Monday, June 20, 2011

Presidential Lecture Presiden RI Dalam Rangka Indonesia Young Leaders Forum 2011

Pidato Presiden

Presidential Lecture Presiden RI Dalam Rangka Indonesia Young Leaders Forum 2011


TRANSKRIPSI
PRESIDENTIAL LECTURE DENGAN TEMA "SBY ON LEADERSHIP" OLEH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PRESIDENTIAL LECTURE OLEH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DALAM RANGKA INDONESIA YOUNG LEADERS FORUM 2011
BALLROOM, HOTEL RITZ CARLTON PACIFIC PLACE
9 JUNI 2011



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu''alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati para Menteri, para Anggota DPR RI, dan para Anggota DPD RI, Saudara Gubernur DKI Jakarta, Saudara Ketua Umum HIPMI, para Sesepuh dan Senior HIPMI, Saudara Ketua dan para Anggota Komite Ekonomi Nasional, Saudara Dekan Fakultas Ekonomi UI beserta para Guru Besar UI, para Pimpinan Dunia Usaha, baik BUMN maupun swasta, para Tokoh dan Pemimpin Muda, Pemimpin Masa Depan, utamanya dari kalangan HIPMI yang saya cintai dan saya banggakan,

Sebelum saya menyampaikan ceramah tentang kepemimpinan sebagaimana yang dimintakan oleh Pimpinan HIPMI, sebagaimana tadi Ketua Panitia Penyelenggara memperkenalkan diri. Barangkali saya juga perlu memperkenalkan diri.

Nama saya, SBY. Jabatan saya, Presiden Republik Indonesia ke-6 hasil Pemilu 2004 dan Pemilu 2009. Saya bukan Capres tahun 2014. Istri, saya ulangi, istri dan anak-anak saya juga tidak akan mencalonkan menjadi Presiden 2014. Saat ini saya juga tidak mempersiapkan siapa-siapa untuk menjadi Capres 2014, biarlah rakyat dan demokrasi yang berbicara pada tahun 2014 mendatang. Setiap orang memiliki hak dan peluang untuk running for RI1. Atas dasar itulah Saudara-saudara, para Pemimpin Muda, saya menerima dengan baik Saudara Erwin Aksa untuk memberikan ceramah tentang kepemimpinan hari ini, on leadership.

Kalau tidak saya jelaskan dan saya perkenalkan siapa saya, dan keluarga saya, utamanya bukan menjadi Capres 2014, saya khawatir Saudara Erwin dan Saudara semua dicurigai oleh pihak-pihak yang kegemaran dan kebahagiannya bercuriga. Bisa-bisa Saudara dituduh jadi tim suksesnya SBY tahun 2014. Tahun 2014, saya tidak perlu tim sukses karena Insya Allah saya akan jatuh tempo.

Meskipun demikian Saudara-saudara, hampir pasti akan ada komentar yang negatif, serta gorengan, plintiran terhadap acara yang tebuka hari ini, tapi jangan khawatir, Allah Maha Mengetahui, rakyat juga punya hati. Jadi acara kita hari ini sah dan halal karena niatnya baik, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT memberikan rahmat, berkah dan ridho-Nya. Semoga pula para pemimpin muda, doa saya dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga Saudara semua semakin sukses dalam karier dan profesi dan terus tumbuh menjadi pemimpin-pemimpin tangguh di negeri ini. Itu perkenalan dan pengantar saya.

Sekarang saya ingin menyampaikan ceramah saya tentang kepemimpinan. Saya beri judul “Memimpin di Era Perubahan”. Mengapa saya pilih judul seperti itu? Kita semua tahu negara kita berada dalam proses transformasi, perubahan besar, termasuk di dalamnya reformasi dan demokratisasi saat ini. Segala bidang kehidupan sekarang tengah mengalami perubahan, baik di pusat maupun di daerah, baik di bidang ekonomi, bisnis, politik, pemerintahan, militer, dan bidang-bidang kehidupan bangsa yang lain.

Dari judul itu, Memimpin di Era Perubahan, saya ingin mengedepankan empat hal utama. Pertama, tentang kepemimpinan itu sendiri on leadership.

Yang kedua, tantangan bagi para pemimpin Indonesia di era perubahan sekarang ini. Kemudian yang ketiga, saya ingin juga menyampaikan apa yang saya lakukan Saudara-saudara, dalam memimpin negeri dewasa ini untuk sebuah pembelajaran, lesson to be learnt. Dan yang terakhir nanti adalah pesan dan harapan saya kepada Saudara semua, utamanya para pemimpin muda Indonesia agar sekali lagi, Saudara semua sukses.

Hadirin yang saya hormati,

Mari kita mulai dari bagian pertama dari ceramah saya ini, yaitu tentang kepemimpinan. Saya akan mulai dengan mengedepankan sejumlah pertanyaan kunci, key questions on leadership. Untuk apa? Untuk menyegarkan pengetahuan kita tentang kepemimpinan dan setelah itu, saya akan akhiri bagian pertama itu untuk mengambil esensi tentang kepemimpinan dan barangkali juga kiat-kiat kepemimpinan yang bisa kita pelajari bersama-sama.

Saudara-saudara,

Berkaitan dengan pertanyaan kunci tentang kepemimpinan, saya memiliki sejumlah catatan, antara lain, apa itu kepemimpinan, apa bedanya dengan manajemen. Kemudian apa yang perlu dimiliki dan diketahui oleh seorang pemimpin, oleh kita semua, oleh Saudara, apa yang harus dilakukan oleh pemimpin, apakah gaya kepemimpinan itu harus selalu sama dari satu pemimpin ke pemimpin yang lain, kemudian apa kriteria sukses seorang pemimpin.

Agar seorang pemimpin itu sukses, apakah yang bersangkutan harus berorientasi kepada nilai atau values, atau pada proses, atau pada result, hasil, performance. Kalau kita membaca sekian puluh buku tentang kepemimpinan, teorinya berbeda-beda. Pertanyaan yang lain adalah, adakah kesamaan antara memimpin di dunia politik, di dunia bisnis, dan di dunia militer.

Menghadapi masalah dan tantangan dewasa ini yang makin kompleks, dan sering penuh dengan dilema dan paradoks, apa yang mesti dilakukan oleh seorang pemimpin. Kemudian bagi para pemimpin Indonesia, dalam era transformasi dan perubahan besar sekarang ini, tantangan apa yang unik, yang khas, dan kemudian bagaimana kita semua dapat melakukan misi kepemimpinan dengan tepat.

Tiga pertanyaan berikutnya lagi berkaitan dengan apa yang saya lakukan dalam memimpin negeri ini, saya ingin menyampaikan ke hadapan Saudara semua nanti, mengapa atau rational apa yang saya pilih sebagai Presiden dalam menjalankan kepemimpinan sekarang ini. Saya tahu banyak kritik dan komentar. Saya ingin sampaikan my rational, the why, saya mengambil cara-cara memimpin seperti sekarang ini. Masih berkaitan dengan what I have done in leading this country, secara khusus saya ingin mengedepankan beberapa contoh menyangkut keputusan-keputusan penting, strategi, kebijakan dan tindakan yang saya lakukan selama hampir 7 tahun ini, termasuk argumentasi apa yang melandasinya.

Dan less but not least, di akhir ceramah saya nanti, saya sungguh ingin Saudara semua sukses. Oleh karena itu, saya ingin menyampaikan pesan dan harapan kepada Saudara semua sebagai pemimpin-pemimpin masa depan yang insya Allah tidak akan lama lagi untuk mengambil peran dan tanggung jawab yang lebih besar melanjutkan kepemimpinan di negeri kita ini.

Itulah key questions, critical questions to be answered. Saya ingin menyampaikan jawaban yang bisa Saudara nalar, pikirkan ataupun rasakan. Dan sekali lagi, ini bisa menyegarkan ingatan kita tentang kepemimpinan. Apa itu kepemimpinan, Saudara-saudara? Banyak teori, banyak definisi, tetapi saya memilih kepemimpinan itu tiada lain adalah seni dan ilmu mempengaruhi atau mengajak orang lain untuk mencapai tujuan, goal, objectives dari sebuah organisasi, apa pun organisasi itu, mulai dari tingkat terendah sampai negara. Kepemimpinan juga boleh dimaknai sebagai proses untuk mengajak yang lain untuk menjalankan misi, termasuk menciptakan lingkungan atauenvironment yang kondusif bagi pencapaian tujuan atau sasaran. Dan ada yang mengatakan, leadership tiada lain adalah the art of persuasion. Itu kurang lebih makna kepemimpinan menurut cara pandang saya.

Lantas apa bedanya dengan manajemen. Kepemimpinan sesungguhnya lebih berorientasi kepada manusianya, sedangkan manajemen mengait kepada semua resources, sumber daya yang harus dikelola oleh seorangmanager, termasuk human capital untuk mencapai tujuan. Meskipun dua-duanya tidak bisa dipisahkan, kait-mengait, tali-temali, dan saling mempengaruhi.

Saudara,
Pertanyaan yang lain adalah apa yang perlu dimiliki oleh pemimpin. Saya yakin Saudara akan setuju, pemimpin haruslah memiliki karakter, memiliki kapasitas intelektual, syukur-syukur punya pengalaman memimpin, dan di atas segalanya dia harus bisa memimpin. Orang yang sangat cerdas, yang karakternya baik belum tentu bisa memimpin. Oleh karena itu, harus belajar, dilatih, dididik, diberikan pengalaman agar juga bisa memimpin dengan baik.

Sedangkan apa yang mesti diketahui oleh kita semua, sebagai pemimpin, tentu kita harus tahu tujuan dan sasaran bisnis anda, negara kita, provinsi X, organisasi apa pun, termasuk partai politik apa yang menjadi goal, tujuan atau sasaran. Lantas kita tahu semua dalam dinamika, dalam lingkungan yang dinamis, kita harus tahu SWOT, strength and weakness, lantas opportunity and threat. Orang yang mengerti SWOT hampir pasti makin efektif di dalam memilih cara untuk mencapai tujuan.

Kemudian pada tingkat yang lebih tinggi, cara mencapai tujuan kompleks. Oleh karena itu, harus dirumuskan strateginya seperti apa, taktiknya seperti apa, caranya juga seperti apa. Dan ketika misi dilaksanakan, kepemimpinan dilakukan hampir pasti ada masalah sepanjang ada perjalanan. We have to find solution, kita harus mendapatkan solusi untuk mengatasi persoalan, hambatan, tantangan ketika oganisasi digerakkan untuk mencapai tujuan.

Saudara-saudara,
Pertanyaan yang lain, lantas apa yang mesti dilakukan oleh seorang pemimpin, ya memimpin, to lead, membangun lingkungan dan kebersamaan, to develop, dan kemudian ya akhirnya mencapai sasaran atau tujuan, to achieve. Sederhana sekali, tetapi itu fundamental karena harus dilaksanakan.

Pada tataran yang lebih strategis, menghadapi persoalan yang amat kompleks, tujuan yang berjangka lebih panjang, maka leadership haruslah juga bisa menunjukkan visi, bisa menentukan apa tujuan dan sasaran, memberikandirections yang jelas, memastikan bahwa semua directions itu dilaksanakan, termasuk rencana-rencananya, dan kemudian pemimpin memberikan motivasi, mendorong melakukan pengawasan agar tujuan itu bisa dicapai.

Saudara-saudara,
Tadi saya mengatakan apakah gaya kepemimpinan dari satu pemimpin dengan pemimpin yang lain harus sama. Meskipun circumstances-nya sama, negerinya sama, saya katakan, tergantung kepribadian dan pilihan masing-masing, terpulang pula pada situasi yang dihadapi. Ada dalam teori kepemimpinan, Saudara juga sudah mengetahui, ada tipe pemimpin yang seperti diktator, yang otoritarian, yang demokrasi, yang laissez faire atau longgar, atau bebas, tentu semua itu ada semua itu ada konteksnya masing-masing, yang penting tujuan dan sasaran bisa dicapai.

Saudara-saudara,
Tadi saya mengatakan apakah untuk sukses itu pemimpin lebih baik berorientasi pada nilai atau values, atau proses, atau hasil akhirnya, atau result. Begini Saudara-saudara, pada akhirnya, berhasil atau tidak berhasilnya seorang pemimpin diukur dari apakah tujuan dan sasaran dapat dicapai atau apakah misi dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam kaitan itu, masih saya katakan dalam lingkup yang lebih besar membangun sebuah negara, belum tentu bisa dilihat hasil 15 tahun ke depan, 25 tahun depan, tetapi bisa diketahui apakah ada progress, ada kemajuan dalam kepemimpinan seseorang, apakah di daerah, apakah di pusat atau dalam konteks apa pun.

Saya tadi mengatakan meskipun akhirnya yang dilihat adalah hasil, result, performance, tetapi tidak mungkin itu dicapai kalau prosesnya tidak benar, dan proses yang benar pastilah juga sang pemimpin tetap bertumpu kepada nilai dan prinsip-prinsip yang baik dan benar. Saya pikir ada kait-mengaitnya satu sama lain.

Para Pemimpin Muda yang saya cintai,

Apakah ada kaitan, apakah ada kesamaan antara kita memimpin di dunia politik, di dunia bisnis, dan di dunia militer. Mari kita lihat. Baik di lingkungan bisnis, politik, militer atau apa pun, semua tentu memiliki goal, memiliki objectives, semua tentu ingin menang, ingin berhasil. Politik ingin menang dalam pemilu, ingin menang dalam pilpres, ingin menang dalam pemilukada, dan kompetisi-kompetisi yang lain, pastilah. Dalam bisnis, Saudara ingin menang dalam persaingan mendapatkan profit sebagaimana yang diharapkan, menang dalam kompetisi. Di dalam militer, para jenderal, para kolonel ingin menang dalam peperangan, dalam pertempuran, setiap tugas militer juga ingin dicapai dengan baik. Sama di situ. Berhasil dalam bisnis, berhasil dalam politik, berhasil dalam militer juga diperlukan strategi, diperlukan taktik, dan cara-cara yang efektif.

Kemudian semua mengalami, sekali lagi, entah di militer, entah di politik, entah bisnis dan ekonomi, permasalahan dan tantangan itu kompleks dan berat sering diperlukan intuisi, judgement atau logika, diperlukan keputusan dan opsi yang tepat dan kemudian dijalankan dengan kepemimpinan yang efektif. Dan kita merasakan situasinya tidak mudah, tidak aman-aman saja, sering tekanannya terlalu berat, high pressure, resikonya sering terlalu tinggi, dan penuh juga dengan ketidakpastian.

Oleh karena itu, Saudara semua, kita semua hampir pasti mengambil pasti mengambil resiko, kita mesti ulet dan gigih, tapi juga cerdas dan cekatan dalam memimpin kompetisi agar perangnya menang, agar pemilunya menang, agar bisnisnya juga berhasil. Saya yakini bahwa ada korelasi, ada kesamaan memimpin di ketiga wilayah itu.

Dengan jawaban atas pertanyaan kunci itu, maka bagian akhir dari bagian pertama ini, saya ingin menyampaikan rangkuman. Satu, esensi dan juga kiat-kiat bagi kita semua yang terus belajar memimpin agar lebih berhasil. Satu, pemimpin mesti memiliki karakter dan kapasitas untuk memimpin. Saya kira kita semua setuju.

Yang kedua, pemimpin apalagi tingkat menengah dan atas mesti memiliki visi dan mampu mengkomunikasikan visi itu dalam arahan, dalam direction yang jelas. Pemimpin mesti memastikan bahwa tujuan dan sasaran yang sudah dirumuskan, mission statement, goal statement, itu sungguh dilaksanakan dan diupayakan, dan kemudian dalam pelaksanaannya pemimpin mengarahkan, memotivasi dan juga melakukan pengawasan. Menghadapi permasalahan dan tantangan, pemimpin harus menemukan solusi. Ini rangkuman yang lain, menunjukkan jalan dan memberikan harapan atau hope bagi yang dipimpin.

Pemimpin mesti kreatif dan inovatif. Saya senang tadi yang disampaikan oleh Saudara Erwin, anak muda, makin kreatif, makin inovatif dan saya bangga, saya optimis negeri kita akan makin baik. Dan pemimpin yang kreatif dan inovatif dan terus mencari peluang tentu akan mendatangkan perubahan yang baik.

Pemimpin harus kaya dengan gagasan, ideas. Jangan berhenti berpikir. Think big dan terus melakukan perubahan,improvement. Jangan puas dengan ini, tambah lagi, jangan puas lagi, tambah lagi, terus. Jepang ada teorinyacontinuous improvement atau Kaizen.

Pemimpin harus mampu mengelola perubahan dan mengelola krisis. Jangan pada saat krisis terus pergi, tangani,handle, selesaikan. Pemimpin harus mampu membangun dan mempengaruhi lingkungan, apalagi makin tinggi sebuah organisasi yang dipimpin. Agar lingkungannya kondusif untuk pencapaian tugas pokok dan tujuan, pemimpin mesti dapat membuktikan adanya kemajuan atau progress dan mengatakan bahwa hasil telah dicapai, seperti hymne atau mars HIPMI tadi. Tiada yang lebih membanggakan kecuali tugas telah diselesaikan, hasil telah dicapai.

Dan yang terakhir, khusus rangkuman soal leadership ini, kepemimpinan ini, pemimpin haruslah, Saudara semua menjadi man dan woman juga ya, jangan kalau saya bicara man selalu laki-laki, maksud saya ya man and woman, man of ideas and man of actions, dan yang lebih berat memberi contoh, menjadi tauladan di dalam kepemimpinan. Itulah the essence of leadership. Itulah rangkuman dari pertanyaan kritis beserta jawaban yang telah saya kedepankan tadi.

Para Pemimpin Muda yang saya cintai,
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Sebelum saya lanjutkan pada bagian berikutnya lagi, saya ingin menyampaikan tentang posisi dan kewajiban saya yang memberikan lecture pada hari ini. Saya tidak bermaksud mengajari atau menggurui Saudara semua tentang kepemimpinan, tidak, tapi saya hanya ingin berbagi, sharing dengan Saudara semua menyangkut pandangan, pengalaman, dan apa yang saya lakukan di dalam memimpin negeri ini.

Jika ada yang bertanya, Saudara, misalnya apakah SBY sebagai Presiden telah mengusai dan tidak memiliki kesukaran di dalam menjalankan misi kepemimpinannya. Jawabannya adalah sebagai berikut. Menyangkut kepemimpinan, saya, saya kira Saudara juga, terus belajar. 

Saya telah bertugas di lingkungan TNI selama 30 tahun dan saya kira Saudara tahu syarat dengan tugas memimpin, menjadi menteri hampir 5 tahun, menjadi Presiden hampir 7 tahun, tetapi saya masih terus belajar, terus memetik berbagai pengalaman, baik pengalaman sendiri, keberhasilan dan ketidakberhasilan maupun pengalaman pemimpin lain, pemimpin di tingkat dunia maupun pemimpin di negeri ini.

Memimpin itu, masih menjawab kalau ada yang bertanya seperti itu, apalagi pada tingkat nasional atau puncak adalah sesuatu yang amat kompleks sehingga dari waktu ke waktu selalu menghadapi tantangan dan permasalahannya. Jadi kalau Saudara merasa, ini kok banyak sekali masalah, ini kok buntu, ini kok sulit, ini kok resikonya tinggi, saya pun juga menghadapi seperti itu. Dan saya pun terus berikhtiar, mencari akal bagaimana masalah itu kita selesaikan dengan cara yang baik, dengan etis sesuai dengan landasan konstitusi dan undang-undang yang ada.

Hadirin yang saya hormati,

Saya ingin masuk kepada bagian yang lain, meskipun Saudara sudah tahu tantangan apa bagi kita semua pemimpin di Indonesia ini di era perubahan. Kita tahu negara berada dalam proses transformasi dan demokratisasi. Kita tahu permasalahan yang kita hadapi kompleks dan beragam. Kita tahu tuntutan atau harapan, atau expectationdari rakyat sangat tinggi. Semua ingin berubah besok, jangan lusa, menjadi baik seketika. Tetapi kita sadar kapasitas dan juga sumber daya yang kita miliki di bawah ekspektasi dari rakyat yang tinggi itu. Dan di alam kebebasan dan keterbukaan sekarang ini, kalangan masyarkat kita, utamanya masyarakat politik itu sangat kritis sehingga sering situasi sosial dan situasi politik terasa menghangat dan dinamis, itu pun harus kita terima, harus kita hadapi. We have to go through. 

Kemudian dalam dunia yang terus berubah sekarang ini, Saudara juga merasakan dari tahun ke tahun, Indonesia juga mendapatkan dampak dan dipengaruhi oleh lingkungan global yang terus berubah dan penuh ketidakpastian itu. Those our challenges. Oleh karena itu, untuk para pemimpin di negeri ini, kemampuan yang diharapkan dan misi yang harus kita emban, memimpin apa pun yang ada di negeri kita ini di era perubahan adalah kita semua mesti memiliki kemampuan memimpin dalam kompleksitas permasalahan yang ada, termasuk memimpin situasi krisis, krisis apa pun. Kita juga harus memiliki kemampuan untuk memimpin dalam situasi negara dan juga lingkungan dunia yang terus berubah, tidak berhenti perubahan itu. Resep tiga tahun yang lalu belum tentu cocok untuk sekarang. Resep sekarang belum tentu cocok untuk 3-4 tahun mendatang.

Kemudian di atas segalanya, negara kita, kita rasakan sejak 1998 hingga hari ini meskipun ada perubahan yang positif, tetapi tetap kita dipercayakan untuk mampu melakukan dan menjalankan manajemen krisis, mulai dari krisis lokal sampai krisis berskala besar, bencana alam misalnya, krisis ekonomi dan bisnis, krisis keamanan, misalkan mencari solusi konflik dan juga konflik-konflik politik. Dan di atas segalanya untuk Saudara semua, untuk kita semua di era perubahan ini, pemimpin di Indonesia harus pandai mencari dan menciptakan peluang, new opportunities, apakah di bidang bisnis, apakah di bidang kerja sama internasional ataupun di bidang pembangunan ekonomi di daerah.

Saudara-saudara,

Situasi ini akan terus berlanjut. Jangan dikira setelah 2014 langsung terang-benderang, akan terus berlanjut perubahan ini, akan masih ada masalah-masalah yang kompleks, yang beragam, paradoks, dan ketidakpastian. Oleh karena itu, para pemimpin, Saudara semua, kita semua haruslah tetap adaptif dan inovatif, teguh para prinsip nilai dan etika, jangan kita berkompromi pada prinsip, pada nilai, pada etika, tetapi harus fleksibel dan adaptif ketika kita memilih strategi, memilih cara yang patut untuk mencapai tujuan.

Kemudian ingatlah Saudara, supaya tidak kecewa, tidak frustasi, satu masalah kita selesaikan, muncul masalah yang lain. Ini bisa kita capai, yang lain belum bisa kita capai. Oleh karena itu, membangun sebuah bangsa, meningkatkan kesejahteraan rakyat itu adalah never ending goals. Kalau itu kita ketahui, kita sadari, insya Allah akan makin efektif dan berhasil Saudara semua di dalam memimpin di negeri ini.

Saya sudah bicara lebih dari separuh dari substansi ceramah saya. Bagian berikutnya lagi, sebagaimana yang saya sampaikan tadi l want to share with you all tentang apa yang saya lakukan selama ini, yang cocok silakan diambil, yang tidak cocok jangan diambil, yang ada gunanya mungkin bisa meningkatkan keberhasilan Saudara, yang tidak gunanya lupakan saja.

Begini Saudara-saudara, saya ingin menyampaikan dulu keyakinan dan pilihan saya atas kepemimpinan yang saya jalankan, I have to choose, I have to have my own decision. Banyak yang tidak dimengerti, banyak yang tidak diketahui, banyak yang tidak diliput oleh media massa. Saya ingin menyumbangkan pengalaman saya yang baik, yang getir, suka dan duka kepada Saudara semua, karena setelah selesai tugas saya insya Allah tahun 2014, sebentar lagi, saya akan mendukung, membantu Presiden-presiden berikutnya lagi, pemimpin-pemimpin berikutnya lagi agar lebih berhasil, dengan harapan mereka semua lebih baik, lebih berhasil, lebih banyak yang bisa dicapai dari masa-masa sebelumnya. Oleh karena itu, apa yang saya sampaikan ini anggaplah sebagai lesson learnt, pelajaran yang bisa dipetik.

Setelah itu, saya jelaskan why I choose those principles. Saya juga akan menyampaikan sejumlah cases, sejumlahpolicies and decisions yang saya jalankan, termasuk mengapa itu saya ambil dan saya lakukan.

Saudara-saudara,

Saya mulai dari my belief and my choice, keyakinan saya dan pilihan saya atas kepemimpinan yang jalankan selama ini.

Saudara-saudara,

Saya memilih cara dan jalan demokrasi, bukan cara yang otoritarian dalam memimpin Indonesia. Banyak yang mengatakan, sudahlah begini saja, tapi kalau begini sajanya itu cenderung menuju ke otoritarian yang kita koreksi, tentu tidak serta merta bisa kita pilih dan jalankan. Meskipun saya menghormati dan mengikuti norma demokrasi, tetapi hukum, ketentuan harus tetap kita tegakkan. Sistem, manajemen dan aturan main kita ikuti, tidak mungkin memimpin negara begitu saja, tidak patuh pada undang-undang dasar, sistem, manajemen, dan kaidah-kaidah sistem yang harus dijalankan. Resikonya terlalu besar kalau itu serampangan.

Yang kedua, dalam banyak hal saya menangani masalah-masalah penting secara langsung, hands on, I am enganging. Mengapa? Saya memilih bukan mendelegasikan semua hal, di belakang meja, karena saya ingin mengontrol arah dan progress-nya. Hal ini saya sampaikan kepada Wakil Presiden, kepada para menteri, saya akanhands on, tidak mungkin saya lepas begitu saja. Saya sampaikan kepada Panglima TNI, Kapolri, urusan pertahanan, keamanan, saya juga akan hands on karena dampaknya yang terlalu besar bagi bangsa ini. Dan di era perubahan, menurut pendapat saya, my belief, my view, pemimpin tidak boleh mendelegasikan banyak hal, harus menjalankannya dengan melibatkan diri secara langsung, hands on.

Yang lain, saya tetap mengutamakan stabilitas politik, stabilitas sosial, dan keamanan dalam negeri agar keadaan dalam negeri kita relatif stabil dan baik. Tidak mungkin kalau politik terus tidak stabil, gonjang-ganjing, konflik di mana-mana, demikian keadaan sosial kita, demikian keadaan keamanan di seluruh Indonesia, kita bisa membangun ekonomi kita, kita bisa menjalankan dunia usaha kita. Dalam konteks itu, orde baru yang juga menjaga betul stabilitas dan keamanan, itu benar. Persoalannya sekarang dengan tetap menjaga stabilitas dan keamanan itu, marilah kita pilih cara-cara yang sesuai dengan norma demokrasi dan rule of law sekarang ini.

Kalau keamanan dan politik dalam negeri tidak kondusif, bagaimana Saudara bisa berbisnis, tidak mungkin sehingga ini penting saya sampaikan. Ini Allah juga mendengarkan ucapan saya. Jika sekali-sekali saya mengalah dalam tarik-menarik dan konflik politik, sekali-sekali saya berkompromi, sekali-sekali saya lebih baik membangun konsensus, bukan saya ragu atau tidak berani, karena saya tidak ingin makin menjadi-jadi konflik dan benturan politik itu yang akhirnya membawa negara kita persis seperti situasi 10, 11, 12, 13 tahun yang lalu agar politik tidak terlalu panas. Saya tahu banyak kritik, saya tahu saya harus menahan perasaan saya, tapi itulah pilihan saya dengan segala pertimbangan.

Yang lain, saya harus sampaikan di samping saya harus pragmatis, para Pemimpin Muda, dan hampir sepanjang waktu saya 6,5 tahun lebih ini menangani masalah dan isu yang terus mengalir, ini yang dekat dengan saya selama 6-7 tahun mengerti. Hari Sabtu, Minggu pun terkadang kita harus menghabiskan to solve the problem, to handle the critical issue. Tidak selalu saya sampaikan kepada rakyat, kepada media massa supaya cepat selesai dan tidak menjadi isu atau kekhawatiran baru. 

Tetapi meskipun kita harus pragmatis, tapi kita tidak boleh tidak punya visi. Oleh karena itu, saya tetap mengajak pemerintah dan rakyat bahwa kita harus melihat tujuan dan sasaran jangka menengah dan jangka panjang. Yang kita kelola ini Saudara, yang kita bangun ini negara, bukan hanya partai politik X, bukan hanya perusahaan Z, bukan hanya brigade atau divisi militer, tapi negara, country, nation, rakyat, yang tidak mungkin kita tidak punya long term objectives, visi jangka menengah dan jangka panjang.

Reformasi dalam keyakinan saya harus tetap berlanjut. Tetapi saya memilih reformasi dan bukan revolusi. Sebuah reformasi yang besar di negara mana pun mesti dijalankan secara bertahap, berlanjut dan intensif, tapi terus-menerus, gradual, steady, and continuous reform, tetap menjaga keseimbangan. Revolusi tidak mungkin menjaga keseimbangan, mesti terjadi penjungkirbalikan, disorder dan itu tidak mungkin kita bisa membangun ekonomi dan usaha kita. Lihat reformasi di Republik Rakyat Tiongkok sejak mendiang Deng Xiaoping, gradual, steady, continuous reform, dan juga negara-negara yang jauh lebih maju dibandingkan kita, ratusan tahun sebelumnya yang juga melaksanakan transformasi dan perubahan besar. Reform not revolution.

Saya menyukai dan memilih kerja sama. Saya senang tadi, ketua panitia, Ketua HIPMI, kerja sama, kerja sama, kerja sama, dan kemitraan, bukan konflik dan pertentangan, cooperation not confrontation. Kecuali jika menyangkut kedaulatan NKRI dan tidak ada cara lain. Saya juga ingin kebersamaan di dalam menyelesaikan politik dengan tokoh kekuatan politik yang lain di negeri ini, saya ingin, mengapa harus berbenturan terus, mengapa tidak kita berkompromi dan kita bisa saling take and give untuk rakyat kita. 

Tetapi kalau menyangkut hukum, tentu tidak ada kompromi, tidak ada toleransi, rusak kalau hukum dikompromikan, tapi politics masih bisa dimusyawarahkan. Ini my belief and my choice. Saya berkeyakinan dan dengan itu saya juga mengupayakan di dalam negeri ini bahwa demokrasi dan HAM yang menjadi ruh reformasi, itu penting. Tetapi implementasinya, pengembangannya harus berada dalam keseimbangan dengan keamanan dan ketertiban publik, tidak ada yang boleh dikorbankan. On the one hand, we have liberty, on the other hand, we have security. Itulah negara yang kita bangun dan kita tuju.

Terus terang Saudara-saudara, saya menerima kritik tentang yang ini, tetapi saya menyukai jalan tengah, jalan moderat, dan bukan pikiran dan tindakan yang ekstrim, garis keras ataupun radikal. Ya itu pilihan dan gaya saya, pilihan bukan karena keragu-raguan atau karena ketidakberanian. Dan sekali lagi, saya menerima kritik itu, tetapi saya memiliki tujuan yang lebih penting mengapa bangsa yang majemuk seperti ini, konflik ada di mana-mana, saya harus pandai mencari keseimbangan dan kalau ada jalan tengah yang paling baik, jalan tengah yang benar tentunya, mengapa tidak kita pilih. Itulah yang saya harus sampaikan menyangkut my style, my choice, my belief di dalam memimpin Indonesia sekarang ini.

Saudara-saudara,

Berangkat dari semuanya itu, saya menjanjikan tadi ada sejumlah keputusan strategis, kebijakan, dan tindakan penting yang saya lakukan selama 6,5 tahun ini untuk saya kedepankan pada kesempatan yang mulia ini, termasuk latar belakangnya dan argumentasinya sehingga Saudara nanti bisa menjadikannya sebagai pembelajaran, lesson learnt. Silakan dikritisi di situ.

Ada sembilan isu yang secara singkat saya sampaikan. Pertama, resolusi konflik di Aceh. Dulu banyak sekali pro dan kontranya, tetapi saya harus mengambil, saya setuju, saya memilih dan saya memimpin penyelesaian konflik Aceh secara damai. Mengapa? Tiga puluh tahun operasi militer tidak menghentikan konflik itu, jadi bukan itu yang cocok. Ada window of opportunity, terbuka peluang emas untuk kita bisa selesaikan secara damai. 

We have to think outside the box, ketika operasi militer tidak juga menyelesaikan masalah itu. Dengan tetap NKRI dijamin utuh, Merah Putih tetap berkibar di Aceh. Itu harga matinya. Saya tahu resiko politiknya tinggi, bisa gagal, saya juga mendapatkan tantangan dan perlawanan yang cukup banyak, tetapi I have I had to make that kind of decision waktu itu dan itu telah menjadi bagian dari sejarah kita.

Yang kedua, rekonstruksi Aceh pasca tsunami. Tsunami, kita belum siap, gelegar, seperti itu luar biasa, 200 ribu. Kita semua panik terus terang, tapi hari kedua dan seterusnya, saya sudah di sana, dan waktu itu dunia bertanya, ada yang bertanya, ada yang tidak, ada yang langsung datang. Kami ingin membantu negara anda, rakyat anda, timbul pro dan kontra, jangan, ditolak saja, itu mengancam kedaulatan dan sebagainya. Saya mengatakan ini kemanusian, ini rakyat kita, kita juga sering membantu negara lain untuk urusan bencara, saya putuskan kita terima kerja sama internasional itu, yang penting kita yang mengatur, kita bentuk BRR, kita susun masterplan. Kita tidak tidak berkompromi terhadap good governance, jangan ada korupsi dalam BRR, daerah kita batasi supaya fokus BRR itu.

Saudara-saudara,

Meskipun pro dan kontranya tinggi, setelah kita ambil, ini menjadi salah satu success story di tingkat dunia. DR. Kuntoro dengan timnya sering dipanggil oleh PBB dan negara-negara lain untuk dijadikan contoh how to reconstruct and rehabilitate daerah bencana seperti itu.

Yang ketiga, ingat Saudara, 1999 ada peristiwa besar di Dili, Timor Leste, Timor Timur waktu itu. Dunia ingin menghukum, dunia ingin mengangkat isu itu pada tingkat internasional yang disebut dengan pelanggaran HAM di Timor Timur. Saya baru memimpin negara, bulan pertama, saya langsung menyampaikan kepada PBB, saya tidak bersetuju, saya menolak kalau urusan Indonesia dengan Timor Leste dibawa ke internasional. Saya menolak namanya Commission of Expert. Tetapi kami segera berdiplomasi dan akhirnya bersepakatlah dengan Timor Leste, ada Ramos Horta, ada Mari Alkatiri, ada Xanana, yang kita pilih adalah CTF (Commission of Truth and Friendship) menyelesaikan masalah melihat ke depan. Itu pilihan terbaik, pilihannya bukan dibiarkan, diselesaikan antara kita dan Timor Leste, atau dibawa ke dunia. 

Dan itu karena Tuhan memberikan jalan kepada kita, Insya Allah menjadi solusi yang permanen dan kita bersepakat melihat ke depan rekomentasi CTF tentu kita jalankan. Banyak yang menentang dari kalangan militer tertentu juga menentang yang menganggap mengapa kita kok masih menyelesaikan itu, harus kita selesaikan daripada dibawa ke luar negeri, dibawa ke pengadilan internasional.

Yang keempat, kita memilih all direction foreign policy, tetap politik bebas aktif. Kita tidak ingin ke kiri-kirian, kita tidak ingin ke kanan-kananan. Semua adalah sahabat kita. Oleh karena itulah, 6,5 tahun terakhir kita telah membikin yang namanya strategic partnership, comprehensive partnership dengan majors powers, misalkan Amerika Serikat, Republik Rakyat Tiongkok, Rusia, Jepang, India, Korea Selatan, Brazil, Australia dan negara lain. Kita bikin kerja sama erat dengan semua major powers. ASEAN tetap rumah kita. G-20 adalah rumah penting yang lain. Saya tahu di dalam negeri ada yang tidak setuju kita berhubungan dengan ini, harusnya ini, sebaliknya harusnya ini, jangan itu. Saya katakan, kita harus menjalin hubungan dengan semua negara, dengan tetap tentunya ASEAN sebagai corner stone of our foreign policy.

Yang kelima, ekonomi jalan tengah. Ini my belief. Saya tidak tahu apakah pemimpin yang akan datang juga memiliki pandangan yang sama, tentu terpulang kepada pemerintahan yang akan datang. Jalan tengah yang saya maksudkan adalah tentu kita tidak menganut kapitalisme yang fundamental, kita juga tidak menganut yang disebut neoliberalisme. 

Contohnya, pemerintah tetap berperan di sistem yang amat fundamentalis, peran pemerintah dibatasi, tidak boleh terlalu banyak regulasi, ada policy yang menganggu pasar, subsidi tidak dibenarkan, dibatasi sekecil mungkin. Kita tidak, rakyat kita masih memerlukan subsidi yang terarah, yang tepat sasaran, bukan yang tidak tepat sasaran. Kebijakan masih kita perlukan, pengaturan masih kita perlukan.  

It means bahwa peran pemerintah masih perlu. Tetapi tidak berarti kaidah-kaidah ekonomi pasar yang bikin efisiensinya, bikin efisiennya sebuah ekonomi tidak kita perlukan, tetap kita perlukan, agar efisien, agar kompetitif, agar kita juga bisa menang dalam persaingan global. Yang lain dari pilihan ekonomi kita, kerja sama internasional tetap diperlukan. Tetapi kerja sama yang adil.

Saya sudah menyampaikan di masa yang lalu, saya tidak menyalahkan siapa-siapa mungkin bargaining position kita masih terlalu kecil, kita memerlukan, kita tidak punya apa-apa, ada kerja sama, ada kontrak yang terasa tidak adil. Kita pastikan ke depan, kontrak apa pun, kerja sama apa pun harus adil, memberikan manfaat bagi bangsa kita.

Kontrak di waktu yang lalu, yang nyata-nyata juga tidak adil, dengan cara yang tepat, kita bisa mengajak untuk dinegosiasikan kembali, bukan main ambil alih sehingga nanti kita menjadi sulit secara ekonomi, tetapi dengan pintu masuk yang baik, dengan approach yang baik, kita tata kembali.

Harapan saya, mitra-mitra ekonomi kita,multinational cooperation menangkap semangat kita. Kita ingin keadilan, ingin fairness, ingin kesimbangan dalam semuanya itu. Ini pun bukan tanpa resiko, setiap ada pengamat dari luar negeri, pimpinan dunia usaha luar negeri, Indonesia ini bagaimana katanya ingin menjadi ekonomi besar, tetapi terlalu banyak regulasi, terlalu banyak aturan, pemerintah terlalu ini, itu. Saya katakan hal itu masih kami perlukan, karena tanpa itu tidak mungkin ekonomi bisa berjalan dengan adil dan baik. Itu contohnya.

Yang keenam, program pengurangan kemiskinan dengan anggaran yang besar. Saya juga dikritik oleh mereka yang tidak suka, kenapa pemerintah, serahkan saja kepada ekonomi. Nanti ekonomi tumbuh, trickle down effect, toh pengangguran akan berkurang, orang yang bekerja dapat pendapatan. Dapat pendapatan, kemiskinan berkurang. Begitu teorinya. I don’t believe bahwa teori itu akan berjalan dengan baik. Banyak yang gagal. Oleh karena itu, saya juga ingin ekonomi tumbuh, lapangan pekerjaan tercipta, orang yang bekerja punya income, dengan income, dia bisa memenuhi kebutuhan sehari-harinya.  

But it is not enough bagi yang sangat miskin, bagi yang memang miskin, yang tidak berdaya, pemerintah tentu tidak boleh tinggal diam. Oleh karena itulah, kita memadukan pula dengan harus ada langkah-langkah etis, new deal, program yang adil untuk membantu saudara-saudara kita yang miskin. Ituour choice keyakinan saya.

Yang ketujuh, MP3EI. Tadi Menko Perekonomian baru saja menayangkan di sini tentang MP3EI. Banyak yang mengatakan, ”Ah itu terlalu ambisius, ah itu omong kosong, tidak akan ada kemajuannya.” Ya selalu ada yang skeptis, yang pesimis, yang berpikiran negatif. Enggak usah kecil hati. Tetapi kami sangat serius. Negara ini perlu pecepatan dan perluasan pembangunan ekonomi, tidak business as usual. Kalau business as usual terlalu lama untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, kita bikin rencana.

Saudara-saudara,

Saya kira Saudara setuju dengan saya, lebih baik kita punya rencana, lebih baik kita melakukan sesuatu daripada no plans and do nothing. Oleh karena itu, MP3EI sudah saya rumuskan, sudah punya komitmen, mari kita jalankan. Saya mengundang HIPMI untuk menyukseskan MP3EI dan memimpin nanti pada tahun-tahun berikutnya lagi.

Dua strategi penting, keputusan penting terakhir yang ingin saya sampaikan adalah tentang kita dikritik ngapain Indonesia ikut-ikutan mengurangi emisi karbon di negaranya. Sudahlah, yang penting kita begini saja, itu urusan global. Saya tidak setuju. Kita harus menyelematkan negeri kita, yang banjir negeri kita, tanah longsor negeri kita, yang susah petani kita, rakyat kita, kita harus punya responsibility to save our own environment. Oleh karena itulah, 26% pengurangan emisi CO2 by 2020, itu konsep kita, tekad kita, rencana kita, bukan didikte oleh negara lain karena kita punya kepentingan, tentu sesuai dengan kemampuan kita, anggaran kita. 

Luar negeri tidak perlu terlalu banyak mendikte karena kami ingin menyelesaikan urusan besar ini dengan kemampuan kami. Kalau luar negeri membantu welcome, tapi jangan terlalu banyak mengatur, mendikte, sehingga kami sendiri jadi sulit melangkah. Kami punya kesadaran, kami punya tanggung jawab, kami punya rencana, kami punya policy. Untuk diketahui, ini harus kita jalankan agar pro-growth, pro-job, pro-poor policy itu kita capai, tetapi without sacrificing our environment.

Yang terakhir, satu keputusan yang kita ambil, yang juga menimbulkan kemarin pro dan kontra adalah operasi militer pembebasan Sinar Kudus.

Saudara,

Di Somalia itu masih ada puluhan kapal yang berjejer yang disandera oleh perompak dan belum bisa dibebaskan oleh banyak negara. Saya tahu biasanya kalau kapal dibajak, negara itu langsung, sudah bayar saja, habis perkara, bawa pulang kapalnya. Kapal kita dibajak, Sinar Kudus. Saya tahu bahwa pemiliknya karena sayang pada ABK-nya, sayang pada kapal itu sendiri, ada komunikasi dengan pembajak. Itu hak mereka, saya tidak bisa melarang, karena itu kapal milik yang bersangkutan.

Tetapi negara kita tentu tidak cukup hanya itu. Oleh karena itu, denganmanagement crisis kita tetapkan tiga sasaran. Sasaran pertama, selamatkan 20 orang warga negara Indonesia, ABK itu. Bebaskan kapal, yang ketiga, hajar itu namanya perompak Somalia.

Oleh karena itu, kita kirimkan 3 fregad dengan sekian ratus pasukan khusus dari Marinir Angkatan Laut dan Kopasus Angkatan Darat dan juga ada elemen dari Angkatan Udara. Long Distance Force Projection, itu bukan mengada-ada. Kalau tidak dibebaskan, kita paksa bebaskan. Kalau harus merebut, ada bagian Pantai Somalia, kita rebut. Pasukan kita sudah siap apa pun, manakala itu ternyata kapal dan ABK-nya tidak dibebaskan.

Saudara-saudara,

Sepertinya apa yang, apa cucuk, apa sebanding dengan biaya yang kita keluarkan. Tapi untuk Merah Putih, untuk kehormatan kita, untuk jati diri kita, itu harus kita lakukan.

Yang saya sampaikan adalah sembilan contoh strategic decisions, policies and actions dan by kita, by pemerintah dan by kita semua. Saya menyerahkan kepada Saudara semua, jadikan itu case study atau lesson to learnt dan semangatnya adalah apa pun pilihan, keputusan, kebijakan, tindakan selalu ada pro dan kontranya, selalu ada yang mengkritik, hampir pasti. Oleh karena itu, yang saya ambil sendiri pelajarannya harus saya putuskan, harus saya jalankan. Kalau Saudara-saudara, para pemimpin muda, sekarang atau nanti menghadapi dilema seperti itu, take your decision, take action selebihnya jalankan dengan sebaik-baiknya.

Para Pemimpin Muda dan Hadirin sekalian,

Bagian akhir dari ceramah saya adalah pesan dan harapan saya kepada Saudara semua para pemimpin muda Indonesia. Pertama, tetaplah memegang idealisme dan semangat, jangan kering idealisme. Bangsa yang kering idealisme tidak punya masa depan. Dengan idealisme dan semangat itu berbuatlah yang terbaik untuk negeri ini.

Yang kedua, persiapkan diri Saudara baik-baik dan terus kembangkan kemampuan memimpin karena pada saatnya nanti akan mengambil tanggung jawab dan peran yang lebih besar memimpin negeri ini.

Ketiga, tantangan dan permasalahan akan tetap ada, akan tetap kompleks, akan tetap berat, tetapi percayalah, trust me, bahwa setiap permasalahan selalu ada jawabannya, selalu ada solusinya. Tugas pemimpin, tugas Saudara semua cari dan dapatkan solusi itu dan kemudian jalankan.

Yang keempat, potensi negara kita besar dan masih bisa dikembangkan lebih lanjut sekarang pun masih banyak masalah bottlenecking, problem birokrasi, kemacetan di sana, dan lain-lain masalah yang masih serius, kemajuan kita, progress kita oleh dunia dianggap signifikan, apalagi kalau semua itu kita perbaiki sehingga terhadap ini semua harapan dan pesan saya, jangan pernah berhenti untuk berikhtiar, untuk melakukan perubahan dan perbaikan dan jadilah pemimpin yang inovatif dan kreatif.

Kemudian yang kelima, di era globalisasi dewasa ini, dunia selalu menghadirkan tantangan dan peluang. Hadapi tantangan dan peluang itu secara cerdas. Jangan Saudara melihat globalisasi itu serba ancaman, jangan. Kalau begitu cara melihatnya tidak akan dapat apa-apa, tapi sadarlah bahwa di tengah-tengah ancaman dan masalah banyak opportunity, banyak peluang yang dapat kita alirkan ke negeri kita.

Saudara-saudara,
Itulah pesan dan harapan saya dan menutup acara yang sangat penting ini sebagai ucapan terima kasih dan apresiasi saya, Bung Erwin dan para pemimpin muda yang lain, saya harus mengatakan bahwa saya sudah bicara tentang kepemimpinan, utamanya leadership in action. Saya juga sudah berbagi, sharing dengan Saudara semua tentang pandangan, pengalaman dan tindakan saya selama memimpin negeri ini. Saya juga mengatakan bahwa tantangan dan persoalan yang dihadapi oleh seorang pemimpin sering tidak ringan, tetapi yakinlah ada jalan keluar dan ada solusi.

Dan less but not least, saya ulangi lagi, bahwa ini berdasarkan pengalaman, keputusan dan tindakan yang kita ambil selau ada pengkritik, skeptisme, dan gelombang pro dan kontra. Ada yang menganggap salah, ada yang menganggap terlalu lambat, ada yang menganggap terlalu cepat, alias grusah grusuh dan reaktif, mesti ada komentar-kometar seperti itu. Tetapi haruslah kita ambil dengan baik.

Dan akhirnya, silakan yang cocok, diambil, yang tidak cocok, biar menjadi catatan sejarah di negeri ini. Teruslah belajar Adik-adik, pemimpin-pemimpin masa depan dan teruslah mengembangkan kepemimpinan Saudara-saudara, negara dan rakyat memerlukan kontribusi dan pengabdian Saudara semua agar negara ini makin maju dan berjaya.

Selamat berjuang. Tuhan beserta kita.
Wasssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

*****

Biro Pers, Media, dan Informasi
Sekretariat Presiden

Sunday, June 19, 2011

SUMBERDAYA MANUSIA UNTUK PEMBANGUNAN NILAI TAMBAH Bag. I



SUMBERDAYA MANUSIA
UNTUK PEMBANGUNAN NILAI TAMBAH 
 


 


Persoalan pembangunan nasional pada dasarnya adalah persoalan pengembangan, pemeliharaan dan pemanfaatan sumberdaya manusia Indonesia secara terarah, yang ditujukan pada sasaran-sasaran perjuangan bangsa.

Pengembangan sumberdaya manusia merupakan suatu bagian pokok dari usaha pembangunan nasional. Usaha ini meliputi pendidikan dan pembinaan, serta kemampuan untuk menangani, menggunakan dan mengendalikan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan maksud untuk meningkatkan nilai tambah di dalam usaha memproduksi dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat bersaing di pasaran dalam dan luar negeri. 

(B.J. Habibie)



Apabila kita letakkan imajinasi kita pada titik awal kemerdekaan Bangsa Indonesia, lalu bergerak ke depan, untuk memotret kinerja pembangunan hingga saat ini, segera akan muncul sebait pertanyaan di benak kita: Apa sesungguhnya yang telah terjadi dalam proses pembangunan di negeri ini?

Sebuah negeri "untaian zamrut khatulistiwa", dengan rangkaian kepulauannya yang membentang dari 95 BT hingga 142 BT, dan jumlahnya tak kurang dari 17.000 pulau. Jika peta kepulauan Indonesia itu dibentangkan pada peta Eropa dengan skala yang sama, kita dapat melihat bahwa Banda Aceh berada di Barat Laut Skotlandia sedangkan Merauke hampir-hampir mencapai daratan Ukraina; pada peta Amerika Serikat kita lihat Banda Aceh berada di Barat Laut California sedangkan Merauke berada di Samudra Atlantik.

Di tengah-tengah sebaran pulau yang luas itu, proses-proses geologi yang telah berjalan puluhan, bahkan ratusan juta tahun telah memungkinkan terjadinya berbagai mineral logam, batu-batuan untuk bahan bangunan, jebakan-jebakan batu bara, minyak dan gas bumi. Rangkaian pegunungan volkanik telah memberikan tanah pertanian yang subur, disamping sumber-sumber daya geothermal dengan potensi yang amat besar. Sungai dan danau merupakan potensi sumber tenaga air ribuan MW. Hutan belantara di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya dan lain-lain merupakan gudang bagi sumber daya hutan yang kaya raya.

Di samping itu, negeri ini mempunyai lautan yang luas; isinya merupakan sumber pangan yang tak habis-habisnya jika dipelihara dan diolah dengan bijaksana. Tidak ada satu negara pun di dunia ini yang mempunyai garis pantai sepanjang garis pantai kepulauan Indonesia. Dan di antara lautan ini ada yang berkedalaman beberapa puluh dan bahkan beberapa ratus meter. Di kawasan Indonesia bagian Timur, terdapat cekungan-cekungan dengan kedalaman yang mencapai sampai 5000 meter.

Alam Indonesia beraneka ragam; dari dataran alluvial seperti pantai utara pulau Jawa hingga ke pegunungan yang ditutupi salju abadi dan ratusan puncak gunung berapi de-ngan ketinggian beribu meter.

Singkat kata, ini negeri benar-benar tanah sorga. Tapi di negeri sekaya ini, kehidupan warganya belum sepenuhnya terbebas dari belenggu kemiskinan. Tantangan pembangunan di negeri ini masih berkisar pada persoalan-perso- alan mendasar seperti; keperluan untuk menampung pertambahan penduduk yang belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Tantangan untuk mengusahakan terhapusnya kemiskinan yang melanda bagian besar masyarakat, dan kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara permintaan sumber-sumber alam yang kian meningkat dengan keseimbangan ekosistem dan pembangunan yang berkelanjutan.

Tantangan utama yang dihadapi perekonomian Indonesia dengan penduduknya pada tahun 2000 nanti diperkirakan berjumlah sekitar 216 juta jiwa, adalah tantangan untuk mengentaskan orang-orang yang hidup di bawah garis kemiskinan. Meskipun dalam 25 tahun PJPT I jumlah mereka yang tergolong ke dalam kategori ini bisa ditekan secara signifikan, jumlah mereka masih cukup banyak (sekitar 27 juta). Sementara kita masih berjuang untuk mengatasi hal ini, kita juga dihadapkan pada tantangan untuk menyediakan kesempatan kerja bagi sekitar 11,9 juta orang yang diperkirakan akan memasuki pasaran kerja selama periode lima tahun ini.

Kita harus berjuang keras untuk menyediakan kesem-patan kerja bagi rata-rata 2,4 juta orang calon pekerja baru setiap tahun. Dan itu sungguh mendesak dipandang dari sudut keadilan sosial yang juga merupakan suatu asas dalam usaha pembangunan nasional.

Jika ledakan penduduk dan kesempatan kerja ini kurang mendapatkan perhatian yang memadai, maka konsekuensinya akan merembet pada kehidupan sosial, politik, budaya dan juga ancaman pada kelestarian lingkungan.

Ini menuntut perhatian kita semua. Karena bumi yang terbatas ini memang terasa makin padat dan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhannya telah makin memberi tekanan pada lingkungan alam. Apabila kebaikan lingkungan hidup ini kita abaikan, bukannya mustahil, bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama kita akan dikejutkan oleh kenyataan bahwa kita sendirilah yang pertama-tama menjadi korban dari pembangunan yang kita kerjakan dan bukannya merasakan kebahagiaan seperti yang diidam-idamkan.

Hal ini menyadarkan kita semua. Di satu sisi kita patut bersyukur bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam dan sumber daya energi yang sangat berlimpah. Meskipun de- mikian, kita harus pandai menggunakan sumber daya yang tersedia ini agar benar-benar dapat dipupuk sebagai modal pembangunan.

Tanpa kapandaian yang memadai, sumber daya yang berlimpah bukannya jaminan bagi terciptanya kesejahteraan masyarakat. Bahkan bisa jadi alasan bagi hidup malas sambil menghambur-hamburkan sumberdaya secara tidak efisien, sekadar untuk memunuhi desakan hidup jangka pendek. Yang pada ujungnya akan menjadi bumerang yang mengancam kelangsungan hidupnya sendiri. Sebaliknya sejarah menunjukkan, tak sedikit negara yang miskin dalam pemilikan sumber daya alamnya bisa mencapai tingkat kemajuan yang mencengangkan, karena kemampuannya dalam mengelola dan menggerakkan sumberdaya manusia yang ada.


Ini menjadi pelajaran betapa besarnya peranan sumber daya manusia demi tercapainya tujuan pembangunan suatu negara. Dapat dikatakan bahwa tumpuan dasar keberhasilan pembangunan suatu bangsa sangat ditentukan oleh mutu sumberdaya manusia yang dimilikinya. Dilihat dari sudut ini, persoalan pembangunan nasional pada dasarnya adalah persoalan pengembangan, pemeliharaan dan pemanfaatan sumberdaya manusia Indonesia secara terarah, yang ditujukan pada sasaran-sasaran perjuangan bangsa.

Kondisi Sumberdaya Manusia Indonesia

Arti pentinya sumber daya manusia sebagai modal pembangunan, dibuktikan antara lain oleh Robert Solow, penerima hadiah Nobel dalam bidang ilmu ekonomi tahun 1987. Dalam penelitiannya ia membuktikan bahwa meskipun faktor "kapital" memiliki kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi, namun faktor tenaga kerja dengan keterampilan dan teknologi yang dikembangkan dan digunakannya, serta kemampuan manajemennya, merupakan variabel yang lebih signifikan dalam proses peningkatan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Sementara itu, dalam kasus negara-negara industri baru di Asia, banyak studi yang menunjukkan bahwa, perubahan teknologi dan kapabilitas sumberdaya manusianya merupakan faktor sentral dalam mendorong laju pertumbuhan ekonomi di negara-negara tersebut.

Akumulasi modal manusia dapat menggeser keunggulan komparatif suatu negara ke arah produk bersifat padat modal manusia sebagaimana akumulasi modal fisik menggeser keunggulan komparatif suatu negara menjadi produk padat fisik. Ketidakpastian dalam perekonomian internasional dapat lebih meyakinkan dihadapi dengan peningkatan pendidikan dan latihan yang dapat menciptakan fleksibilitas dan kemungkinan mempunyai expected rates of return yang relatif tinggi. Karena itu pendidikan umum semestinya menciptakan keterampilan tertentu (termasuk kemampuan berhitung, komputer dan kemampuan bahasa), tetapi yang lebih penting adalah harus menciptakan dasar bagi fleksibilitas di masa depan. Tujuannya adalah menciptakan kemampuan untuk belajar pengetahuan umum yang fleksibel tidak menciptakan kemampuan khusus yang akan cepat tidak terpakai lagi. Sedangkan latihan di tempat pekerjaan adalah bersifat spesifik bagi kebutuhan industri atau perusahaan bersangkutan.

Bila hasil-hasil penelitian ini dihubungkan dengan konteks Indonesia, gambaran yang kurang menggembirakan akan segera tampak. Kendatipun menurut pengamatan UNDP sejak 1970 - 1990, Indonesia termasuk salah satu negara berkembang selain Saudi Arabia, Korea Selatan, Mauritius, Malaysia, Tunisia, Syria, Botswana, Turki, Gabon dan Aljazair yang mengalami peningkatan yang pesat dalam Human Development Index-nya (antara lain meliputi income nasional, harapan hidup, dan pencapaian pendi-dikan), akan tetapi pencapaian tersebut tidak sama seperti jalan yang ditempuh oleh Malaysia dan Korea Selatan (Korsel). Jika Malaysia dan Korsel mencapai perkem-bangan yang mengesankan berkat investasinya dalam masyarakat (SDM), maka bagi Indonesia seperti halnya Saudi Arabia, kemajuan itu diraih lewat "rezeki nomplok", berupa menjulangnya harga minyak pada tahun 1970-an.

Semata-mata mengandalkan keunggulan komparatif lewat "kekuatan minyak" pada kenyataannya amat rapuh. Selain sangat rentan terhadap perubahan situasi pasar internasional, cadangannya pun mulai menyusut. Pertumbuhan konsumsi dalam negeri lebih tinggi daripada laju pertumbuhan produksinya. Sehingga diperkirakan dalam 10 atau 20 tahun lagi, Indonesia sudah mulai harus mengimpor minyak bumi. Padahal dengan eksploitasinya yang berlimpah dan harganya yang tinggi sekalipun, kepesatan HDI kita belum mampu mengimbangi kepesatan HDI Malaysia dan Korsel -- berkat investasinya yang sungguh-sungguh dalam pengembangan sumberdaya manusia.

Menyadari hal ini, jauh-jauh hari, sejak anjloknya harga minyak pemerintah lebih memfokuskan perhatiannya pada sektor non-migas. Dan hasilnya cukup menggemberikan. Sejak awal tahun 1980-an, ekspor non-migas kita sudah melebihi ekspor migas. Akan tetapi, kekuatan sektor non-migas ini terutama pada paruh awal 1980-an lebih bertumpu pada ekspor komoditi primer hasil-hasil pertanian. Kalaupun ada keluaran industri yang bisa diekspor, unggulan kompetitifnya lebih banyak mengandalkan pada upah buruh yang murah. Padahal kekuatan inipun sebenarnya amat rentan. Selain nilai tambahnya kecil, negara-negara industri di masa depan kemungkinan akan mengurangi kebutuhannya akan impor komoditi primer dari negara-negara berkembang, karena temuan-temuan baru dalam bahan-bahan yang dapat mensubstitusi komoditi tersebut. Sedangkan upah buruh yang murah juga akan segera terbentur pada keterbatasan pasar dan adanya persaingan keras dari negara-negara berkembang lainnya yang berpenduduk lebih padat.

Mempertimbangkan hal ini, terutama pada paruh kedua tahun 1980-an, berbagai kebijakan seperti deregulasi dan debirokratisasi telah digulirkan oleh pemerintah dalam rangka memacu pertumbuhan dan produktivitas sektor industri. Hasilnya bisa dirasakan. Sumbangan sektor industri terhadap produksi nasional kian bertambah. Jika pada tahun 1970, sektor pertanian menghasilkan 46% dan industri pengolahan 8,4% dari PDB. Maka pada tahun 1990, peranan sektor pertanian menurun menjadi kurang dari sete-ngahnya, yakni sekitar 20%, sedangkan peranan industri pengolahan meningkat lebih dari 2 kali lipatnya, yaitu sekitar 19%.

Namun demikian, pesatnya laju pertumbuhan industri ini, ternyata tidak diikuti oleh pesatnya daya serap industri terhadap tenaga kerja. Sampai tahun 1989, ketika laju pertumbuhan industri mencapai 9,09%, laju penyerapan tenaga kerjanya hanya 3,78%, sehingga pada tahun 1990, sektor industri hanya menyediakan kontribusi sebesar 10,14% dari total angkatan kerja (lihat Tabel). Sementara itu, hampir dalam waktu bersamaan, meskipun pertumbuhan sektor pertanian terus menurun, tapi daya serap tenaga kerjanya masih tinggi walaupun cenderung menurun. Dalam kurun waktu 1968 - 1988 sektor pertanian mencerap 40% dari total tambahan angkatan kerja. Ini berarti pipa alir tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri arusnya sa-ngat kecil. Masalahnya adalah, selain keterbatasan yang melekat pada sektor industri pengolahan Indonesia, terutama karena angkatan kerja pertanian pada umumnya kurang mempunyai keterampilan yang dapat dimanfaatkan langsung oleh sektor industri dan jasa.





Tabel : Laju Pertumbuhan PDB (atas dasar harga konstan 1983) dan Laju Penyerapan Tenaga Kerjanya Menurut Sektor Tahun 1988/1990





Tahun





1988





1989





1990








SEKTOR





PDB





TK





PDB





TK





PDB





TK
Pertanian
Industri Pengolahan
Perdagangan
Jasa Kemasyarakatan
Sektor lainnya
Tak Terjawab
4,90
11,99
9,06
4,32
2,68
-
4,53
7,59
-1,27
-0,34
2,73
55,67
3,69
9,09
9,95
6,19
8,04
-
1,54
3,78
4,35
5,05
11,65
1,35
2,77
12,30
8,31
5,01
7,28
-
3,12
18,42
2,69
-22,65
48,07
6,42
Sumber: Diolah dari Data BPS

Sementara itu, di sisi lain bisa dilihat, kendatipun produktivitas dan pertumbuhan sektor industri terus meningkat, namun tidak demikian halnya dengan nilai tambah yang dihasilkan tenaga kerja. Jika diukur berdasarkan rasio upah terhadap nilai tambah, maka pada awal tahun 1990-an ini justru terjadi penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas sektor industri selama ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor produksi lainnya, terutama faktor mesin atau peralatan produksi yang lain. Sedangkan nilai tambah yang diberikaan oleh masukan te-naga kerjanya tampak masih rendah.

Semua tanda-tanda yang mengemuka tadi sebenarnya mengisyaratkan betapa pentingnya memperhatikan masalah pengembangan sumber daya manusia yang memiliki kapabilitas Iptek dalam PJP II nanti. Arti pentingnya hal ini kian terasa bila memperhatikan trend perkembangan industri menjelang akhir abad ini, dimana terjadi pergeseran mendasar pada struktur pekerjaan yang menghasilkan nilai tukar, dari pekerjaan yang padat mesin pengolah sumber daya alam menuju padat tenaga ahli dengan kemampuan multi dan super spesialis yang menggerakkan peralatan teknologi canggih. Pergeseran ini kemudian dikenal sebagai pergeseran basis bisnis, dari resources base ke knowledge base.

Jika begitu soalnya, kita berkepentingan untuk memeriksa lebih jauh tentang kondisi objektif SDM Iptek Indonesia secara umum, terutama dalam kaitannya dengan tingkat dan kualifikasi pendidikan angkatan kerja Indonesia. Tapi di sini pun sekali lagi kita dihadapkan pada gambaran yang kurang menggembirakan.

Manusia sebagai Potensi Pembangunan

Apa yang bisa kita tangkap dari pernyataan-pernyataan di atas adalah kesepakatan nasional bahwa mulai Repelita VI, dengan tetap berlandaskan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, Bangsa Indonesia secara sistematis dan bertahap akan mentransformasikan dirinya menjadi bangsa modern, bangsa yang menguasai teknologi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, menyediakan prasarana ekonomi dan untuk menghasilkan barang dan jasa lainnya dalam rangka semakin meningkatkan kualitas hidupnya.

Dalam proses ini, tumpuan pembangunan nasional akan semakin berpindah dari pemanfaatan sumberdaya alam ke pengandalan pada kekuatan yang terkandung dalam sumberdaya yang selalu terbarukan, yaitu sumberdaya manusia Indonesia.

Sejalan dengan itu, strategi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan kita jalankan bertumpu pada pendirian bahwa kemajuan lestari suatu bangsa tidak terutama tergantung pada dimilikinya sumber-sumber kekayaan alam. Kemajuan lestari suatu bangsa tergantung pada ketangguhan, keuletan dan keterampilan sumberdaya manusia yang dimilikinya.

Untuk itu, adalah tugas kita bersama untuk melatih tenaga kerja, memanfaatkan sumber daya yang tersedia dan meningkatkan kemampuan menggunakan teknologi maju dengan memakai potensi penduduk yang tersedia. Usaha ini merupakan upaya yang penuh tantangan, yang dalam mengatasinya memerlukan ketekunan. Selain itu kita harus berpacu dengan waktu, karena pembangunan tidak dapat menunggu. Tindakan ini tidak semuanya harus dilakukan oleh pemerintah tetapi dapat juga dilaksanakan oleh para pengusaha swasta kita.

Dalam kaitan ini, hal mendasar yang harus dihayati secara sungguh-sungguh adalah bahwa kita harus mulai berhenti melihat manusia sebagai suatu problema nasional, sebagai orang yang memerlukan belas kasihan tetapi tidak banyak gunanya bagi masyarakat. Ini suatu pandangan yang keliru. Kita harus mulai melihat manusia Indonesia sebagai potensi nasional yang mempunyai nilai ekonomi dan pembangunan. Manusia yang merupakan potensi ekonomi dan pembangunan itu kemudian perlu kita bina. Ia harus kita kembangkan. Ia harus kita penuhi kebutuhannya. Ia harus kita lengkapi dengan sumber-sumber daya lainnya sehingga nilai ekonominya meningkat. Ia harus diantarkan ke dalam proses industrialisasi untuk menghasilkan barang dan jasa yang bermanfaat bagi masyarakatnya sendiri maupun bagi dunia luar, sehingga ia memperoleh penghasilan yang layak melalui pertukaran barang dan jasa. Ia harus dapat mempertahankan dirinya, hasil-hasil karya serta segala keka-yaannya yang lain pada setiap saat: ia membutuhkan ketahanan. Dan karena manusia bukanlah benda mati, karena ia memiliki perasaan etika, tradisi, agama dan kebudayaan, maka haruslah pula dipelajari, dipahami serta dilestarikan dan dikembangkan segi-segi itu dari kehidupannya, sebagai landasan bagi pengembangan aspek-aspek yang telah di- sebutkan terdahulu.

Dengan kata lain, pengembangan sumberdaya manusia harus diarahkan pada upaya peningkatan nilai tambah materi dan nilai tambah pribadinya sendiri. Usaha peningkatan nilai tambah materi diorientasikan untuk mengoptimalkan nilai guna suatu barang sehingga mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi. Sedangkan upaya peningkatan nilai tambah pribadi (individu) dimaksudkan untuk menambah kapasitas pengetahuan, tingkat keterampilan dan kepekaan nilai seseorang sehingga bisa bertindak sebagai pribadi yang produktif dan berguna.

Terdapat suatu perbedaan yang sangat penting antara barang hasil proses nilai tambah materi, dan manusia terdidik sebagai hasil proses nilai tambah pribadi. Karena waktu dan keausan dalam penggunaan, produk-produk hasil proses nilai tambah materi selalu akan menurun nilainya setelah diproduksi dan akhirnya akan aus. Sebaliknya, ma-nusia terdidik yang dilibatkan secara aktif di dalam proses-proses nilai tambah materi, akan semakin meningkatkan kemampuan dan ketrampilannya, sehingga nilai tambah pribadinya akan semakin meningkat. Dengan demikiaan, proses nilai tambah materi yang ditekuninya sekaligus merupakan proses pendidikan atau proses nilai tambah pribadi. Dan peningkatan nilai tambah pribadi manusia itu akan berlangsung terus-menerus kecuali dihambat atau dihentikan karena sakit atau meninggal.

Jadi hubungan antara kedua proses nilai tambah tersebut sangat erat. Tidak ada proses nilai tambah materi tanpa proses nilai tambah pribadi manusia. Sebaliknya, akan sia-sia untuk meningkatkan nilai tambah pribadi manusia kecuali jika ditujukan untuk melaksanakan proses-proses nilai tambah materi yang sedang berlangsung atau akan berlangsung di masa depan. Di samping itu, perkembangan di dalam proses-proses nilai tambah materi akan mendorong terjadinya perkembangan dan peningkatan di dalam proses nilai tambah pribadi manusia. Suatu masyarakat yang statis di dalam perkembangan proses-proses nilai tambah materinya dan selama-lamanya menghasilkan produk-produk dengan cara-cara yang itu-itu juga, akan statis pula di dalam perkembangan proses-proses nilai tambah pribadinya: pendidikannya tidak dikembangkan.

Manusia Indonesia seperti yang saya gambarkan ini harus memiliki karakteristik peningkatan kualitas, yang meliputi:
1). Percaya kepada Tuhan YME dan berkelakuan baik;
2).Terampil dalam bidangnya berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi;
3). Bertekad mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945;
4). Berakar pada nilai-nilai budaya Indonesia;
5). Bertekad pada kepentingan nasional;
6). Bertekad pada kesatuan dan persatuan nasional.

Sumber:

Prof. B.J. Habibie


Foto:
Oleh: Arip Nurahman

"Pembangunan Sumber Daya Manusia di Indonesia Harus Selalu menjadi Priorotas Utama Setiap Masa Pemerintahan"
~Arip, Universitas Pendidikan Indonesia~

Thursday, May 19, 2011

TRANSFORMASI TEKNOLOGI DAN INDUSTRI UNTUK HARI DEPAN BANGSA Bag I



TRANSFORMASI TEKNOLOGI DAN INDUSTRI
UNTUK HARI DEPAN BANGSA 
 


 
 

Pengembangan diri suatu bangsa menjadi bangsa berteknologi maju merupakan suatu proses transformasi menuju perolehan kualitas baru. Melakukan transformasi teknologi dan industri berarti bergerak ke arah dimensi baru kehidupan bangsa. 
Teknologi tidak dapat dimengerti apalagi dikembangkan secara abstrak. Bekerjanya teknologi hanya dapat dipahami melalui usaha penerapannya dalam rangka pemecahan masalah produksi yang kongkrit. 
(B.J. Habibie) 
Hidup kita di Indonesia adalah perjuangan untuk membentuk hidup esok yang lebih baik. Dan perjuangan untuk membentuk hidup esok yang lebih baik itu tiada lain merupakan perjuangan untuk menempa diri: mengembangkan diri menjadi bangsa Indonesia yang modern, mandiri dan berkeunggulan.
Dalam kerangka inilah kita terlibat dalam proses pembangunan bangsa, yaitu proses yang dilalui suatu bangsa dalam suatu negara dalam usahanya mengembangkan identitas bersama serta falsafah hidupnya, mengembangkan cara hidup serta cara kerjasamanya yang khas, dan merealisasikan potensi ekonomi, potensi kebudayaan serta potensi politiknya sebagai suatu kesatuan nasional yang khas.
Di dalam arti ini, "kebangsaan" jauh lebih luas daripada sekadar terpenuhinya persyaratan formal kemerdekaan politik. Di dalam arti ini, kebangsaan ditandai oleh kemampuan berdiri sendiri secara ekonomis, keberhasilan mem- pertahankan identitas kebudayaan bangsa, serta kekuatan mempertahankan integritas politik.

Di bidang ekonomi, kebangsaan berarti kemampuan menghasilkan barang dan jasa yang diperlukan sendiri serta barang dan jasa yang dibutuhkan di pasar dunia untuk dipertukarkan dengan barang dan jasa yang diperlukan, tetapi yang tidak dapat, atau tidak ekonomis jika dihasilkan sendiri. Itulah sebabnya, kemampuan untuk menguasai serta mengembangkan teknologi sangat penting. Tanpa kemampuan ini, kekayaan alam yang berlimpah sekalipun tak akan pernah merupakan harta yang terkuasai. Sedangkan dengan dikuasainya ilmu pengetahuan dan teknologi, langkanya sumber daya alam tidaklah menjadi hambatan yang tak teratasi.
Usaha kita menguasai dan mengembangkan teknologi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan kita membentuk hidup esok yang lebih baik, bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan membentuk diri kita sebagai bangsa. Seperti disebutkan dalam GBHN 1993: "bahwa agar pembangunan nasional dapat memberikan kese- jahteraan rakyat lahir batin yang setinggi-tingginya, penyelenggaraannya perlu menerapkan nilai-nilai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mendorong pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi secara saksama dan bertanggung jawab dengan memperhatikan nilai-nilai agama dan nilai-nilai luhur bu- daya bangsa."
Prinsip-Prinsip Pengembangan Teknologi 
Ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pembangunan bangsa tidak dapat dikuasai dan dikembangkan dengan begitu saja. Terlebih lagi bagi bangsa Indonesia yang tingkat kemampuan sumberdaya manusia dan kapabilitas teknologinya masih relatif terbelakang. Untuk menjamin tercapainya hasil dan daya guna suatu proses pengalihan, pene- rapan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seperti yang diharapkan, ada beberapa prinsip yang harus kita perhatikan.
Prinsip-prinsip ini merupakan perpaduan antara apa yang berlaku dalam kenyataan dan apa yang seharusnya, dan secara keseluruhan dapat dipandang merupakan falsafah pribadi saya dalam bidang penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pembangunan bangsa. Secara singkat prinsip-prinsip tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.
Prinsip pertama, adalah perlunya diselenggarakan pendidikan dan pelatihan di dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang relevan untuk keperluan pem- bangunan bangsa. Ini menyangkut baik pendidikan dan pelatihan di dalam negeri maupun di luar negeri. Ini merupakan suatu langkah yang esensial. Namun langkah ini saja tidaklah cukup.
Di samping itu, sebagai prinsip kedua, perlu dikembangkan suatu konsep yang jelas, realistis, dan dapat dilaksanakan secara konsekuen tentang masyarakat yang ingin dibangun di masa depan serta teknologi yang diperlukan untuk mewujudkannya. Teknologi ini belum tentu selalu harus merupakan teknologi yang paling sederhana. Seringkali, teknologi ini bahkan dapat merupakan teknologi yang mutakhir di dunia. Satu-satunya ukuran bagi tepat-tidaknya suatu teknologi bagi bangsa yang secara teknologis kurang maju adalah kegunaannya dalam memecahkan permasalahan-permasalahan nyata di dalam negara bangsa tersebut.
Prinsip ketiga, dan barangkali yang paling penting, adalah bahwa teknologi hanya dapat dialihkan, diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut jika mereka benar-benar diterapkan pada pemecahan masalah-masalah yang kongkrit. Karena sifatnya, teknologi tidak dapat dimengerti apalagi di- kembangkan secara abstrak. Untuk mengembangkan tek- nologi produksi padi misalnya, memang sangat penting dipelajari pertanian padi dan teknologi produksi padi yang telah dikembangkan di seluruh dunia. Tetapi yang paling penting adalah usaha meningkatkan produksi padi di dalam berbagai kondisi lahan, kondisi cuaca, kondisi ekonomi dan di dalam lingkungan masyarakat dan kebudayaan tertentu. Bekerjanya teknologi dapat dipahami dengan baik hanya melalui usaha dan karya nyata dalam rangka memecahkan problema-problema produksi yang kongkrit. Dan hanya jika teknologi dipahami dengan cara demikian, ia dapat dikembangkan lebih lanjut.
Prinsip keempat, berdampingan dengan prinsip ketiga tadi, bagi bangsa yang ingin mengembangkan dirinya secara teknologis harus bertekad kuat untuk berusaha sendiri memecahkan masalah-masalahnya. Bangsa yang ingin maju secara teknologis, tidak mungkin terus-menerus menjadi importir netto teknologi sepanjang masa. Pada suatu ketika, ia harus sanggup mengembangkan teknologinya sendiri.
Kelima, pada tahap-tahap awal transformasi dirinya menjadi suatu bangsa berteknologi maju, setiap negara harus melindungi perkembangan kemampuan nasionalnya di bidang teknologi hingga saat tercapainya kemampuan bersaing secara internasional. Dan perlu ditambahkan di sini, bahwa setiap negara harus merencanakan tercapainya kemampuan bersaing secara internasional itu dalam tempo sesingkat-singkatnya.
Demikianlah beberapa prinsip yang harus diperhatikan di dalam setiap usaha melaksanakan suatu strategi penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi serta upaya-upaya transformasi teknologi dan industri di negara-negara berkembang.
Ada banyak strategi yang dapat dipilih untuk menerapkan prinsip-prinsip tersebut dalam tindakan yang lebih kongkrit. Namun secara konsepsional, terdapat dua elemen dasar dari strategi ini yang patut diperhatikan. Elemen pertama adalah tahap-tahap pelaksanaannya, dan yang kedua adalah wahana-wahananya.
Tahap-tahap Transformasi 
Pengembangan diri suatu bangsa menjadi bangsa berteknologi maju merupakan suatu proses transformasi menuju pencapaian kualitas baru. Proses trasformasi ini kini telah dapat kita kenali. Proses transformasi suatu masyarakat menjadi suatu bangsa yang maju teknologi dan industrinya terdiri dari empat tahap yang bertumpang-tindih. Tiga di antaranya relevan bagi negara-negara sedang berkembang, sedangkan tahap keempat merupakan tahap kunci bagi negara-negara yang ingin mempertahankan keung-gulan tenologinya.
Tahap pertama dan yang paling mendasar adalah tahap penggunaan teknologi yang telah ada di dunia untuk proses-proses nilai-tambah dalam rangka produksi barang dan jasa yang telah ada di pasaran. Pada tahap ini, teknologi produksi dan manajemen digunakan untuk mengubah bahan mentah dan barang-barang setengah jadi menjadi barang-barang jadi yang memiliki nilai yang lebih tinggi.

Oleh karena itu, proses-proses ini dinamakan proses nilai-tambah. Sudah barang tentu dalam pelaksanaan berbagai proses nilai-tambah ini dapat saja dimanfaatkan teknologi yang telah dikembangkan di dalam negeri. Namun, tidak dengan sendirinya hal ini akan memajukannya. Bisa saja investasi di dalam usaha-usaha penelitian dan pengembangan dilakukan. Tetapi sangat mungkin yang dihasilkan adalah sekadar "penemuan kembali roda" di berbagai bidang.
Dengan kata lain, setelah menanamkan waktu, tenaga dan uang yang begitu banyak, yang dihasilkan hanyalah teknologi yang sama seperti yang telah ada di negara-negara lain. Karena itu, dalam banyak hal, jalan pintas yang paling masuk akal adalah melakukan pengalihan teknologi dari luar negeri dan melaksanakan produksi atas dasar lisensi. Dalam pelaksanaannya, diperlukan penerapan rencana-rencana produksi progresif (progressive manufacturing plans) untuk menjamin teralihkannya teknologi yang bersangkutan secara teratur dengan mengaitkan tingkat penga- lihan teknologi pada jumlah barang yang diproduksi dan tidak dengan cara menentukan sasaran-sasaran waktu.
Melalui tahap ini akan dikembangkan kemampuan untuk memahami disain-disain serta teknik-teknik dan cara produksi yang lebih maju yang telah dikembangkan di luar negeri. Dengan demikian, keterampilan produksi maupun keahlian organisasi dan manajemen akan ditingkatkan. Di-siplin kerja akan lebih dimajukan. Penerapan standar kerja dan standar mutu akan lebih terbiasakan.
Tahap pengembangan kedua adalah tahap integrasi tek- nologi yang telah ada ke dalam desain dan produksi barang-barang yang baru sama sekali. Artinya, yang belum ada di pasaran. Pada tahap ini dikembangkan desain dan cetak-biru baru. Dengan demikian, ada elemen baru, yaitu elemen penciptaan. Disamping akan dikembangkannya keahlian disain, tahap ini akan meningkatkan keahlian-keahlian lain, terutama keahlian di dalam melakukan integrasi dan optimasi komponen ke dalam sistem baru, dan atas dasar ini, dapat dihasilkan kemampuan untuk memilih, dari semua disain komponen untuk barang baru tersebut, disain yang paling optimum.
Pada dasarnya, setiap produk buatan manusia dapat dilihat sebagai suatu sistem yang terdiri dari komponen yang masing-masing membutuhkan sebuah teknologi tertentu untuk membuatnya. Di dalam sistem ini, setiap komponen memperoleh nilainya dari fungsinya ke dalam keseluruhan sistem atau produknya secara keseluruhan seperti halnya produknya sendiri memperoleh nilainya dalam pasar sesuai dengan fungsinya bagi masyarakat. Betapa baik pun rancangannya, tidak satu pun sistem roda ataupun baling-baling akan mempunyai nilai di dalam pasar kalau komponen tersebut tidak diintegrasikan ke dalam sebuah kereta api ataupun pesawat terbang, baik yang sudah ada maupun yang baru.

Ban, mesin, sistem avionik, dan lain-lain komponen hanya akan dapat memasuki pasaran melalui integrasinya ke dalam suatu pesawat terbang. Komponen hanya akan memasuki pasaran jika memenuhi fungsinya di dalam produk, yang pada gilirannya juga hanya akan memperoleh suatu nilai di pasaran jika dapat melaksanakan tugasnya di dalam masyarakat.

Pengembangan keahlian desain dan integrasi dengan demikian secara alamiah akan membawa serta kesempatan untuk memilih, dari semua teknologi yang tersedia di dunia, termasuk yang paling mutakhir, teknologi yang paling sesuai dengan produk yang dirancang tersebut. Dan kesempatan ini akan datang dengan sendirinya tanpa biaya pada perusahaan yang sedang dalam tahap pengembangan, karena para produsen komponen akan berlomba-lomba menawarkan desain serta produk mereka pada perusahaan yang diketahui sedang merancang produk baru.

Dengan tiba-tiba saja boleh dikata, didorong oleh kekuatan pasar, deras arus aliran informasi teknologi ke dalam negeri bertambah kuat, termasuk di dalamnya informasi mengenai perkembangan terbaru. Karena produk yang baru dirancang masih harus diuji-coba, baik di dalam laboratorium maupun di dalam pasaran, maka melalui tahap pengembangan ini kemampuan menguji serta keahlian manajemen dan pemasaran, serta di dalam simulasi juga turut ditingkatkan. Peranan penelitian dan pengembangan lebih menonjol dengan perlunya peningkatan fasilitas antara lain untuk pengujian, desain serta untuk simulasi.
Tahap ketiga adalah tahap pengembangan teknologi itu sendiri. Di dalam tahap ini, teknologi yang telah ada dikembangkan lebih lanjut. Teknologi baru pun dikembangkan. Semua itu dilakukan dalam rangka merancang produk masa depan. Jika di dalam tahap kedua tadi, orang masih dapat memanfaatkan teknologi yang sudah ada, termasuk yang paling mutakhir, di dalam tahap ini diperlukan penciptaan teknologi baru sama sekali.
Inilah skenario yang tentunya sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di negara-negara maju ataupun di dalam negara-negara industri baru (newly industrializing countries). Perusahaan dan negara yang lalai melakukan investasi di dalam pengembangan teknologi baru akan cepat kehilangan daya saingnya. Tahap ketiga ini merupakan tahap dilakukannya inovasi, tahap diciptakannya teknologi untuk komponen yang akan merupakan bagian dari produk yang pada jamannya masing-masing akan merupakan produk yang secara teknologis terbaik di dalam bidangnya masing-masing.

Tahap ini merupakan tahap yang mau tidak mau harus dilaksanakan oleh setiap perusahaan dan setiap negara yang ingin mempertahankan posisinya dalam bidang usahanya masing-masing. Dan betapapun jauh tampaknya tahap ini dari tingkat perkembangan banyak negara berkembang dewasa ini, akan sangat bijaksana jika mereka pun merencanakan untuk melaksanakan tahap pengem-bangan ini jika tidak hendak kehilangan segala kamajuan yang telah dicapainya di dalam tahap-tahap pengembangan teknologi dan industri sebelumnya.
Perusahaan dan negara yang sedang melaksanakan tahap pengembangan ketiga ini seringkali menemui kurangnya teori di sana-sini yang memerlukan dilakukannya penelitian dasar untuk menutupinya. Tahap pelaksanaan penelitian dasar secara besar-besaran ini dapat dinamakan tahap keempat di dalam pembangunan ilmu pengetahuan dan tek- nologi untuk transformasi teknologi dan industri negara-negara sedang berkembang. Perkembangan baru di bidang informatika, di dalam bidang teknologi pengendalian dan di dalam bidang teknologi komputer pada saat inipun sedang mengantarkan cara hidup dan bekerja baru di negara-negara industri maju.
Walaupun negara-negara berkembang ikut pula melakukan investasi di bidang penelitian dasar ini, banyak di antaranya berpandangan bahwa sumber daya keuangan, pra- sarana serta manusianya yang langka itu lebih dapat dimanfaatkan untuk tugas-tugas lain yang lebih mendesak.

Karena itu, kebanyakan penelitian dasar dilakukan di negara- negara maju dengan negara-negara sedang berkembang dapat ikutserta dan memanfaatkan hasil-hasilnya antara lain melalui perjanjian kerjasama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Kendatipun tidak seluruhnya tak relevan untuk negara-negara berkembang, tahap pengembangan ke- empat ini tidak sepenting tiga tahap sebelumnya, dalam kerangka transformasi mereka menjadi negara-negara tek- nologi dan industri maju.
Di dalam semua tahap tersebut, prinsip keterlibatan secara aktif di dalam proses produksi merupakan suatu prinsip yang mutlak perlu diterapkan. Memang tidak mustahil untuk memperoleh pengetahuan sekadarnya mengenai teknologi produksi melalui observasi ataupun partisipasi dalam seminar ataupun lokakarya. Belajar teknologi produksi dengan menghasilkan satu-dua buah produk saja pun mungkin.

Namun pengetahuan serta keterampilan produksi yang diperoleh dengan cara ini tidak akan tahan lama. Keterampilan teknologi yang mendarah daging serta kemampuan mengembangkan teknologi hanya dapat diperoleh melalui penerapannya. Lokakarya serta seminar serta pre-sentasi ataupun briefing memang ada gunanya sebagai media pengantar pengetahuan industri.

Namun untuk keperluan pengalihan teknologi produksi dan teknologi bidang lainnya secara berhasil dan tahan lama, pelaksanaan secara konsisten program desain dan produksi barang-barang yang secara teknologis unggul dan secara ekonomis layak merupakan pengantar yang jauh lebih baik.
Apabila dihayati maka program-program iptek, seperti Teknik Produksi (TP), Teknologi (T), Ilmu Pengetahuan Terapan (IPT), dan Ilmu Pengetahuan Dasar (IPD), tidak lain merupakan gambaran empat tahapan transformasi masyarakat industri. Tahap pertama yang disebut lisensi adalah program Teknik Produksi.

Dalam hal ini, apabila kita membuat produk berdasarkan lisensi dari siapapun juga, maka kita akan memperoleh informasi tentang cara produksi, "pengendalian mutu", "jaminan mutu", "penyerahan tepat waktu" dan "pengendalian biaya", artinya melalui tahap dan program ini kita akan memperoleh teknik dan teknologi.

Tahap kedua saya sebut dengan "integrasi tek- nologi" untuk produk baru dan ini merupakan Program Teknologi. Yang dimaksud dengan integrasi teknologi adalah teknologi yang sudah "teruji" dan sudah dipunyai, diintegrasikan untuk memproduksi barang baru yang diperlukan pasar. Ini berarti bahwa sudah terintegrasi pula "cetak biru" yang kita buat sendiri.
Sebagai contoh dalam bidang dirgantara, tahap pertama adalah produksi NC- 212, tahap kedua adalah produksi CN-235 Tetuko. Program IPT merupakan tahap pengembangan teknologi atau tahap ketiga transformasi masyarakat industri. Pada tahap ini dikembangkan teknologi yang semula tidak dikenal, tetapi dari berbagai multi-disiplin ilmu pengetahuan digabungkan menjadi teknologi baru, seperti produksi N-250 Gatotkoco.

Sedangkan program IPD adalah tahap keempat, yaitu bagaimana kita memikirkan teknologi dan industri untuk beberapa tahun kemudian dengan berdasarkan pada teknologi tahap pertama, kedua dan ketiga. Misalnya, bagaimana industri pesawat terbang harus berkembang untuk tahun setelah tahun 2000, untuk abad mendatang.

Untuk hal itu kita mempunyai proyek N-2130, yang nantinya akan dibiayai dari hasil lisensi, integrasi teknologi, dan hasil pengembangan N-250. dari sini terlihat bahwa semua ini bukan hanya sekedar teori, dan saya bukan hanya mengarahkan, tetapi hal ini saya hayati dan amalkan dengan melakukan exercise setiap hari.
Mengapa industri pesawat terbang diproyeksikan seperti di atas? GDP dunia tahun 1994 berjumlah US$27 trilyun dan tahun 2019 akan berjumlah US$75,910 trilyun. Ini berarti pada tahun 2019, masyarakat yang mampu memanfaatkan pesawat terbang akan lebih banyak, maka "kebu- tuhannya" akan bertambah. Selain itu pesawat terbang yang sudah berusia 30 tahun harus diganti, dan ini berarti jumlah kebutuhan akan bertambah secara on top.

Berlandaskan pada pemikiran demikian ini kita harus berani bertindak dalam bidang-bidang bioteknologi, kesehatan, transportasi, elektronik, telekomunikasi, sistem senjata, dll. Kegiatan-kegiatan iptek semacam contoh di atas, diharapkan terjadi dalam setiap aktivitas yang akan dan harus kita laksanakan, dan ini berarti iptek yang menunjang produksi, komoditi ekspor, dan lain sebagainya.
Wahana Transformasi 
Pengalihan dan pengembangan teknologi hanya dapat dilaksanakan melalui suatu program. Karena itu pelaksanaan program desain dan pembuatan produk yang kongkret merupakan persyaratan mutlak bagi setiap usaha mencapai kemajuan teknologi. Namun tidak semua program dapat mengantarkan suatu negara sedang berkembang ke dalam suatu transformasi teknologi serta industri.
Pada prinsipnya, keempat tahap transformasi tersebut dapat dilaksanakan pada setiap bidang kegiatan mana pun yang mendasarkan diri pada ilmu dan teknologi. Namun lazimnya, dana dan daya terbatas, dan kerenanya, harus digunakan seoptimal mungkin. Ini berarti bahwa prioritas penggunaan dana dan daya yang terbatas itu harus diberi- kan pada pengalihan dan pengembangan teknologi di dalam proses nilai tambah yang memenuhi persyaratan untuk menjadi suatu "wahana transformasi teknologi dan industri".
Persyaratan pertama yang perlu, tetapi tidak cukup, adalah bahwa di dalam proses nilai tambah termaksud, dapat dilaksanakan rencana produksi progresif, yaitu rencana produksi yang secara langkah demi langkah memungkinkan penetrasi yang makin dalam ke teknologi yang bersangkutan oleh para produsen nasional suatu bangsa.

Dengan demikian berarti bahwa semakin besar jumlah produksi yang dihasilkan, semakin besar pula persentase nilai-tambah domestik yang dihasilkan oleh perusahaan atau negara yang bersangkutan. Dengan sendirinya, tingkat penguraian program produksi harus dilakukan dengan mengingat jumlah investasi yang harus dilakukan baik di dalam prasarana, alat-alat modal serta sumber daya manusia dalam hu-bungannya dengan tingkat perkembangan kemampuan rekayasa (engineering) yang nyata-nyata ada di dalam situasi dan kondisi tertentu di suatu negara.
Tujuan rencana produksi progresif adalah untuk me-ngembangkan tingkat kemampuan teknologis perusahaan yang bersangkutan sedemikian rupa sehingga mampu menghasilkan persentase nilai-tambah yang sama dengan yang dihasilkan oleh perusahaan sejenis di negara-negara yang sudah maju. Untuk perusahaan produsen pesawat terbang misalnya, ini berarti suatu persentase nilai-tambah sebesar 40 sampai 60 persen dari nilai keseluruhan pesawat terbang. Hal demikian berlaku karena jauh lebih murah untuk membeli berbagai komponen dari perusahaan-perusahaan spesialis daripada memproduksinya sendiri.
Persyaratan kedua yang perlu dan cukup adalah bahwa barang-barang atau pun kelompok barang yang dihasilkan harus memenuhi permintaan pasar. Bagi negara-negara berkembang yang memiliki pasar di dalam negeri yang terbatas untuk barang atau kelompok barang yang dipilih, programnya harus memenuhi persyaratan yang memungkinkan barang-barang yang dihasilkan dapat bersaing dengan barang-barang sejenis di pasar internasional. Bagi negara-negara berkembang dengan pasar dalam negeri yang besar untuk produk yang bersangkutan, teknologi produksi barang-barang tersebut harus cukup tinggi agar dapat bersaing di pasar dalam negeri.
Bagi negara berkembang dengan pasaran dalam negeri yang terbatas untuk pesawat terbang misalnya, pelaksanaan program produksi baling-baling atau kerangka roda atau mesin pesawat terbang bukanlah merupakan cara yang terbaik untuk menyelenggarakan pengembangan teknologi dan industri.

Pelaksanaan program semacam ini memang akan dapat mengalihkan teknologi yang paling maju ke dalam negara yang bersangkutan sehingga pada saatnya negara tersebut akan dapat menghasilkan baling-baling, kerangka-kerangka roda, serta mesin-mesin pesawat terbang bermutu tinggi.
Namun, pada saat itu juga, negara tersebut akan menghadapi masalah pemasaran yang sangat berat untuk hasil produksinya itu. Karena terbatasnya pasaran dalam negeri untuk barang produksi tersebut, maka haruslah dihadapi pesaing-pesaing di pasaran dunia yang jauh lebih berpengalaman, yang memiliki jaringan pemasaran yang jauh lebih luas, dan yang jauh lebih kuat keuangan serta manajemennya.

Bahkan dengan mutu hasil produksi yang sangat tinggi sekalipun, perusahaan penghasil produk tersebut akan sulit sekali bersaing di pasaran dunia. Produk seperti baling-baling, kerangka roda, serta mesin pesawat terbang, karena alasan itu, bukanlah wahana yang tepat untuk transformasi negara bersangkutan menjadi negara industri maju.
Ini bukan karena teknologinya kurang maju, tetapi karena tidak adanya hubungan yang langsung antara produk yang dihasilkan dengan pasaran dalam negeri.
Dengan memiliki pasar dalam negeri yang besar dan yang dapat dikuasai, akan kurang bijaksana bagi perusaha- an-perusahaan Indonesia untuk melaksanakan program produksi barang-barang yang tidak ada pasarannya di dalam negeri. Berbeda dengan negara-negara seperti Singapore dan Hong Kong yang memang tidak mempunyai jalan lain kecuali langsung memasuki pasar internasional bagi kebanyakan produk hasil industrinya.
Negara-negara berkembang seperti Indonesia dan Brasil dapat dan memang sewajarnya beroriertasi pada kebutuhan pasar dalam negeri dalam menentukan dan melaksanakan program yang paling tepat bagi transformasinya menjadi negara industri maju. Itu berarti, khususnya bagi Indonesia, bagi produksi barang atau jasa tersebut tersedia pasar domestik yang terlindung, sehingga dapat memberikan kesempatan bagi produsen nasional untuk mengembangkan dirinya hingga mencapai kemampuan bersaing di pasar internasional.
Mengapa demikian? Agar barang-barang hasil produksi dapat bersaing di pasar, harus dipenuhi beberapa persya-ratan. Pertama, skala produksinya harus mendekati optimum. Kedua, mutu produksi serta layanan purna jualnya (after sales service) harus dapat diandalkan.

Demi tercapainya kedua persyaratan ini, seringkali kepada perusahaan produsennya perlu diberikan perlindungan untuk sementara waktu. Tidak mungkin skala produksi dapat mendekati optimum jika volume penjualan terbatas karena pasar dalam negeri penuh sesak karena banyaknya jumlah produsen. Demikian pula keterampilan produksi serta layanan purna jual tidak dapat ditumbuhkan sekejap mata sehabis memproduksi beberapa gelintir barang.
Karena itu, walaupun kita semua di sini setuju bahwa, pada akhirnya, produsen harus mampu bersaing dalam pasar bebas, justru untuk mencapai daya saingnya dalam jangka panjang, para produsen seringkali perlu diberi perlin- dungan dalam jangka pendek.

Jelas bahwa perlindungan ini hanya dapat diberikan di pasar dalam negeri produsen yang bersangkutan. Oleh karena itulah maka dalam rangka usaha menumbuhkan beberapa produk atau golongan produk sehingga dapat melaksanakan peranannya sebagai wahana transformasi industri negara-negara sedang berkembang, kepada mereka diberikan perlindungan untuk sementara waktu.
Pada skala produksi telah mencapai titik optimum serta tingkat keterampilan telah melembaga, maka pemberian perlindungan dihentikan dan wahana-wahana yang telah ditumbuhkan dilepaskan bersaing atas kekuatannya sendiri di pasar domestik maupun internasional.
Bidang kegiatan industri yang memenuhi (kedua) persyaratan tersebut dinamakan "Wahana Transformasi Tek- nologi dan Industri" suatu bangsa. Karena dengan keterlibatannya dalam bidang itulah bangsa tersebut dapat mentransformasikan dirinya menjadi suatu bangsa yang menguasai teknologi maju.
Cara pemilihan teknologi berdasarkan persyaratan ini akan menghasilkan penggunaan optimum dana dan daya yang terbatas, sehingga dapat mempercepat proses penga- lihan teknologi dan sekaligus akan mendorong pengem-bangan teknologi dalam komposisi yang sehat dan dalam jumlah yang wajar.
Hingga di sini, mungkin muncul beberapa pertanyaan: seandainya pikiran-pikiran yang telah diuraikan di muka tampak benar, bagaimanakah penerapannya dalam kasus-kasus kongkret?

Wahana-wahana manakah yang akan dipilih dan program bagaimanakah yang akan diselenggarakan di Indonesia? Inilah yang akan kita bahas dalam uraian selanjutnya.

To Be Continued

Sumber:

Prof. Habibie

Sumber Foto:

Arip Nurahman


"Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Indonesia harus terus digunakan dan dikembangkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat"
~Arip, Universitas Pendidikan Indonesia~