Showing posts with label Arip Nurahman. Show all posts
Showing posts with label Arip Nurahman. Show all posts
Tuesday, October 13, 2015
Friday, December 21, 2012
Mencari Sosok Berintegritas
"Jika mencurigai seseorang berbohong, berpretensilah seakan-akan memercayainya; Kebohongan akan terungkap dengan sendirinya dan topeng akan terbuka."
~Arthur Schopenhauer (1788–1860)~
Kata-kata mutiara itu mengingatkan pada cara kerja berbagai panitia seleksi yang mencari sosok berintegritas untuk masuk komisi-komisi independen. Berbagai cara dilakukan untuk mencari, mengumpulkan, memeriksa, mengendus jejak, hingga mewawancarainya. Wawancaranya pun dilakukan secara terbuka sehingga catatan-catatan negatif setiap calon menjadi tontonan publik. Orang berintegritas tidak berbohong meski catatan negatifnya bukan masalah kecil. Apa yang diucapkan itu adalah yang dilakukan, begitu pula sebaliknya. Namun, selalu saja ada satu-dua yang berbohong.
Kebohongan ini sebenarnya bisa dibaca, tetapi tidak mudah menemukan bukti-bukti. Kalaupun ada, kita hanya menemukan "bukti katanya" dari orang yang mengaku pernah mendengar. Namun, bukti otentik biasanya jarang didapat. "Bukti-bukti katanya" menjadi masalah besar. Di satu sisi menimbulkan ketidakpercayaan, di sisi lain tidak semua anggota panitia seleksi (pansel) memercayai bukti itu. Itu karena selain bukti negatif, orang-orang itu juga punya catatan positif.
Namun, berpretensi baik, seperti kata Arthur Schopenhauer, bisa membuka topeng seseorang. Hanya saja, jarak waktunya tak dalam genggaman waktu yang dimiliki pansel. Semua bisa terjadi setelah mereka terpilih. Mitos orang baik Adakah orang yang kita inginkan benar-benar baik? Jika mencari yang berintegritas saja, kiranya kita semua mempunyai calon. Namun, kita tidak mencari orang yang hanya jujur, tetapi juga mempunyai keberanian, mau memberantas korupsi, dan cerdas.
Masalahnya, orang- orang cerdas belum tentu mau memberantas korupsi, juga sebaliknya. Bergulat dengan perubahan, bangsa ini membutuhkan pemimpin. Dia bukan sekadar manajer biasa yang bekerja dengan sistem dan memelihara keseimbangan. Yang dicari adalah orang yang berani membongkar belenggu dan menanamkan nilai-nilai baru.
Karena itu, Michael Angelo pernah mengatakan, "every act of creation must be started by the act of destuction". Orang seperti itu tentu bisa dibaca dari rekam jejaknya. Semakin banyak belenggu dan tradisi yang dibongkar, semakin tidak populer dan banyak musuhnya. Yang pernah belajar leadership tentu ingat kalimat Paul Newan, "If you don’t have enemy, you don’t have character". Seperti itu pula kita membaca surat-surat bernada amat negatif yang diajukan masyarakat terhadap nama-nama yang lolos uji integritas. Selalu ada orang yang gigih mengajukan bukti-bukti yang terkesan lengkap.
Setelah ditelusuri, ada bagian yang dapat diterima, tetapi tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan. Sebagian informasi justru bertentangan. Kiranya seperti itulah pemimpin perubahan, kian berani, kian banyak musuhnya. Prof. Komaruddin Hidayat mengatakan, "Hanya mobil yang tak pernah keluar garasilah yang tak ada cacatnya." Namun, pemrotes selalu berkilah, "Kalau sudah banyak yang tidak senang, perannya tidak efektif?" Ada semacam rasa tidak nyaman bagi sebagian orang saat nama-nama tertentu masuk dalam list. Pansel bisa saja salah memilih, tetapi tidak bisa bekerja dengan persepsi.
Jam terbang, pengalaman, dan ilmu pengetahuan berperan besar. Hanya karena kenal, atau mereka menjadi wistleblower, belum berati orang itu mampu menjadi sosok yang dicari. Pengalaman di dunia bisnis menunjukkan tidak mudah mencari "orang baik". Selalu ada paradoks, antara pemimpin "kuat" (tetapi menyakitkan) dan pemimpin "baik" (tetapi tidak menyumbang keuntungan). Hal ini juga terjadi dalam mencari pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mitos "orang baik" menjadi perdebatan panjang.
Seolah dengan membuang yang disangka jahat (koruptor), pasti didapat orang baik (antikorupsi). Sebenarnya orang baik dan orang jahat selalu ada di mana-mana. Manusia bisa menjadi baik dan jahat karena karakter dan lingkungannya. Namun, orang tidak otomatis menjadi sesuatu karena persepsi. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap persepsi. Ini bukan sekadar komitmen ucapan (say believe), tetapi tindakan (do believe) yang hanya didapat dari ujian.
Dan suka atau tidak, ujian tidak ada di tempat bersih, tetapi di lembaga-lembaga kotor. Itulah sebabnya "orang baik" yang berasal dari lingkungan baik-baik hanya mitos. Seperti kata Plato, "hidup yang tidak teruji tidak bernilai." Maka, yang penting bukan hanya prosesnya, tetapi juga rekam jejak dan pelembagaannya. Rekam jejak Abraham Lincoln pernah mengatakan, "A man’s character is like a tree and his reputation like it’s shadow; The shadow is what we think of it; The tree is the real thing."
Rekam jejak membantu kita memahami the real thing, yaitu pohon atau jati diri seseorang yang terbentuk dari apa yang dilakukan bertahun-tahun. Sayang, rekam jejak di Indonesia belum sepenuhnya mencerminkan "pohon" seseorang. Penelusurannya belum dapat dilakukan secara terbuka dengan data-data akurat. Terlebih lagi, banyak data diperoleh melalui pihak ketiga dan laporan masyarakat yang bersifat undercover, confidential, dan tidak tertutup datang dari kalangan "sakit hati". Data itu perlu dibaca dengan penuh kehati-hatian.
Alih-alih mendapat pohon (karakter dan leadership), yang diperoleh hanya bayangan (reputasi), yang bentuknya bisa bermacam-macam. Apalagi seorang change maker, kesannya bisa seperti monster. Orang-orang yang terusik akan berupaya mati-matian menimbulkan impresi jahat. Pengalaman sejarah yang memalukan tidak boleh terulang dalam pemilihan sosok berintegritas. Dalam sejarah kemerdekaan, yang tidak suka dengan tetangganya melaporkan orang itu sebagai pejuang untuk ditahan dan disiksa kompeni (Belanda).
Dalam sejarah pembubaran PKI, lagi-lagi banyak fitnah "sakit hati" ditaburkan sehingga terlapor dibinasakan tentara. Kehati-hatian adalah wisdom, bukan "kurang berani". Untuk memilih pemberani, pansel harus punya nyali, termasuk saat diolok-olok. Oleh karena itu, pengecekan silang menjadi penting dan dilakukan berkali-kali. Pengalaman empiris menemukan, amat mungkin topeng integritas satu-dua orang baru terbuka setelah ia terpilih seperti kata Arthur Schopenhauer. Karena jarak antara cross-check dan pengumuman amat pendek, proses berikut di DPR menjadi amat penting. Meski DPR memakai lensa politik, integritas tidak dapat dijadikan alat tawar-menawar. DPR yang diawasi media tentu punya kemampuan menyaring yang lebih baik. Kalaupun tidak didapat, proses kelembagaan masih bisa menjadi tumpuan. Kelembagaan antikorupsi "Mitos orang baik" dalam proses seleksi bisa berakibat buruk jika amat dipercaya.
Dalam banyak kasus, mitos ini mengakibatkan manusia lupa membangun institusinya, berakibat "orang baik" menjadi "jahat" karena lembaganya lemah. Hampir semua komisi independen yang hanya mengandalkan pemimpin hasil seleksi, yang didukung jajaran birokrasi, mengalami guncangan integritas. Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Komisi Yudisial (KY) hanya dua contoh. Komisi lainnya tidak berarti terbebas dari masalah.
Mereka menghadapi masalah administrasi perkantoran, laporan keuangan, pengawasan, perekrutan pegawai, pengadaan barang, kepemimpinan kolektif, tata nilai (corporate culture), dan sebagainya. Maka seleksinya tidak sekadar merekrut orang, tetapi membentuk tim yang mutlak harus ada perekat.
Dalam bahasa kepemimpinan, kombinasi reptilia (penyerang, penyidik) dengan mamalia (yang memelihara organisasi) perlu menjadi pertimbangan. Setelah terbentuk, agenda pertamanya bukan menangkap penjahat, tetapi membangun dan menata kembali organisasi. Agar tidak terperangkap, manajemen harus diserahkan kepada profesional. Jadikan komisioner sebagai pemimpin perubahan.
Lembaga yang kuat menyumbang lebih dari 75 persen keberhasilan sebuah misi. Pada lembaga yang kuat, orang-orang "jahat" dapat dibentuk menjadi baik. Sebaliknya, pada lembaga yang manajemennya lemah, orang-orang "baik" dapat berubah menjadi "jahat".
By: Prof. Rhenald Kasali Salah Seorang Anggota Panitia Seleksi Pimpinan KPK, 2007.
Adalah dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Ketua Program Pascasarjana Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi universitas tersebut. Selain bergerak sebagai akademisi, pria bergelar Ph.D. dari University of Illinois ini juga produktif menulis. Buku-buku yang ditulisnya selalu menjadi perhatian kalangan bisnis dan hampir semua bukunya menjadi best seller di kalangan mahasiswa.
~Arthur Schopenhauer (1788–1860)~
Kata-kata mutiara itu mengingatkan pada cara kerja berbagai panitia seleksi yang mencari sosok berintegritas untuk masuk komisi-komisi independen. Berbagai cara dilakukan untuk mencari, mengumpulkan, memeriksa, mengendus jejak, hingga mewawancarainya. Wawancaranya pun dilakukan secara terbuka sehingga catatan-catatan negatif setiap calon menjadi tontonan publik. Orang berintegritas tidak berbohong meski catatan negatifnya bukan masalah kecil. Apa yang diucapkan itu adalah yang dilakukan, begitu pula sebaliknya. Namun, selalu saja ada satu-dua yang berbohong.
Kebohongan ini sebenarnya bisa dibaca, tetapi tidak mudah menemukan bukti-bukti. Kalaupun ada, kita hanya menemukan "bukti katanya" dari orang yang mengaku pernah mendengar. Namun, bukti otentik biasanya jarang didapat. "Bukti-bukti katanya" menjadi masalah besar. Di satu sisi menimbulkan ketidakpercayaan, di sisi lain tidak semua anggota panitia seleksi (pansel) memercayai bukti itu. Itu karena selain bukti negatif, orang-orang itu juga punya catatan positif.
Namun, berpretensi baik, seperti kata Arthur Schopenhauer, bisa membuka topeng seseorang. Hanya saja, jarak waktunya tak dalam genggaman waktu yang dimiliki pansel. Semua bisa terjadi setelah mereka terpilih. Mitos orang baik Adakah orang yang kita inginkan benar-benar baik? Jika mencari yang berintegritas saja, kiranya kita semua mempunyai calon. Namun, kita tidak mencari orang yang hanya jujur, tetapi juga mempunyai keberanian, mau memberantas korupsi, dan cerdas.
Masalahnya, orang- orang cerdas belum tentu mau memberantas korupsi, juga sebaliknya. Bergulat dengan perubahan, bangsa ini membutuhkan pemimpin. Dia bukan sekadar manajer biasa yang bekerja dengan sistem dan memelihara keseimbangan. Yang dicari adalah orang yang berani membongkar belenggu dan menanamkan nilai-nilai baru.
Karena itu, Michael Angelo pernah mengatakan, "every act of creation must be started by the act of destuction". Orang seperti itu tentu bisa dibaca dari rekam jejaknya. Semakin banyak belenggu dan tradisi yang dibongkar, semakin tidak populer dan banyak musuhnya. Yang pernah belajar leadership tentu ingat kalimat Paul Newan, "If you don’t have enemy, you don’t have character". Seperti itu pula kita membaca surat-surat bernada amat negatif yang diajukan masyarakat terhadap nama-nama yang lolos uji integritas. Selalu ada orang yang gigih mengajukan bukti-bukti yang terkesan lengkap.
Setelah ditelusuri, ada bagian yang dapat diterima, tetapi tidak semuanya dapat dipertanggungjawabkan. Sebagian informasi justru bertentangan. Kiranya seperti itulah pemimpin perubahan, kian berani, kian banyak musuhnya. Prof. Komaruddin Hidayat mengatakan, "Hanya mobil yang tak pernah keluar garasilah yang tak ada cacatnya." Namun, pemrotes selalu berkilah, "Kalau sudah banyak yang tidak senang, perannya tidak efektif?" Ada semacam rasa tidak nyaman bagi sebagian orang saat nama-nama tertentu masuk dalam list. Pansel bisa saja salah memilih, tetapi tidak bisa bekerja dengan persepsi.
Jam terbang, pengalaman, dan ilmu pengetahuan berperan besar. Hanya karena kenal, atau mereka menjadi wistleblower, belum berati orang itu mampu menjadi sosok yang dicari. Pengalaman di dunia bisnis menunjukkan tidak mudah mencari "orang baik". Selalu ada paradoks, antara pemimpin "kuat" (tetapi menyakitkan) dan pemimpin "baik" (tetapi tidak menyumbang keuntungan). Hal ini juga terjadi dalam mencari pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Mitos "orang baik" menjadi perdebatan panjang.
Seolah dengan membuang yang disangka jahat (koruptor), pasti didapat orang baik (antikorupsi). Sebenarnya orang baik dan orang jahat selalu ada di mana-mana. Manusia bisa menjadi baik dan jahat karena karakter dan lingkungannya. Namun, orang tidak otomatis menjadi sesuatu karena persepsi. Oleh karena itu, berhati-hatilah terhadap persepsi. Ini bukan sekadar komitmen ucapan (say believe), tetapi tindakan (do believe) yang hanya didapat dari ujian.
Dan suka atau tidak, ujian tidak ada di tempat bersih, tetapi di lembaga-lembaga kotor. Itulah sebabnya "orang baik" yang berasal dari lingkungan baik-baik hanya mitos. Seperti kata Plato, "hidup yang tidak teruji tidak bernilai." Maka, yang penting bukan hanya prosesnya, tetapi juga rekam jejak dan pelembagaannya. Rekam jejak Abraham Lincoln pernah mengatakan, "A man’s character is like a tree and his reputation like it’s shadow; The shadow is what we think of it; The tree is the real thing."
Rekam jejak membantu kita memahami the real thing, yaitu pohon atau jati diri seseorang yang terbentuk dari apa yang dilakukan bertahun-tahun. Sayang, rekam jejak di Indonesia belum sepenuhnya mencerminkan "pohon" seseorang. Penelusurannya belum dapat dilakukan secara terbuka dengan data-data akurat. Terlebih lagi, banyak data diperoleh melalui pihak ketiga dan laporan masyarakat yang bersifat undercover, confidential, dan tidak tertutup datang dari kalangan "sakit hati". Data itu perlu dibaca dengan penuh kehati-hatian.
Alih-alih mendapat pohon (karakter dan leadership), yang diperoleh hanya bayangan (reputasi), yang bentuknya bisa bermacam-macam. Apalagi seorang change maker, kesannya bisa seperti monster. Orang-orang yang terusik akan berupaya mati-matian menimbulkan impresi jahat. Pengalaman sejarah yang memalukan tidak boleh terulang dalam pemilihan sosok berintegritas. Dalam sejarah kemerdekaan, yang tidak suka dengan tetangganya melaporkan orang itu sebagai pejuang untuk ditahan dan disiksa kompeni (Belanda).
Dalam sejarah pembubaran PKI, lagi-lagi banyak fitnah "sakit hati" ditaburkan sehingga terlapor dibinasakan tentara. Kehati-hatian adalah wisdom, bukan "kurang berani". Untuk memilih pemberani, pansel harus punya nyali, termasuk saat diolok-olok. Oleh karena itu, pengecekan silang menjadi penting dan dilakukan berkali-kali. Pengalaman empiris menemukan, amat mungkin topeng integritas satu-dua orang baru terbuka setelah ia terpilih seperti kata Arthur Schopenhauer. Karena jarak antara cross-check dan pengumuman amat pendek, proses berikut di DPR menjadi amat penting. Meski DPR memakai lensa politik, integritas tidak dapat dijadikan alat tawar-menawar. DPR yang diawasi media tentu punya kemampuan menyaring yang lebih baik. Kalaupun tidak didapat, proses kelembagaan masih bisa menjadi tumpuan. Kelembagaan antikorupsi "Mitos orang baik" dalam proses seleksi bisa berakibat buruk jika amat dipercaya.
Dalam banyak kasus, mitos ini mengakibatkan manusia lupa membangun institusinya, berakibat "orang baik" menjadi "jahat" karena lembaganya lemah. Hampir semua komisi independen yang hanya mengandalkan pemimpin hasil seleksi, yang didukung jajaran birokrasi, mengalami guncangan integritas. Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Komisi Yudisial (KY) hanya dua contoh. Komisi lainnya tidak berarti terbebas dari masalah.
Mereka menghadapi masalah administrasi perkantoran, laporan keuangan, pengawasan, perekrutan pegawai, pengadaan barang, kepemimpinan kolektif, tata nilai (corporate culture), dan sebagainya. Maka seleksinya tidak sekadar merekrut orang, tetapi membentuk tim yang mutlak harus ada perekat.
Dalam bahasa kepemimpinan, kombinasi reptilia (penyerang, penyidik) dengan mamalia (yang memelihara organisasi) perlu menjadi pertimbangan. Setelah terbentuk, agenda pertamanya bukan menangkap penjahat, tetapi membangun dan menata kembali organisasi. Agar tidak terperangkap, manajemen harus diserahkan kepada profesional. Jadikan komisioner sebagai pemimpin perubahan.
Lembaga yang kuat menyumbang lebih dari 75 persen keberhasilan sebuah misi. Pada lembaga yang kuat, orang-orang "jahat" dapat dibentuk menjadi baik. Sebaliknya, pada lembaga yang manajemennya lemah, orang-orang "baik" dapat berubah menjadi "jahat".
By: Prof. Rhenald Kasali Salah Seorang Anggota Panitia Seleksi Pimpinan KPK, 2007.
Adalah dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Ketua Program Pascasarjana Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi universitas tersebut. Selain bergerak sebagai akademisi, pria bergelar Ph.D. dari University of Illinois ini juga produktif menulis. Buku-buku yang ditulisnya selalu menjadi perhatian kalangan bisnis dan hampir semua bukunya menjadi best seller di kalangan mahasiswa.
Saturday, August 18, 2012
High Advance Technology
1. Futures Studies & Forecasting:
Singularity
University is a
profoundly and uniquely futures-oriented institution. Its very purpose
is to identify and use exponentially-accelerating technologies to create
better conditions for everyone on Earth; to heal and nurture the planet
itself; and to guide humanity as it reaches beyond the limits of Earth
and of humanity’s historical evolution on Earth. It is the mission of
the Futures Studies and Forecasting Track to help see that this positive
futures-orientation is foremost in everything we do by presenting,
discussing, critiquing, and infusing the theories and methods of futures
studies throughout the curriculum and in all SU activities. Ray
Kurzweil, Paul Saffo, James Canton, and Jim Dator–futurists who have had
years of practical, applied, as well as academic experience in futures
studies–serve as co-chairs of this track.
TRACK CHAIRS & ADVISORY (Futures Studies & Forecasting)
- Co-Chair: Ray Kurzweil, Founder, Kurzweil Technologies, Inc.
- Co-Chair: James Canton, CEO and Chairman of the Institute for Global Futures
- Co-Chair: Jim Dator, Prof & Dir of the Hawaii Research Center for Futures Studies
- Co-Chair: Paul Saffo, Visiting Scholar in the Stanford Media X research network
- Advisor: Jerome Glenn, Director, The Millennium Project
- Advisor: John Smart, Founder & President, Acceleration Studies Foundation
- Advisor: Peter Bishop, Associate Professor, College of Technology, University of Houston
- Advisor: Will Wright, Creator: SimCity, Spore; Founder, Maxis (Electronic Arts)
2. Policy, Law & Ethics:
This
track will
examine the role of government, law and ethics in dealing with the
implications of the technologies covered in other tracks, including
reinventing patent law, the patentability of concepts developed by AI,
nanotechnology, and biotech/biomedical research; the future legal status
of AIs, robots, cyborgs, and non-terrestrial resources and possible
off-Earth civilizations; dealing with cybercrime and possible AI
manipulation of financial markets; preventing risks from unfriendly AI,
nanotech, and genetics; negative scenarios (surveillance, police states,
etc.); the precautionary principle vs. the proactionary principle;
policy and legal issues of environment crisis, and ethical issues around
anticipated human manipulations, brain enhancements, AIs,
self-replicating nanotech, brain uploads, cryogenics and re-animation.
The track will also consider the promises in addition to the perils:
what are the downside risks if we do not develop certain kinds
of biotechnology, AI, or nanotech?
TRACK CHAIRS & ADVISORY (Policy, Law & Ethics)
- Co-Chair: Tara Lemmey is the CEO of LENS Ventures
- Co-Chair: Robert Taylor, Mintz, Levin, Cohn, Ferris, Glovsky and Popeo, PC
- Advisor: Sonia Arrison, Senior Fellow, Pacific Research Institute
- Advisor: Henrik Bennetsen, Assoc Dir, Stanford Humanities Lab, Stanford Univ
- Advisor: Patrick Lin, Director, The Nanoethics Group
- Advisor: Christine Peterson, Vice President, Foresight Institute
- Advisor: Christopher Stott, Chairman & Chief Executive Officer, ManSat LLC
3. Finance & Entrepreneurship
The
exponential growth of technology, while most visible in the fields of
computing and the sciences, has had an equally dramatic effect on every
facet of the business world. From the long tail reverberations of
virtual goods, through the outsourcing of every aspect of creation and
production, to the explosive development of personal brands and the
potentially culture-changing introduction of micro-finance, the
approaching Singularity is revolutionizing our global economic system.
This track will begin in the first trimester with a rapid
trip through
the dramatic changes in business already caused by accelerating
technologies, include an introduction to business structures and
principles, provide tools and insights for monetizing the new
technologies, and culminate with cross-track workshops on both the
Essence of Entrepreneurship and Presentation and Communications Skills.
During the second trimesters, topics that will be covered
in
collaboration with other tracks include understanding the new workforce
and personal branding, private financing of space travel, the economics
of knowledge, green financing through carbon ‘cap & trade’,
virtual
market economics, microfinance and the concept of money as information.
A
field trip to the Google campus as well as special guest lectures and
hands on case studies will help Fellows come to grips with the
immediate, real-world effects of high velocity business in the age of
the Singularity.
TRACK CHAIRS & ADVISORY (Finance & Entrepreneurship)
- Chair: David S. Rose, CEO Angelsoft, Managing Principal, Rose Tech Ventures
- Advisor: Tom Byers, Prof, Stanford Univ; Stanford Technology Ventures Program
- Advisor: Kevin Epstein, Executive in Residence, Mohr Davidow Ventures
- Advisor: Timothy Ferriss, Author, The 4-Hour Workweek
- Advisor: Martin Greenberger, Professor, UCLA Anderson School of Management
- Advisor: Bob Metcalfe, General Partner, Polaris Venture Partners
- Advisor: Michael Potter, Director, Paradigm Ventures
- Advisor: Lanny Ebenstein, Professor, UC Santa Barbara
4. Networks & Computing Systems:
Calling on the rich resources
of leading-edge companies and academics in Silicon Valley, this track
covers the explosive growth of computer power and networks, focusing on
three key revolutionary areas:
(1)
Emerging and future computational and
storage technologies, including 3D molecular computing, nanocomputing,
DNA/RNA computing, plasmonics, spin storage, memristors, optical
storage, photonics, quantum computing, pico- and femtotechnology, and
autonomic computing, addressing important issues such as reversible
computing, the limits of information representation, scalable computing
systems, and future petascale and exascale supercomputers;
(2) Future
user interfaces, such as augmented reality, virtual reality. virtual
worlds, blended reality, virtual agents, bots, lifelogging,
breakthroughs in computer graphics, holographic and 3D displays,
teleimmersion, telepresence, haptic interfaces, personalized learning,
and extracting knowledge from massive volumes of data via data analysis,
data mining, and information visualization; and
(3) Intelligent
networks, including nth-generation Internet, smart search engines, the
semantic Web, smart grid, shared vs. dedicated Lightpath Internet,
cyber-physical systems and sensor networks, security and privacy vs.
transparency, mobile and location-based computing, cloud computing,
Interplanetary Internet, ubiquitous wireless networks and ubiquitous
computing, mesh networks, adaptive networks, embedded networks, and the
global physics grid.
TRACK CHAIRS & ADVISORY (Networks & Computing Systems)
- Co-Chair: Bob Metcalfe, General Partner, Polaris Venture Partners
- Co-Chair: Kevin Fall, Principal Engineer at Intel Research Berkeley
- Advisor: Vint Cerf, Vice President and Chief Internet Evangelist, Google Inc.
- Advisor: Chris DiBona, Open Source Program Manager, Google Inc.
- Advisor: Daniel Ford, Senior Mathematician, Google Inc.
- Advisor: Larry Smarr, Dir, CA Institute for Telecommunications & Information Tech
5. Biotechnology & Bioinformatics:
This
track covers the exponential growth in biotechnology and bioinformatics,
focusing on four areas:
(1)
genome technologies (genomics and
proteomics, ultra-rapid, low-cost gene sequencing, and statistical and
computational extrapolations of large biological databases);
(2)
Personalized medicine (4P medicine: personalized, predictive,
preventative, participatory; high-speed, full-genome, consumer-based
sequencing; personal SNP analysis and ethics);
(3) Intelligent design
(ultra-rapid, low-cost DNA writing, selective gene
manipulation/substitution, ethics of germline modification, RNA
interference); and
(4) Microfludics and single-molecule
technologies.
- Chair: Daniel Reda, Co-Founder, CureTogether
- Advisor: Aubrey de Grey, Chairman & CSO, Methuselah Foundation
- Advisor: David Haussler, Professor, Biomolecular Engineering, UC Santa Cruz
- Advisor: Andrew Hessel, Founding Director, Pink Army Cooperative
- Advisor: Stuart Kim, Professor, Developmental Biology, Stanford University
Sumber:
Singularity University
Tuesday, July 31, 2012
Our Summer of Climate Truth
is a professor at Columbia University, Director of its Earth Institute, and a special adviser to United Nations Secretary-General Ban Ki-Moon. His work focuses on economic development and international aid, was he was Director of the UN Millennium Project from 2002 to 2006.
His books include The End of Poverty and Common
Wealth.
NEW YORK – For years, climate scientists have been warning the world
that the heavy use of fossil fuels (coal, oil, and natural gas)
threatens the world with human-induced climate change. The rising atmospheric
concentration of carbon dioxide, a byproduct of burning fossil fuels,
would warm the planet and change rainfall and storm patterns and raise
sea levels. Now those changes are hitting in every direction, even as
powerful corporate lobbies and media propagandists like Rupert Murdoch
try to deny the truth.
In recent
weeks, the United States has entered its worst drought in
modern times. The Midwest and the Plains states, the country’s
breadbasket, are baking under a massive heat wave, with more than half
of the country under a drought emergency and little relief in sight.
Halfway
around the world, Beijing has been hit by the worst rains on record,
with floods killing many people. Japan
is similarly facing record-breaking torrential rains. Two of Africa's
impoverished drylands – the Horn of Africa in the East and the Sahel in
the West – have experienced devastating droughts and famines in the
past two years: the rains never came, causing many thousands to perish,
while millions face life-threatening hunger.
Scientists
have given a name to our era, the Anthropocene, a term built on
ancient Greek roots to mean “the Human-dominated epoch” – a new period
of earth’s history in which humanity has become the cause of
global-scale environmental change. Humanity affects not only the earth’s
climate, but also ocean chemistry, the land and marine habitats of
millions of species, the quality of air and water, and the cycles of
water, nitrogen, phosphorus, and other essential components that
underpin life on the planet.
For many
years, the risk of climate change was widely regarded as something far
in the future, a risk perhaps facing our children or their children.
That threat would, of course, have been reason enough to act. Yet now we
understand better that climate change is also about us, today’s
generation.
We
have already entered a new and very dangerous era. If you are a young
person, climate change and other human-caused environmental hazards will
be major factors in your life.
Scientists
emphasize the difference between climate and weather. The climate is
the overall pattern of temperature and rainfall in a given place. The
weather is the temperature and rainfall in that place at a particular
time. As the old quip puts it: “Climate is what you expect; weather is
what you get.”
When
the temperature is especially high, or rains are especially heavy or
light, scientists try to assess whether the unusual conditions are the
result of long-term climate change or simply reflect expected
variability. So, is the current US heat wave (making this the hottest
year on record), the intense Beijing flooding, or the severe Sahel
drought a case of random bad weather, or merely the result of long-term,
human-induced climate change?
For
a long time, scientists could not answer such a question precisely.
They were unsure whether a particular weather disaster could be
attributed to human causes, rather than to natural variation. They could
not even be sure that they could detect whether a particular event
(such as a heavy rainfall or a drought) was so extreme as to lie outside
the normal range.
In
recent years, however, a new climate science of “detection and
attribution” has made huge advances, both conceptually and empirically.
Detection means determining whether an extreme event is part of usual
weather fluctuations or a symptom of deeper, long-term change.
Attribution means the ability to assign the likely causes of an event to
human activity or other factors. The new science of detection and
attribution is sharpening our knowledge – and also giving us even more
cause for concern.
Several
studies in the past year have shown that scientists can indeed detect
long-term climate change in the rising frequency of extreme events –
such as heat waves, heavy rains, severe droughts, and strong storms. By
using cutting-edge climate models, scientists are not only detecting
long-term climate change, but also are attributing at least some of the
extreme events to human causes.
The
past couple of years have brought a shocking number of extreme events
all over the planet. In many cases, short-run natural factors rather
than human activity played a role. During 2011, for example, La Niña
conditions prevailed in the Pacific Ocean. This means that especially
warm water was concentrated near Southeast Asia while colder water was
concentrated near Peru. This temporary condition caused many short-term
changes in rainfall and temperature patterns, leading, for example, to
heavy floods in Thailand.
Yet,
even after carefully controlling for such natural year-to-year shifts,
scientists are also finding that several recent disasters likely reflect
human-caused climate change as well. For example, human-caused warming
of the Indian Ocean probably played a role in the 2011 severe drought in
the Horn of Africa, which triggered famine, conflict, and hunger,
affecting millions of impoverished people. The current US mega-drought
probably reflects a mix of natural causes, including La Niña, and a
massive heat wave intensified by human-caused climate change.
The
evidence is solid and accumulating rapidly. Humanity is putting itself
at increasing peril through human-induced climate change. As a global
community, we will need to move rapidly and resolutely in the coming
quarter-century from an economy based on fossil-fuels to one based on
new, cutting-edge, low-carbon energy technologies.
The global public is ready to hear that message and
to act upon it. Yet politicians everywhere are timid, especially because
oil and coal companies are so politically powerful. Human well-being,
even survival, will depend on scientific evidence and technological
know-how triumphing over shortsighted greed, political timidity, and the
continuing stream of anti-scientific corporate propaganda.
High Advance Technology
Singularity University is an academic institution in Silicon Valley whose stated aim is to "assemble, educate and inspire a cadre of leaders who strive to understand and facilitate the development of exponentially advancing technologies and apply, focus and guide these tools to address humanity’s grand challenges."
Modeled
on, and running contemporaneously with, the International Space University,
Singularity U is not an accredited four-year university, but is instead
intended to supplement traditional educational institutions.
It offers an annual nine-week summer course intended for graduate and
post-gradute students, one week programs for senior corporate managers,
and three day versions for CEOs.
The first nine-week program began in June 2009, with full tuition costing US$25,000 (although a majority of the participants were provided full or partial scholarships). The inaugural 2009 class was limited to 40 Fellows chosen from over 1,200 applicants. One hundred and twenty graduate and postgraduate students will be accepted for the graduate course beginning summer 2010.
The first nine-week program began in June 2009, with full tuition costing US$25,000 (although a majority of the participants were provided full or partial scholarships). The inaugural 2009 class was limited to 40 Fellows chosen from over 1,200 applicants. One hundred and twenty graduate and postgraduate students will be accepted for the graduate course beginning summer 2010.
Peter Diamandis says academic success is most likely to
be achieved when students look beyond their own niche fields and begin
to collaborate, study and understand the work of others."The biggest
breakthroughs always come in the boundaries between the disciplines," he
says.
"The traditional university
education tends to push people into narrow funnels," says co-founder
Bob Richards. "What we are setting out to do is work on a much broader
canvas. We want to take a multi-disciplinary approach."
It is overseen by a Board of Trustees, including Chancellor and Trustee Ray Kurzweil, Vice-Chancellor and Chairman Peter Diamandis, Trustee Robert D. Richards, Trustee Michael Simpson, and Trustee Salim Ismail.
Corporate founding partners and sponsors include NASA, Google, IDEO, LinkedIn, ePlanet Ventures, and the X-Prize Foundation.
Click Here
To Apply
Subjects
The University offers 10 different academic tracks, each chaired by one or more experts in the field:- Futures Studies and Forecasting (Ray Kurzweil, James Canton, Jim Dator, Paul Saffo)
- Policy, Law and Ethics (Tara Lemmey, Robert Taylor)
- Finance and Entrepreneurship (David S. Rose)
- Networks and Computing Systems (Bob Metcalfe, Kevin Fall)
- Biotechnology and Bioinformatics (Daniel Reda)
- Nanotechnology (Ralph Merkle, Robert Freitas, Jr.)
- Medicine, Neuroscience and Human Enhancement (Daniel Kraft)
- AI, Robotics, and Cognitive Computing (Neil Jacobstein, Raj Reddy)
- Energy and Ecological Systems (Sunil Paul, Michel Gelobter, Dan Whaley)
- Space and Physical Sciences (Dan Barry, Chris Boshuizen)
Programs
The University offers three kinds of academic programs:- Graduate Studies Program - a nine-week summer program for 120 students running once per year (40 students the first year)
- Executive Program (10 days) - a 40-student program running 8 times per year
- Executive Program (3 days) - a 20-student program running 8 times per year
Organization
The University is run by Executive Director Salim Ismail, along with Chief of Staff Susan Fonseca-Klein, Program Coordinator Kenneth Hurst, Vice President for University Relations Bruce Klein, and Financial Controller Alicia Isaac. The European Lead is David Orban.It is overseen by a Board of Trustees, including Chancellor and Trustee Ray Kurzweil, Vice-Chancellor and Chairman Peter Diamandis, Trustee Robert D. Richards, Trustee Michael Simpson, and Trustee Salim Ismail.
Corporate founding partners and sponsors include NASA, Google, IDEO, LinkedIn, ePlanet Ventures, and the X-Prize Foundation.
SU Executive Program
The next SU Executive Program will take place Feb 26th – Mar 7th 2010 at NASA Ames Research Center, Moffett Field, CA.
The SU Executive Program educates, informs and prepares executives to recognize the opportunities and disruptions at the intersections of industry and exponentially growing technologies.
Over-the-Horizon Radar for Executives
The SU Executive Program shows you how the intersections of convergence, exponential growth, and disruptive technologies will impact your company and industry.
Specific benefits to participants:
- Understand underlying drivers of exponential change
- Explore growth solutions based on disruptive innovation
- Create strategies of value to your company
- Gain exposure to new technologies
- Understand impacts on your industry
- Expand your networks
- Connect with a lifelong community through the Singularity University Network
SU Executive Program instructors include:
- Dan Barry, President, Denbar Robotics, former NASA astronaut
- Peter Diamandis, Founder, X PRIZE Foundation; Vice-Chancellor and Chairman, SU
- Neil Jacobstein, CEO, Teknowledge; Sr Research Fellow, Stanford University’s Media X Program
- Stuart Kim, Professor, Developmental Biology, Stanford University
- Daniel Kraft, Cancer/Stem Cell Biology Institute, Stanford University
- Ray Kurzweil, Founder, Kurzweil Technologies; Chancellor and Trustee, SU
- Ralph Merkle, Sr Research Fellow, Institute for Molecular Manufacturing
Core Briefings and Discussion
The Executive Program will concentrate on six exponential technologies:
- AI and Robotics
- Nanotechnology
- Biotechnology and Bioinformatics
- Medicine and Human-Machine Interfaces
- Networks and Computing Systems
- Energy and Environmental Systems
- Top-level Critical Concepts: The core concepts that let you understand the biggest ideas in exponential technologies. You’ll be able to recognize exponential trends and multidisciplinary breakthroughs in news and industry reports.
- Key Projected Breakthroughs: What are the top ten projected breakthroughs that executives should be watching out for in the next decade? What are their implications and leading indicators?
- Metrics: How do you monitor progress in these technology fields?
- Legal/Regulatory/Ethical Discussion: What legal and regulatory environments affect these exponentially changing fields? Do current structures account for future changes? What are the biggest ethical issues that are likely to be faced in the next decade?
- Leading Researchers and Companies: Who are the key thinkers and companies in this field that you must know about?
- Industrial Implications: How will projected breakthroughs affect specific industries within the next three to ten years?
Six two-hour time-slots for interactive workshops with leading thinkers in areas such as:
- Future Studies Tools and Predictive Markets
- The Future of Business in a World of Exponential Change
- Implications of Nanotech Factories
- Growth of AI and Robotics
- Future of Medicine & Biotechnology
- Technologies that Change Energy Systems
Executive participants will visit companies and research facilities during three half-day periods. Potential site visits include: IBM Almaden, 23andMe, Google, Nano-solar, Real-time brain scanning, NASA simulation and visualization facilities and research labs.
Industries Group Workshop
The last two full days of the program are dedicated to discussions between executives, faculty, and staff on the subject of:
- "How will these Exponential Technologies affect your industry in the next three to ten years?"
- "How does this affect your current and future planning?"
Other Program Elements
The SU Executive Program includes special events and opportunities for networking:
- Welcome Reception and Keynote Address
- VIP Lectures
- Technology Demonstrations
- Lunch and Evening Discussions, Social Events, and Networking Sessions
- Micro-BarCamp (a focused team-building exercise)
Click Here To Apply
Curriculum
- Futures Studies & Forecasting
- Policy, Law & Ethics
- Finance & Entrepreneurship
- Networks & Computing Systems
- Biotechnology & Bioinformatics
- Nanotechnology
- Medicine, Neuroscience & Human Enhancement
- AI & Robotics
- Energy & Ecological Systems
- Space & Physical Sciences
Sumber:
Singularity University
Monday, January 2, 2012
PENGEMBANGAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA DAN PEDESAAN I
Dalam keadaan mendesaknya masalah-masalah kehidupan kongkrit yang dihadapi bagian dunia yang masih terbelakang, tidak banyak gunanya menggolong-golongkan teknologi ke dalam 'teknologi sederhana,' 'teknologi menengah,' dan 'teknologi tinggi'. Jauh lebih berguna mempertanyakan teknologi manakah yang dapat memecahkan suatu masalah yang kongkrit, tanpa memperdulikan apakah teknologi yang tepat itu adalah teknologi primitif, menengah atau canggih, dan tanpa mempersoalkan di mana teknologi tersebut pertama kali dikembangkan.
Meskipun peluang ke arah transfer dan penguasaan aneka teknologi sangat dimungkinkan, tidak berarti bahwa semua teknologi akan dikembangkan di Indonesia. Setiap teknologi yang ditransfer dan dikembangkan harus di-sesuaikan dengan preferensi budaya, keadaan sosial, dan kondisi-kondisi lingkungan lainnya.
(Prof. B.J. Habibie)
Manusia tidak dapat dipisahkan dari teknologi. Teknologi terkandung di dalam dirinya dan di dalam cara-cara hidupnya dalam masyarakat. Teknologi tidak dapat terlepas dari manusia: teknologi itu hanya ada karena diciptakan oleh manusia. Kemampuan berpikir manusia yang sistematis, analitis, mendalam dan jangka panjang menghasilkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan melahirkan teknologi, yaitu cara-cara berdasar ilmu untuk menghasilkan barang atau jasa. Manusia memanfaatkan teknologi untuk menyempurnakan proses nilai-tambah, yaitu proses mengubah bahan mentah dan barang-barang setengah jadi menjadi barang-barang jadi yang memiliki nilai yang lebih tinggi. Teknologi penting karena merupakan penggerak utama proses nilai tambah tersebut.
Sedangkan proses nilai tambah itu sendiri merupakan proses kompleks yang berjalan terus-menerus dan hanya dapat dikatakan berhasil jika pemanfaatan mesin, keterampilan manusia, dan material sepenuhnya dapat diintegrasikan oleh teknologi sehingga menghasilkan produk barang dan jasa yang bernilai lebih tinggi dari nilai material dan masukan lainnya. Karena sifat integratif inilah maka dalam suatu proses ekonomi apa pun juga, teknologi merupakan unsur yang paling menentukan dalam proses nilai tambah.
Semakin efisien dan produktif proses nilai tambah, semakin meningkat taraf hidupnya. Taraf hidup manusia yang meningkat melahirkan cara-cara berpikir, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang lebih maju lagi. Dan demikian seterusnya. Maka lahirlah suatu lingkaran peningkatan antara tingkat perkembangan teknologi karena taraf kehidupan manu- sia dan karena tingkat perkembangan teknologi.
Semakin efisien dan produktif proses nilai tambah, semakin meningkat taraf hidupnya. Taraf hidup manusia yang meningkat melahirkan cara-cara berpikir, ilmu pengetahuan, dan teknologi yang lebih maju lagi. Dan demikian seterusnya. Maka lahirlah suatu lingkaran peningkatan antara tingkat perkembangan teknologi karena taraf kehidupan manu- sia dan karena tingkat perkembangan teknologi.
Dari apa yang dikemukakan tadi dapat ditarik suatu kesimpulan sederhana tetapi cukup penting. Bahwa hadirnya teknologi dalam kehidupan manusia berarti hadirnya kemungkinan peningkatan kemampuan berproduksi dan peningkatan taraf kehidupan suatu masyarakat.
Ini berlaku bagi setiap manusia di semua masyarakat, baik di Eropa maupun di Asia, di Jepang maupun di Afrika, di Amerika Utara maupun di Amerika Latin, di negara-negara maju maupun di negara-negara berkembang. Dengan demikian, setiap masyarakat di muka bumi ini memiliki kesempatan membangun dirinya sebagai bangsa, selama padanya disediakan teknologi. Karena itulah dalam berbagai kesempatan lain, saya kemukakan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kunci penyempurnaan proses nilai tambah yang diperlukan setiap masyarakat dalam melaksanakan pembangunan bangsa.
Pengertian Teknologi "Tepat-Guna"
Seperti kita ketahui, teknologi dapat didefinisikan de-ngan berbagai cara. Namun dipandang dari maknanya yang terlebih umum istilah itu mencakup setiap pengetahun yang diperlukan untuk memproduksi barang dan jasa. Pengetahuan ini dapat memacu kepada pengetahuan khas yang terkandung dalam suatu formula dalam rancang-bangun, cetakan-biru instrumen serta dalam mesin tertentu. Ia juga dapat bermakna pengetahuan serta pengelolaan umum pada berbagai tingkat, termasuk misalnya prosedur akuntansi, teknik-teknik pemasaran, aneka motode dan teknik organisasi, dan sebagainya yang relevan terhadap rancang-bangun dan pengoperasian garis-garis serta jaringan produksi.
Dua unsur yang mutlak penting dalam definisi teknologi secara umum, ialah :
Yang satu ialah pandangan bahwa bagaimana pun juga batasannya, teknologi berarti penjelmaan atau wujudnya pengetahuan manusia. Yang kedua ialah gagasan bahwa berbeda dari aneka jenis pengetahuan manusia lainnya, teknologi berarti pengetahuan terapan yang khusus berkait- an dengan produksi. Kedua gagasan itu membawa dua implikasi yang amat penting.
Yang satu ialah bahwa pengembangan dan pengalihan teknologi berarti pengembangan serta pengalihan pengetahuan serta ketrampilan manusia yang relevan dengan produksi barang dan/atau jasa. Yang kedua ialah bahwa karena produksi barang dan jasa sangat dipengaruhi oleh kebutuhan manusia serta pandangan manusia mengenai bagaimanakah rupanya kehidupan yang menyenangkan maka jenis-jenis teknologi yang dikehendaki manusia dan juga untuk dikembangkan, terutama ditentukan oleh budaya, tradisi serta tingkat kemajuan bendawi serta pandangan manusia bersangkutan berkenaan dengan kehidupan.
Saya ingin secara luas membincangkan kedua tema tersebut, karena keduanya merupakan dorongan utama bagi kebijakan kami berkenaan dengan soal alih teknologi dalam rangka program bantuan.
Karena yang menjadi inti teknologi adalah pengetahuan, ketrampilan manusia dalam menanggulangi masalah praktis berkenaan dengan produksi maka intisari dari pengembangan dan pengalihan teknologi adalah pengembangan dan pengalihan pengetahuan itu. Memang benar kemampuan manusia untuk memecahkan aneka masalah banyak akan bertambah dengan penggunaan mesin serta alat-alat. Namun mesin serta alat-alat itu tidak dapat secara tersendiri meningkatkan volume serta mutu barang dan jasa yang dihasilkan. Jangan lagi akan menentukan barang atau jasa yang manakah akan dihasilkannya serta berapa jumlahnya atau bagaimanakah mutunya, melainkan hanyalah ketram-pilan dan manusia yang menggunakan alat-alat dan mesin itu yang dapat menentukan apakah jumlah dan mutu barang atau jasa yang dihasilkan akan ditingkatkan.
Kesempatan selanjutnya kami pergunakan untuk mengemukakan pengertian teknologi dalam hubungannya dengan aspek masyarakat. Kita artikan teknologi sebagai penerapan ilmu pengetahuan untuk memproduksi barang-barang dan jasa yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan manusia, teknologi juga menunjukkan cara-cara penggunaannya secara lebih efektif dan efisien. Suatu pengetahuan yang berhubungan dengan alat-alat, bahan-bahan, mesin atau perlengkapan yang sebenarnya untuk mendapatkan hasil-hasil yang diinginkan disebut "hardware technology"; sedangkan di pihak lain "software technology" berhubungan dengan ketrampilan teknik, jasa, prosedur di dalam disain pembuatan dan penggunaan dari "hardware technology" dimaksud.
Teknologi sangat erat hubungannya dengan ilmu pengetahuan dan ilmu teknik khususnya yang menyangkut "engineering". Jelas bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan unsur pokok dalam proses kemajuan dan modernisasi masyarakat.
Untuk menuju ke arah modernisasi masyarakat antara lain kita harus membuka diri terhadap berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dari yang sederhana dan konservatif sampai pada teknologi yang tinggi sekalipun.
Pada hakekatnya ada dua jenis teknologi. Pertama, jenis teknologi yang berhubungan dengan pengembangan jenis industri di mana harus mengutamakan penyerapan tenaga kerja dan bahan-bahan setempat, maka teknologi industri harus disesuaikan dengan pertimbangan faktor produksi yang tersedia dalam masyarakat. Artinya harus diadakan adaptasi dengan pertimbangan kenyataan dalam masyarakat sendiri (adaptasi teknologi).
Kedua, jenis teknologi maju (advanced technology) yang oleh masyarakat ilmiah kita sendiri belum dapat dilakukan pengembangan dan penguasaannya secara menyeluruh; sedangkan jenis teknologi inipun sangat kita perlukan. Sebabnya tak lain karena berbagai bidang yang vital untuk pembangunan kita hanya dapat digarap dengan teknologi maju.
Hal yang demikian sudah tentu berlaku dalam pengembangan sumber-sumber energi, sumber-sumber alam dan lain-lain peralatan teknik yang diperlukan bagi peningkatan kemampuan manusia dan penggunaan panca inderanya (umpamanya sensory, capability, power control) dan lain-lainnya lagi.
Arti Penting Teknologi
Bagi negara-negara berkembang, arti pentingnya teknologi kian terasa jika dikaitkan dengan adanya ledakan penduduk di satu sisi, dengan kenyataan masih tertinggalnya taraf hidup sebagaian besar rakyatnya dibandingkan dengan negara-negara maju.
Penduduk dunia saat ini telah melampaui angka lima milyar. Tetapi dari angka sebanyak itu, hanya sekitar 600 juta saja penduduk yang tinggal di negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Maka dapat dikatakan bahwa tidak lebih dari 12 persen penduduk dunia kini hidup di negara-negara maju berteknologi canggih dan menikmati tingkat hidup yang tinggi, sedangkan sebagian besar sisanya (88%) justru bercokol di negara-negara yang berpenghasilan menengah dan rendah.
Sementara itu, teknologi komunikasi dan pengangkutan modern telah menjadikan dunia semakin kecil. Teknologi telah menjadikan prasarana ekonomi dunia semakin lengkap. Jaringan informasi memungkinkan mengalirnya informasi dengan cepat dari satu bagian dunia ke bagian lain. Apa saja yang terjadi di dunia secara cepat dapat diketahui di mana pun. Sarana-sarana pengolah data dan analisa informasi memungkinkan dibuatnya kebijakan-kebijakan yang secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi perkembangan ekonomi dan taraf hidup masyarakat bagian dunia tertentu.
Di samping itu, meluasnya jaringan perhu- bungan dan saling terkaitnya kehidupan bangsa yang satu dengan bangsa lainnya; dan dengan semakin terkaitnya kehidupan orang satu sama lainnya, kejadian perang, bencana alam, atau kejadian penting apa pun di sudut-sudut dunia tertentu akan mempengaruhi kehidupan di sudut dunia lainnya.
Di samping itu, meluasnya jaringan perhu- bungan dan saling terkaitnya kehidupan bangsa yang satu dengan bangsa lainnya; dan dengan semakin terkaitnya kehidupan orang satu sama lainnya, kejadian perang, bencana alam, atau kejadian penting apa pun di sudut-sudut dunia tertentu akan mempengaruhi kehidupan di sudut dunia lainnya.
Perkembangan ini telah menjadikan delapan puluh delapan persen penduduk dunia, termasuk yang hidup di negara-negara berkembang, setidak-tidaknya lebih mengetahui mengenai apa yang dapat dimungkinkan oleh teknologi masa kini.
Di dalam dunia yang semakin mengecil ini semakin tidak realistis, dan bagi manusia berpendidikan dan beradab tinggi, dunia tersebut semakin tidak dapat dipertanggungjawabkan untuk menganggap bahwa di dunia ini seolah-olah tidak ada orang atau bangsa yang miskin dan untuk menyaksikan kesengsaraan mereka dengan acuh tak acuh. Karena taraf hidup dan budaya manusia di negara-negara maju makin tinggi, seyogyanya makin besar pula rasa tanggungjawab mereka atas nasib manusia di negara-negara yang kurang maju, tanpa memandang warna kulit, kelamin, keturunan, dan agama.
Karena itu tidak ada alasan yang kuat untuk membatasi kesempatan penduduk dunia yang masih terkebelakang ini untuk menjangkau teknologi masa kini serta memanfaatkannya untuk mengatasi masalah kehidupan yang dihadapinya sekarang dan di masa depan. Kecuali teknologi yang berhubungan dengan masalah pertahanan-keamanan, tidak ada alasan yang kuat bagi masyarakat negara maju untuk bersikap tidak senang hati mengalihkan teknologinya pada negara lain, terutama pada negara sedang berkembang.
Dalam kondisi kian mendesaknya masalah kehidupan kongkrit yang dihadapi bagian dunia yang masih terkebelakang, tidak banyak gunanya menggolong-golongkan teknologi ke dalam "teknologi sederhana", "teknologi menengah", "teknologi tinggi" atau "teknologi tepat" dan "teknologi canggih" sebagaimana sering dilakukan oleh orang yang sehari-harinya justru tidak bekerja dengan teknologi dan yang mendasarkan klasifikasinya semata-mata berdasarkan observasi mereka terhadap pekerjaan orang lain yang setiap harinya bergelut dengan teknologi.
Kesimpulan bahwa teknologi yang tepat bagi bangsa-bangsa tertentu di Asia, Afrika atau Amerika Latin yang taraf hidupnya sekarang relatif masih primitif adalah teknologi yang primitif pula, juga tidak banyak menolong bangsa-bangsa yang masih "primitif" itu.
Mengatakan bahwa untuk pemetaan dan inventarisasi sumber daya alamnya, bangsa bertingkat hidup "primitif" tidak boleh menggunakan penginderaan jarak jauh karena terlalu maju baginya adalah menghukum bangsa tersebut untuk tetap primitif. Mengatakan bahwa bagi mereka teknologi yang cocok untuk menanggulangi penyakit adalah teknologi kesehatan yang primitif berarti mengekalkan kesengsaraannya. Mengatakan bahwa untuk meramalkan cuaca, memberantas hama, mengatasi bencana alam, memperoleh air bersih, meningkatkan produktivitas pertanian pangan, dan sebagainya, bangsa bertingkat hidup primitif sebaiknya hanya menggunakan teknologi primitif pula justru memperkuat lingkaran setan ketidaktahuan dan kemiskinan.
Jauh lebih berguna untuk mempertanyakan teknologi manakah yang dapat memecahkan suatu masalah kongkret tanpa memperdulikan apakah teknologi yang tepat, dalam arti berguna untuk memecahkan masalah itu, adalah teknologi primitif, menengah, maju atau canggih; dan tanpa mempersoalkan di mana teknologi tersebut pertama kali dikembangkan.
Jauh lebih baik membangun untuk percaya bahwa de-ngan persiapan dan pembinaan yang matang, kemampuan masyarakat mana pun dapat ditingkatkan sehingga sanggup melakukan lompatan dalam daya penalaran dan daya kha-yalnya untuk menguasai ilmu dan teknologi yang paling canggih sekalipun; yang tepat dan berguna baginya untuk memecahkan persoalan-persoalan kongkrit yang dihadapinya dalam kehidupannya sehari-hari, dan untuk menyempurnakan proses nilai tambahnya.
Jelas dari apa yang telah dikemukakan tadi bahwa teknologi canggih bukan suatu hak istimewa yang diperuntukkan bagi bangsa-bangsa yang telah maju.
Terlebih lagi jika diingat bahwa skenario pembagian kerja dunia sekarang ini telah berubah dari apa yang berlaku sebelum munculnya negara merdeka baru sekitar akhir Perang Dunia Kedua. Pada zaman itu, pembagian kerja dunia relatif sederhana. Di daerah-daerah terkebelakang, tenaga kerja murah dimanfaatkan untuk mengolah sumber daya alam menjadi bahan baku bagi industri di belahan negara maju, yang kemudian diolah menjadi produk-produk yang dipasarkan ke negara atau daerah lain termasuk penyedia bahan mentah tadi. Pengolahan bahan mentah menjadi produk final dilakukan dengan teknologi yang lebih maju dan menggunakan tenaga kerja yang lebih terampil dan karenanya, lebih mahal.
Sebagian nilai tambah yang terbentuk digunakan untuk penelitian dan pengembangan dalam rangka menyempurnakan teknologi dan mengembangkan teknologi baru. Melalui teknologi baru dan yang disempurnakan itu produktivitas dan efisiensi proses nilai tambah dapat ditingkatkan, biaya produksi dapat ditekan, ragam produk dapat diperluas dan mutunya dapat semakin ditingkatkan.
Sebagian nilai tambah yang terbentuk digunakan untuk penelitian dan pengembangan dalam rangka menyempurnakan teknologi dan mengembangkan teknologi baru. Melalui teknologi baru dan yang disempurnakan itu produktivitas dan efisiensi proses nilai tambah dapat ditingkatkan, biaya produksi dapat ditekan, ragam produk dapat diperluas dan mutunya dapat semakin ditingkatkan.
Baiklah saya ajukan suatu contoh dalam sektor pertanian. Untuk mengembangkan teknologi pertanian di Indo- nesia tidaklah cukup pemanfaatan sesempurnanya beasiswa untuk belajar di negara-negara maju mempelajari ilmu pertanian di perguruan tinggi. Jenis pendidikan formal semacam ini memang penting.
Namun yang mutlak perlu untuk pengembangan teknologi pertanian di Indonesia adalah kemampuan para ahli ilmu dan teknologi pertanian untuk menerapkan serta mengembangkan metoda misalnya mengenai penggunaan radio-isotop untuk memandulkan serangga yang digiarakan bersama dengan insektisida, obat pemandulan kimiawi (chemosterilants) dan feromon kelamin dalam suatu program menyeluruh untuk pemantrasan serangga dalam rangka penyelengaraan program produksi bahan pangan, serta untuk mengembangkan aneka teknologi dan prosedur yang kompatibel dengan karakteristik arah dimana hendak diterapkan aneka teknologi yang serba canggih itu.
Bersambung
Namun yang mutlak perlu untuk pengembangan teknologi pertanian di Indonesia adalah kemampuan para ahli ilmu dan teknologi pertanian untuk menerapkan serta mengembangkan metoda misalnya mengenai penggunaan radio-isotop untuk memandulkan serangga yang digiarakan bersama dengan insektisida, obat pemandulan kimiawi (chemosterilants) dan feromon kelamin dalam suatu program menyeluruh untuk pemantrasan serangga dalam rangka penyelengaraan program produksi bahan pangan, serta untuk mengembangkan aneka teknologi dan prosedur yang kompatibel dengan karakteristik arah dimana hendak diterapkan aneka teknologi yang serba canggih itu.
Bersambung
Sunday, June 19, 2011
SUMBERDAYA MANUSIA UNTUK PEMBANGUNAN NILAI TAMBAH Bag. I
UNTUK PEMBANGUNAN NILAI TAMBAH
Persoalan pembangunan nasional pada dasarnya adalah persoalan pengembangan, pemeliharaan dan pemanfaatan sumberdaya manusia Indonesia secara terarah, yang ditujukan pada sasaran-sasaran perjuangan bangsa.
Pengembangan sumberdaya manusia merupakan suatu bagian pokok dari usaha pembangunan nasional. Usaha ini meliputi pendidikan dan pembinaan, serta kemampuan untuk menangani, menggunakan dan mengendalikan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan maksud untuk meningkatkan nilai tambah di dalam usaha memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat bersaing di pasaran dalam dan luar negeri.
(B.J. Habibie)
(B.J. Habibie)
Apabila kita letakkan imajinasi kita pada titik awal kemerdekaan Bangsa Indonesia, lalu bergerak ke depan, untuk memotret kinerja pembangunan hingga saat ini, segera akan muncul sebait pertanyaan di benak kita: Apa sesungguhnya yang telah terjadi dalam proses pembangunan di negeri ini?
Sebuah negeri "untaian zamrut khatulistiwa", dengan rangkaian kepulauannya yang membentang dari 95 BT hingga 142 BT, dan jumlahnya tak kurang dari 17.000 pulau. Jika peta kepulauan Indonesia itu dibentangkan pada peta Eropa dengan skala yang sama, kita dapat melihat bahwa Banda Aceh berada di Barat Laut Skotlandia sedangkan Merauke hampir-hampir mencapai daratan Ukraina; pada peta Amerika Serikat kita lihat Banda Aceh berada di Barat Laut California sedangkan Merauke berada di Samudra Atlantik.
Di tengah-tengah sebaran pulau yang luas itu, proses-proses geologi yang telah berjalan puluhan, bahkan ratusan juta tahun telah memungkinkan terjadinya berbagai mineral logam, batu-batuan untuk bahan bangunan, jebakan-jebakan batu bara, minyak dan gas bumi. Rangkaian pegunungan volkanik telah memberikan tanah pertanian yang subur, disamping sumber-sumber daya geothermal dengan potensi yang amat besar. Sungai dan danau merupakan potensi sumber tenaga air ribuan MW. Hutan belantara di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya dan lain-lain merupakan gudang bagi sumber daya hutan yang kaya raya.
Di samping itu, negeri ini mempunyai lautan yang luas; isinya merupakan sumber pangan yang tak habis-habisnya jika dipelihara dan diolah dengan bijaksana. Tidak ada satu negara pun di dunia ini yang mempunyai garis pantai sepanjang garis pantai kepulauan Indonesia. Dan di antara lautan ini ada yang berkedalaman beberapa puluh dan bahkan beberapa ratus meter. Di kawasan Indonesia bagian Timur, terdapat cekungan-cekungan dengan kedalaman yang mencapai sampai 5000 meter.
Alam Indonesia beraneka ragam; dari dataran alluvial seperti pantai utara pulau Jawa hingga ke pegunungan yang ditutupi salju abadi dan ratusan puncak gunung berapi de-ngan ketinggian beribu meter.
Singkat kata, ini negeri benar-benar tanah sorga. Tapi di negeri sekaya ini, kehidupan warganya belum sepenuhnya terbebas dari belenggu kemiskinan. Tantangan pembangunan di negeri ini masih berkisar pada persoalan-perso- alan mendasar seperti; keperluan untuk menampung pertambahan penduduk yang belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Tantangan untuk mengusahakan terhapusnya kemiskinan yang melanda bagian besar masyarakat, dan kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara permintaan sumber-sumber alam yang kian meningkat dengan keseimbangan ekosistem dan pembangunan yang berkelanjutan.
Tantangan utama yang dihadapi perekonomian Indonesia dengan penduduknya pada tahun 2000 nanti diperkirakan berjumlah sekitar 216 juta jiwa, adalah tantangan untuk mengentaskan orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Meskipun dalam 25 tahun PJPT I jumlah mereka yang tergolong ke dalam kategori ini bisa ditekan secara signifikan, jumlah mereka masih cukup banyak (sekitar 27 juta). Sementara kita masih berjuang untuk mengatasi hal ini, kita juga dihadapkan pada tantangan untuk menyediakan kesempatan kerja bagi sekitar 11,9 juta orang yang diperkirakan akan memasuki pasaran kerja selama periode lima tahun ini.
Kita harus berjuang keras untuk menyediakan kesem-patan kerja bagi rata-rata 2,4 juta orang calon pekerja baru setiap tahun. Dan itu sungguh mendesak dipandang dari sudut keadilan sosial yang juga merupakan suatu asas dalam usaha pembangunan nasional.
Jika ledakan penduduk dan kesempatan kerja ini kurang mendapatkan perhatian yang memadai, maka konsekuensinya akan merembet pada kehidupan sosial, politik, budaya dan juga ancaman pada kelestarian lingkungan.
Ini menuntut perhatian kita semua. Karena bumi yang terbatas ini memang terasa makin padat dan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya telah makin memberi tekanan pada lingkungan alam. Apabila kebaikan lingkungan hidup ini kita abaikan, bukannya mustahil, bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama kita akan dikejutkan oleh kenyataan bahwa kita sendirilah yang pertama-tama menjadi korban dari pembangunan yang kita kerjakan dan bukannya merasakan kebahagiaan seperti yang diidam-idamkan.
Hal ini menyadarkan kita semua. Di satu sisi kita patut bersyukur bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam dan sumber daya energi yang sangat berlimpah. Meskipun de- mikian, kita harus pandai menggunakan sumber daya yang tersedia ini agar benar-benar dapat dipupuk sebagai modal pembangunan.
Tanpa kapandaian yang memadai, sumber daya yang berlimpah bukannya jaminan bagi terciptanya kesejahteraan masyarakat. Bahkan bisa jadi alasan bagi hidup malas sambil menghambur-hamburkan sumberdaya secara tidak efisien, sekadar untuk memunuhi desakan hidup jangka pendek. Yang pada ujungnya akan menjadi bumerang yang mengancam kelangsungan hidupnya sendiri. Sebaliknya sejarah menunjukkan, tak sedikit negara yang miskin dalam pemilikan sumber daya alamnya bisa mencapai tingkat kemajuan yang mencengangkan, karena kemampuannya dalam mengelola dan menggerakkan sumberdaya manusia yang ada.
Ini menjadi pelajaran betapa besarnya peranan sumber daya manusia demi tercapainya tujuan pembangunan suatu negara. Dapat dikatakan bahwa tumpuan dasar keberhasilan pembangunan suatu bangsa sangat ditentukan oleh mutu sumberdaya manusia yang dimilikinya. Dilihat dari sudut ini, persoalan pembangunan nasional pada dasarnya adalah persoalan pengembangan, pemeliharaan dan pemanfaatan sumberdaya manusia Indonesia secara terarah, yang ditujukan pada sasaran-sasaran perjuangan bangsa.
Kondisi Sumberdaya Manusia Indonesia
Arti pentinya sumber daya manusia sebagai modal pembangunan, dibuktikan antara lain oleh Robert Solow, penerima hadiah Nobel dalam bidang ilmu ekonomi tahun 1987. Dalam penelitiannya ia membuktikan bahwa meskipun faktor "kapital" memiliki kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi, namun faktor tenaga kerja dengan keterampilan dan teknologi yang dikembangkan dan digunakannya, serta kemampuan manajemennya, merupakan variabel yang lebih signifikan dalam proses peningkatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Sementara itu, dalam kasus negara-negara industri baru di Asia, banyak studi yang menunjukkan bahwa, perubahan teknologi dan kapabilitas sumberdaya manusianya merupakan faktor sentral dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi di negara-negara tersebut.
Akumulasi modal manusia dapat menggeser keunggulan komparatif suatu negara ke arah produk bersifat padat modal manusia sebagaimana akumulasi modal fisik menggeser keunggulan komparatif suatu negara menjadi produk padat fisik. Ketidakpastian dalam perekonomian internasional dapat lebih meyakinkan dihadapi dengan peningkatan pendidikan dan latihan yang dapat menciptakan fleksibilitas dan kemungkinan mempunyai expected rates of return yang relatif tinggi. Karena itu pendidikan umum semestinya menciptakan keterampilan tertentu (termasuk kemampuan berhitung, komputer dan kemampuan bahasa), tetapi yang lebih penting adalah harus menciptakan dasar bagi fleksibilitas di masa depan. Tujuannya adalah menciptakan kemampuan untuk belajar pengetahuan umum yang fleksibel tidak menciptakan kemampuan khusus yang akan cepat tidak terpakai lagi. Sedangkan latihan di tempat pekerjaan adalah bersifat spesifik bagi kebutuhan industri atau perusahaan bersangkutan.
Bila hasil-hasil penelitian ini dihubungkan dengan konteks Indonesia, gambaran yang kurang menggembirakan akan segera tampak. Kendatipun menurut pengamatan UNDP sejak 1970 - 1990, Indonesia termasuk salah satu negara berkembang selain Saudi Arabia, Korea Selatan, Mauritius, Malaysia, Tunisia, Syria, Botswana, Turki, Gabon dan Aljazair yang mengalami peningkatan yang pesat dalam Human Development Index-nya (antara lain meliputi income nasional, harapan hidup, dan pencapaian pendi-dikan), akan tetapi pencapaian tersebut tidak sama seperti jalan yang ditempuh oleh Malaysia dan Korea Selatan (Korsel). Jika Malaysia dan Korsel mencapai perkem-bangan yang mengesankan berkat investasinya dalam masyarakat (SDM), maka bagi Indonesia seperti halnya Saudi Arabia, kemajuan itu diraih lewat "rezeki nomplok", berupa menjulangnya harga minyak pada tahun 1970-an.
Semata-mata mengandalkan keunggulan komparatif lewat "kekuatan minyak" pada kenyataannya amat rapuh. Selain sangat rentan terhadap perubahan situasi pasar internasional, cadangannya pun mulai menyusut. Pertumbuhan konsumsi dalam negeri lebih tinggi daripada laju pertumbuhan produksinya. Sehingga diperkirakan dalam 10 atau 20 tahun lagi, Indonesia sudah mulai harus mengimpor minyak bumi. Padahal dengan eksploitasinya yang berlimpah dan harganya yang tinggi sekalipun, kepesatan HDI kita belum mampu mengimbangi kepesatan HDI Malaysia dan Korsel -- berkat investasinya yang sungguh-sungguh dalam pengembangan sumberdaya manusia.
Menyadari hal ini, jauh-jauh hari, sejak anjloknya harga minyak pemerintah lebih memfokuskan perhatiannya pada sektor non-migas. Dan hasilnya cukup menggemberikan. Sejak awal tahun 1980-an, ekspor non-migas kita sudah melebihi ekspor migas. Akan tetapi, kekuatan sektor non-migas ini terutama pada paruh awal 1980-an lebih bertumpu pada ekspor komoditi primer hasil-hasil pertanian. Kalaupun ada keluaran industri yang bisa diekspor, unggulan kompetitifnya lebih banyak mengandalkan pada upah buruh yang murah. Padahal kekuatan inipun sebenarnya amat rentan. Selain nilai tambahnya kecil, negara-negara industri di masa depan kemungkinan akan mengurangi kebutuhannya akan impor komoditi primer dari negara-negara berkembang, karena temuan-temuan baru dalam bahan-bahan yang dapat mensubstitusi komoditi tersebut. Sedangkan upah buruh yang murah juga akan segera terbentur pada keterbatasan pasar dan adanya persaingan keras dari negara-negara berkembang lainnya yang berpenduduk lebih padat.
Mempertimbangkan hal ini, terutama pada paruh kedua tahun 1980-an, berbagai kebijakan seperti deregulasi dan debirokratisasi telah digulirkan oleh pemerintah dalam rangka memacu pertumbuhan dan produktivitas sektor industri. Hasilnya bisa dirasakan. Sumbangan sektor industri terhadap produksi nasional kian bertambah. Jika pada tahun 1970, sektor pertanian menghasilkan 46% dan industri pengolahan 8,4% dari PDB. Maka pada tahun 1990, peranan sektor pertanian menurun menjadi kurang dari sete-ngahnya, yakni sekitar 20%, sedangkan peranan industri pengolahan meningkat lebih dari 2 kali lipatnya, yaitu sekitar 19%.
Namun demikian, pesatnya laju pertumbuhan industri ini, ternyata tidak diikuti oleh pesatnya daya serap industri terhadap tenaga kerja. Sampai tahun 1989, ketika laju pertumbuhan industri mencapai 9,09%, laju penyerapan tenaga kerjanya hanya 3,78%, sehingga pada tahun 1990, sektor industri hanya menyediakan kontribusi sebesar 10,14% dari total angkatan kerja (lihat Tabel). Sementara itu, hampir dalam waktu bersamaan, meskipun pertumbuhan sektor pertanian terus menurun, tapi daya serap tenaga kerjanya masih tinggi walaupun cenderung menurun. Dalam kurun waktu 1968 - 1988 sektor pertanian mencerap 40% dari total tambahan angkatan kerja. Ini berarti pipa alir tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri arusnya sa-ngat kecil. Masalahnya adalah, selain keterbatasan yang melekat pada sektor industri pengolahan Indonesia, terutama karena angkatan kerja pertanian pada umumnya kurang mempunyai keterampilan yang dapat dimanfaatkan langsung oleh sektor industri dan jasa.
| Pertanian Industri Pengolahan Perdagangan Jasa Kemasyarakatan Sektor lainnya Tak Terjawab | 4,90 11,99 9,06 4,32 2,68 - | 4,53 7,59 -1,27 -0,34 2,73 55,67 | 3,69 9,09 9,95 6,19 8,04 - | 1,54 3,78 4,35 5,05 11,65 1,35 | 2,77 12,30 8,31 5,01 7,28 - | 3,12 18,42 2,69 -22,65 48,07 6,42 | |||
Sementara itu, di sisi lain bisa dilihat, kendatipun produktivitas dan pertumbuhan sektor industri terus meningkat, namun tidak demikian halnya dengan nilai tambah yang dihasilkan tenaga kerja. Jika diukur berdasarkan rasio upah terhadap nilai tambah, maka pada awal tahun 1990-an ini justru terjadi penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas sektor industri selama ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor produksi lainnya, terutama faktor mesin atau peralatan produksi yang lain. Sedangkan nilai tambah yang diberikaan oleh masukan te-naga kerjanya tampak masih rendah.
Semua tanda-tanda yang mengemuka tadi sebenarnya mengisyaratkan betapa pentingnya memperhatikan masalah pengembangan sumber daya manusia yang memiliki kapabilitas Iptek dalam PJP II nanti. Arti pentingnya hal ini kian terasa bila memperhatikan trend perkembangan industri menjelang akhir abad ini, dimana terjadi pergeseran mendasar pada struktur pekerjaan yang menghasilkan nilai tukar, dari pekerjaan yang padat mesin pengolah sumber daya alam menuju padat tenaga ahli dengan kemampuan multi dan super spesialis yang menggerakkan peralatan teknologi canggih. Pergeseran ini kemudian dikenal sebagai pergeseran basis bisnis, dari resources base ke knowledge base.
Jika begitu soalnya, kita berkepentingan untuk memeriksa lebih jauh tentang kondisi objektif SDM Iptek Indonesia secara umum, terutama dalam kaitannya dengan tingkat dan kualifikasi pendidikan angkatan kerja Indonesia. Tapi di sini pun sekali lagi kita dihadapkan pada gambaran yang kurang menggembirakan.
Manusia sebagai Potensi Pembangunan
Apa yang bisa kita tangkap dari pernyataan-pernyataan di atas adalah kesepakatan nasional bahwa mulai Repelita VI, dengan tetap berlandaskan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, Bangsa Indonesia secara sistematis dan bertahap akan mentransformasikan dirinya menjadi bangsa modern, bangsa yang menguasai teknologi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, menyediakan prasarana ekonomi dan untuk menghasilkan barang dan jasa lainnya dalam rangka semakin meningkatkan kualitas hidupnya.
Dalam proses ini, tumpuan pembangunan nasional akan semakin berpindah dari pemanfaatan sumberdaya alam ke pengandalan pada kekuatan yang terkandung dalam sumberdaya yang selalu terbarukan, yaitu sumberdaya manusia Indonesia.
Sejalan dengan itu, strategi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan kita jalankan bertumpu pada pendirian bahwa kemajuan lestari suatu bangsa tidak terutama tergantung pada dimilikinya sumber-sumber kekayaan alam. Kemajuan lestari suatu bangsa tergantung pada ketangguhan, keuletan dan keterampilan sumberdaya manusia yang dimilikinya.
Untuk itu, adalah tugas kita bersama untuk melatih tenaga kerja, memanfaatkan sumber daya yang tersedia dan meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi maju dengan memakai potensi penduduk yang tersedia. Usaha ini merupakan upaya yang penuh tantangan, yang dalam mengatasinya memerlukan ketekunan. Selain itu kita harus berpacu dengan waktu, karena pembangunan tidak dapat menunggu. Tindakan ini tidak semuanya harus dilakukan oleh pemerintah tetapi dapat juga dilaksanakan oleh para pengusaha swasta kita.
Dalam kaitan ini, hal mendasar yang harus dihayati secara sungguh-sungguh adalah bahwa kita harus mulai berhenti melihat manusia sebagai suatu problema nasional, sebagai orang yang memerlukan belas kasihan tetapi tidak banyak gunanya bagi masyarakat. Ini suatu pandangan yang keliru. Kita harus mulai melihat manusia Indonesia sebagai potensi nasional yang mempunyai nilai ekonomi dan pembangunan. Manusia yang merupakan potensi ekonomi dan pembangunan itu kemudian perlu kita bina. Ia harus kita kembangkan. Ia harus kita penuhi kebutuhannya. Ia harus kita lengkapi dengan sumber-sumber daya lainnya sehingga nilai ekonominya meningkat. Ia harus diantarkan ke dalam proses industrialisasi untuk menghasilkan barang dan jasa yang bermanfaat bagi masyarakatnya sendiri maupun bagi dunia luar, sehingga ia memperoleh penghasilan yang layak melalui pertukaran barang dan jasa. Ia harus dapat mempertahankan dirinya, hasil-hasil karya serta segala keka-yaannya yang lain pada setiap saat: ia membutuhkan ketahanan. Dan karena manusia bukanlah benda mati, karena ia memiliki perasaan etika, tradisi, agama dan kebudayaan, maka haruslah pula dipelajari, dipahami serta dilestarikan dan dikembangkan segi-segi itu dari kehidupannya, sebagai landasan bagi pengembangan aspek-aspek yang telah di- sebutkan terdahulu.
Dengan kata lain, pengembangan sumberdaya manusia harus diarahkan pada upaya peningkatan nilai tambah materi dan nilai tambah pribadinya sendiri. Usaha peningkatan nilai tambah materi diorientasikan untuk mengoptimalkan nilai guna suatu barang sehingga mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi. Sedangkan upaya peningkatan nilai tambah pribadi (individu) dimaksudkan untuk menambah kapasitas pengetahuan, tingkat keterampilan dan kepekaan nilai seseorang sehingga bisa bertindak sebagai pribadi yang produktif dan berguna.
Terdapat suatu perbedaan yang sangat penting antara barang hasil proses nilai tambah materi, dan manusia terdidik sebagai hasil proses nilai tambah pribadi. Karena waktu dan keausan dalam penggunaan, produk-produk hasil proses nilai tambah materi selalu akan menurun nilainya setelah diproduksi dan akhirnya akan aus. Sebaliknya, ma-nusia terdidik yang dilibatkan secara aktif di dalam proses-proses nilai tambah materi, akan semakin meningkatkan kemampuan dan ketrampilannya, sehingga nilai tambah pribadinya akan semakin meningkat. Dengan demikiaan, proses nilai tambah materi yang ditekuninya sekaligus merupakan proses pendidikan atau proses nilai tambah pribadi. Dan peningkatan nilai tambah pribadi manusia itu akan berlangsung terus-menerus kecuali dihambat atau dihentikan karena sakit atau meninggal.
Jadi hubungan antara kedua proses nilai tambah tersebut sangat erat. Tidak ada proses nilai tambah materi tanpa proses nilai tambah pribadi manusia. Sebaliknya, akan sia-sia untuk meningkatkan nilai tambah pribadi manusia kecuali jika ditujukan untuk melaksanakan proses-proses nilai tambah materi yang sedang berlangsung atau akan berlangsung di masa depan. Di samping itu, perkembangan di dalam proses-proses nilai tambah materi akan mendorong terjadinya perkembangan dan peningkatan di dalam proses nilai tambah pribadi manusia. Suatu masyarakat yang statis di dalam perkembangan proses-proses nilai tambah materinya dan selama-lamanya menghasilkan produk-produk dengan cara-cara yang itu-itu juga, akan statis pula di dalam perkembangan proses-proses nilai tambah pribadinya: pendidikannya tidak dikembangkan.
Manusia Indonesia seperti yang saya gambarkan ini harus memiliki karakteristik peningkatan kualitas, yang meliputi:
1). Percaya kepada Tuhan YME dan berkelakuan baik;
2).Terampil dalam bidangnya berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi;
3). Bertekad mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945;
4). Berakar pada nilai-nilai budaya Indonesia;
5). Bertekad pada kepentingan nasional;
6). Bertekad pada kesatuan dan persatuan nasional.
1). Percaya kepada Tuhan YME dan berkelakuan baik;
2).Terampil dalam bidangnya berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi;
3). Bertekad mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945;
4). Berakar pada nilai-nilai budaya Indonesia;
5). Bertekad pada kepentingan nasional;
6). Bertekad pada kesatuan dan persatuan nasional.
Sumber:
Prof. B.J. Habibie
Foto:
Oleh: Arip Nurahman
"Pembangunan Sumber Daya Manusia di Indonesia Harus Selalu menjadi Priorotas Utama Setiap Masa Pemerintahan"
~Arip, Universitas Pendidikan Indonesia~
Subscribe to:
Posts (Atom)





