Thursday, October 28, 2010

Kerjasama EKONOMI INTERNASIONAL DENGAN MODUS SEGITIGA PERTUMBUHAN

Kerjasama EKONOMI INTERNASIONAL
DENGAN MODUS SEGITIGA PERTUMBUHAN

Tatkala saya diberi tugas membangun P. Batam pada tahun 1978, saya mengemukakan dua gagasan. Gagasan pertama ialah "Teori Balon", yang mengisyaratkan adanya pembangunan ekonomi secara saling berkaitan di kawasan ini; yang kedua ialah mengenai gagasan pencip- taan persekutuan semacam Benelux, antara Singapura dengan daerah-derah di sekitarnya.
Bila kerjasama INSIMA dalam pembangunan Segitiga Pertumbuhan SIJORI dijalankan secara optimum, maka keseluruhan kawasan itu dapat dijadikan suatu pusat produksi serba canggih dengan gaya hidup serba kaya serta tingkat kesehatan, pendidikan, keselamatan dan mutu lingkungan yang mutakhir. Dan tak pelak lagi, hal ini akan merupakan unsur yang penting di dalam jaringan teknologi, produksi, perdagangan serta keuangan seluruh dunia. Ia akan merupakan suatu pusat wisata, kenyamanan, peristirahatan dan rekreasi untuk masyarakatnya sendiri serta untuk kaum wisatawan internasional.
(B.J. Habibie)
Selain faktor persiapan dan perencanaan yang matang, kerjasama dalam bidang Iptek hanya akan mencapai optimalisasinya jika hal itu terintegrasi secara langsung dengan sektor produksi secara konkret. Karena dalam kenyataannya teknologi bukanlah suatu variabel eksogen yang bisa dikembangkan sepenuhnya di luar "proses-proses produksi". Sebaliknya ia merupakan variabel endogen, yang bisa mencapai perkembangannya secara optimum, jika hal itu diintegrasikan ke dalam proses produksi.
Dengan kata lain, bentuk kerjasama internasional akan lebih berarti jika dikaitkan secara langsung dengan proses industrialisasi. Dalam kaitan ini ada beberapa bentuk kerjasama yang bisa dilakukan, seperti dalam bentuk joint venture, subcontracting, lisensi, bantuan manajemen, konsulta- si dan sebagainya, yang bisa dilakukan dengan berbagai negara tanpa memandang kedekatan geografisnya.
Kendati demikian, dari sekian banyak alternatif tersebut, ada bentuk kerjasama yang lebih erat, komprehensif dan mengandung dampak multiplier effect yang sangat besar; sehingga bisa menjadi driving force bagi perkembangan perekonomian masing-masing pihak yang terlibat. Kerjasama yang dimaksud adalah kerjasama regional, antar wi- ayah-wilayah tertentu dari beberapa negara yang berdekatan, untuk membentuk apa yang disebut dengan "kutub-kutub pertumbuhan".
Belakangan ini, bentuk kerjasama pengembangan "kutub-kutub pertumbuhan" atau yang sering juga disebut kawasan segitiga, semakin banyak dijalin oleh berbagai perekonomian, terutama di kawasan Asia Timur dengan Jepang dan negara-negara industri baru (NIC's) sebagai lokomotifnya.
Di kawasan utara terdapat apa yang disebut Japan Sea Zone (JSZ), yang menyertakan kawasan Jepang sendiri dan Korea Selatan dan bahkan Vladivostok (Rusia). Di kawasan ini pula terdapat kawasan pertumbuhan Yellow Sea Zone (YSZ), yang melibatkan Korea Selatan dan Kawasan Cina bagian timur di antara Beijing dan Sanghai.
Ke bawah lagi muncul pula kawasan pertumbuhan Southern China Zone (SCZ), yang melibatkan Taiwan dan propinsi-propinsi Cina di sebelah selatan Sanghai. Di kawasan ini Taiwan ikut berperan dalam investasi yang semakin intensif di propinsi-propinsi tersebut, tetapi upaya Cina semakin meluas dengan mengundang investasi dari berbagai belahan dunia. Kebijakan insentif investasinya pun semakin dibuat menarik agar modal luar negeri semakin besar jumlahnya.
Reformasi dan rasionalisasi ekonomi di Vietnam sangat memungkinkan untuk menampilkan kawasan pertumbuhan baru dengan Thailand, yang kini mulai dikenal dengan sebutan Baht Economic Zone (BEZ). Artinya, setelah regim baru di Vietnam menyadari pentingnya perekonomian yang terbuka, maka kegiatan ekonomi di sekitar kawasan ini akan berkembang semakin intensif, apalagi ekonomi Thailand bertumbuh cukup baik dan dianggap sebagai salah satu calon NIC (New Industrializing Country).
Indonesia sendiri sejak jauh-jauh hari, bersama negeri- negeri jiran lainnya, telah memelopori hal yang sama dalam mengembangkan kawasan pertumbuhan yang sekarang sudah mapan, yaitu kawasan segitiga emas, Singapura-Johor-Riau (Batam), atau apa yang kemudian sering disingkat menjadi SIJORI.
Di kawasan ini sejumlah investasi sudah dikembangkan sedemikian intensif selama satu dekade terakhir, bahkan pernah mengalami boom, yang cukup menakjubkan. Keberhasilan ini akan segera disusul dengan pengembangan kawasan Northern Triangle (NT), yang akan menyertakan kawasan Sumatera Utara, Thailand bagian Selatan (Phuket) dan Malaysia bagian Utara. Kita juga tengah merintis kemungkinan pengembangan segitiga lainnya yang akan melibatkan Kalimantan Timur Laut, Malaysia dan Filipina; dan juga segitiga di sudut Tenggara Indonesia, yang akan melibatkan Indonesia, Australia dan Papua Nugini. Singkat kata, di Indonesia ini sesungguhnya banyak terdapat kawasan berpotensi yang dapat dikembangkan dengan modus segitiga, atas kerjasama dua atau tiga negara.
Apa yang menjadi dasar pertimbangan di balik pengembangan bersama kutub-kutub pertumbuhan ini, merupakan perhatian kita dalam uraian berikut.
Logika Pengembangan Segitiga Pertumbuhan SIJORI
Ketika gagasan pembentukan SIJORI diluncurkan sekitar tahun 1978, P. Batam hanyalah pulau di sekitar Riau, yang dihuni hanya sekitar 6000 jiwa. Pulau ini tidak memiliki kebudayaan yang khas, kecuali merupakan bagian dari rumpun kebudayaan Riau. Di sini juga tidak terdapat sumberdaya alam yang istimewa, kecuali cadangan pasir yang biasanya dijual ke Singapura. Memang benar P. Batam dan P. Bintan memiliki alam yang indah pemandangannya. Namun, ini tidak seberapa bila dibandingkan dengan kein-dahan alam Danau Toba, Gunung Bromo, ataupun pantai laut di Lombok dan banyak lagi pemandangan alam Indonesia.
Tetapi di balik keterbatasan ini, Batam memiliki kekuatan yang terpendam. Selain dari ketersediaan tanah, air dan tenaga kerja yang dapat diambil dari seluruh Indonesia, faktor terpenting di P. Batam dan P. Bintan ialah karena lokasinya yang berdekatan dengan Singapura, yang merupakan pusat industri, keuangan, perdagangan dan jasa-jasa, selain hubungannya yang erat dengan seluruh pusat perniagaan utama di seluruh dunia.
Saya pernah ditanya oleh tokoh masyarakat Riau, "Mengapa namanya SIJORI, Singapura-Johor-Riau, mengapa tidak Riau disebut terdahulu baru Johor, kemudian Singapura": Saya katakan "Saudara ini tidak memahami budaya Indonesia, budaya Indonesia yang kuat, yang besar memangku yang kecil dan lemah, bukan yang kuat menduduki yang kecil dan lemah. Karena yang kecil itu Singapura dan Johor, maka Indonesia mendapat kehormatan untuk memangkunya karena itu Riau disebut paling belakang; itulah kebudayaan kita.
Saya ingin sampaikan bahwa perkembangan segi tiga Sijori adalah fungsi dari prasarana mikro dan makro, fungsi dari sumberdaya manusia. Kedua fungsi itu menentukan tercapainya critical point dari sistem ekonomi yang antara lain terlihat dari high cost economy, walupun dengan high efficiency and productivity. Biasanya kalau sudah menghadapi cost economy, maka suatu masyarakat berusaha meningkatkan prestasinya bukan saja dengan menekan biaya tetapi meningkatakan kualitas pekerjaan, meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Tetapi jika produktivitas dan efisiensinya sudah 90 persen, biaya produksi meningkat tersus karena sudah mencapai batas atas masyarakat tersebut, sehingga tidak mampu bersaing lagi. Masyarakat tersebut hanya mampu bersaing jika mempunyai kemampuan tertentu sebagai contoh suatu bank dapat meningkatkan turn over-nya sebesar 100 persen dalam satu tahun, misalnya dengan captive contract tertentu. Tetapi itu tidak dapat dilakukan oleh suatu industri seperti PT IPTN, karena berbagai permasalahan yang membutuhkan waktu lama yang tidak dialami bank misalnya.
Singapura berbeda dari negara-negara tetangganya, yang secara geografis dan demografis jauh lebih besar daripadanya. Mengingat terbatasnya sumber daya manusia dan alam, serta kecilnya pasar domestik yang tersedia, ia seakan-akan terpaksa, tiada pilihan lain kecuali harus memandang ke luar batas-batas wilayahnya sendiri, maka infrastruktur ekonomi dan sosial yang dikembangkannya, perlu dikaitkan dengan wilayah-wialayah negara di sekitarnya dan disesuaikan dengan tuntutan pasar dunia, dan bukanlah dengan tuntutan pasar dalam negeri; dengan mengindahkan norma-norma dunia internasional, dan bukannya norma pasaran dalam negeri.
Berkat ketekunan kerja, disiplin serta kemampuan dan ketrampilan SDM yang dimilikinya, Singapura telah meraih sukses yang amat mengesankan. Ia telah berhasil mentransformasikan dirinya selama kurun waktu 25 tahun terakhir, dari sekedar pusat perdagangan dan pemindahan muatan kapal menjadi negara dengan perekonomian yang didasarkan pada industri manufaktur dan jasa-jasa modern, dengan menerapkan teknologi serba-canggih yang mengakar di dalam negeri, serta sepenuhnya disesuaikan dengan jaringan dunia perniagaan internasional.
Jalan pikiran dasar dari pembentukan SIJORI ialah bahwa sesungguhnya masuk akal bila negara-negara tetangganya seperti Indonesia dan Malaysia menarik manfaat dari peluang yang disediakan oleh negara yang berorientasi global seperti Singapura ini. Dengan menjalin kerjasama dengan Singapura, para pengusaha yang berpangkalan di Indonesia dan Malaysia akan memperoleh akses, pintu masuk, menuju pusat-pusat pemasaran dan pemasokan barang melalui perantaraan Singapura. Selain itu, tentu saja mereka pun dapat menghasilkan serta menjual barang di pasaran dalam negeri Singapura sendiri.
Itulah sebabnya mengapa Indonesia, Singapura serta Malaysia (yang selanjutnya disingkat menjadi INSIMA) menjalin kerjasama dalam usaha pembangunan SIJORI secara terkoordinasi. Kerjasama itu didasarkan kepada kepentingan dan manfaat bersama, dan usaha ini akan terus dilanjutkan selama masih memberi manfaat pada semua pihak. Dalam pada itu agaknya jelas pula, bahwa akan kurang bijaksana bila pembangunan seluruh daerah Indonesia secara khusus akan tergantung kepada fasilitas dan infra-struktur Singapura saja. Dengan demikian, digunakan atau tidaknya infrastruktur Singapura untuk memperoleh akses ke pusat-pusat permintaan barang-barang hasil Indonesia dan Malaysia, akan tergantung pada situasi dan kondisi setiap kasus tersendiri.6
Sesuai Keppres No.28 tahun 1992 Pulau Rempang dan Pulau Galang serta pulau-pulau kecil di sekitarnya telah dimasukkan ke dalam wilayah kerja Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam yang untuk selanjutnya sesuai pengarahan Bapak Presiden dinamakan wilayah Barelang, yaitu wilayah Pulau Batam, Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Galang Baru serta pulau-pulau kecil di sekitarnya.
Untuk merealisasikan Keppres tersebut pada saat ini sedang dilaksanakan pembangunan 6 jembatan dan jalan Trans-Barelang sepanjang 54 km yang menghubungkan Pulau Batam sampai dengan Pulau Galang Baru di mana pembiayaannya diharapkan dari pendapatan Otorita Batam yang berasal dari sewa tanah di wilayah Barelang. Dengan demikian Otorita Batam berupaya untuk sesedikit mungkin membebani APBN.
Pulau Batam, terletak 20 km ke Tenggara dari Singapura dengan luas daerah 415 km2, yaitu persis dua pertiga daerah Singapura yang luasnya 620 km2. Di sekitarnya ada pulau Rempang dan Galang yang letaknya berdekatan yang dalam waktu singkat akan dihubungkan secara fisik dengan dua jembatan, sehingga kelak akan merupakan kesatuan BARELANG (611 km2) yang merupakan kawasan berikut atau "bonded". Pulau Bintan yang letaknya sebelah Timur dari Batam jauh lebih luas, yaitu 1.100 km2. Sedangkan ke arah selatan, ada Pulau Singkep yang berukuran luas 774 km2, lebih kecil dari Bintan, namun lebih besar dari Singapura atau Batam.
Dengan dihubungkannya Pulau Batam, Pulau Tonton, Pulau Nipah, Pulau Satoko, Pulau Rempang, Pulau Galang, dan Pulau Galang Baru dengan 6 buah jembatan dan jalan Trans Barelang, maka jika semula luas Pulau Batam adalah 67% dari luas Singapura maka dengan penggabungan pulau-pulau tersebut sebagai wilayah Barelang akan mencapai luas sebesar 115% dari luas Singapura.
"Teori Balon" dan Gagasan Persekutuan Ala BENELUX
Pengembangan Pulau Batam dimulai sejak tahun 1971 dan secara garis besarnya dapat kita kenali tiga periode. Tahun 1971 s/d 1976 dapat dinamakan periode persiapan dan permulaan pembangunan. Periode persiapan ini di-selenggarakan di bawah pimpinan Dr. Ibnu Sutowo. Tahun 1976 s/d 1978 merupakan periode orientasi kembali; di bawah pimpinan Prof. J.B. Sumarlin. Sedangkan dari tahun 1978 hingga sekarang merupakan periode pelanjutan pembangunan yang diselenggarakan oleh Menteri Negara Ristek. Sejak periode terakhir ini telah diadakan beberapa penyempurnaan konsepsional serta penanaman modal besar-besaran dalam pembangunan infrastruktur, yang kemudian disusul oleh membanjirnya penanaman modal swasta sejak tahun 1983, setelah digalakkan investasi dalam pembangunan infrastrukturnya.
Di dalam periode ini, pengembangan Pulau Batam dilakukan berdasarkan atas ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam perencanaan dan pelaksanaan APBN untuk mengadakan beberapa macam prasarana minimum, meliputi: (1) prasarana jalan dan jembatan; (2) prasarana air minum; (3) prasarana kelistrikan; (4) prasarana telekomunikasi; (5) prasarana pelabuhan laut; (6) prasarana pelabuhan udara; serta (6) prasarana bangunan umum dan sosial.
Tatkala saya diberi tugas membangun P. Batam pada tahun 1978, saya mengemukakan dua gagasan. Gagasan pertama ialah "Teori Balon", yang mengisyaratkan adanya pembangunan ekonomi secara saling berkaitan di kawasan ini; yang kedua ialah mengenai gagasan penciptaan persekutuan semacam BENELUX, antara Singapura dengan daerah-derah di sekitarnya.
"Teori Balon" itu mengumpamakan Singapura serta daerah-daerah di sekitarnya sebagai suatu sistem interkoneksi balon-balon yang masing-masing dihubungkan de-ngan katup. Alasan untuk mengadakan hubungan berkatup di antara balon-balon itu didasarkan pada pertimbangan, bahwa bila suatu balon membengkak terus, maka pada suatu saat tekanannya akan mencapai titik genting sehingga balon itu akan meledak. Untuk mencegahnya, balon itu akan dihubungkan dengan balon lain melalui sebuah katup, sehingga balon yang kedua akan menampung "tekanan-lebih" dan mulai membengkak tanpa menyebabkan mengempisnya balon yang pertama. Lalu balon kedua pun pada gilirannya akan membengkak seperti halnya balon pertama sampai tercapai titik genting. Oleh karena itu, kelebihan tekanan udaranya harus disalurkan pada balon yang ketiga, dan demikian seterusnya.
Dengan demikian, masing-masing balon, yaitu masing-masing daerah, akan dapat tumbuh secara terus-menerus sampai saat tercapainya titik genting, tanpa meledak, dan tanpa menyebabkan mengempisnya balon yang lain.
Kita perlu memahami kalau saya berbicara mengenai SIJORI atau pun pertumbuhan segi tiga lain yang melibatkan Sumatera Utara, Malaysia dan Thailand, dan mungkin juga Sulawesi Utara atau Indonesia Bagian Timur dengan Filipina dan Malaysia bisa saja bentuknya segi tiga atau bukan segi tiga tetapi suatu pusat pertumbuhan. Karena kita memikirkan pusat pertumbuhan ekonomi untuk abad yang akan datang pada saat tinggal landas, maka kita perlu mempertimbangkan sungguh-sungguh apa yang telah saya jelaskan sebelumnya.
Tanggungjawab saya sebagai Ketua OPDIP Batam (Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam) menggantikan Bapak J.B. Sumarlin, Bapak Presiden mengatakan "Saudara Habibie saya tugaskan Anda untuk mengembangkan Pulau Batam." Lalu saya sampaikan, "Pak kalau saya ditugaskan mengembangkan Pulau Batam, maka skenario saya tidak akan sama dengan skenario Bapak Ibnu Sutowo. Karena Bapak Ibnu Sutowo membuat skenario yang indah dan tepat tetapi dari kacamata seorang Direktur Utama Pertamina. Beliau memproyeksikan bahwa pulau Batam itu menjadi salah satu basis industri minyak dan gas lepas pantai. Saya mohon diperkenankan untuk mengembangkan sesuai keyakinan saya ialah berdasarkan skenario pertumbuhan ekonomi yang lokasinya strategis didepan Singapura yang bisa berkembang menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Indonesia bahkan di Asean dan bisa memanfaatkan kekuatan ASEAN itu. Bapak Soeharto mengatakan: "Baik, silahkan". Begitulah mulanya proyek besar ini. Setelah itu saya mohon kepada Bapak Presiden untuk diperkenankan bertemu empat mata dengan Bapak Lee Kuan Yew Perdana Menteri Singapura tidak di Jakarta atau di Singapura tetapi di pulau Batam. Di Pulau Batam waktu itu belum ada jalan, belum ada pelabuhan udara, belum ada apa-apa, hanya ada perumahan yang dibangun oleh Pertamina yang sekarang namanya Wisma Batam dan sedikit jalan dibuat untuk kesitu, pelabuhan kecil untuk penye-berangan dari Batu Ampar ke Sekupang.
Tahun 1979 saya bertemu PM Lee Kuan Yew, hanya beliau dengan saya berbicara berdua. Saya jelaskan skenario. Beliau menanggapi dengan serius dan tampak kepandaiannya. Dia mengatakan: "Habibie you just look what you can get from Singapore. If there are any companies which can not survive the economic system of Singapore, the companies do not have the right to exist in Singapore".
Itu prinsip ekonomi bebas berorientasi kepada pasar. PM Lee Kuan Yew pada prinsipnya berpendapat, jika ada perusahaan tidak bisa lagi berkembang di Singapura dalam ekonomi yang berorientasi pasar, maka perusahaan itu tidak mempunyai hak untuk hidup di Singapura.
Saya katakan pada PM Lee Kuan Yew, bahwa saya melihat Singapura itu sebagai suatu balon yang terus membesar karena angin memasukinya. Jikalau angin terus-menerus menghembus ke dalam balon, maka balon itu terus membesar dan tidak bisa dihentikan hembusan angin ke dalam balon itu. Maka pada critical pressure balon itu akan pecah.
Sebagai seorang insinyur saya mengetahui bahwa udara tidak bisa berhenti memasuki balon tersebut, karena itu yang saya lakukan menciptakan balon kosong dan menghubungkan balon yang sedang ditiup itu dengan balon kosong melalui saluran ventilasi. Jika angin mendekati 80 persen dari tekanan kritis pada balon dan ventilasi terbuka, maka udara langsung masuk ke balon kedua yang kosong itu. Balon yang kedua itu pun memiliki critical pressure kalau itu tercapai, saya akan ciptakan balon ketiga yang juga de-ngan saluran ventilasi, sehingga pada saat critical pressure tercapai pada balon yang kedua yang belum tentu sama tingginya dengan critical pressure pada balon pertama. Ventilasi terbuka langsung masuk udaranya ke balon yang ketiga dan seterusnya sampai terjadi puluhan balon dengan kekuatan optimum dan terus berkembang.
PM Lee Kuan Yew berkata "Doctor Habibie I really at that time did not understand what you meant with your baloon ". Tetapi sekarang beliau memahaminya dengan baik, karena itu akhirnya pada tahun delapan puluhan dengan penuh semangat ia mempromosikan Batam dan pulau lainnya sebagai kawasan industri.
Kita dengan mudah dapat memperhitungkan critical pressure balon dan mengidentikkannya dalam sistem ekonomi critical pressure itu sebagai sistem ekonomi high cost atau low cost dan efisien, produktif atau tidak efisien dan tidak produktif.
Kalau suatu ekonomi terus menjurus menjadi high cost, maka pada suatu limit yang tertentu perusahaan tidak mampu berkembang atau menetap di sistem ekonomi yang high cost tersebut.
Apa pengertian high cost? yaitu pada suatu limit yang tertentu perusahaan tidak mampu berkembang atau menetap di sistem ekonomi yang high cost tersebut. Lantas, bagaimana Anda menentukan apakah suatu perekonomian high cost atau tidak.
Kita menyadari, kalau kita membangun suatu perusahaan kita membutuhkan prasarana ekonomi. Prasarana ekonomi itu penting apakah itu listrik, telepon, telefax, jalan, pelabuhan udara, segala macam yang bisa melancarkan bahan mentah masuk ke perusahaan, diolah dengan cepat dan dengan waktu sesingkatnya masuk ke pasar. Informasi dari pasar mancanegara langsung masuk untuk dimanfaatkan untuk dikerjakan, itu juga prasarana.
Prasarana ekonomi ada 2 macam:
  1. Prasarana ekonomi mikro ialah yang ada kaitannya dengan Batam sebagai wilayah ekonomi, misalnya di Batam dibangun jalan, lapangan terbang dan telepon. Saya punya data, tetepi itu tidak cukup, kita juga membutuhkan prasarana makro.
  2. Prasarana ekonomi yang memberikan kemampuan kepada puluhan perusahaan di dalam sistem mikro tersebut untuk berhubungan dengan pasar makro global.
Singapura dalam tahun enam puluhan berusaha dan berhasil mengembangkan prasarana ekonomi mikro dan sekaligus berhasil, karena strateginya dalam mengembangkan prasarana makro ekonomi global.
Oleh karena itu perwakilan perdagangan Singapura dalam tahun 1960an, 1970-an dan 1980-an semua berada di pasar Amerika Utara, pasar Eropa, pasar Jepang atau pasar Korea. Tetapi tidak pernah ada di Indonesia. Baru pada 1990, Singapura menaruh perhatian pada Indonesia. Sebelumnya, Indonesia tidak diperhitungkan Singapura karena kesibukannya mengembangkan prasarana ekonomi untuk menembus pasar global sekali pun tidak mempunyai bahan mentah. Tetapi Singapura adalah salah satu pengekspor terbesar, karena mempunyai standar mutu yang tinggi. Karena itu produk olahannya mampu memasuki pasaran ekonomi manca negara, karena quality control Singapura sudah terpercaya. Sedangkan Indonesia belum mampu memberikan jaminan kualitas.
Ini semuanya termasuk prasarana ekonomi makro. Apa yang terjadi kemudian pada Singapura? Singapura berhasil mengembangkan, menyempurnakan prasarana ekonomi mikronya dan berhasil mengembangkan prasarana ekonomi makronya, berhasil mengembangkan SDM tetapi menghadapi masalah. Sebelumnya saya telah jelaskan bahwa tidak ada sesuatu di dalam ekonomi yang tidak mengalami penyusut. Kalau kita mau mempertahankan nilai dari sesuatu yang mengalami penyusutan, maka kita harus menyediakan dana yang terus menerus diinvestasikan supaya nilainya sama. Kalau kita mau meningkatkan nilainya, maka investasi itu harus mencakup penyusutan ditambah growth yang kita kehendaki.
Jadi sehebat-hebatnya Singapura dalam mengembangkan sistem jalannya, sistem airnya, penghijauannya, telepon, termasuk listrik dan sebagainya semuanya itu mengalami penyusutan.
Artinya sehebat-hebatya Singapura harus menyediakan anggaran untuk membiayai supaya prasarana ekonominya tidak menyusut menjadi nol tapi terus meningkatkan kecanggihannya.
Kedua, masalah lain Singapura adalah penduduknya yang hanya 2,8 juta, menurut perkiraan, penduduk Singapura abad yang akan datang mungkin mencapai 3.6 juta manusia. Menurut perkiraan manusia Singapura tidak bersedia bekerja di industri. Itu dianggap pekerjaan kotor tetapi mereka lebih cenderung pada service, banking, shoping center dan perhotelan.
Dalam kasus Indonesia banyak pekerja yang masuk ke industri sebenarnya tidak memenuhi kualifikasi. Di Indonesia, tamatan SMA sulit mencari pekerjaan dan begitu pula lulusan Sl. Sebenarnya kita mempunyai potensi te-naga kerja lebih baik untuk industrialisasi dari pada di Si-ngapura. Bukan karena manusianya lebih pintar, tetapi karena jumlahnya banyak sekali. Inilah pembatas yang diha-dapi Singapura.
Kebutuhan untuk menggantikan penyusutan dana yang dibutuhkan semakin lama semakin besar. Pertanyaannya adalah dana diperoleh dari mana? Bagi Singapura air minum dan sayur saja diimpor, pasir juga dibeli dari luar ne-geri. Satu-satunya sumberdaya yang dimiliki Singapura, adalah sumberdaya manusia yang terbarukan, itu pun terbatas. Lalu apa sumber lainnya? Pajak. Tetapi jika pajaknya tinggi, itu akan mempengaruhi terjadinya high cost economy. Akibatnya adalah perekonomian tidak kompetitif lagi, tambahan lagi dari pekerja yang bekerja di industri adalah tenaga kerja sisa yang kualitasnya rendah.
Apa yang saya jelaskan tersebut berkaitan dengan penyusutan modal, investasi dari suatu perekonomian yang kecil, baik prasarana mikro maupun prasarana ekonomi makro dengan sumberdaya manusia terbarukan walau pun tergolong terampil dan meningkat produktivitas dan efisiensinya tetapi ada batasnya. Jika batasan itu dicapai, itulah yang saya sebut sebagai critical pressure balon.
Sebagai manusia yang bertanggungjawab dan berbudaya kita harus menyadari Singapura itu ialah kawan dan saudara kita yang terhormat. Hubungan bangsa Indonesia dengan bangsa Singapura sangat baik dalam organisasi perda-gangan mau pun perorangan.
Singapura berada ditengah-tengah benua maritim Indonesia. Kondisi yang demikian ada kemungkinan balon itu akan pecah. Itu tidak boleh terjadi karena itu jauh sebelumnya balon Batam itu dipersiapkan. Karena itu pada 1979 saya jelaskan balon alternatif itu kepada PM Lee Kuan Yew dan 1980 beliau mulai mengerti maksud saya tersebut.
Kita tidak dapat membiarkan balon itu terjadi apa-apa. Kita tidak boleh mengorbankan balon megah Singapura itu. Harus diterima bahwa di sebelahnya ada balon megah serupa dan balon itu bukan hanya satu tetapi banyak.
Sekarang Batam sudah mulai dikembangkan, Rempang dikembangkan, Galang dikembangkan, Bintan sedang ditenderkan. Jembatan yang menghubungkan ialah pertama dari Batam-Setokoh, Setokoh-Rempang, Rempang-Galang, Galang-Galang Baru. Enam jembatan sedang diram- pungkan untuk menghubungkan balon-balon tersebut. Bintan dapat terus dikembangkan. Saya bisa bayangkan abad yang akan datang Bintan akan berkembang pesat dan akan membangun jembatan dari Batam ke Bintan. Ini adalah ventilasi baru.
Kita secara sistematis mempersiapkan ventilasinya, secara sistematis mempersiapkan prasarana ekonominya secara mikro, mempersiapkan pemanfaatan prasaran ekonomi makro yang telah dipelopori oleh Singapura demi kepentingan growth triangle.
Sekarang kita mempersiapkan pemanfaatan prasarana ekonomi makro atau global yang telah sejak tahun 1960-an secara sistematis dikembangkan oleh Singapura. Tetapi tidak berarti kita berhenti di situ, kita kembangkan lebih lanjut dalam abad yang akan datang. Prasarana global itu pusatnya bukan di Singapura tetapi di Barelang.
Pada setiap peristiwa, ukuran maksimum dari perekonomian daerah tersebut akan tergantung pada kendala yang ditentukan oleh sumber daya alam dan manusia yang tersedia. Dalam pada itu, jumlah serta mutu dari sumberdaya itu sendiri bukanlah tidak mungkin akan terus berubah. Dan tidak pula diasumsikan bahwa orang akan menghentikan usahanya untuk menarik manfaat maksimal dari sumber daya yang ada. Namun yang menjadi dasar pemikiran di sini ialah bahwa perekonomian masing-masing daerah akan dapat bertumbuh tanpa bahaya meledak, bila mereka saling dihubungkan satu dengan yang lain, dan kelak mungkin juga dengan daerah-daerah di luar itu.
Singapura akan dapat bertumbuh terus, jika ia dihubungkan dengan Johor dan Batam (Riau); dan ketiga kawasan tersebut kelak akan dapat dihubungkan pula dengan daerah-daerah lain, yang dapat menampung kelebihan pertumbuhannya.
Sementara Singapura bertumbuh terus, penduduknya akan terus-menerus naik pada tangga kemajuan: dari buruh "kerah-biru" (blue-collar) meningkat menjadi karyawan berkerah putih (white collar); dari kegiatan teknologi rendah beralih ke teknologi canggih; dari gaya hidup tingkat rendah ke arah gaya hidup tingkat tinggi.
Namun demikian, kemajuan ini mengandung masalahnya tersendiri. Masalahnya ialah bahwa setiap perekonomian akan membutuhkan buruh kerah-biru (buruh bangunan atau pabrik, sopir bis, pelayan restoran dan sebagainya). Sedangkan persediaan tenaga kerja kasar itu akan berkurang, seiring dengan meningkatnya penghasilan dan tingkat kehidupan. Akibatnya ialah meningkatnya tingkat upah, yang pada gilirannya akan meningkatkan biaya produksi. Barang dan jasa yang dihasilkan di Singapura akan kurang daya saingnya, sementara jumlah barang impor akan meningkat sesuai dengan kenaikan pendapatan penduduk.
Di sinilah arti pentingnya Indonesia. Di Indonesia ada berlimpah persediaan tenaga kerja berketrampilan rendah, dan cadangannya pun kian bertambah banyak. Jumlah angkatan kerja yang masuk pasaran kerja setiap tahun rata-rata berjumlah 2,4 juta, hampir sama dengan jumlah seluruh penduduk Singapura. Banyak di antara mereka memegang ijazah sekolah menengah atas ataupun gelar sarjana; namun tidak semua dapat ditampung oleh dunia perekonomian karena tidak berimbangnya sisi penawaran dan permintaan. Itulah sebabnya, banyak yang harus puas saja menerima pekerjaan yang tersedia. Di Indonesia akan jauh lebih mudah dan murah mendapatkan tenaga untuk pekerjaan "kerah-biru" berketrampilan rendah ketimbang di Singapura.
Cara berbuat yang masuk akal ialah mencocokkan kelebihan masing-masing perekonomian ini dan menarik manfaat dari sifat saling melengkapi, dan mencocokkan ketersediaan ruang dan tenaga kerah-biru dari Indonesia dengan segala fasilitas, jaringan niaga internasional serta karyawan kerah-putih dari Singapura. Fasilitas produksi di Indonesia dapat menarik manfaat dari fasilitas pemasaran, jasa-jasa keuangan, transportasi dan telekomunikasi di Singapura. Sebaliknya fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh Singapura akan dapat memperoleh volume niaga yang lebih besar, dengan mengembangkan fasilitas produksi yang tersedia di Indonesia; dalam hal ini, yang ada di P. Batam dan di Provinsi Riau. Dengan demikian, jelas bahwa kian dekatnya letak suatu daerah dengan Singapura, semakin mudah akan terlaksana penyesuaian ini.
Untuk membantu pelaksanaannya, saya mengajukan saran untuk menerapkan peraturan seperti yang menghubungkan Belgia, Belanda dan Luxemburg, dengan mengembangkan suatu kawasan imigrasi dan pabean bersama, yang disebut BENELUX. Di mana di dalamnya, barang, orang dan jasa dapat bergerak secara leluasa dari negara yang satu ke negara-negara lainnya tanpa suatu hambatan.
Di dalam lingkungan persekutuan itu, lokasi untuk setiap jenis kegiatan ekonomis terutama akan ditentukan oleh pertimbangan biaya-manfaat ekonomis belaka. Peraturan semacam ini hendaknya dilaksanakan antara Singapura, Johor dan Riau. Segala aturan serta prosedur mengenai soal keimigrasian, pabean dan komunikasi haruslah diselaraskan, sehingga dapat memperlancar segala gerakan orang, barang dan jasa secara lebih mudah dan murah. Dengan demikian SIJORI akan tampil semacam BENELUX.
Sesungguhnya ada kesesuaian mendasar di antara masyarakat Singapura dengan masyarakat di Riau dan di Johor, yang bisa dijadikan alasan pokok untuk pengintegrasian ketiga wilayah itu menjadi suatu pangkalan investasi dan produksi bersama, untuk segala jenis barang hasil industri dan jasa. Gagasan pokoknya ialah agar kepada dunia usaha ditawarkan peluang untuk menempatkan fasilitasnya di Johor, di P. Batam ataupun di P. Bintan, sementara kantor pusatnya bertempat di Singapura.
Gagasan tersebut kini telah disempurnakan lagi dengan beberapa konsep lainnya. Singapura agar dijadikan lokasi untuk pusat-pusat Litbang (penelitian dan pengembangan) regional, dan juga sebagai lokasi kantor pusat operasi perusahaan-perusahaan multinasional, sedangkan pabriknya ditempatkan di Batam, Johor atau Riau. Selain itu, kepada warga Singapura ditawarkan kesempatan untuk memba-ngun rumah-rumah mewah dan fasilitas rekreasi akhir pekan di P Batam dan di Riau, sementara mereka tetap berbelanja di Singapura dan di Johor, dan menyekolahkan anaknya serta mencari perawatan kesehatan juga di Singapura.
Karena dengan meningkatnya tingkat upah buruh di Singapura, kaum industriawan terpaksa beralih kepada produksi barang yang lebih canggih dan bernilai tinggi. Dengan demikian, akan terjadi pembagian kerja pada industri-industri padat karya yang kemudian akan melakukan relokasi ke Johor atau ke Riau. Pabrik-pabrik didirikan di Riau untuk melayani pasaran Singapura serta pasaran internasional via Singapura. Sementara itu, perusahaan-perusahaan elektronika multinasional yang ingin memperluas usahanya di Singapura, tapi mengalami kesulitan untuk memperoleh tanah dan tenaga kerja, akan mendirikan cabang-cabang pabriknya di Johor dan di Riau.
Selain itu, segera terbayang bahwa kesempatan untuk memenuhi permintaan jasa-jasa liburan dan rekreasi di P. Batam dan di P. Bintan merupakan dorongan yang menyenangkan dan akan cepat memberi hasil untuk melaksanakan gagasan ini, dan pasti akan membawa manfaat bagi perekonomian kawasan P. Batam dan P. Bintan. Namun, secara konsepsional soal kepariwisataan bukan merupakan bagian utama dari gagasan ini. Kaum wisatawan yang menaruh minat pada kebudayaan, kesenian serta keindahan alam Indonesia atau Malaysia dapat dilayani secara lebih memuaskan di daerah-daerah lainnya.
SIJORI dalam Konteks Kerjasama ASEAN
Sepanjang tradisi, kerjasama ekonomi di antara negara-negara anggota ASEAN berlangsung sepanjang garis-garis sektoral yang mencakupi pertanian, urusan perbankan dan keuangan, kehutanan, perikanan, perindustrian, pertambangan dan energi, ilmu dan teknologi, perdagangan, pe-ngangkutan serta kepariwisataan. Pokok-pokok kesepakatan yang dikembangkannya ialah Proyek Perindustrian ASEAN (yang diterima pada tahun 1976), Peraturan Preferensi Perdagangan (1977), Rencana Komplementasi Perindustrian ASEAN (1981), dan Rencana Perkongsian atau Joint Venture Industri ASEAN (1982).
Proyek-proyek perindustrian ASEAN terdiri dari lima proyek perindustrian Joint Venture, dengan sebuah proyek bagi setiap negara anggota; yang hasil produksinya akan memperoleh perlakuan preferensial di dalam pasar setiap negara anggota, berdasarkan pada Peraturan Preferensi Perdagangan (Preferential Trade Arrangements). Berdasarkan peraturan tersebut, masing-masing negara anggota memberi marjin preferensi kepada masalah impor antar ASEAN, yang berkisar antara 10% sampai 50%. Rencana Komplementasi Perindustrian ASEAN menentukan aneka paket tertentu untuk produksi serta distribusi suku cadang otomotif yang akan diselenggarakan oleh negara-negara anggota yang berpartisipasi. Dan berdasarkan Rencana Patungan Perindustrian, perusahaan patungan yang didirikan antar warga negara dari paling sedikit dua negara anggota, akan diberi marjin preferensi sebanyak 90%, bila mengekspor hasil produksinya ke wilayah negara-negara anggota lainnya.
Masukan buat ASEAN
Dalam persaudaraan ASEAN dengan penduduk hampir 300 juta dan sumber daya yang melimpah, kita telah mengikat perjanjian bersama melalui Deklarasi Bangkok 1967, dan Bali Concord 1975, untuk mengharmoniskan upaya-upaya untuk memajukan ketahanan nasional masing-masing dan ketahanan regional secara keseluruhan. Tujuan ASEAN untuk memajukan kemampuan ekonomi nasional untuk mandiri secara ekonomi, dengan motivasi dan aspirasi memelihara identitas kultural, kekuatan untuk memelihara integritas politik dan ketahanan untuk memajukan kualitas hidup penduduk di kawasan ini.
Pertemuan Kepala-kepala Negara ASEAN IV di Singapura 1992 lalu, juga mengangkat kerangka persetujuan untuk memajukan kerjasama ekonomi, perjanjian tentang tarif preferensi bersama (Common Effective Preferential Tariff - CEPT) bagi kawasan perdagangan bebas ASEAN (AFTA) dan Deklarasi Singapura 1992. Itulah sebabnya sangatlah wajar bahwa tujuan CEPT dan AFTA direfleksikan dalam rencana dan tindakan ASEAN di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Masalah bersama seperti standar harmonisasi, persamaan penilaian kualitas, sertifikasi sistem dan sertifikasi produk, kalibrasi, dan akreditasi laboratorium, dapat dikembangkan ke dalam proyek-proyek yang saling mengutungkan, namun yang juga dapat mendorong persaingan sehat ASEAN sebagai basis produksi utama, tapi juga meningkatkan perdagangan intra-regional dan internasional juga.
Deklarasi Singapura Februari 1992 tentang lingkungan dan pembangunan, dan kesepakatan bersama tentang Komisi PBB untuk Pembangunan Lingkungan (UNCED) serta kaitannya dengan isu-isu yang menekankan perlunya ASEAN mengarahkan kerjasama yang sedang dan akan berjalan dan kesepakatan bersama tentang isu pembangunan dan lingkungan global ke arah pembangunan berkesinambungan dan seimbang sesuai dengan tujuan utama Agenda 21 di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kendati ASEAN telah banyak membuat kemajuan, namun ASEAN juga menghadapi banyak masalah pada sekarang dan masa mendatang. Keharusan eksternal seperti perkembangan pesat integrasi ekonomi Eropa dan Amerika, munculnya dunia multipolar yang lebih kompleks yang melibatkan konsentrasi kekuatan ekonomi dan strategis yang besar, memerlukan platform bersama untuk menga- tasinya.
Begitu juga, kendati Perang Dingin telah berakhir, masalah keamanan di perbatasan wilayah ASEAN masih cukup menekan. Keharusan internal seperti transformasi yang tak dapat dielakkan dalam perekonomian ASEAN, liberalisasi perdagangan unilateral dalam ASEAN, dan munculnya pesaing-pesaing baru (RRC dan Vietnam) merupakan isu mendasar yang menghendaki perhatian dan penyelesaian segera.
Ketahanan nasional dan regional dalam upaya konsisten, panjang dan intensif diperkuat untuk mempercepat pembangunan ekonomi nasional dan regional, dan agar berhasil upaya-upaya ini, kemajuan pesat dalam kemampuan iptek termasuk penelitian dasar sangat dibutuhkan untuk mengembangkan sumberdaya manusia ASEAN, untuk memperoleh potensi intelektual , kultural dan produktif perlu dilakukan.
Karena bantuan bagi hubungan yang saling menerima dalam kerjasama iptek telah menjadi sesuatu yang berharga di masa lalu, kini cara-cara harus dikembangkan sebagai suatu mekanisme bagi ketahanan yang lebih besar dalam pendanaan proyek. Karena itu sangat wajar bahwa kita menggunakan sebagian waktu untuk mengkaji berapa besar dana ASEAN dan berapa dana untuk iptek ASEAN dapat digunakan secara optimum dan dengan cara yang sebaik mungkin.
Sehubungan dengan perhatian kita pada ketahanan yang lebih besar dalam pendanaan proyek-proyek ASEAN, upaya memajukan kerjasama swasta dan sektor publik ASEAN dan upaya mengadakan hubungan tripartite antara indutsri pemerintah dan institusi sektor publik ASEAN di-sarankan di Singapura 1992. Kendati kemajuan dalam bidang ini masih minimum dan terbatas hanya pada sedikit proyek, prospek masa depan tampaknya menjanjikan, misalnya program yang berpengaruh secara berhasil telah membuka kesempatan yang menguntungkan bagi sektor swasta ASEAN dan Eropa. Lagi pula, program tersebut telah meletakkan iklim yang sehat bagi investasi langsung, pembangunan industri dan alih teknologi di negara-negara ASEAN. Itulah antara lain masalah mendesak yang dihadapi ASEAN sekarang ini, yang menjadi dasar pula bagi upaya ke arah pemecahan yang mungkin.
Kerjasama INSIMA
Kerjasama persekutuan INSIMA dalam usaha memba-ngun Segitiga Pertumbuhan SIJORI merupakan suatu bentuk baru kerjasama ASEAN. Ruang cakupannya lebih terbatas, dan karena itu ia bersifat lebih kongkret. Sifatnya lebih pragmatis dan jauh kurang ciri formalitasnya. Ia be-kerja melalui serangkaian peraturan bilateral, dan bukan multinasional. Ia lebih dikelola oleh sektor swasta, dengan pihak pemerintah sekadar mengkoordinasi segala urusan investasi, pabean, imigrasi, serta bidang kebijakan rencana lainnya secara pragmatis sekadar untuk penyesuaian de-ngan ketentuan-ketentuan pasar.
Dunia perdagangan sekarang ini kian berminat dan mampu memilih lokasinya di mana saja yang cocok untuk melayani pasaran yang ditujunya. Dan untuk mencari lokasi yang cocok ini, terdapat dua perangkat syarat: pertama, cukup tersedianya sumberdaya ekonomi: tanah, tenaga kerja, dan sumber daya alam; kedua, tersedianya infrastruktur ekonomi dan sosial yang memadai: telekomunikasi, pe-ngangkutan, energi, fasilitas diklat, dukungan litbang, perumahan, keselamatan pribadi dan lain-lain.
Segitiga Pertumbuhan SIJORI merupakan satu di antara hanya beberapa lokasi di kawasan ASEAN, yang memiliki kedua perangkat syarat tadi di tempat yang sama.
Di kepulauan Riau, tersedia tanah cukup luas dan mudah diperoleh persediaan besar tenaga kerja yang terlatih ataupun layak latih dari daerah-daerah Indonesia lainnya. Sedangkan Singapura memiliki fasilitas perbankan dan keuangan yang mutakhir, telekomunikasi, pengangkutan dan beraneka fasilitas penunjang lainnya, juga lingkungan hidup yang cocok untuk dunia usaha. Lagi pula, ketiga masyarakat dalam lingkungan SIJORI bisa saling melengkapi, dan secara tergabung ketiga daerah itu menyediakan lokasi yang efektif-biaya untuk perusahaan yang ingin berkembang atau memulai kegiatannya, dengan menarik manfaat dari segala peluang yang disediakan oleh pasaran yang sedang tumbuh pesat.
Sebelum dasawarsa ini berakhir, P. Batam dan P. Bintan sudah akan berkembang sesuai batas sumberdayanya. Pusat P. Batam, Kota Tepi Laut atau Waterfront City, daerah perindustriannya, dan daerah rekreasi Nongsa, sudah akan selesai dibangun dan sudah memulai kegiatannya dengan sepenuhnya. Dengan demikian akan tercipta suatu masyarakat serba-baru, yang berwatak internasional, dengan berorientasi pada dunia luar, dan sudah terbiasa dengan beraneka teknologi produksi dan jasa-jasa, dengan pendapatan dan gaya hidup yang mendekati gaya hidup penduduk Singapura; mirip dengan masyarakat yang lazim terdapat di pusat-pusat metropolitan di seluruh Indonesia seperti Jakarta dan, sampai tingkat tertentu, juga Surabaya dan Bandung. Pulau Batam dan P. Bintan akan merupakan pusat-pusat kehidupan zaman modern dengan gaya hidup serba mutakhir dan serba-mewah, menyerupai keadaan Si-ngapura yang mendahului mereka. Struktur masyarakat serta tingkat kehidupannya pada gilirannya juga akan mendorong daerah-daerah lainnya di Indonesia untuk bertumbuh pula. Kebalikannya juga akan berlaku; seperti halnya Singapura yang menarik kaum wisatawan dari Indonesia dan Malaysia, keseluruhan kawasan SIJORI akan merupakan tempat tujuan wisata bagi para wisatawan dari Indonesia, Singapura dan Malaysia.
Untuk mengembangkan SIJORI secara lebih optimum, ketiga negara, Indonesia, Singapura dan Malaysia perlu bekerjasama secara lebih erat. Mereka perlu menyeleraskan peraturan dan prosedurnya masing-masing. Bangsa-bangsa INSIMA secara bersama-sama harus membongkar setiap hambatan terhadap keleluasaan bergeraknya arus manusia, barang dan jasa beserta keleluasan untuk memilih lokasi di kawasan SIJORI. Tidak ada gunanya mempromosikan sesuatu unsur SIJORI; di dalam seluruh kawasan SIJORI setiap perusahaan hendaknya dapat dengan leluasa berlokasi di tempat yang lebih sesuai dengan keperluannya, entah letaknya di Singapura, Johor ataupun di Batam. Namun penyelerasan ini tidak berarti merupakan perpaduan sepenuhnya; tidak perlu diadakan mata uang bersama ataupun zona waktu yang sama. Namun akan menguntungkan bila ketiga masyarakat itu akan menggairahkan persamaan dalam ciri-ciri kebudayaannya masing-masing. Bahasa Melayu-Indonesia dapat digairahkan untuk menjadi bahasa perdagangan kedua, di samping bahasa Inggris sebagai bahasa pertama.
Bila kerjasama INSIMA dalam pembangunan Segitiga Pertumbuhan SIJORI dijalankan secara optimum, maka keseluruhan kawasan itu dapat dijadikan suatu pusat produksi serba canggih dengan gaya hidup serba kaya serta tingkat kesehatan, pendidikan, keselamatan dan mutu lingkungan yang mutakhir. Dan tak pelak lagi, hal ini akan merupakan unsur yang penting di dalam jaringan teknologi, produksi, perdagangan serta keuangan seluruh dunia. Ia akan merupakan suatu pusat wisata, kenyamanan, peristirahatan dan rekreasi untuk masyarakatnya sendiri serta untuk kaum wisatawan internasional.
Cita-cita ke arah itu bukan suatu hal yang mustahil. Dari capaian sementara bisa dilihat, bahwa P. Batam yang sebelumnya hanyalah sebuah pulau kecil yang kering dan gersang kini telah tumbuh secara eksponensial melebihi kepe- satan pertumbuhan ekonomi di Indonesia secara keselu- ruhan.
Maksud pengembangan P. Batam itu sendiri ditujukan pada perwujudan pulau ini dalam mengembangkan beberapa fungsi sebagai berikut:
  1. Sebagai daerah alih kapal, untuk membantu meringankan beban pelabuhan Singapura.
  2. Sebagai tempat memproses dan meningkatkan mutu barang, utamanya barang ekspor; sebagai tempat penumpukan bagi pengusaha yang memiliki pasaran di Timur Tengah dan Asia Pasifik, di samping sebagai basis logistik untuk proyek-proyek besar di Indonesia.
  3. Sebagai daerah industri, baik industri ringan, sedang, maupun berat yang berteknologi tinggi, berorientasi ekspor dan yang tidak bersaing dengan industri sejenis di lokasi lain di Indonesia.
  4. Sebagai daerah wisata, melengkapi fasilitas pariwisata Singapura.
Fungsi-fungsi Pulau Batam tersebut ditentukan mengi-ngat: (1) lokasi Pulau Batam yang strategis; (2) tersedianya tanah yang cukup luas; (3) tersedianya tenaga kerja yang memadai; (4) kedudukan Pulau Batam sebagai derah 'Bonded Area'; dan (5) adanya pelbagai kemudahan investasi sesuai dengan kebijaksanaan Pemerintah di bidang penanaman modal.
Berbagai sukses yang dicapai dalam pembangunan di Batam selama ini dimungkinkan berkat adanya kerjasama yang erat dengan negeri-negeri jiran. Dalam hal ini, ketiga pihak pemerintah, yaitu Indonesia, Singapura dan Malaysia sama-sama membangun komitmen untuk menekan segala kendala terhadap arus bebas modal, barang dan jasa pada tingkat serendah mungkin; serta terhadap arus lalu-lintas perseorangan di wilayah SIJORI. Dengan berbuat demikian, ketiga pemerintah wilayah INSIMA itu akan menciptakan suatu lingkungan usaha, yang sejauh mungkin akan menyerahkan segala sesuatu kepada pribadi investor untuk memilih kombinasi lokasi yang dipandang lebih sesuai untuk keperluan usahanya. Sehingga dengan demikian, kerjasama tersebut benar-benar bisa bermanfaat dan mengem- bangkan semua pihak.
Kita harus sadari, saya tidak mau mengecilkan peranan Singapura, karena peranannya yang penting dalam perkembangan Barelang. Kalau dilihat dari Pulau Batam tidak sebaik dibanding pulau di Indonesia Bagian Timur atau Sumatera, termasuk dipandang dari sudut sumber daya alam dan sebagainya. Terus terang saja, dilihat dari sumberdaya, tidak ada sumber daya alam di Batam dan dilihat dari sumberdaya manusia, waktu kita mulai membangun hanya ada 6000 nelayan di Batam. Jadi alasan satu-satunya adalah Singapura. Karena adanya prasarana ekonomi yang makro global Singapura memainkan peranan utama bagi berkembangnya Barelang.
Peranan utama itu bukan dana fininsial, tetapi karena Singapura berhasil mandiri dalam mengembangkan keunggulannya. P.M. Lee Kuan Yew mengatakan pada saya untuk memanfatkan apa yang dapat kita manfaatkan dari Singapura. Jadi kita harus menyadari tidak mungkin Singapura mengangkat Indonesia karena Singapura negara kecil. Tetapi tidak mungkin, tidak akan, dan tidak boleh Indonesia menekan Singapura. Karena itu yang penting adalah iklim kepercayaan yang ada antara kedua negara.
Dalam kerjasama yang sedang dikembangkan juga terlibat hubungan historis yang kuat antara Malaysia dengan Indonesia. Hubungannya bukan saja historis, tetapi juga kultural. Satu bahasa satu rumpun, satu kebudayaan, oleh karena itu harmonislah tiga-tiganya di dalam SIJORI.
Dari sini kita mengambil kesimpulan bahwa suatu sistem perekonomian Singapura yang sudah mencapai tingkat produktivitas tertentu mau tidak mau harus merubah strategi pembangunannya dengan mengambil keuntungan bukan dari value added process tapi dari cost added process.
Di dalam ekonomi ada dua kelompok yaitu value added dan cost added, atau nilai tambah dan biaya bertambah. Cost added adalah jasa-jasa (services). Oleh karena itu jangan heran bahwa Amerika, Jepang dan Jerman dilihat dari PDB-nya semakin lama semakin besar bagian jasa-jasanya. Karena tidak dapat lagi meningkatkan nilai tambahnya di sektor industri, sehingga beralih ke biaya tambah di sektor jasa. Tetapi kecenderungan tidak selalu harus demikian, tergantung pada kemampuan sumberdaya untuk mengembangkan produk baru.
Oleh karena itu negara yang sudah maju walau pun industrinya maju, tetapi hight cost economy semakin meningkat produktivitas tidak bisa kompetitif lagi dan tidak bisa menyaingi negara lain. Jalan keluarnya satu yaitu membuat terobosan dalam keunggulan ilmu pengetahuan. Karena negara yang leading dalam produk tertentu, maka dapat menentukan pasar, walaupun harganya tinggi. Oleh karena itu Singapura menjalankan skenarionya ke sektor jasa dan terus ke sains dan human resources. Begitu pula Presiden Clinton di AS program pembangunan nasionalnya sekarang adalah pendidikan, sains dan teknologi. Sebagai suatu bangsa merdeka kita dibenarkan ikut di belakangnya. Kita sudah tahu seharusnya begitu, karena itu harus berani membuat perubahan. Jadi bukan sensasi seperti di surat kabar bahwa Habibie menuntut agar program pendidikan di-sesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Kita harus membeberkan permasalahan itu secara kons- truktif dan jangan konfrontatif. Pokoknya kita menjelaskan bahwa memang benar kuncinya adalah pada pendidikan yakni pada human resources, sumberdaya manusia, pada prasarana ilmu pengetahuan, karena itu tadi saya katakan kalau sudah jenuh dalam peningkatan value added suatu negara banting setir ke cost added, tetapi perkembangan sektor jasa saja tidak cukup diperlukan terobosan untuk meningkatkan science and technology. Prestasi ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mengembalikan keunggulan sehingga negara tersebut kembali memimpin di dalam value added. Prinsip ini yang menurut saya yang perlu kita sadari dalam mendiskusikan perkembangan SIJORI itu.
Kerjasama Pengembangan Pulau Batam
Dalam masa lima tahun awal pengembangannya, antara tahun 1973 dan 1978, jumlah penduduk Batam meningkat lima kali lipat dari hanya 6000 menjadi 31.800; dan sejak itu terus meningkat hingga saat ini (1994) telah melampaui angka 107.000 jiwa.
Dilihat dari jumlah penduduk, maka perkembangan penduduk Batam adalah sebagai berikut:

Tahun Orang
1973
1978
1983
1988
1989
1990
1991
1992

6.000
31.800
43.000
79.000
90.000
95.000
107.564
123.035 *)
*) tahun 1994 : Batam 154.656 orang, Galang 185 Orang, Rempang 2.874 orang
Jumlah pekerja diperkirakan sebanyak 32.071 orang dalam pekerjaan pertanian, pertambangan, industri, listrik, gas, bangunan, perdagangan, perhotelan pengangkutan, keuangan, asuransi, jasa masyarakat, tidak termasuk pelayan toko dan sejenisnya. Kurang lebih 26% bekerja di sektor industri. Tahun 2006 diperkirakan penduduk Batam akan mencapai 700.000 orang. Kebutuhan air dapat dipenuhi oleh Batam sendiri untuk penduduk sebesar 700.000-800.000, dan untuk kebutuhan industri dan air minum. Bagaimana skenario Batam, Rempang, Galang dan Pulau lainnya dengan akan dikembangkannya pelabuhan di Kabil.
Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk serta semaraknya kegiatan industri dan perdagangan, permintaan akan tenaga listrik terus meningkat; dari 55 MW pada tahun 1989 menjadi 200 - 300 MW pada tahun 2000. Dalam pada itu, guna memenuhi kebutuhan air bersih, lima waduk /tandon air telah selesai dibangun dengan kapasitas ran-cangan sebanyak 800 liter per detik. Pesatnya peningkatan permintaan telah membuat pemasokan air merupakan suatu kendala pada saat ini pun. Sehingga rencana pembangunan waduk tandon yang keenam di Duriangkang pantai Tenggara berkapasitas 3000 liter/detik akan dipercepat. Dengan rampungnya waduk yang keenam ini pada tahun 1998, menjelang akhir dasawarsa ini, pemasokan air akan berjumlah 3.650 liter / detik. Pembangunan ini akan berlangsung secara bertahap, karena menyangkut pengo-lahan air payau menjadi air segar melalui proses alamiah.
Selain itu, seluruh jalan arteri dengan panjang keseluruhannya mencapai 69.55 km telah selesai dibangun. Sementara itu, dari sepanjang 263,97 km jalan kolektor yang akan dibangun, sekurangnya telah dirampungkan sepanjang 110,43 km. Dan hanya sebagian kecil saja (12,1%) dari rencana 175,62 km jalan lokal yang telah selesai diba-ngun, sebagian terbesar atas swadaya masyarakat; sedangkan sebagian besar dari sisanya akan dibangun oleh perusahaan real estate, dengan proyek-proyek wilayah permu- kiman, daerah perkantoran serta daerah perindustrian.
Sekurang-kurangnya telah dibangun sebanyak 94 gedung sekolah, termasuk 63 sekolah dasar, 10 SLTP, 3 SLTA, 1 sekolah perniagaan dan 1 sekolah teknik menengah. Selain itu terdapat 28 klinik dan Puskesmas, 5 pusat kebidanan dan 2 rumah sakit, juga terdapat 24 gereja, 82 mesjid dan 11 kuil. Sejumlah besar fasilitas olah raga juga tersedia, termasuk satu lapangan golf.
Di P. Batam terdapat tiga buah pelabuhan. Yang satu terletak di Sekupang, ujung barat-laut pulau; dengan dilengkapi dermaga sepanjang 77 meter, dan akan diperluas menjadi 1200 meter, sehingga akan dapat menampung kapal laut berukuran 10.000 DWT (yang akan diperluas sehingga akan dapat menampung kapal sebesar 15.000 ton bobot mati/dwt). Pelabuhan lainnya adalah Pelabuhan Batu Ampar, di tengah-tengah pantai utara P. Batam. Pelabuhan ini dapat melayani kapal berukuran 6000 DWT, dan direncanakan akan dapat menampung kapal berukuran 35.000 DWT; sehingga perlu diadakan perluasan galangan, dari sepanjang 1.200 meter menjadi 3600 meter. Pelabuhan Kabil di pantai timur kini merupakan pelabuhan terkecil dengan dermaga 100 m, yang dapat melayani kapal sebesar 3000 DWT. Namun kelak akan dijadikan pelabuhan Batam yang terbesar, dengan galangan sepanjang 5.500 meter, dengan kemampuan melayani kapal berukuran sampai 150.000 DWT.
Kapal yang berlabuh di P. Batam terus bertambah, dari 4.782 buah pada tahun 1982 menjadi 10.258 buah pada tahun 1989, dan sekonyong-konyong melonjak mencapai angka 37.802 kapal pada tahun 1990. Jumlah penumpang yang naik dan turun kapal bertambah 25 kali lipat dari 40.000 kedatangan dan 61.000 pemberangkatan pada tahun 1983, mencapai angka lebih dari satu juta orang yang datang dan berangkat pada tahun 1990 kira-kira 10 kali jumlah penduduk pulau Batam. Pemuatan dan pembongkaran barang juga terus meningkat. Jumlah barang yang dibongkar meningkat tiga kali lipat, dari 490.000 ton pada tahun 1983 menjadi 1,4 juta ton pada tahun 1990; yang mengindikasikan terjadinya kenaikan tingkat kegiatan investasi di pulau itu selama kurun waktu tersebut. Sementara itu jumlah barang yang dimuat tidak banyak bertambah: dari sekitar 303.000 ton pada tahun 1983 menjadi 439.000 ton pada tahun 1990; namun di sini terjadi peningkatan dalam nilai muatan itu sendiri, yang mencerminkan adanya penerapan teknologi tinggi pada perusahaan-perusahaan industri di P. Batam.
Pelabuhan Kabil mempunyai dermaga yang panjangnya 5.500 M dan juga dipersiapkan pembangunan container terminal. Jadi nantinya akan ada pelabuhan selain pela-buhan komoditi di Kabil, adalah pelabuhan untuk penumpang di Sekupang, di Batu Ampar, di Nongsa dan juga di Batam Center. Di Rempang, Galang dan Galang Baru tidak akan ada pelabuhan untuk komoditi, kemungkinan hanya akan dibangun pelabuhan-pelabuhan kecil saja, karena kita merencanakan pengembangan Rempang, Galang dan Galang Baru untuk pariwisata modern.
Pelabuhan udara Hang Nadim di P. Batam, dengan landasan berukuran 2500 x 45 m dan "apron" berukuran 25.000 m2, semula hanya dapat melayani pesawat jenis DC-9 dan A-300. Tapi mulai tahun 1993, dengan landasan berukuran 3600 m, dan apron seluas 112.500 m2, dengan tiga buah "aviobridge" (jembatan penumpang) dalam gedung terminal berukuran 22.531 m2, pelabuhan ini dapat menampung pesawat jenis B-747 DC-10. Kedatangan dan keberangkatan pesawat terus meningkat sampai 13 kali lipat dari 481 pada tahun 1983 menjadi 6.487 pada tahu 1990; sedangkan lalu-lintas penumpang meningkat dari 11.000 yang sampai dan 12.000 orang yang berangkat pada tahun 1983, menjadi 154.000 yang sampai dan 138.000 yang berangkat pada tahun 1990.
Kenyataan bahwa lebih banyak penumpang yang sampai dibanding yang berangkat tahun 1990, mungkin merupakan indikasi bahwa banyak penumpang menggunakan Batam sebagai pos persinggahan, sebelum meneruskan perjalanan ke Singapura dengan menumpang kapal tambang atau ferry. Sejalan dengan itu, lalulintas kargo udara juga meningkat dari 290.000 kg yang dibongkar dan 570.000 kg yang dimuat pada tahun 1985, menjadi masing-masing 1.300 kg dan 398.000 kg pada tahun 1989, sebelum melonjak mencapai angka tiga juta kg barang yang dibongkar dan 2.5 juta kg yang dimuat pada tahun 1990. Lonjakan angka yang begitu tinggi pada tahun 1990 itu, menunjukkan bertambahnya barang kargo volume-rendah tapi dengan nilai tinggi, yang masuk dan keluar dari P. Batam, sebagai akibat dari pengoperasian industri komponen elektronika sejak tahun 1990.
Jumlah wisatawan yang mengunjungi P. Batam pun meningkat dengan pesat, dari 60.161 pada tahun 1985 menjadi 579.305 orang pada tahun 1990, dengan angka kenaikannya rata-rata mencapai 60% per tahun. Dengan masa kunjungan rata-rata 1,3 hari, dan dengan rata-rata pembelanjaannya mencapai $ AS 104,20 per hari, telah dihasilkan pendapatan yang meningkat dari $ AS 8,1 juta pada tahun 1985 menjadi $ AS 78,5 pada tahun 1990. Kalaupun sebagai akibat resesi laju peningkatan kunjungan wisatawan menurun sampai hanya 30% P. Batam tetap mendapatkan kunjungan sekitar 753.096 wisatawan pada tahun 1991, yang berarti telah membawa penghasilan sejumlah seratus juta dollar AS lebih.
Sekarang saya ingin menyampaikan kendala-kendala yang dihadapi. Saya kira untuk membangun prasarana ekonomi itu, kendalanya adalah waktu dan dana oleh pemerintah. Untuk itu saya katakan terus terang saja, tidak mudah untuk mendapatkan dana mengembangkan Barelang. Pada masa awal Batam kita menghadapi masalah turunnya harga minyak. Dalam keadaan susah, untuk bertahan hidup kita membangun Pulau Batam dari menjual pasir ke Singapura.
Kendala tersebut dapat kita hadapi secara bertahap. Investasi total di Pulau Batam adalah US$ 3,88 milyar di mana pemerintah hanya menginvestasikan US$ 681. 447.000 atau sebesar 17,92%. Jadi kalau tahun 1980 ditanya berapa investasi di Pulau Batam adalah 100% pe-merintah, karena tidak ada yang bersedia melakukan investasi. Tahun 1985 investasi pemerintah mungkin sudah bukan 100% tetapi 70%. Tetapi kalau ditanya pada Desember 1992, investasi pemerintah, 17,92%, investasi swasta 82,08%.
Statistiknya dari investasi swasta yang 82,08% itu PMA adalah 34,8% dan PMDN itu masih 65,2%31*). Singapura hanya menginvestasikan sampai akhir tahun yang lalu US$ 200.000.000 melalui BATAMINDO. Dua ratus juta, investasi dari pemerintah Singapura dibandingkan dengan US$ 3,8 milyar investasi total, bandingkanlah. Jadi tidak benar suara tentang dominasi investasi Singapura.
Perhitungan sederhana, US $ 200 juta dibagi 33%, kurang lebih 6%, jadi total investasi dari Singapura hanya 6%, kalau memang dari apa yang terdaftar di dalamnya itu semua perusahaan dari Singapura. Tetapi beberapa perusahaan misalnya Thomson bukanlah perusahaan Singapura, tetapi melalui Singapura melakukan investasi. Thomson adalah perusahaan Prancis. Ada perusahaan ITT, NEC, Sumitomo melakukan investasi di Batam. Perusahaan tersebut mempunyai pabrik di Singapura selama 10-20 tahun. Mereka melakukan investasi dan terdatar seakan-akan sebagai perusahaan Singapura.
Selanjutnya ingin saya kemukakan jumlah investasi dan ekspor, sebab penting untuk mengetahui nilai ekspor dari Pulau Batam sejak tahun 1986.
Tahun 1986 ekspor dari Batam adalah US$ 20,9 juta hasil dari dukungan prasarananya yang kita bangun sejak 1978. Tahun 1987 naik menjadi US$ 26,8 juta, 1988 naik menjadi US$ 44,2 juta, tahun 1989 naik lagi menjadi US$ 33 juta, tahun 1990 naik cepat menjadi US$ 151,5 dan pada 3l Desember 1992 menjadi US$ 564,1 juta kenaikan sebesar 133%. Insya Allah satu atau dua tahun lagi ekspor akan melebihi pada akhir abad ini bisa mencapi US $ 10 trilyun. That is the growth!
Ekspor elektronika saja dari P. Batam pada tahun 1989 mencapai US$ 2,27 juta, pada tahun1991 meninggkat menjadi US$ 131,18 juta, dan pada tahun 1993 US$ 689,20 juta. Itu berarti bahwa ekspor elektronika dari P. Batam memberikan kontribusi sebesar 3,56 % dari ekspor elektronika nasional sebesar US$ 63.80 juta pada tahun 1989, dan 46,76 % dari ekspor elektronika nasional sebesar US$ 280,56 juta pada tahun 1991, dan 56,96 % dari ekspor elektronika nasional sebesar US$ 1.210 juta pada tahun 1993. Ini berarti pula bahwa kontribusi ekspor elektronika P. Batam terhadap produksi nasional mencapai 31,3 %.
Saya tegaskan lagi investasi total di Batam adalah US$ 3.802.747.900. Investasi pemerintah sebesar 17,92%, yaitu US$ 681.447.749,25, investasi swasta 82,08%, yaitu US$ 3.121.300.106. Dari investasi swasta sebesar US$ 3.121 juta, maka PMA sebesar US$ 1.088.385.929. Sedangkan PMDN dan non fasilitas, semua dari dalam negeri sebesar US$ 2.032.914.177.
Dilihat dari jenis kegiatannya, investasi sektor industri sebesar 49,47%, pariwisata 16,76%, real estate 17,76 %, jasa 12,13 %, agrobisnis 5,86% dan perdagangan 0,86%.
Sektor lainnya yang tumbuh pesat adalah bisnis properti. Sektor real estate menghadapi masa depan yang cerah di P. Batam. Dari tanah seluas 16.600 ha yang direncanakan untuk pembangunan di P. Batam, Rencana Induk Tata Kota atau Master Plan telah menjatahkan 17,7% atau 2.922 ha untuk keperluan real estate. Dari jatah itu, 83% atau 2.434 ha sudah dijatahkan kepada beberapa perusahaan real estate.
Dengan terus meningkatnya kegiatan di P. Batam, kesempatan kerja pun telah berlipat ganda hampir tiga kali lipat, yaitu dari 6.389 orang pada tahun 1985, menjadi 17.866 orang pada bulan April 1991. Jumlah tenaga kerja asing hampir tidak berubah, dari 230 orang pada tahun 1983, menjadi 252 orang pada tahun 1991, setelah sempat merosot menjadi 140 orang pada tahun 1989. Namun, sebagaimana sering saya tegaskan jumlah tenaga kerja di P. Batam ini tidak ada artinya dibandingkan dengan 80 juta tenaga kerja di seluruh Indonesia.
Karena itu di pulau-pulau tersebut akan dikembangkan prasarana ekonomi untuk menunjang pariwisata dan sekaligus membuka kemungkinan untuk pembangunan business center yang berdesentralisasi terutama untuk perusahaan yang bergerak dalam bidang software, karena semakin besarnya kebutuhan software. Software itu tidak mungkin dibuat oleh robot dan hanya mungkin dibuat oleh manusia. Karena itu kita harus membuat Rempang, Galang, Galang Baru dan Setokoh sebagai tempat yang menarik putra-putri Indonesia dengan kemampuan cemerlang yang menguasai teknologi dan mengadakan riset dan pengembangan untuk menciptakan teknologi baru dan software. Oleh karena itu jembatan yang dibangun tidak boleh dilewati container, tetapi hanya untuk manusia dan pariwisata. Jadi nantinya industri software dan pariwisata akan digabungkan.
Jadi saya membayangkanya Insya Allah, kita bisa membangun seperti Portofino di Italia atau San Fransisco, di mana orang-orang kita mampu mendapatkan inspirasi dan mempunyai pendidikan tinggi menghasilkan nilai tambah yang tinggi dengan nilai yang meningkat terus dan menghasilkan produk yang unggul dan kompetitif di mana saja.
Diperkirakan, kecenderungan meningkatnya jumlah eks- por akan berlanjut, dengan adanya 1.345 ha. lahan yang dialokasikan kepada delapan wilayah industri sektor swasta yang pada waktu ini didirikan di P. Batam kini dalam proses pembangunan menjadi lokasi industri yang siap pakai. BATAMINDO, salah satu estate itu, memperkirakan bahwa pabrik-pabrik yang akan didirikan di lokasi tersebut akan menyediakan kesempatan kerja bagi 60.000 orang di dalam jangka waktu empat tahun, terutama dalam bidang industri elektronika. Hal ini jelas menunjukkan pesatnya kegiatan pembangunan di P. Batam selama beberapa tahun terakhir ini, dengan didorong oleh industri teknologi tinggi, padat karya dan industri pariwisata.
Tidak dibenarkan lahan yang disediakan di Barelang itu diperjual-belikan dengan cara spekulasi. Lahan hanya diserahkan tidak diperjual-belikin. Otorita akan menindak tegas pelanggan dalam pemanfaatan lahan. Kita harus menjadikan Barelang sebagai tetap low cost economy, high eficiency and high productivity dengan almost unlimited human resource. Dalam bahsa Indonesia kita harus menjadikan ekonomi Barelang dan Bintan itu suatu ekonomi berbiaya rendah, mempunyai produktivitas dan efisiensi yang tinggi dan memiliki sumberdaya manusia yang terbarukan.
Keberhasilan demi keberhasilan yang diraih dalam pembangunan di Pulau Batam, jelas bukan tanpa kekurangan dan tidak mengandung masalahnya tersendiri. Tapi dengan segala optimisme, kerja keras, manajemen yang bersih serta partisipasi semua pihak, Insya Allah problema-problema yang menghadang itu akan bisa diatasi.
Tapi jangan lupa, bahwa Batam hanyalah bagian kecil dari pembangunan kawasan di Indonesia. Pengalaman kita dalam membangun Batam perlu dijadikan pelajaran untuk mengembangkan kutub-kutub pertumbuhan lainnya, sehingga di masa depan, program transmigrasi yang dikembangkan di Indonesia, misalnya, tidak hanya dikaitkan dengan pengembangan pertanian, tapi bisa juga diintegrasikan ke dalam proses-proses industri. Dan ini tidak hanya berlaku bagi orang-orang miskin, tapi juga dalam rangka mengalirkan sumberdaya manusia unggul di Pulau Jawa menuju sentra-sentra industri dan pusat-pusat keunggulan lainnya di seluruh pelosok Nusantara.
Semua itu dilaksanakan tiada lain, di samping dalam rangka memperluas kesempatan kerja, juga dalam rangka mengembangkan potensi-potensi wilayah di seluruh Nusantara, yang selama ini terasa masih timpang, dengan tekanan yang terlalu berpusat di Pulau Jawa. Dengan demikian, Pembangunan Nasional itu benar-benar bisa mengantarkan Bangsa Indonesia menuju masyarakat maju, mandiri, merata dan berkeadilan.

Tuesday, September 28, 2010

PEMBANGUNAN BERORIENTASI NILAI TAMBAH I

PEMBANGUNAN
BERORIENTASI NILAI TAMBAH 


Perekonomian yang dikelola secara baik dan mampu berdaya saing secara internasional adalah perekonomian dimana nilai tambahnya secara konsisten selalu lebih tinggi daripada biaya tambah. 1

Dalam mempersiapkan dirinya menghadapi tantangan abad yang akan datang, semua negara harus mencamkan apa yang diajarkan oleh ilmu ekonomi dan apa pula yang ditunjukkan oleh sejarah ekonomi belakangan ini; bahwa peningkatan kekayaan dan kemakmuran berakar pada peningkatan produktivitas, dan bahwa kunci bagi produktivitas adalah ilmu pengetahuan dan rekayasa. 2

(B.J. Habibie)




Dalam uraian terdahulu telah disinggung bahwa keberhasilan pembangunan negara-negara berkembang dalam tiga dekade terakhir, ternyata tidak menyurutkan ketergantungannya pada negara-negara maju. Lemahnya infrastruktur ilmu pengetahuan dan teknologi serta rendahnya kapabilitas sumberdaya manusia negara-negara tersebut dipandang sebagai penyebab utama rendahnya daya saing mereka di pasar global. Kenyataan ini memaksa kita untuk mengkaji ulang tentang apa sesungguhnya yang menjadi tolok-ukur keberhasilan pembangunan suatu bangsa.


Selama ini, jika orang ditanya ikhwal keberhasilan suatu perekonomian, jawaban yang lazim diberikannya adalah angka-angka yang menunjukkan tingkat GNP atau PDB suatu negara.

Jika itu ukurannya maka tak ayal lagi, pembangunan Indonesia selama 25 tahun terakhir ini telah menunjukkan prestasi yang sangat mengesankan. Angka-angka yang menunjukkan produk nasional bruto (GNP) kita mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Demikian pula pendapatan perkapitanya. Bahkan lebih daripada itu, pembangunan ekonomi selama PJPT I, telah berhasil mengurangi jumlah orang yang berada di bawah garis kemiskinan, dari sekitar 60% pada paruh 1960-an menjadi sekitar 17% pada akhir 1980-an sehingga tak seorang pun dapat menafikan kenyataan yang menggembirakan itu. 3


Namun demikian, kendati terlihat bahwa strategi dan pengukuran pembangunan yang digunakan dewasa ini dapat merefleksikan gerak ekonomi yang ada, hal itu bisa jadi bersifat relatif dan bahkan cenderung menyesatkan jika kita benturkan dengan konteks yang lebih mikro sifatnya. Baiklah saya berikan contoh. Seseorang yang hidup di New York dengan pendapatan US$ 600 per bulan besar kemungkinan akan mengalami kewalahan. Dan ia dianggap berada di bawah garis kehidupan normal, karena GNP perkapita di Amerika jauh lebih tinggi. Tetapi, jika orang dengan pendapatan yang sama tinggal di Jakarta jelas orang tersebut akan hidup secara berkecukupan. 4


Marilah bergeser ke contoh lain. Saya ditanya orang dari luar negeri, berapa turn over dari industri strategis (BPIS) pada 1991? Jika dihitung dalam US$, jumlahnya kurang lebih mencapai US$ 2,8 milyar. Bandingkan dengan turn over MBB, perusahaan pesawat terbang Jerman, yang kurang lebih mencapai US$ 12 milyar. Dari sudut lain, jumlah pekerja BPIS adalah 47.000; sedangkan MBB mempunyai pekerja sebanyak 60.000 orang. Lantas jika kita tanya, apakah MBB pada tahun 1990 laba atau rugi? Jawabannya ternyata rugi.


Sekarang tanyakan, apakah BPIS laba atau rugi? Menurut hasil pemeriksaan BPKP dan BPK tahun 1992, BPIS ternyata meraih laba sebanyak 325 milyar rupiah. Dalam US $ berarti sekitar 150 juta. Orang mungkin berkata, ini adalah suatu kebohongan besar. Mana mungkin MBB dengan turn over-nya yang begitu besar bisa merugi, sementara BPIS dengan turn over-nya yang begitu kecil bisa menangguk laba?. Mengapa demikian? Jawabannya, karena biaya satu orang karyawan di MBB sekitar US$ 200.000 per tahun, sedangkan biaya seorang pekerja di IPTN, misalnya, sekitar RP 300.000 per bulan; kurang lebih US$ 150, atau katakanlah sekitar US$ 200 dengan segala-galanya. Jika dihitung per tahun, berati 200 x 12 bulan = US$ 2.400. Jadi dari human resources cost-nya saja hanya 10% dari biaya yang dikeluarkan MBB. Belum lagi dari segi over head. Untuk IPTN, over head cost ditambah human resources cost saja baru mencapai US$ 6.000 per tahun. Bandingkan dengan jumlah biaya untuk seorang karyawan MBB yang mencapai US$ 200.000 per tahun. 5


Bila kedua contoh tersebut belum cukup, tambahkan pula fakta ini. Menurut para pakar ekonomi, perekonomian Taiwan saat ini sudah tidak mempunyai utang lagi. Karena itu sudah tidak dipusingkan lagi dengan persoalan DSR (Debt Service Ratio). Cadangan devisanya mendekati US$ 90 milyar. Jika dilihat dari kriteria ini, maka Taiwan tergolong negara kaya di dunia. Tapi, jika dilihat dari angka GDP atau GNP per kapita, Taiwan kalah dari Amerika. Padahal, Amerika mempunyai beban utang yang sangat besar. 6




Contoh-contoh di atas menegaskan bahwa kita tidak bisa mengukur keberhasilan pembangunan dari kacamata GNP atau PDB semata. Sekalipun angka-angka yang menunjukkan besarnya turn over, jumlah pekerja dan GNP per kapita memberikan informasi yang sangat menarik, tetapi hal itu tidak menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya. Bahkan dapat memberikan kesimpulan-kesimpulan yang salah.


Sebagai contoh, selama tahun 1992, 200 pengusaha terbesar di Indonesia meraup omset sebesar Rp 130 trilyun atau sekitar 60 persen dari GNP atas harga berlaku. Jika diciutkan lagi, 10 pengusaha terbesar menguasai 30 persen GNP. Data lainnya menunjukkan, 20 persen penduduk berpendapatan tertinggi memperoleh 50 persen dari pendapatan nasional, sementara 40 persen penduduk berpenghasilan rendah hanya mendapat 20 persen dari pendapatan nasional. Jika distribusi pendapatan nasional dihitung atas dasar penghasilan penduduk, maka ketimpangan akan tampak kian lebar. Yang pada gilirannya akan menyebabkan semakin terkonsentrasinya penguasaan sumber daya ekonomi pada sekelompok kecil masyarakat.


Oleh karena itu, bagi saya, pembangunan itu bukan hanya mengutamakan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pemerataannya. Kalau masalahnya hanya pertumbuhan ekonomi, maka pada masa kolonial, economic growth kita mungkin lebih tinggi dari sekarang. Pemerintah kolonial melaksanakan skenario ekonomi yang bertujuan untuk mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, tapi hasilnya disedot masuk ke kas Belanda. Akibatnya, orang-orang Indonesia sendiri tidak mendapatkan apa-apa, beri saja orang Indonesia uang sebenggol untuk makan. Maka, di tengah-tengah angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu, rakyat Indonesia hidup dalam penderitaan yang panjang.7




Semuanya itu berarti bahwa strategi pembangunan yang mengutamakan sisi pertumbuhan ekonomi dan keunggulan komparatif harus dipertimbangkan kembali. Ukuran-ukuran baku seperti GNP atau GDP harus kita perlakukan hanya sebagai salah satu di antara berbagai indikator yang dapat digunakan untuk menilai kemampuan membangun suatu bangsa, sebagai suatu satuan ekonomi makro. Salah satu indikator lainnya yang bisa dikedepankan adalah "produk- tivitas prestasi nasional" (PPN) dan "pertumbuhan produktivitas prestasi nasional" (PPPN). Yang merupakan perpaduan dari produktivitas tenaga kerja dan produktivitas modal dalam bentuk prasarana, sarana dan mesin.


Menurut pendapat saya, PPN dan pertumbuhan PPN (PPPN) malah merupakan alternatif yang lebih tepat untuk menilai kemampuan membangun suatu bangsa dan peru- sahaan serta untuk memperkirakan kinerjanya di masa depan. Sebab mungkin saja terjadi, karena GDP-nya besar, suatu negara dinilai memberikan kesempatan investasi yang cukup baik, dan berkat volume investasinya yang besar, laju pertumbuhan GDP negara tersebut cukup tinggi, walaupun PPN dan pertumbuhan PPN-nya rendah. Namun dalam jangka panjang, sebagai akibat rendahnya PPN dan PPPN negara itu, keunggulannya dalam mengembangkan dan menghasilkan produk-produk baru untuk pasar yang mempunyai arti besar dalam menentukan pertumbuhan Produk Domestik Bruto akan dilampaui oleh negara-negara yang tadinya mempunyai PDB yang relatif rendah, akan tetapi memiliki pertumbuhan PPN yang sangat tinggi melampaui PPN negara ber-PDB tinggi tadi. 8




Akibatnya, negara yang Produk Domestik Bruto-nya tinggi itu secara sistematis akan mengalami kesulitan untuk memasarkan produk hasil proses nilai tambahnya, baik di pasar dalam negeri, apalagi di pasar internasional, maka tahap demi tahap, negara tersebut akan mengalami defisit dalam neraca perdagangannya; yang akan bereskalasi dengan terjadinya masalah ekonomi yang kompleks dan menyulitkan pertumbuhan PDB negara yang bersangkutan. Inilah yang tampaknya terjadi di Amerika Serikat dalam hubung- annya dengan Jepang dan Jerman Barat. 9




Oleh karena itu, siapa saja yang melakukan perencanaan dan pelaksanaan proses nilai tambah, perlu untuk tidak hanya memperhatikan GNP atau PDB saja, tetapi harus juga memperhatikan Produktivitas Prestasi Nasional dan pertumbuhan PPN-nya.


Dengan kata lain, kita memerlukan suatu strategi pembangunan alternatif yang berorientasi pada optimalisasi kemampuan sumberdaya manusia dalam memanfaatkan teknologi dan aneka sumberdaya yang tersedia. Dengan demikian, hal itu diharapan bisa menjamin pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan dengan nilai tambah yang tinggi; yang pada gilirannya dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi peningkatan kesejahteraan rakyat.


Pembangunan ekonomi yang bertumpu pada pengembangan sumberdaya manusia dan pengembangan teknologi untuk meraih nilai tambah yang lebih tinggi ini kita sebut saja dengan strategi "Pembangunan Berorientasi Nilai Tambah". Secara lebih mendalam hal ini akan kita bahas pada uraian berikut.



Pengertian Nilai Tambah


Dari sudut pandang ekonomi, pembangunan suatu negara tidak lain merupakan optimasi dari dua prinsip yang dianggap ekstrem: yaitu ekstrem added cost (biaya tambah) dan ekstrem added value (nilai tambah). Dalam usaha mencari titik optimum tersebut kita selalu berusaha untuk mencapai minimum proses biaya tambah dan maksimum proses nilai tambah. Kita selalu berusaha untuk menekan biaya tambah dalam memenuhi kebutuhan kita akan barang-barang. Biaya-biaya yang akan terjadi diusahakan sekecil-kecilnya sehingga proses pembangunan berjalan dengan seefisien dan seproduktif mungkin. Sedangkan nilai tambah yang tercipta dalam proses pembangunan perlu dimaksimalkan. Perlu diusahakan pertambahan nilai yang setinggi-tingginya pada bahan mentah. Karena dengan memaksimalkan nilai yang ditambahkan pada materi bernilai rendah, penghasilan manusia yang melaksanakan proses nilai tambah tersebut akan mencapai titik maksimum pula. Dengan demikian, taraf hidupnya akan meningkat.


Yang menjadi pegangan dalam persoalan biaya tambah ialah, apakah tidak lebih murah bagi kita untuk membeli barang dari negara lain (impor) daripada memproduksi sendiri? Pemegang peranan dalam masalah ini adalah para pedagang. Dalam hal ini, para pedagang akan berusaha untuk mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya dengan menaikkan harga jual setinggi mungkin. Harga yang tinggi ini pada gilirannya harus dipikul oleh rakyat, sebagai konsumen barang-barang itu. Sebagai pedagang, mereka akan memperhitungkan semua biaya yang dikeluarkan dan akan dibebankan kepada pembeli. Dalam hal di mana para pedagang mengambil untung yang banyak, maka pengembangan dari bidang-bidang lain akan terhambat.

 
Seringkali terjadi bahwa pedagang tidak memperdulikan apakah perusahaan-perusahaan yang bergerak di suatu sektor dapat berkembang atau tidak. Pokoknya yang penting baginya adalah keuntungan hasil perdagangan. Hal ini sering terjadi pada perusahaan asing yang bergerak di Indonesia, yang hanya bermotifkan keuntungan, dan kemudian mentransfer keuntungannya ke luar negeri. Akibatnya hanya sebagian kecil rakyat yang bisa memperoleh pekerjaan dan menikmati hasil perdagangan tersebut. 10




Pembangunan negara dalam bidang industri tidak akan berkembang selama perhatian kita hanya tertuju pada pe-ngurangan biaya produksi. Efisiensi memang diperlukan. Namun, jika fokus perhatian hanya berhenti pada penekanan efisiensi jangka pendek, dengan mengabaikan dinamika pengembangan teknologi dalam jangka panjang, hal itu akan menjadi jebakan bagi pembangunan di masa depan, karena dengan demikian, upaya untuk meningkatkan teknologi dan pengembangan sumberdaya manusia yang hasilnya hanya bisa dirasakan dalam jangka panjang akan terabaikan.


Untuk itu perlu diimbangi dengan proses peningkatkan nilai tambah. Yang dapat diartikan sebagai rangkaian proses menambah nilai kegunaan material tertentu dengan mengubahnya menjadi suatu barang atau jasa yang lebih bermanfaat, dan karena itu, mempunyai nilai dan harga yang lebih tinggi dari materialnya semula. Secara sederhana prinsip optimasi nilai tambah tersebut bisa digambarkan melalui contoh-contoh sebagai berikut. Ambillah misalnya mobil Kijang. Mobil ini, katakanlah harganya Rp 25 juta, dan beratnya 1.000 kg. Dengan demikian harga per kilo gramnya sama dengan Rp 25.000,-. Bandingkan dengan Baby Benz, walaupun beratnya sama, 1.000 kg, tapi harganya mencapai sekitar Rp 250 juta. Berarti harga per kilo gramnya mencapai Rp 250.000,-. Sekarang kalau Kijang dan Baby Benz itu bertabrakan di tol Cikampek, yang selalu rawan kecelakaan, dan hancur menjadi besi tua, maka harganya bukanlah Rp 25.000,- per kg untuk Kijang dan Rp 250.000,- per kg untuk Baby Benz, tetapi semuanya sama, 250 rupiah per kg.


Dari situ bisa diambil kesimpulan bahwa nilai 250 rupiah per kg besi (logam) tersebut bisa mengalami beberapa kali proses engineering, sehingga nilai tambahnya bisa menjadi 25.000 rupiah per kg untuk Kijang dan 250.000 rupiah untuk Baby Benz (untuk perbandingan nilai tambah antar beberapa produk, lihat tabel-1: Perbandingan Nilai Tambah). Ini dapat terjadi karena, kadar ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kualitas manusia yang menciptakan nilai tambah untuk kedua jenis produk tersebut bobotnya ber-lainan. Dengan demikian, nilai tambah itu tiada lain merupakan fungsi dari teknologi, ilmu pengetahuan dan sumberdaya manusia.


Tabel-1: Perbandingan Nilai Tambah 11


NO


Jenis Produk


(USD/K)


%
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
Beras
Minyak Kelapa Sawit
Kapal Muatan
Mobil Standard
Kereta Api
Mobil Mewah
Peralatan Mesin NC
TV Berwarna
Kapal Selam
Semi Konduktor
Komputer Main Frame
Kamera Video
Advanced Turbo Prop
Jumbo-Jet
Mesin Pesawat
Super Computer
Jet Fighter
Satelit


0,24
0,39
2,2
11
16,1
22
24,2
35,2
99
220
352
616
660
770
1.980
3.740
5.500
44.00
100
163
917
4.583
6.708
9.167
10.083
14.667
41.250
91.667
146.667
256.667
275.000
320.833
825.000
1.558.333
2.291.667
18.333.333
Sumber: 1-2 Biro Pusat Statistik, 1991;
3-18 The Economist, 1989


Contoh di atas memberikan kesadaran kepada kita semua bahwa konsep peningkatan nilai tambah itu sebenarnya bukanlah konsep yang baru lahir. Kalau mau dilacak, sejak manusia menginjakkan kakinya di muka bumi, konsep ini telah ada. Hanya saja belum terumuskan secara ketat dan menggejala dalam bentuk persaingan pasar. Zaman batu dan perunggu merupakan contoh-contoh di mana manusia purba pun telah berkeinginan mengubah suatu bahan mentah menjadi benda yang lebih memiliki nilai guna. Setelah manusia mengenal pasar, barulah nilai guna tersebut dikapitalisasi menjadi nilai tukar, yang kemudian lebih berkembang ketika ditemukan uang sebagai alat tukar.


 
Titik Balik Transformasi


Statistik menunjukkan bahwa pada 1825, penduduk dunia total 1 milyar. Pada waktu itu, revolusi industri baru mulai di Eropa, AS, dan Jepang. Proses industrialisasi mulai dengan penemuan turbin uap yang menggantikan penggunaan daya kuda sebagai penggerak tenaga. Mesin ini ratusan kali lebih kuat daripada kuda dan memungkinkan manusia untuk mengerjakan pekerjaan yang lebih berat dalam waktu yang lebih singkat daripada sebelumnya. 12




Titik balik yang penting terjadi pada 1950 ketika penduduk dunia mencapai 3 milyar. Dalam 125 tahun, penduduk dunia berlipat tiga. Selama periode yang sama, peningkatan GNP dunia lebih kecil dari pertumbuhan penduduk. Situasi ini dapat digambarkan dengan menggunakan contoh kue. Jika jumlah orang yang menghendaki kue meningkat lebih cepat daripada ukuran kue, maka tidak seorangpun dapat menikmati sejumlah kue secara memuaskan. Hal ini dapat dijelaskan juga dalam terminologi thermodinamika. Jumlah panas matahari atau kalori yang datang ke bumi akan merusak manusia dan bumi sendiri, jika panas tidak dialihkan menjadi potensi energi berupa sumber yang terbarukan atau tak terbarukan. Ini baru permulaan masalah manusia di dunia.

Pada awal transformasi industri, bangsa-bangsa Eropa telah memiliki kehidupan agrikultur yang lebih baik daripada bangsa manapun di dunia. Hal itu menyebabkan penduduk bertumbuh sedikit lebih cepat, sedangkan tidak tersedia makanan bergizi yang cukup untuk pergi berkeliling. Mereka memiliki dua pilihan yaitu membuat kue lebih besar atau mengurangi penduduk. Ini menjurus pada proses imigrasi dari Eropa ke AS dan tempat-tempat lain untuk mengurangi penduduk dan juga untuk membuka pasar baru untuk memperoleh sumber-sumber terbarukan dan tak terbarukan lainnya yang sangat penting bagi pertumbuhan industrialisasi. Pada waktu yang sama, dengan momentum industrialisasi yang baik, mereka mengembangkan kue yang lain, yang berarti GNP ditingkatkan dengan pesat melalui mekanisasi.


Titik balik penting lainnya adalah tahun 2000 ketika penduduk diperkirakan akan mencapai tujuh milyar. Setelah tahun 2075, menurut data Bank Dunia, penduduk dunia akan distabilkan pada sekitar 11 milyar. Menurut kalangan pesimis, penduduk akan stabil pada 14 milyar. Penting dicatat bagaimana alam membantu menstabilkan kondisi. Misalnya, karena penyakit yang tengah berjangkit, misalnya AIDS, penduduk di Afrika mungkin berkurang sedikitnya 2% per tahun, sedangkan di tempat lain berkurang 1%. Fakta semacam ini menunjukkan kepada kita bagaimana alam secara aktual mempengaruhi eksistensi manusia. Peningkatan penduduk yang tinggi secara keseluruhan merupakan masalah yang meminta perhatian sebagaimana dapat dilihat dari hasil Konperensi PBB tentang penduduk di Kairo. 13




Masalah pertumbuhan penduduk menjadi makin urgen karena 95% pertumbuhan terjadi di negara berkembang. Karena peningkatan sektor agrikultur, sebagaimana terjadi di Eropa selama revolusi industri, penduduk negara berkembang tumbuh sangat cepat. Misalnya, kita dapat melihat perbandingan pertumbuhan penduduk di negara maju Eropa dan negara berkembang Afrika.

Pertanyaannya bagaimana mengatasi masalah ini?

Harus dimengerti, bahwa negara berkembang seperti Eropa, AS, dan Jepang telah mentransformasikan masyarakat mereka dari masyarakat agraris ke masyarakat industri melalui evolusi atau proses pada tempat yang sama dan masyarakat yang sama tanpa kendala budaya, bahasa, dan etnik. Bagi negara berkembang, transformasi ini berlangsung melalui alih teknologi dari beberapa tempat dan masyarakat industri yang berbeda sehingga isu budaya, bahasa, dan rasial menjadi hambatan besar. Mengatasi kendala ini tidak mudah. Alternatif terbaik adalah bahwa negara berkembang dapat mengadopsinya untuk mempercepat evolusi proses transformasi.


Evolusi yang dipercepat secara keseluruhan berbeda dari konsep leap frogging. Leap frogging itu bersifat acak dan tak dapat diperkirakan. Evolusi dipercepat tidak acak karena gerakannya dapat dikendalikan dan diperkirakan. Ini berarti risiko dan biaya transformasi dapat dikurangi.

Saya jelaskan bahwa transformasi industri di negara-negara berkembang mahal tidak hanya bagi masyarakat mereka sendiri tapi juga bagi masyarakat dan dunia lain. Negara-negara industri mengambil sumber daya alam dari kawasan dunia. Biaya eksploitasi ini tidak hanya ditanggung oleh negara maju tapi juga oleh umat manusia secara keseluruhan.


Sekarang kita dapat mengidentifikasi masalah yang dihadapi negara berkembang. Pertama, biaya transformasi industri bagi negara berkembang melalui evolusi yang dipercepat lebih tinggi daripada negara maju melalui evolusi. Kedua, waktu transformasi bagi negara berkembang lebih singkat daripada waktu bagi negara maju. Ketiga, jumlah orang yang terlibat dalam transformasi industri di negara berkembang lebih banyak daripada di negara maju.

Di pihak lain, beberapa keuntungan juga telah muncul sebagai hasil transformasi industri, misalnya:



  • Sistem prosesing data dan informasi cepat;







  • Biaya rendah prosesing data dan informasi;







  • Pemahaman lebih baik tentang infrastruktur ekonomi mikro dan makro;







  • Pemahaman lebih baik tentang mekanisme pembangunan sumber daya manusia;







  • Ekonomi berorientasi pasar dapat diterima;







  • Adanya organisasi internasional yang mengabdikan diri pada transformasi industri, seperti: Bank Dunia, IMF, ADB, IDB, dan sebagainya;





  • Adanya sarana ekonomi dan hukum bagi alih teknologi atas dasar saling menguntungkan. 14





  • Memahami infrastruktur ekonomi mikro dan makro merupakan hasil dari pertumbuhan pembangunan nasional berkesinambungan. Kombinasi pertumbuhan ekonomi nasional dan distribusi yang merata pembangunan mengakumulasikan kekayaan nasional. Di banyak negara, pertum- buhan ekonomi merupakan hasil sistem ekonomi berorientasi pasar, termasuk di negara ekonomi komunis lama se-perti Republik Rakyat Cina (RRC).

    Saturday, August 28, 2010

    Kebijakan Teknologi Maju untuk Keamanan Nasional dan Pembangunan Ekonomi

    Kebijakan Teknologi Maju untuk Keamanan Nasional
    dan Pembangunan Ekonomi
    (Konperensi Pertahanan Asia Pasifik di Singapura, 6 Pebruari 1996 dan
    Konperensi Internasional Masa Depan Asia di Tokyo, 17 Mei 1996)


    Sebelum membahas mata bahasan mengenai kebijakan teknologi maju untuk keamanan nasional dan pem bangunan ekonomi, lebih dahulu ingin dijelaskan definisi-definisi kami sendiri tentang teknologi tinggi dan teknologi maju, dan bahkan definisi teknologi itu sendiri. Kita dapat berawal dari pemahaman bahwa, inti dari suatu produksi sebagai kegiatan ekonomi adalah menambah nilai kepada bahan mentah, komponen, atau apapun yang dijadikan bahan awal proses itu. Proses nilai tambah ini dapat dilakukan terhadap perangkat keras, perangkat lunak atau pun perangkat otak.

    Buku dengan katakanlah seratus halaman dapat memiliki harga yang lebih tinggi daripada buku lain dengan jumiah halaman yang sama, tergantung pada nilai informasi yang terkandung dalam seratus halaman tersebut. Ada beberapa hal yang perlu diingat dalam hubungan ini. Pada umumnya, orang akan mencoba memperoleh nilai tambah sebesar-besarnya, serta biaya dan risiko sekecil-kecilnya. Selanjutnya, tiada satu pun proses nilai tambah yang dapat berlangsung tanpa teknologi. Jelasnya, semua proses nilai tambah, apakah membuat pesawat terbang atau melakukan bedah jantung jalan-pintas (by-pass), adalah bersifat multidisiplin.

    Dalam kasus bedah jantung, ilmu-ilmu yang bersangkutan adalah teknologi umum bedah, pengetahuan tentang urat nadi, tentang pembiusan, dan lain-lain. Begitu pula, teknologi membuat undang-undang menyangkut pengetahuan komunikasi, informatika, pengetahuan hukum termasuk perumusan hukum, ilmu-ilmu kemasyarakatan, dan lain-lain. Setelah proses produksi atau nilai tambah selesai, maka barang-barang jadi yang telah dihasilkan diserahkan kepada para pengguna barang-barang tersebut. Hal ini menyangkut serangkaian proses-proses lainnya yang kita dapat sebut jasa-jasa, seperti misalnya pemasaran, penyimpanan, logistik, dan sebagainya. Kesemuanya ini juga perlu dilakukan dengan biaya serendah mungkin. Jasa-jasa inipun memerlukan teknologi-teknologi untuk melaksanakannya. Perusahaan-perusahaan yang mampu menggunakan teknologi-teknologi yang tepat dan berguna untuk menyajikan produk-produk yang sama-sama bernilai-tinggi dengan biaya yang serendah-rendahnya akan lebih berdaya saing daripada perusahaan lainnya. Ada suatu spektrum teknologi-teknologi yang berhubungan dengan besamya pasar. Beberapa jenis teknologi penggunaannya sangat terbatas, dengan nilai tambah sangat tinggi, yang disebut teknologi maju (advanced technology). Dengan berkembangnya waktu, teknologi-teknologi maju ini dapat memperoleh aplikasi yang lebih luas, dan karena itu, pasarnya lebih besar dan skala ekonomi produksinya lebih besar pula.

    Pada saat itu mereka akan disebut teknologi tinggi dengan dampak nilai tambah yang tinggi. Apabila di kemudian hari, ilmu pengetahuan telah maju sedemikian rupa hingga teknologi-teknologi ini dapat digunakan oleh semua orang, maka mereka akan kehilangan eksklusivitasnya, dan akan disebut teknologi (biasa) saja. Pada awal revolusi industri, produksi tekstil dianggap teknologi tinggi. Dewasa ini tidak lagi demikian. Sama halnya dengan produksi minuman anggur yang tadinya penguasaan teknologinya terbatas pada beberapa negara saja tetapi dewasa ini telah tersebar ke banyak negara lain yang tadinya bukan produsen minuman anggur.

    Namun pada beberapa teknologi tertentu, eksklusivitasnya dapat dipertahankan hingga jangka waktu jauh lebih lama apakah karena kesukaran penguasaannya atau karena adanya perlindungan hak atas kekayaan intelektualnya. Teknologi-teknologi ini disebut teknologi maju untuk jangka waktu lebih lama. Eksklusivitasnya akan memberikan pemiliknya keunggulan berdaya saing (keunggulan kompetitif) terhadap pihak lainnya.

    Tekonologi dan Ekonomi Kita patut bersyukur bahwa secara bertahap kita telah menjadi lebih canggih dan karena itu kita mungkin menjadi lebih mampu daripada pada masa lampau untuk bersaing dan menangani ancaman-ancaman baru. Kita telah mengembangkan teknologi-teknologi baru dalam arti kata yang seluas-luasnya. Teknologi-teknologi yang pernah dianggap teknologi maju kini telah menjadi teknologi tinggi atau bahkan teknologi-teknologi madya. Kita telah mengembangkan cara-cara baru untuk menangani kesukaran-kesukaran kita. Perkembangan-perkembangan ini mencakup:

    1. sistem-sistem informasi; sistem-sistem proses dan evaluasi data;
    2. prasarana ekonomi makro dan mikro: mekanisme-mekanisme pengembangan manusia dan sumber daya alam dengan biaya rendah;
    3. mekanisme-mekanisme bermutu tinggi dan biaya rendah untuk pengembangan ilmu dan teknologi;
    4. penyempurnaan-penyempurnaan dalam standardisasi yang meningkatkan produktivitas dan efisiensi ekonomi nasional dan global.
    Semua perkembangan ini telah lebih memudahkan tercapainya peningkatan berlanjut dalam kesejahteraan, pembagian adil kekayaan yang terhimpun, dan persepsi bahwa dewasa ini keadaan lebih baik daripada sebelumnya. Seperti sudah pernah saya kemukakan sebelumnya, saya dapat membedakan dua jenis kegiatan ekonomi. Pertama adalah; produk manufaktur dan jasa dari bahan mentah dan barang-barang vendor yang saya sebut proses nilai tambah. Dan yang kedua adalah menyampaikan barang-barang jadi dan jasa pada konsumen akhir yang saya sebut proses jasa.

    Tujuan dalam membuat barang dan jasa adalah untuk memaksimumkan nilai tambah dengan biaya yang minim, sedangkan tujuan menyampaikan barang dan jasa kepada konsumen adalah untuk meminimumkan biaya tambah dengan pembelanjaanyang minim. Dua jenis aktifitas ini dilakukan dalam segala jenis sistemekonomi baik yang terencana secara sepusat maupun ekonomi pasar atau variasiantara keduanya. Untuk memaksimumkan nilai tambah dan meminimumkan biayatambah, seseorang harus menggunakan teknologi yang semakin canggih serta meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

    Dalam pengertian itu, untuk menghasilkan satu produk tertentu, seorang manufaktur memerlukan 50 poin material, jam mesin dan overhead dan menambahkan pula 15 poin biaya dan keuntungan. Jika konsumen ingin membayar 100 poin untuk mengirim barang itu langsung dari bengkel pabrik, dapat kita katakan nilai tambah melalui proses manufaktur itu senilai 35 poin, nilai ini disebabkan teknologi. Namun, tidak banyak orang siap mengirimkan secara langsung dari bengkel pabrik, dan biasanya mereka mengharapkan pabrik untuk melakukan aktifitas lain untuk pengiriman produk-produk di lokasi-lokasi yang lebih berkenan bagi konsumen. Untuk melakukan aktifitas ini, seseorang harus memasukkan biaya tambah seperti, biaya transportasi, biaya gudang, biaya pameran, pemasaran, promosi dan sebagainya, serta berbagai tahap distribusi dalam penjualan partai besar atau eceran. Seandainya demikian, maka untuk seluruh biaya tambah plus keuntungan distributor serta pengecer ditambahkan lagi 80 poin, dengan begitu harga yang harus dibayar konsumen akan menjadi 180 poin.

    Untuk bersaing secara berhasil, pabrik dapat menentukan tujuannya. Hal ini ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah, katakanlah dari 100 poin menjadi 120 poin; dan untuk mengurangi biaya pengiriman, katakanlah dari 80 poin menjadi 50 pon. Dengan begitu, ia akan mendapatkan peningkatan nilai produk (sampai 120 poin) dan penurunan harga final yang harus dibayar oleh konsumen dari 180 sampai 170 poin (120+50). Kemudian konsumen akan membayar harga yang lebih rendah untuk produk dengan nilai lebih tinggi. Agar hal ini terjadi, pabrik harus meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan pemanfaatan teknologi yang terus meningkat.

    Sebelumnya saya sudah membicarakan hubungan antara spektrum teknologi dikaitkan dengan luasnya penggunaan dan ukuran pasar. Dan saya juga telah membedakan antara teknologi maju, tinggi dan rendah. Sekarang ingin saya menunjukkan fokus pandangan saya bahwa ada hubungan erat antara eksklusifitas teknologi dan kemampuan untuk bersaing dengan banyak teknologi maju, eksklusifitas dapat dipelihara selama periode yang cukup panjang, boleh jadi karena kesulitan menguasainya atau karena proteksi hak milik intelektual. Karena ini dalam istilah yang saya gunakan, produksi barang dan jasa berdasarkan teknologi maju dan eksklusif selalu merupakan usaha yang berkeunggulan kompetitif. Dengan kata lain, produk teknologi maju eksklusif merupakan produk yang memiliki keunggulan kompetitif; sebaliknya apabila teknologi yang semula maju itu sudah menjadi tersebar luas dan menjadi teknologi biasa atau teknologi rendah, maka kompetisi tidak akan lagi didasarkan pada eksklusiftas melainkan pada biaya. Pabrik yang dapat menggunakannya dengan biaya paling rendah akan memiliki keunggulan di atas yang lainnya. Dan lagi menurut istilah yang saya gunakan, produk tersebut memiliki keunggulan komparatif di atas pesaingnya.

    Contoh yang saya gunakan di sini menunjukkan pengertian bahwa kemampuan pabrik untuk meningkatkan daya saingnya (dari 180 poin menjadi 170 poin) terdiri dua elemen:
    1. Penambahan dalam keunggulan kompetitifnya (dari 100 poin menjadi 120 poin);
    2. Peningkatan dalam keunggulan biaya komparatif (dari 80 poin menjadi 50 poin).
    Selanjutnya akan berguna bagi kita yang berkecimpung dengan kebijakan-kebijakan teknologi yang menunjang keamanan nasional dan pembangunan ekonomi, untuk memperhatikan ancaman baru ini dan menanganinya. Jika tidak, ancaman ini seperti halnya semua ancaman lainnya, akan hilang bersamaan dengan menghilangnya umat manusia itu sendiri. Namun ancaman-ancaman baru dan perkembangan-perkembangan baru hanya merupakan dua sisi mata uang yang sama, dan hal ini merupakan proses pembangunan manusia. Pada akhirnya, manusialah yang merupakan pemeran utama dan menjadi fokus perhatian utama kita. Dengan demikian, sampailah pada mata bahasan utama kita.

    Ancaman-ancaman Pertama-tama, sangat penting untuk diingat bahwa keamanan nasional dan pembangunan ekonomi serta ancaman-ancaman terhadapnya hanya timbul dalam rangka interaksi antara sumber daya manusia dan sumber daya alam. Kami akan memusatkan bahasan kami pada analisis reaksi manusia pada ancaman terhadap keamanan nasional dan pembangunan ekonominya.

    Dalam hubungan ini, ada gunanya untuk membedakan antara ancaman-ancaman "internal" yang timbul dari dalam suatu masyarakat itu sendiri, dan ancaman-ancaman "eksternal" yang bersumber dari luar masyarakat. Terlepas dari sumbernya, ancaman-ancaman tersebut dapat berakumulasi dan bereskalasi menjadi konflik, dan bahasan reaksi manusia terhadap konflik itulah yang akan merupakan pokok analisis kami.

    Ancaman Internal Ancaman-ancaman internal terhadap keamanan suatu masyarakat dapat timbul dari sekurang-kurangnya tiga sumber. Yang pertama berhubungan dengan ada atau tiadanya pembangunan ekonomi yang berlanjut. Dalam hubungan ini kita dapat mengenali rasio antara laju pertumbuhan ekonomi dan laju pertumbuhan penduduk sebagai salah satu indikator konflik yang disebabkan oleh kebijakan ekonomi. Dalam hubungan ini kita catat bahwa apabila rasio tersebut jauh lebih besar dari satu, maka konflik dalam masyarakat karena sebab-sebab ekonomi akan lebih kecil karena laju pertumbuhan pendapatan per-kapita cukup tinggi sehingga dapat memberikan peningkatan yang berlanjut dalam kesejahteraan bagi masyarakat. Sebaliknya, juga merupakan pengalaman kita bersama bahwa apabila rasio tersebut hanya sedikit di atas satu atau kurang dari satu maka akan timbul ancaman-ancaman terhadap keamanan nasional.

    Rasio pertumbuhan ekonomi terhadap pertumbuhan penduduk yang besarnya hanya sedikit lebih tinggi dari satu akan menimbulkan kestabilan yang tidak mantap dalam proses pertumbuhan kesejahteraan masyarakat yang sangat peka terhadap goncangan-goncangan yang kecil sekalipun. Dan rasio yang sangat banyak di bawah satu akan berarti suatu kemunduran yang berlanjut dalam kesejahteraan orang seorang yang selanjutnya akan mengakibatkan kerawanan dan ketidakstabilan masyarakat yang berlanjut. Sumber kedua ancaman internal adalah keadilan dalam pembagian kekayaan nasional yang terhimpun. Persepsi adanya keadilan akan jauh lebih sedikit menimbulkan ancaman-ancaman internal terhadap keamanan daripada persepsi ketidakadilan. Tentu, kadar keadilan yang dirasakan berbeda dari negara satu ke negara lainnya dan ditentukan oleh faktor-faktor khusus suatu masyarakat seperti: kebudayaan; keharusan-keharusan menurut hukum sebagaimana ditentukan oleh undang-undang dasar; sifat mekanisme yang menerjemahkan dan melaksanakan kepentingan orang-seorang; mekanisme ini berbeda tergantung apakah negara yang bersangkutan merupakan suatu demokrasi konstitusional, suatu kerajaan konstitusional atau absolut, atau suatu diktator; sifat mekanisme pelaksanaan skenario ekonomi masyarakat; dan ketrampilan dan kemampuan manusia.

    Sumber ketiga ancaman internal adalah persepsi mengenai kecendenungan (trend) kenyataan dewasa ini dibandingkan terhadap situasi pada awal proses realisasi atau pelakasanaan cita-cita bersama mengenai masa depan yang lebih baik diukur dari sudut keadilan dalam pembagian pendapatan dan tanggungjawab sosial, dari sudut keadilan hukum, dan dari sudut kesejahteraan ekonomi dan sosial. Apabila kenyataan hari ini dipersepsikan jauh di atas kecenderungan ke arah realisasi cita-cita bersama ini, kemungkinan timbulnya ancaman-ancaman akan lebih kecil daripada apabila kenyataan-kenyataan hari ini dinilai jauh kurang daripada yang seharusnya. Dalam hubungan ini kita perlu pula mencatat bahwa masyarakat negara-negara tertentu di Eropa bertendensi melakukan redefinisi garis awal proses ini dengan merubah cita-cita bersamanya sebagaimana terkandung dalam undang-undang dasar mereka.
    Ancaman Eksternal Mengenai ancaman-ancaman eksternal terhadap keamanan nasional suatu negara, kita temukan sekurang-kurangnya dua sumber. Yang pertama adalah kestabilan keamanan nasional negara-negara tetangga.
    Apabila ancaman-ancaman intemal terhadap keamanan nasional tetangga suatu negara tidak dapat ditanggulangi dengan berhasil, ancaman-ancaman tersebut akan menimbulkan ancaman-ancaman eksternal terhadap negara tersebut. Kedua, pertanyaannya adalah apakah tetangganya mengalami ancaman-ancaman intemal terhadap keamanannya sebagaimana dibahas di muka tadi yang disebabkan karena adanya ketidakseimbangan antara sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Apabila ancaman-ancaman tersebut ada dan tidak berhasil diselesaikan, maka ancaman-ancaman internal terhadap keamanan tetangga suatu negara dapat menjadi ancaman eksternal terhadap keamanannya sendiri. Karena itu, sumber kedua ancaman eksternal terhadap suatu negara adalah ketidakstabilan tetangganya yang disebabkan oleh kendala-kendala terhadap sumber daya manusia dan sumber daya alamnya. Ada kemungkinan, misalnya, bahwa suatu negara tanpa sumber daya alam yang berarti dan yang sumber daya manusianya telah jenuh (saturated), mengalami kesukaran-kesukaran dalam pembangunan ekonomi nasionalnya yang dapat berkembang menjadi suatu sumber ancaman eksternal terhadap keamanan tetangganya. Contoh lain adalah suatu negara dengan sumber daya manusia yang sangat maju dan canggih tetapi dengan sumber daya alam yang sangat marjinal dan yang karena itu memiliki ratio laju pertumbuhan ekonomi terhadap laju pertumbuhan penduduk hanya sedikit di atas satu. Apabila bersamaan dengan itu, laju pertumbuhan penduduk nol atau negatif, maka negara ini akan memiliki masalah tambahan berupa penduduk yang semakin menua, yang bebannya akan semakin harus ditanggung oleh penduduk berusia muda yang proporsinya semakin kecil. Karena tingkat kesejahteraan ekonomi telah cukup tinggi, negara ini akan memiliki biaya ekonomi yang sangat tinggi dengan dampak negatif pada kemampuan daya saingnya.
    Contoh ketiga adalah suatu negara yang telah maju dengan sumber daya manusia yang bersifat campuran (mixed) tetapi yang sumber daya alam kurang lebih habis terpakai.
    Kendala-kendala terhadap pembangunan ekonomi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan ini juga merupakan suatu ancaman eksternal terhadap keamanan tetangganya. Jelas kiranya bahwa dalam pandangan kami, ancaman-ancaman internal terhadap suatu keamanan suatu negara yang tidak teratasi merupakan sumber utama ancaman-ancaman eksternal terhadap keamanan tetangganya, khususnya tetangga-tetangga dekatnya.
    Apabila ancaman-ancaman ini dibiarkan berakumulasi dan bereskalasi menjadi konflik, maka mereka akan menjadi ancaman-ancaman eksternal terhadap keamanan negara lain, khususnya tetangga dekatnya. Saya juga membedakan antara ancaman internal yang timbul dari dalam masyarakat itu sendiri dan ancaman eksternal yang berasal dari luar masyarakat.
    Dan saya sudah mengenali sumbernya masing-masing. Tiga sumber ancaman internasional yang telah teridentifikasi yaitu:
    1. tidak adanya peningkatan kesejahteraan yang berkesinambungan;
    2. adanya persepsi ketidak-adilan dalam distribusi kekayaan nasional yang telah terakumulasikan;
    3. adanya pendapat umum yang tersebar luas bahwa tidak ada kemajuan dalam mewujudkan pandangan bersama tentang masa depan yang lebih baik.
    Ada dua sumber ancaman eksternal terhadap keamanan nasional suatu negara ialah:
    1. Ketidak-stabilan keamanan nasional negara tetangga yang tidak terpecahkan terus menerus disebabkan tiga alasan tersebut di atas baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama; 2. Upaya negara tetangga untuk mengeluarkan pertumbuhan ekonomi perkapita yang secara marjinal negatif atau positif yang disebabkan oleh ketidak-seimbangan dalam sumber-sumber alam atau sumber daya manusia (SDM), dengan melakukan tekanan atau menampilkan ancaman pada negara lain. Ada tiga contoh ialah:
    1. Suatu negara yang tidak memiliki sumber daya alam dan SDM-nya jenuh dan dikarenakan ini negara tersebut memiliki kesulitan dalam pembangunan ekonominya lebih jauh;
    2. Suatu negara dengan SDM yang maju dan canggih tapi memiliki sumber daya alam yang sangat marginal dan dikarenakan ini negara tersebut memiliki rasio tingkat pertumbuhan ekonomi dan penduduk sedikit di atas satu. Sebab lainnya adalah tingkat pertumbuhan penduduknya adalah nol atau negatif maka negara ini mempunyai problem tambahan berupa keharusan membawa penduduknya yang berusia tua sebagai beban yang terus-menerus harus dipikul oleh meningkatnya proporsi orang-orang berusia muda yang lebih kecil di antara penduduknya. Karena tingkat kesejahteraan ekonominya yang sudah tinggi negara ini akan memiliki ekonomi biaya yang sangat tinggi dengan hasil yang negatif pada kemampuan bersaingnya;
    3. Suatu negara yang sudah maju dengan SDM yang canggih tapi SDA-nya sudah kurang-lebih menyusut.
    Menurut observasi saya dua jenis tanggapan terhadap ancaman eksternal adalah mungkin:
    1. Konflik militer atau konflik ekonomi;
    2. Kompromi atau konsensus untuk memelihara status quo baik di bidang militer atau ekonomi.
    Konflik pada giliran selanutnya akan dapat menjurus pada respons balik lebih jauh yaitu konfrontasi atau kerjasama. Dalam kompromi militer atau perang dingin, ancaman dicegah dari eskalasi perang atau konflik militer melalui konsensus untuk menjaga paritas (permusuhan) militer tanpa suatu peperangan. Dalam konpromi ekonomi, ancaman dicegah dari menjurusnya konflik terbuka dengan cara memelihara keseimbangan kekuatan antara kekutan-kekuatan ekonomi.
    Respons balik terhadap kompromi ini juga ada dua, konfrontasi atau kerjasama. Dengan kata lain, dalam pandangan saya, baik konflik maupun kompromi keduanya dapat menjurus pada konfrontasi militer atau ekonomi atau kerjasama militer atau ekonomi. Apa yang dapat dilakukan negara-negara tetangga ini untuk menghadapi ancaman-ancaman eksternal ini? Pada dasarnya, terdapat dua macam reaksi yang mungkin dilakukan. Yang pertama adalah konflik, berupa konflik militer dan/atau ekonomi.
    Reaksi kedua yang mungkin terjadi adalah konsensus, juga militer atau ekonomi. Konflik militer atau ekonomi dapat mengakibatkan reaksi-reaksi lain yang lebih lanjut. Konflik dapat menimbulkan konfrontasi, baik konfrontasi militer atau konfrontasi ekonomi. Atau mereka dapat justru menimbulkan kerjasama, juga militer atau ekonomi.
    Konflik dan Konfrontasi Lazimnya konflik militer menimbulkan perang atau konfrontasi militer lainnya. Reaksi ini menimbulkan beban-beban yang berat, tidak hanya berupa kehilangan sumber daya manusia dan sumber daya alam dalam perang, tetapi juga beban berupa biaya pengembangan dan penggunaan senjata dan sistem-sistem senjata yang diperlukan dalam operasi-operasi militer.
    Konfrontasi militer juga telah mengakibatkan pengembangan teknologi-teknologi maju dalam arti yang telah kami gunakan sebelumnya, yaitu teknologi-teknologi untuk suatu tujuan yang sangat terbatas, yaitu teknologi-teknologi untuk pengembangan senjata, sistem-sistem senjata dan prasarananya untuk memenangkan perang di darat, udara serta di atas dan di bawah permukaan laut. Karena tujuannya yang sangat terbatas, peralatan perang secara ekonomis sangat mahal.
    Pertama dan terutama, peralatan perang memiliki "pasar" yang sangat terbatas: pasarnya terbatas pada anggaran militer negara yang bersangkutan sendiri dan anggaran-anggaran militer sekutunya serta lain negara yang tidak dipandang sebagai suatu ancaman oleh negara produsen senjata tersebut. Karena itu, skala ekonomi industri-industri yang terlibat dalam pengembangan dan produksi senjata dan sistem-sistem senjata, lazimnya kecil dan biaya satuan produk-produknya, lazimnya tinggi. Lagi pula sistem-sistem senjata tidak memiliki manfaat ekonomi karena maksud utamanya adalah penghancuran.
    Bahkan jika mereka dapat dikembangkan lebih lanjut untuk penggunaan non-militer, penggunaan ini akan terpaksa dibebani biaya pengembangan awal yang tinggi dari tujuan-tujuan militernya semula. Karena itu teknologi-teknologi maju yang dikembangkan untuk tujuan-tujuan militer sangat mahal, tidak hanya karena mereka kecil skala ekonominya dan tidak bermanfaat ekonomi secara langsung, tetapi juga karena sumber daya yang diperlukan untuk pengembangan dan penggunaan alat-alat perang merupakan beban terhadap produktivitas dan efisiensi ekonomi negara. Dengan demikian, konfrontasi militer menciptakan atau memperparah defisit neraca pembayaran dan neraca berjalan, menguras cadangan devisa dan menimbulkan stagnasi dan keruntuhan ekonomi. Karena alasan-alasan itulah maka konfrontasi militer sebagai suatu reaksi lebih lanjut terhadap konflik yang disebabkan oleh ancaman-ancaman eksternal. harus dihindarkan. Sebagaimana halnya dalam "konfrontasi perang atau militer", di sini pun pihak-pihak yang bertikai didorong untuk mengembangkan teknologi-teknologi maju berorientasi pada senjata, sistem-sistem senjata dan prasarana militer untuk mempertahankan suatu visi tentang keseimbangan militer pada tingkat yang semakin tinggi sambil mempertahankan status quo. Akibatnya serupa dengan yang terjadi dalam konfrontasi militer. Sumber daya ekonomi dialihkan pada pengembangan teknologi-teknologi maju untuk senjata, sistem-sistem senjata dan prasarana militer yang tidak bermanfaat untuk ekonomi, dan menumbuhkan ekonomi biaya tinggi. Bahkan apabila teknologi-teknologi ini diadaptasi untuk penggunaan non-militer, mereka telah terlanjur berbiaya tinggi karena biaya-biaya pengembangan militer sebelumnya.
    Memang benar bahwa dalam rangka perluasan pasar, peningkatan skala ekonomi dan penurunan biaya satuan, selalu diupayakan dilakukannya adaptasi teknologi-teknologi maju militer menjadi teknologi-teknologi non-militer tinggi dalam waktu sesingkat mungkin. Tetapi sebagaimana halnya dalam kasus perang, juga dalam kompromi militer, hal ini dibatasi oleh biaya pengembangan awal dan luas pasar yang terbatas oleh sumber daya yang tersedia bagi sekutu dalam Perang Dingin. Kesemuanya ini menimbulkan beban berat pada ekonomi negara yang dapat menjurus pada stagnasi dan keruntuhan ekonomi. Inilah yang terjadi pada Uni Soviet dan sekutu-sekutunya dalam Perang Dingin. Oleh karena itu, konsensus militer semacam ini bukan merupakan suatu reaksi yang baik terhadap konflik dan perlu dihindarkan. Konfrontasi militer sebagai respons balik terhadap konflik menyebakan beban yang berat tidak hanya berupa hilangnya sumber daya manusia dan sumber daya alam dalam peperangan tapi juga dalam bentuk biaya untuk pengembangan dan penggunaan senjata dan sistem senjata yang diperlukan dalam pelaksanaa operasi militer. Memang benar bahwa konfrontasi militer dapat menggerakkan pembangunan teknologi maju - menurut terminologi yang saya gunakan di sini. Namun senjata dan sistem senjata adalah sangat mahal dan juga tidak memiliki keuntungan ekonomis karena tujuan utamanya adalah pengrusakan atau penghancuran. Lagi pula, diversi (beragamnya) penggunaan yang tidak ekonomis terhadap sumber-sumber daya merupakan beban terhadap efisiensi dan produktivitas ekonomis suatu negara. Konfrontasi militer menciptakan atau memperbesar defisit dalam neraca pembayaran maupun dalam defisit transaksi berjalan, berkurangnya cadangan devisa luar negeri dan dapat menjurus pada stagnasi dan kebangkrutan ekonomi; karena alasan ini konfrontasi militer sebagai respons lebih jauh terhadap konflik yang disebabkan oleh ancaman eksternal harus dihindarkan. Jenis kedua konflik yang disebabkan oleh ancaman-ancaman eksternal terhadap keamanan adalah konflik ekonomi.
    Di sinipun, reaksi lebih lanjut dapat berupa konfrontasi, Dalam hal ini, konfrontasi ekonomi dapat mendorong negara-negara tertentu menutup pasarnya bagi produk-produk negara-negara lain. Sebagaimana halnya di dalam perang, juga dalam konfrontasi ekonomi, negara akan mengorbankan produktivitas dan efisiensi ekonominya dengan membatasi skala ekonomi industrinya.
    Sebagaimana halnya di dalam konfrontasi militer, konfrontasi ekonomi juga memerlukan pengembangan teknologi-teknologi tinggi. Namun berbeda dari konfrontasi militer, militer atau konfrontasi militer, pengembangan teknologi-teknologi tinggi dalam konfrontasi ekonomi memiliki manfaat ekonomi dan sosial yang lebih tinggi dan karena itu skala ekonominya lebih besar dengan biaya yang relatif lebih rendah. Lazimnya, konfrontasi ekonomi menimbulkan produktivitas dan efisiensi yang tinggi. Namun karena konfrontasi, pengembangan teknologi-teknologi tinggi juga dapat menimbulkan biaya ekonomi tinggi. Dan dalam jangka panjang, konfrontasi ekonomi akan menimbulkan biaya tinggi dalam ekonomi pihak-pihak yang bertikai. Karena itu, konfrontasi ekonomi bukan merupakan reaksi yang paling optimal terhadap konflik.
    Konflik dan Kerjasama Reaksi yang sama sekali lain terhadap konflik adalah konsensus atau kompromi. Sebagaimana kompromi militer, dalam kompromi ekonomi pun bisa ada respons balik konfrontasi. Dalam skenario konfrontasi di bawah kompromi militer pihak-pihak yang bermusuhan juga didorong untuk mengembangkan teknologi maju yang berorientasi pada senjata, sistem senjata dan infrastruktur militer untuk memelihara persepsi keseimbangan militer pada tingkat yang selalu lebih tinggi. Akibat respons ini adalah serupa dengan akibat konfrontasi militer.
    Dalam skenario konfrontasi di dalam kompromi ekonomi yaitu upaya untuk memelihara keseimbangan kekuatan antara kekuatan-kekuatan ekonomi, kedua pihak yang bertikai akan menolak untuk memperluas pasar jika hal ini diperkirakan akan dapat meningkatkan kekuatan ekonomi pihak lainnya. Dan karena itu tidak menyeimbangkan status quo. Lagi, respons balik yang lebih baik adalah kerjasama ekonomi. Di sinipun terdapat dua versi, kompromi militer atau kompromi ekonomi. Dalam "kompromi militer", situasinya adalah konflik menuju perang, tetapi perang atau konfrontasi militer dihindari oleh konsensus untuk mempertahankan status quo tanpa suatu perang. Hingga akhir-akhir ini, contoh terbaik kompromi militer ada!ah Perang Dingin.
    Contoh-contoh masa kini dalam kawasan kita adalah konflik di Semenanjung Korea dan yang terjadi antara Republik Rakyat Cina dan Cina Taipei. Konsensus ekonomi adalah upaya mempertahankan status quo, yaitu keseimbangan kekuatan antara adidaya ekonomi. Dalam reaksi terhadap konflik semacam ini, pihak-pihak yang bertikai menolak memperluas pasar dalam rangka kerjasama apabila hal ini dipandang akan meningkatkan kekuatan ekonomi pihak lawan sehingga mengganggu status quo. Karena itu, alternatif ini dibatasi oleh kesukaran-kesukaran yang disebabkan oleh kendala-kendala yang terlihat dan tidak terlihat yang sukar diatasi. Meskipun demikian, dalam kompromi/konsensus ekonomi pun dapat diperoleh kemajuan, yaitu dengan pelaksanaan evolusi yang dipercepat yang dapat dikendalikan dan berisiko rendah. Hal ini menyangkut pelaksanaan cepat suatu proses akselerasi langkah-demi-langkah yang memperhitungkan sifat ekonomi dan teknologi proses yang bersangkutan, yang tekendali dan berisiko rendah. Reaksi lain terhadap konflik adalah kerjasama: ekonomi atau militer. Benar bahwa dewasa ini orang lebih mudah membayangkan dan memberikan contoh mengenai kerjasama ekonomi daripada kerjasama militer karena reaksi yang lebih lazim terhadap ancaman militer dan konflik militer adalah konfrontasi militer. Namun, sebelum runtuhnya Uni Soviet dan Blok Soviet, terdapat kerjasama militer pada skala global antara sekutu masing-masing pihak dalam Perang Dingin. Dewasa ini, dengan berakhirnya perang dingin, tidak ada kerjasama militer pada skala global dengan tingkat kemapanan pengaturan-pengaturan keamanan di kedua belah pihak seperti yang terdapat terdahulu. Sebaliknya, dapat diberikan contoh-contoh kerjasama militer pada skala yang lebih terbatas. Juga menarik untuk dicatat bahwa Perang Dingin terselesaikan bukan karena berhasilnya pihak tertentu mengalahkan lawannya tetapi karena keruntuhan ekonomi Uni Soviet dengan akibat disintegrasi sistem interdependensi ekonomi antara Uni Soviet dan sekutunya dalam Perang Dingin.

    Thursday, August 19, 2010

    Islam dan Pengentasan Kemiskinan


    Islam dan Pengentasan Kemiskinan

    Disampaikan dalam Silaknas ICMI, di Surabaya pada Desember 1996.
     
    Pada waktu Orde Baru memulai dengan Repelita, bangsa Indonesia hanya memiliki volume perdagangan sebanyak US$ 1,6 milyar. Dan dari US$ 1,6 itu sekitar 5% boleh dikatakan hasil dari selisih ekspor dan impor, berarti neraca dari perdagangan kita adalah positif. Dua puluh lima tahun kemudian, bangsa Indonesia bekerja keras, bangsa Indonesia sudah bi-sa menghasilkan volume perdagangan lebih dari 44 kali, yakni lebih dari US$ 70 milyar, sedangkan neraca perdagangan itu positif, kurang lebih 8% dari seluruh volume perdagangan bangsa.

    Pemerataan dengan segala kekurangannya itu telah tercermin pada kenyataan, bahwa jikalau pada awal pembangunan hanya 35% saja yang bisa hidup di atas garis kemiskinan, maka setelah 25 tahun, 85% dari rakyat Indonesia hidup di atas garis kemiskinan. Dan, jikalau 85% itu benar-benar merata, dan 85% itu adalah umat Islam 85% dari 90% umat Islam maka jangan heran jikalau sekitar 72% lebih dari umat Islam Indonesia itu adalah yang bernafaskan Al Quran dan Sunnah yang hidupnya di atas garis kemiskinan dan menonjol dalam tingkat menengah dan menuju kepada pimpinan.


    Itu adalah suatu pembangunan yang berorientasi kepada sumberdaya manusia yang kita kehendaki. Kenapa pembangunan pada awal dengan US$ 1,6 milyar volume perdagangan itu, 80% adalah kontribusi dari sumber daya manusia, sedangkan hanya 20% dari sumber daya yang lain. Sebaliknya, sekarang 80% datang dari sumber daya manusia dan hanya 20% datang dari sumber daya alam. Itu berarti telah terjadi suatu transformasi di dalam skenario pembangunan bangsa yang tadinya mengandalkan sumber daya alam, sekarang yang diandalkan adalah sumber daya manusia.

    Oleh karena itulah, maka ICMI mempunyai program tunggal ialah 5K, 5K itu kaitannya hanya dengan sumber daya manusia. Karena hanya dengan kualitas iman dan taqwanya, kualitas pikirnya, kualitas kerjanya, kualitas karyanya, dan kualitas hidupnya sumber daya manusia bisa dikaitkan dengan pembangunan, dan bukan tanaman atau robot. Oleh karena itu, ICMI hanya mengenal satu program yaitu program utama 5K.


    Mengenai demokrasi, saya minta jangan disalahartikan, bahwa saya datang mengambil tugas orang lain untuk menjelaskan. Telah saya jelaskan karena saya diminta dengan hormat oleh Presiden dari suatu bangsa yang terhormat. Saya jelaskan mengenai politik, saya sampaikan bahwa bangsa Indonesia sudah berumur 51.


    Dalam 51 tahun umur bangsa Indonesia, kita masih tetap berada pada Presiden RI yang kedua, mencerminkan sekaligus kenapa 21 tahun pertama dari pada usia bangsa Indonesia merdeka itu, bangsa Indonesia telah memiliki dan sampai pada hari ini konsisten pada dasar negara Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. Dalam 21 tahun pertama, mencari penerapannya yang paling intens untuk dijadikan dasar dari kehidupan dan pembangunan bangsa Indonesia yang berorientasi kepada kepentingan manusia Indonesia. Karena bangsa kita pada periode awal belum berpengalaman.

    Dalam 21 tahun pertama, ternyata parta-partai di bumi Indonesia ha-nya bisa bertahan rata-rata 10 bulan saja. Siapa yang bisa merencanakan dan mengimplementasikan suatu rencana dalam 10 bulan? Tidak ada. Oleh karena itu, dalam 21 tahun pertama itu, dengan ti-dak mampu mengamankan suatu perencanaan yang berkesinambungan apalagi pelaksanaannya yang berkesinambungan, maka pertumbuhan dari GNP kita lebih kecil daripada pertumbuhan penduduk kita. Karena penduduk kita pertumbuhannya lebih cepat, maka akibat dari itu bangsa Indonesia belum dapat menikmati proses kesejahteraan yang dialami adalah proses kemelaratan. Sejarah mencatat kenyataan itu bukan karangan dari Bacharuddin Jusuf Habibie, Ketua Umum ICMI, ataupun Menristek, itu fakta.


    Oleh karena itu, bangsa kita dalam 21 tahun yang pertama, hanya mam-pu melaksanakan satu kali saja Pemilu. Saudara bisa bayangkan bagaimana dengan hanya melaksanakan satu ka-li Pemilihan Umum kita hendak melaksanakan Demokrasi Pancasila yang memang kita kehendaki sesuai dengan budaya bangsa kita. Sungguh sulit.


    Sekarang, dalam waktu 29 tahun dari Orde Baru atau ham-pir 30 ta-hun Orde Baru apa yang terjadi? Kita telah melaksanakan Pemilihan Umum sebanyak 5 kali. Kita melaksanakan pembangunan 5 tahun yang berkesinambungan, sudah lima kali, kini dalam proses keenam kali, bahkan sudah mampu menetapkan bersama-sama Garis Garis Besar Haluan Negara untuk 25 tahun yang akan datang sampai tahun 2019. Bukan itu saja, tidak lama kita sudah bisa menjadikan Pe-milihan Umum suatu mekanisme dari Demokrasi Pancasila yang dijadikan bagian terpadu dari budaya bangsa Indonesia.

    Namun yang penting kita harus belajar, demikian penjelasan saya kepada Presiden Chirac. Yang penting bukan saja mekanisme demokrasi, melainkan adalah pelaku dalam demokrasi itu sendiri. Dan justru di sinilah pembangunan di Indonesia, menghasilkan manusia-manusia lebih banyak yang berkualitas tinggi, kehidupan di atas garis kemiskinan. Bahkan, sesuai dengan data-data yang masuk, sudah lebih dari 100 juta manusia Indonesia dapat digolongkan hidup dalam tingkat menengah.

    Tingkat menengah adalah tulang punggung dari demokrasi. Dan kita mencatat, bahwa pertumbuhan dari GNP dan pertumbuhan penduduk itu bukan satu atau kurang dari satu, tetapi 4-5, itu berarti bangsa Indonesia benar-benar telah mampu melaksanakan proses kesejahteraan. Oleh karena itu, dengan adanya ma-nusia Indonesia yang telah melampaui critical mass, dalam arti jumlah manusia Indonesia yang telah mendapatkan pendidikan yang wajar dan telah mampu mendapatkan informasi yang tepat dan berkualitas tinggi, maka Demokrasi Pancasila berjalan sesuai dengan cita-cita yang telah ditetapkan ber-sama atau dijadikan dasar dari kehidupan bangsa Indonesia melalui konstitusi bangsa kita sendiri.

    Kesimpulannya ialah tidak ada alasan bagi kita untuk prihatin mengenai kesinambungan kehidupan politik di bumi Indonesia dan tidak ada alas-an untuk menjadi pesimis. Tidak ada alasan pesimis terhadap (Post Soeharto). Atau dalam bahasa Indonesia, pasca Soeharto dan abad yang akan datang, karena tidak ada manusia yang hidup kekal. Yang hidup adalah cita-cita, pemikiran, filsafat, strategi dan pemikiran manusia itu ribuan tahun. Manusia-manusia yang memiliki cita-cita dan memikirkan yang hidup seperti demikianlah dan di dalamnya adalah mandataris MPR, Bapak Presiden Republik Indonesia, bersama-sama dengan seluruh rakyat telah mampu melaksanakan kenyataan-kenyataan yang saya sebutkan tadi. Jika benar-benar bangsa kita cinta tanah air dan bertekad bulat untuk terus melaksanakan pembangunan tidak ada alasan untuk meragukan kesinambungan dari pembangunan kehidupan politik, stabilitas politik maupun ekonomi di bumi Indonesia dan tidak ada alasan untuk memikirkan atau memprihatinkan bagaimana jikalau mandataris MPR atau Generasi ’45 itu tidak ada lagi di kalangan bangsa Indonesia.

    Karena yang abadi dari Generasi ’45 bukan tubuhnya, bukan keberadaannya, tetapi jiwanya yang selalu mekar dan hidup dari genarasi ke genarasi penerus; dan Bapak Presiden Soeharto adalah salah satu tokoh dan pada waktu itu tokoh di ujung tombak berpegang tangan mewakili Generasi ’45 yang telah melaksanakan suatu karya nyata menjadikan Indonesia yang seperti kita alami sekarang ini. Bangsa Indonesia siap untuk memasuki abad akan datang sesuai dengan jadualnya dan sesuai dengan kekuatan yang dipersiapkan oleh bangsa itu sendiri. Ini saya jelaskan kepada Presiden Chirac.

    Lalu beliau bertanya bagaimana mengenai Islam, beliau mengatakan: "Saya menaruh banyak perhatian kepada umat Islam, mengapa? Karena umat Islam di Perancis cukup besar jumlahnya dan Perancis sendiri erat kaitannya dengan negara-negara di Timur-Tengah dan Afrika dan mereka sebagian besar adalah negara Islam". Beliau sangat peduli terhadap keadaan nasib dan wawasan dari umat Islam. Saya sampaikan, bahwa kami menyadari 25% dari umat manusia seluruh dunia adalah umat Islam dan 25% itu bisa menghasilkan kurang 5% dari GNP dari umat manusia. Kalau kita mau proporsionalkan, maka umat Islam yang 25% jumlahnya dari umat manusia seharusnya memberikan kontribusi sebanyak 25% dari GNP dunia.


    Oleh karena itu, ICMI harus berorientasi kepada pengembangan sumber daya manusia, harus berorientasi kepada pelaksanaan program tunggal dari ICMI, 5K, harus mengembangkan prasarana dari pengembangan sumber daya manusia, prasarana dari ilmu pengetahuan dan teknologi dan umat Islam harus bersatu dan sama-sama hidup sejajar, bertanggung jawab, sayang-menyayangi dan tidak mengenal pula SARA dan bekerja secara efisien untuk bisa menghasilkan karya-karya nyata yang bisa dinikmati oleh umat manusia pada umumnya, khususnya umat Islam yang ternyata prihatin dibandingkan dengan umat yang lain itu karena kehidupan GNP per kapitanya jauh lebih rendah.


    Mengenai ICMI, mengenai program tunggal ICMI, bahwa ICMI ha-nya punya satu program adalah 5K dan itu diperuntukkan untuk memerangi kemiskinan dan ketidakpedulian. Atau ICMI telah menyatakan perang dan akan berperang melawan kemiskinan dan ketidak pedulian terhadap umat. Bahwa ICMI telah mengambil prakarsa bersama ikatan cendekiawan dari umat-umat yang lain untuk menandatangani suatu pernyataan cendekiawan Indonesia yang mutiara-mutiara pemikirannya seperti disampaikan tadi, tersirat di dalamnya secara eksplisit dan implisit. Dan itu memperlihatkan, bahwa bangsa Indonesia yang berbudaya Pancasila benar-benar tidak mengenal SARA dalam bentuk apapun juga. Dan kalau diperhatikan lebih dalam memang umat Islam yang nafasnya al-Qur’an dan Sunnah, tidak mengenal SARA dalam bentuk apapun juga. Ini saya sampaikan kepada Presiden Chirac.

    Kita berhasil pula bersama umat Islam yang lain mendirikan suatu "International Islamic Forum for Science Technology and Human Resources Development" dan saya jelaskan, bahwa sasarannya tiada lain adalah pengembangan sumber daya manusia untuk memberikan darma bakti kepada terjadinya peningkatan kesejahteraan di antara umat yang hidup da-lam perdamaian dan kesejahteraan di dunia ini.


    Sekarang saya minta perhatian terhadap beberapa isu. Pertama-tama, kita sebentar lagi menghadapi Pemilihan Umum dan SU-MPR, kita sebagai organisasi Cendekiawan Muslim se-Indonesia dan juga menjadi anggota organisasi-organisasi yang lain, baik yang politik maupun tidak politik yang ikut mendirikan ICMI dan memanfaatkan ICMI sebagai katalisator untuk lebih meningkatkan produktivitas dan efisiensi organisasi, hen-dak-lah kita berkarya di bumi Indonesia ini, apakah itu organisasi Islam Muhammadiyah, ula-ma ataupun yang lain seperti pesantren atau LSM di mana pun Anda berada, ICMI tempatnya di mana kita datang bersama bertukar pikiran untuk me-ning-katkan keterampilan kita dan menghindari ada-nya distorsi dari informasi yang mengakibatkan mengadu domba antara kita satu sama lain dan kita meningkat terus efisiensi dan produktivitas kita bekerja dan berkarya.

    ICMI adalah tempatnya kita ber-ada bersama untuk tukar pikiran dan bersama-sama meningkatkan kualitas dari sumber daya manusia itu sesuai de-ngan program 5K. Oleh karena itu, melalui jaringan ICMI Orwil-Orsat dan organisasi-organisasi yang lain, kita harus bersama-sama mensukseskan pemilihan umum dan Sidang Umum MPR. Kita harus mendukung langkah-langkah.


    Di dalam penjelasan saya kepada Presiden Perancis, saya telah berusaha menjelaskan bahwa bangsa Indonesia dalam 28 ta-hun terakhir ini sudah berhasil menjadikan mekanisme Demokrasi Pancasila sebagai bagian terpadu daripada budaya bangsa. Dan manusia yang berada di dalam mekanisme itu ternyata sebagian besar adalah umat Islam dan sebagian besar pula adalah tokoh-tokoh dari masyarakat. Tetapi, jangan lupa sebagian besar pula yang masih hidup di bawah garis kemiskinan adalah juga bagian dari umat Islam. Oleh karena itu, kita sebagai ICMI tidak bisa melakukan pengkhianatan, kita jangan lupa asal kita dari mana? Dari bawah. Dari bawah naik ke atas, itu prosesnya. Bukan dari atas turun ke bawah, malah turun dan jadi negatif.

     
    Jadi kita tidak lupa, bahwa 90% rakyat adalah umat Islam, maka tokoh-tokohnya sebagian besar umat Islam. Tetapi yang dhuafa yang membutuhkan bantuan juga adalah sebagian besar umat Islam. Dan justru merekalah yang harus kita perhatikan, supaya mereka dapat hidup dan menikmati kehidupan di atas garis kemiskinan. Bukan itu saja, tetapi umat Islam harus bisa memasuki masyarakat tingkat menengah sebanyak mungkin. Karena sasaran kita adalah 95% dari rakyat, insya Allah suatu hari nanti termasuk golongan tingkat menengah.


    Oleh karena umat Islam itu sebagian besar adalah pribumi, maka jangan heran kalau yang hidup di bawah garis kemiskinan itu justru adalah pribumi dan adalah umat Islam itu sendiri. Bilamana kita melaksanakan perjuangan, lebih banyak lagi memperhatikan yang lemah dan membutuhkan perhatian khusus, jangan dianggap sikap itu sikap salah. Sikap itu adalah sikap demokrasi. Oleh karena itu, kalau saya mengatakan bah-wa program ICMI bukan saja mem-per-siap-kan kader untuk pimpinan tetapi juga mengambil peran secara luas untuk ikut meningkatkan kualitas hidup seluruh bangsa Indonesia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Dan kalau ia sudah ke luar dari garis kemiskinan, maka manusia itu kita tingkatkan agar supaya mereka bisa menganggap dirinya hidup dalam tingkat menengah.


    Itu adalah satu-satunya itikad keberadaan kita di dalam organisasi ICMI. Dan oleh karena itu kita sudah menggaris bawahi, sudah membuat komitmen untuk mensukseskan De-mokrasi Pancasila dan Demokrasi Pancasila itu berlandaskan pada adanya Pemilihan Umum dan Sidang Umum MPR.


    Pemikiran Dasar Seorang Kader
     
    Persiapan-persiapan yang dilaksanakan bertujuan agar kita berkualitas lebih tinggi. Sekarang ini kita sebagai kader, kader untuk pimpinan bangsa ini, pimpinan yang tertinggi, pimpinan yang tinggi, pimpinan yang paling menengah atas, paling menengah bawah, pimpinan di mana pun, sampai golongan dhuafa juga memerlukan kita. Dalam hal itu kita munculkan kader ICMI, kaderisasi harus dilaksanakan di masjid-masjid, bukan kaderisasi untuk satu partai atau satu golongan. Tetapi, apakah nanti ia lebih suka memilih partai apa saja atau-pun tidak berpartisipasi atau hanya mau ja-di profesor, tetapi sikapnya tetap sama saja.

    Kita persiapkan ini karena kita melaksanakan program 5K. Catatan saya mengenai pemikiran dasar untuk sikap kader dari ICMI. Saya sebutkan dasar pemikiran un-tuk sikap kader, adalah sebagai berikut:

    Pertama, pentingkanlah berdialog dan bukan monolog.

    Kedua, perhatikan pimpinan kolektif dan bukan pimpinan kelompok atau pimpinan perorangan.

    Ketiga, tanggung jawab kolektif dan bukan tanggung jawab kelompok atau perorangan.

    Keempat, jangan lupa mu-syawarah dan mufakat dan bukan konflik, atau pertentangan yang dibuat-buat dan hasilnya pun harus melalui pemungutan suara, tetapi harus musyawarah dan mufakat.

    Kelima, pemerataan yang kita pentingkan dan bukan monopoli.

    Keenam, kerjasama yang kita utamakan dan bukan konfrontasi.

    Ketujuh, saling ketergantungan dan saling mengisi dan bukan dalam hal ini individualistik.

    Kedelapan, keadilan yang berdasarkan satu tolok ukur yang sama dan bukan keadilan berdasarkan tolok ukur yang ganda.

    Kita merasakan memperjuangkan keadilan, tetapi untuk bertindak adil kadang-kadang kita lupa tolok ukurnya. Kadang-kadang sudah biasa bertolok ukur yang tidak konsisten. Di sinilah kita bekerja saling meng-un-tungkan dan bukan diskriminasi dan eksploitasi satu sama lain, ini yang kesembilan, Dan kesepuluh, demokrasi yang kita perjuangkan ada-lah demorkasi Pancasila dan bukan demokrasi liberal komunisme atau demokrasi ala budaya orang Barat.