lain merupakan sesuatu yang membuat seseorang ikut bergetar menerima resonansi atas getaran-getaran jiwa para anggota ICMI dan rakyat Indonesia. 

*) Disarikan dari Sambutan Ketua Umum ICMI pada pembukaan Silaknas VI ICMI di Bogor, 23 Desember l997._

Tuesday, July 28, 2009

Peran Teknologi, Ekonomi, dan Politik: Hasta Krida

( Hasta Krida ) 

Pada tahun 1974 kami pernah mendiskusikan dengan Bapak Presiden dua masalah yang sangat aktual. 

Pertama, mengenai pemanfaatan satelit Palapa; dan kedua, mengenai pendirian pabrik pupuk. 

Dipandang dari makro ekonomi, mendirikan pabrik pupuk itu tidak ada gunanya karena pada waktu itu lebih murah kalau kita beli karena harga pasar lebih murah. Tetapi kita tidak hanya melihat dari segi ekonomi tetapi juga dampak sosial-politik, dan dampak lapangan pekerjaan. 

Pembangunan itu harus dilaksanakan dengan proyeksi pandangan yang jauh ke depan. Karena itu diambil dua-duanya, kita mendirikan industri pabrik pupuknya dan juga kita membangun sumber daya manusia yang berkualitas. Kita ambil langkah demikian karena kita ingin sektor pertanian kita itu swasembada karena tersedianya pupuk yang memadai. Kita berani memberi subsidi pada pupuk karena pupuk itu dibuat dari sumber daya alam, dan menurut undang-undang adalah milik rakyat. 

Pada tahun 1971, saya mendapatkan pertanyaan dari bapak Presiden tentang satelit Palapa. Apakah benar menguntungkan kalau kita punya Palapa? Saya jawab ya benar. 

Memang kelihatannya satelit palapa itu mahal, tapi kalau dihitung-hitung akhirnya jadi murah. Lagi pula satelit itu menentukan bagi berkembangnya kualitas sumber daya manusia. Dengan begitu, pada waktu itu kita menjadi bangsa yang ketiga di dunia yang memiliki satelit telekomunikasi setelah Amerika Serikat dan Kanada. Dipandang dari sudut ekonomi waktu itu it's a big non-sense. 

Begitu juga dilihat dari sudut sosial-politik waktu itu, sama it's a big non-sense. Sampai pakar-pakar berkata kepada saya: "Apakah saya mimpi?. 

Eropa saja tidak punya satelit telekomunikasi, kenapa saya berani ikut menyarankan kepada Presiden untuk membeli satelit." Tetapi sekarang itu semua dilupakan. Ya, itu kebijaksanaan bapak Presiden, demikian pula dengan industri pesawat terbang, industri kapal, industri kereta api, industri baja, elektronik dan sebagainya. Oleh karena itu, ketika kita sedang sibuknya memikirkan suksesi, wapres, moneter, dan sebagainya, saya harus memberikan pengarahan pada silaknas ICMI di Bogor. 

Sebelumnya memang terus-menerus hal itu dipertanyakan oleh politisi, maka saya berikan hasta krida (delapan janji/karya): 

Krida pertama, ICMI atau seorang cendekiawan harus proaktif memperjuangkan hak asasi manusia diimbangi dengan kesadaran tanggung jawab terhadap apa yang diperjuangkan itu. 

Contoh, saya tidak bisa mengatakan saya punya hak untuk menikmati pembangunan, tetapi saya tidak mempunyai kewajiban untuk mengamankan pembangunan sehingga berkesinambungan. Jadi, hak asasi manusia itu baru merupakan sebagian dari sesuatu yang seharusnya bersifat lebih luas. Bagian yang lain adalah kesadaran dan kewajiban atas tanggungjawab manusia itu sendiri. 

Tetapi tanggungjawab itu sering dilupakan, mereka hanya menonjolkan hak asasi. Apakah tidak sebaiknya sebelum itu mereka juga menonjolkan kesadaran dan kewajiban atas tanggung jawab asasi manusia? Ini penting, sebab untuk apa kita hidup kalau tidak untuk hak asasi dan kewajiban yang kita perjuangkan dengan tolok-tolok ukur dan nilai-nilai yang tersurat baik langsung maupun tidak langsung dalam budaya dan agama kita. 

Apa gunanya hidup tanpa perjuangan utama seperti yang saya jelaskan tadi itu? 

Namun, untuk melaksanakannya itu dengan menerjemahkan hak asasi dan kewajiban asasi manusia dalam suatu sistem yang mencerminkan budaya, khususnya budaya bangsa Indonesia. 

Krida kedua, cendekiawan harus proaktif terus-menerus memperjuangkan peningkatan kualitas pelaksanaan demokrasi Pancasila sesempurna-sempurna mungkin. Tidak bisa dalam 5 tahun, tidak bisa dalam 10 tahun, karena tolok ukurnya selalu berubah sesuai dengan perkembangan keadaan dunia yang selalu akan mempengaruhi setiap masyarakat, baik di kawasan nasional, regional, maupun global. 

Krida ketiga, demokrasi Pancasila tidak bisa berdiri sendiri, harus ada yang menggerakkan sebagai faktor penggerak juga sebagai motivator dan penyandang biayanya, yang pada akhirnya tercermin pada hak asasi dan tanggungjawab itu. 

Apakah itu? Ialah pembangunan bangsa Indonesia yang berkesinambungan, perlu digarisbawahi, bahwa yang dimaksudkan bukan sembarang pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi yang saya sasari adalah pembangunan ekonomi dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Tapi kalau saya bicara tentang pembangunan nasional, saya berani mengorbankan 3% pertumbuhan ekonomi, jika saya yakin bahwa dengan begitu terjadi pemerataan kesempatan kerja terjamin.

Karena itu saya tidak pernah selama 20 tahun atau 25 tahun terpesona dengan pertumbuhan ekonomi, melainkan saya selalu berbicara tentang pertumbuhan pembangunan nasional. Jadi, krida ketiga itu ialah pertumbuhan pembangunan nasional yang bekesinambungan. 

Krida keempat, kita harus proaktif menegakkan hukum, menegakkan aturan main. Kalau berdemokrasi, produk dari wakil-wakil rakyat adalah UU, tolok-tolok ukur, kendala-kendala yang perlu diciptakan tetapi yang tidak counter productive justru yang membantu sehingga bisa berkembang roda pembangunan nasional itu. 

Karena itu, setelah kita mengambil napas untuk menjelaskan apa yang namanya pertumbuhan pembangunan yang berkesinambungan itu, kita harus berani mengatakan kita memperjuangkan proaktif kesadaran pada UU. Dan menegakkan UU sesuai dengan hak azasi dan kewajiban manusia itu sendiri. 

Krida kelima, karena kita membangun bukan untuk sekadar membangun tetapi membangun untuk SDM bangsa Indonesia sendiri. Maka pada krida kelima ini kita memperjuangkan agar manusia Indonesia seutuhnya mengalami proses nilai tambah pribadi sehingga meningkat profesionalismenya, ditingkatkan nilai dan kualitasnya, tanpa membedakan apa dia itu berpendidikan S1, S2, atau S3. Tetapi dalam hal itu bagaimana karya nyata kita, niat dan itikadnya dalam memberikan sumbangan kepada rakyat kita sendiri. 

Krida keenam, kita sadari proses nilai tambah bukan saja ada pada barang, bukan saja ada pada pemikiran, bukan saja hanya pada perangkat lunak, tapi yang paling penting proses nilai tambah pribadi pada otak, kesadaran batin dari manusia, harus meningkat terus. Itu yang saya namakan nilai tambah pribadi. 

Karena itu silaturahmi selalu disarankan semua agama, khususnya Islam dan saya yakin agama yang lain juga. Saya yakin dengan bersilaturahmi itu kita meningkatkan wawasan dan nilai pribadi masing-masing yang saling menguntungkan demi kepentingan kita hidup dalam masyarakat yang damai dan sejahtera. 

Oleh karena itu, kita harus memperjuangkan krida yang keenam itu, proaktif menyediakan lapangan pekerjaan untuk manusia Indonesia. Karena kita mengalami proses nilai tambah pribadi melalui pendidikan masing-masing yang disebut proses nilai tambah formal. 

Tetapi yang tidak kalah penting, bahkan lebih besar nilai tambahnya adalah proses nilai tambah non-formal, dan itu hanya dimiliki melalui bekerja pada profesi masing-masing bila disediakan lapangan pekerjaan. Manusia dalam alam semesta ini adalah satu-satunya mahluk yang dimungkinkan mengalami apresiasi nilai atau mengalami relatif depresiasi. 

Karena apa? 

Karena iptek berkembang secara fungsional. Sedangkan kalau kita tidak bekerja karena tidak disediakan lapangan pekerjaan, maka ilmu kita, profesi kita, tidak mengalami perkembangan progresif dan tidak pula mengalami perkembangan linear. Akibatnya, seseorang akan mengalami relativitas penurunan nilai tambah pribadi. 

Oleh karena itu krida keenam itu menghendaki agar kita proaktif menciptakan lapangan pekerjaan, caranya? Cintailah produk dalam negeri, jangan lecehkan karya bangsanya sendiri. 

Kita harus rela berkorban membayar kepentingan anak sendiri untuk maju, yang bisa diketahui melalui proses demikian. Masa depan cucu kita harus lebih cerah. Krida ketujuh, kita harus memelihara bahwa kehidupan yang sejahtera dan penuh dengan kesayangan dan juga perdamaian antara keluarga yang harus kita ciptakan adalah status quo, tempatnya di desa. 


Tetapi tidak status quo tingkat nilai GDP di desa. Biarkan mereka hidup di desa. Tetapi yang harus kita usahakan adalah bahwa kehidupan di desa itu tidak indentik dengan GNP yang rendah. Oleh karena itu, kita harus proaktif membawa teknologi masuk desa. Tetapi teknologi masuk desa tak cukup, melainkan harus dibarengi juga dengan microeconomic linkage system yang memasuki desa. Dengan cara demikian kita akan memberikan pemerataan pembangunan. 

Dengan demikian kita akan menyegarkan kehidupan Indonesia berbudaya sepanjang masa. Krida kedelapan, adalah kita harus proaktif mengembangkan pemerataan --saya tak mau lagi membicarakan pemerataan pendapatan, untuk apa kita memperjuangkan pemerataan pendapatan yang satu pihak mendapat 80% sedangkan yang sebagian besar memperoleh 20%, saya tidak menghendaki perjuangan bangsa Indonesia dengan cara demikian. Bukan demikian perjuangan bangsa-bangsa di muka bumi. 

Karena itu ada sistem perpajakan yang progresif. Namun kita juga tak bisa memusuhi orang yang sudah berhasil. Yang berhasil, harus bersyukur kepada Allah dan berterimakasih kepada bangsanya yang telah memungkinkan mereka bisa menjadi demikian. Oleh karena itu tanggungjawabnya lebih besar. Dia harus membayar pajak. Karena itu yang kita perjuangkan bukan pemerataan pendapatan tetapi pemerataan kesempatan. Kesempatan berkembang sebagai manusia dengan segala krida-kridanya yang delapan itu, dan selain itu kesempatan untuk memberikan darma baktinya bagi bangsa, yang juga diimbangi dengan tanggung jawab, bukan saja hak. 

Dengan satu catatan, dalam melaksanakan hal tersebut harus berdasarkan demokrasi Pancasila. Oleh karena itu krida kedelapan itu harus kita laksanakan pemerataan dengan tidak mentoleransi SARA dalam bentuk apapun juga. Kita harus memberikan kesempatan berkarya, berkarya dalam pembangunan Indonesia, kepada siapa saja yang berbakat tanpa mengenal SARA. SARA itu tidak lain perbedaan antar suku, agama dan ras. Bukan suatu jaminan kalau saya lahir di Pare-Pare di Sulawesi Selatan, semua orang Pare-pare itu mendapat sesuatu. Tidak benar. Tentunya kita harus pula mempertimbangkan budaya, saya tak bisa ke Pare-Pare, terus mengatakan kepada semua orang Bugis bahwa saya masukkan budaya orang Jepang, orang Yogya. 

Kita harus realitis, jangan kita menyalahartikan SARA itu. Jangan kita memanfaatkan SARA untuk kepentingan tertentu. Misalnya ada kampung yang 100% penduduknya beragama Katholik, karena alasan tak mengenal SARA dan berdasarkan Pancasila, kemudian didirikanlah Masjid di sana, ini juga tidak benar. Mengapa? Karena tidak ada jama'ahnya. Tetapi di lain pihak juga bila 100% di situ adalah penduduknya beragama Islam, jangan datang ke situ untuk membuat rumah ibadah non-Islam hanya karena alasan Pancasila, ini juga tidak benar.


Kita harus realistis. Pancasila tidak pernah diciptakan untuk membuat permasalahan di bumi Indonesia, Pancasila harus selalu diinterpretasikan sebagai angin sejuk yang memberikan kenyamanan dan kesejahteraan serta kehidupan yang tentram, sejahtera, damai, antara satu sama lain. Demikian jugalah mengenai pembangunan itu sendiri dan mengenai budaya. Saya sering menyampaikan kepada siapapun, bahwa kita harus tahu, di Indonesia tidak pernah terjadi perang antar-umat. Yang kita perangi adalah ketidakadilan, kemiskinan, kemasabodohan. Dan untuk hal itu kita berpegang pada hasta krida. 

Enak memang diucapkan tetapi tak semudah demikian dilaksanakan. Tetapi kita harus menyadari bahwa semua itu bukan isapan jempol. 20 tahun lalu tak mungkin saya bisa memformulasikan dengan detail demikian, karena belum ditempa oleh sejarah selama seperempat abad bisa menikmati kesempatan yang diberikan untuk berperanserta membantu bangsa yang kita cintai ini melaksanakan pembangunan. Jadi saya telah berusaha menjelaskan, di situ tampak implikasi peranan teknologi, peranan ekonomi, peran politik, dampak sosial bahkan ideologi, semua tersirat dalam 8 krida itu. Mengenai Moneter Kita semua memang prihatin, tetapi bukan berarti dunia kiamat. Semua ini tidak secara kebetulan terjadi. Mulai dari Korea sampai Thailand, semuanya mengalami depresiasi mata uangnya terhadap dolar. 

Itu sebenarnya tidak lebih dan tidak kurang daripada success story pembangunan di Asia. Yang sukses itu pemerintahnya. Pemeritah masing-masing membuat negaranya lebih kredibel. Pemerintah kredibel karena bisa mengontrol dan mengendalikan pembangunan dan memberikan prioritasnya pada produksi yang export-oriented, impor-substitution dan capital growth, dan seterusnya. Dengan demikian, tiba-tiba seluruh negara tersebut menjadi kredibel, maka para banker hanya mau memberikan kepada pemerintah -- karena pertumbuhan ekonominya tinggi -- 

kenapa mereka tidak memberikan kepada rakyat? Juga, karena pembangunan di setiap negara bunganya relatif lebih tinggi daripada di negara maju. Sebagai seorang enterpreneuer, jika di situ bunganya lebih murah 20%, kenapa tidak mengambil pinjaman? Nah, selama pinjaman bisa dibayar dengan komoditi ekspor ataupun komoditi substitusi impor dan tidak marginal, maka hal itu aman. 

Tetapi kalau pinjaman itu sama sekali tak ada kontribusinya terhadap ekspor dan hanya pada domestic market saja, kalau berupa capital goods pada domestic market masih lumayan, tetapi kalau berupa consumer goods, luxorious pada domestic market, maka tidak ada kontribusinya. Kita harus menyadari memasuki abad mendatang, ada dua kejadian besar di dunia ini. Akibat kebijakan yang satu dibuat tahun 1980an, yang satu dibuat tahun 1950an. 

Pada waktu itu diputuskan bahwa pada akhir abad ini harus dibentuk Uni Eropa. Sejak kemerdekaan AS, anggaran pembangunannya selalu seimbang. Pertamakali dalam sejarah AS, pada zaman John F. Kennedy terjadi anggaran pembangunan yang negatif kecil. Kalau kita pelajari moneter policy dan ekonomi AS, dalam keadaan perangpun selalu seimbang. Itu berkembang. Bukan saja karena AS punya anggaran bahkan neraca negatif. Tapi tak terasa karena jumlah ekonominya itu besar, 6.000 miliar US dolar dan volume perdagangan AS itu lebih kecil, sekitar 17% dari volume perdagangan dunia. Sedangkan kontribusi GDP AS adalah 21%. 

Itu berarti AS tidak tergantung pada ekspor, karena pasar domestik besar. Sekarang dalam menghadapi semua ini, di tahun 1986 Ronald Reagen melaksanakan deregulasi yang diikuti oleh negara Asia. Apa yang terjadi? Tiba-tiba pertumbuhan ekonomi di AS terus meningkat, akibat dari deregulasi yang diimbangi dengan peraturan-peraturan yang sehat. Akibat pertumbuhan tinggi yang diikuti kebijakan, mulai Januari tahun depan (1999) di Eropa, hanya dikenal satu mata uang Euro, tetapi ada transisi -- di Jerman Euro dan Deucthmark, di Prancis Euro dengan Frank -- tetap akan ada floating hingga Januari 2001. 

Kalau itu terjadi, orang bertanya, uncertainly. Bagaimana relasi antara dolar dengan Euro? Bagaimana sinerginya? Bagaimana kapital yang diparkir di Eropa itu pindah ke AS? Lalu permintaan terhadap dolar meningkat. Kalau permintaan terhadap dolar meningkat, maka harga dolar AS meningkat. Oleh karena itu harga Deucthmark pun mengalami depresiasi antara 35% terhadap US dolar. 

Ini yang menyedotnya semua -- karena GDP Eropa itu 93% dari AS -- belum termasuk Inggris dan Skandinavia. Kalau kedua negara itu masuk berarti mencapai 116% dari GDP AS. Jadi GDP kita saat itu sekitar 225 miliar, dan GDP mereka 6.000. Dalam keadaan demikian, di Asia diikuti dengan terjadinya apresiasi dolar. Perusahan di Thailand yang sangat marginal dalam menghitung studi kelayakan dalam dolar AS menjadi nervous. Dan itu menjadikan permintaan dolar terus meningkat. Permintaan itu diikuti dengan yang lain. Hanya corak dan ekonominya berbeda. 

Tapi saya tidak akan memberikan penjelasan lebih mendalam mengenai hal ini. Alangkah sedihnya kalau memilih pimpinan nasional itu berdasarkan harga dolar. Berapa harga saham di Singapura? Saham di Jakarta paling banyak melibatkan 200 ribu orang, dari 200 ribu orang itu paling banyak hanya 20% yang mengendalikannya. Kalau itu menjadi tolok ukur mengenai pimpinan nasional, GBHN, vision, masa depan anak cucu kita, apa artinya demokrasi itu. 

Apakah artinya krida pertama HAM dan dimbangi oleh tanggungjawab kewajiban tanggung jawab dari manusia itu? Tetapi kita harus menyadari bahwa masa depan kita harus berada di pundak kita sendiri dan tidak pernah dan tak akan kita perkenankan lepas dari tangan dan pundak kita sendiri. GNP Brunei perkapita -- seperti saya baca -- adalah 28.000 US dolar per kapita. 

Singapura 26.730 US per kapita, Batam 20.837 US per kapita. Memang ada perbedaannya, pemerataan di Brunei lebih baik daripada di Batam, dan pemerataan di Singapura lebih baik daripada di Brunei. Ini bukan fantasi, bukan impian. Seorang yang mimpi kalau bangun tak ada isinya. Orang yang punya visi dan wawasan kalau dia bekerja tak menyadari, kalau disadarkan dia akan terkejut, dan akan mendapati lebih dari yang diharapkan. 

Karena seorang yang visioner tak akan memikirkan dirinya, namun tetap terus melaju. Dan saya yakin ribuan bahkan jutaan manusia Indonesia yaang berwawaskan visioner, cuma belum diberikan kesempatan. Karena itu kita harus memperjuangkan krida ke delapan, pemerataan kesempatan bagi seluruh bangsa Indonesia dengan tak mentolelir SARA.